Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 107 Restoran Amy 2


__ADS_3

"Kenapa suasananya jadi nggak enak gini ya. Sepertinya minum es jeruk segar nih," celetuk Angga kemudian memanggil salah satu karyawan restoran agar membawakan es jeruk untuknya.


"Lu, nyindir gue," ucap Devan.


"Enggak," balas Angga.


"Sudahlah, jangan berdebat lebih baik kita sekarang makan tuh pesanan kita sudah jadi." Azmia menghentikan perdebatan kedua Kakaknya.


"Silakan di nikmati!" ucap Karyawan restoran yang mengantarkan pesanan.


"Terima kasih, Mba," ujar Azmia.


"Sama-sama." Setelah meletakkan semua pesanan di atas meja kemudian karyawan tersebut pergi meninggalkan meja Azmia.


"Dik, Kenapa kamu tinggal di apartemen? Bukankah suami kamu pengusaha sukses?" tanya Devan.


"Azmia ingin mandiri, Kak. Mia nggak mau menikmati harta suami selagi Mia masih bisa berdiri sendiri maka Mia akan berusaha sendiri tidak ingin terlalu merepotkan orang lain," jawab Azmia.


"Istri kan memang tanggung jawab suami, Dik, jangan bilang kamu nggak di beri ATM suamimu," ucap Devan.


"Ada, tapi nggak pernah Mia pakai. Mia lebih suka pakai uang sendiri. Mia tidak ingin di bilang istri begini begitu bisanya menghabiskan uang suami, apalagi pernikahan Mia hanyalah sebagai peran pengganti jadi Mia tak ingin di saat Mia berpisah dengan Mas Alby meninggalkan kesan yang buruk di mata Mas Alby," jelas Azmia.


"Hebat, jarang sekali ada wanita seperti mu, Dik. Kakak bangga padamu, wanita terbaik dan terhebat yang pernah Kakak temui," ucap Devan.


"Terus sekarang ATM itu kamu sudah kembalikan lagi?" tanya Angga.


"Mia, taruh di dalam laci meja rias," jawab Azmia.


"Memangnya kamu dan suami ingin berpisah?" tanya Devan.


"Jika ditanya ingin berpisah. Setiap orang pasti tak ingin pernikahannya berakhir dengan perceraian, tapi kita kembali lagi dengan pokok permasalahan yang ada. Jika memang masih bisa bertahan lebih baik di perbaiki dan di pertahankan, tapi jika tidak dan hanya perpisahanlah solusi terbaik, ya sudah. Mia juga tak ingin perceraian itu terjadi, Kak, tapi apalah daya. Pernikahan itu di awali hanya sebagai peran pengganti, jadi saat Kak Rania sudah kembali, maka peran itu sudah berakhir dan semua kembali seperti semula," balas Azmia. Saat mengucapkan kata-kata itu Azmia kembali teringat di mana Kakaknya tanpa punya rasa bersalah atau kasihan padanya dengan seenak jidatnya meminta Alby kembali. Jika bukan karena saudara mungkin Azmia akan memilih egois dan mempertahankan Alby.


"Apa terjadi sesuatu di antara kalian?" Angga mulai merasa ada yang tidak beres saat mendengar penjelasan Azmia.


"Beberapa waktu yang lalu sebelum keadaan seperti ini Kak Rania datang menemui Mia meminta agar Mia melepaskan Mas Alby untuknya," jawab Azmia sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Rania benar-benar sudah keterlaluan sesuka hatinya dia mempermainkan kamu," kesal Angga.

__ADS_1


"Sudahlah, Bang biarkan saja. Mia ikhlas kok jika Kak Rania dan Mas Alby kembali lagi. Azmia yakin di balik semua ini Allah sedang menyiapkan kebahagiaan untuk Azmia." Azmia menenangkan Angga. Dia tak ingin hanya masalah dirinya semua jadi berantem.


"Ya Allah, Dik hatimu terbuat dari apa sih, merelakan suamimu untuk orang lain. Kakak jadi merasa bersalah kenapa tidak membawa pergi dari awal, kenapa tidak mengkhitbahmu lebih dulu. Mereka tidak ada puasnya membuatmu menderita." Angga yang tadinya menyimak kini ikut angkat bicara. Penyesalan itulah yang ia rasakan, tapi semua juga tidak akan pernah bisa kembali seperti semula lagi.


"Kak Devan, tidak perlu merasa bersalah, Mia sudah ikhlas menerima semua ini. Mia sudah merasa bahagia, bersyukur karena Kakak dan Abang selalu ada untuk Mia. Apapun yang mereka lakukan terhadap Mia itu tidak ada masalah, Mia tetap berterima kasih karena berkat mereka Mia masih bisa hidup dan bersama kalian saat ini," ucap Azmia sambil memegang tangan Devan dan Angga.


"Terima kasih karena kalian selalu menyayangi Mia." Azmia menatap ke arah Angga dan Devan secara bergantian.


"Abang bangga memiliki peri kecil seperti mu. Abang bersyukur sekali karena Allah titipkan peri kecil seperti mu dalam kehidupan Abang." Angga mengelus lembut kepala Azmia.


"Kakak juga bersyukur karena bisa mengenalmu, dan Allah anugerah kan rasa cinta ini untukmu. Kakak tidak pernah menyesal mencintaimu meskipun Kakak tidak bisa memiliki mu, Kakak tetap bangga karena pernah mencintai wanita hebat seperti dirimu, wanita luar biasa yang tiada duanya. Semangat untuk terus bahagia karena di luar sana banyak sekali orang yang menyayangi mu, Dik." Kini berganti Devan yang mengelus lembut kepala Azmia dengan penuh kasih sayang.


Itulah cinta yang sesungguhnya, tidak ada penyesalan meskipun tidak bisa memilikinya.


Setelah menyelesaikan makannya Azmia duduk di pinggir saung menikmati indahnya malam, melihat ikan-ikan yang berenang berebut makanan yang di berikan pengunjung.


Tidak jauh dari saung Azmia terdapat dua orang yang sedang memperhatikan gerak-gerik Azmia.


"Mel, lihat deh itu bukannya Azmia ya?" Karina menarik wajah Melia agar menghadap saung nomor lima.


"Iya, kira-kira Mia sama siapa ya kesini kok nggak ngajakin kita," ucap Melia.


"Ayo, kita samperin dia!" Melia dan Karina berdiri berjalan menghampiri Azmia. Mereka berjalan mengendap-endap agar Azmia tidak mengetahui keberadaan mereka.


"Satu ... dua .... tiga ... dor ...." Mereka mengagetkan Azmia yang sedang mengobrol dengan Devan.


"Astaghfirullah, Karina, Melia. Kalian berdua ngapain?" tanya Azmia.


"Harusnya kita berdua yang bertanya kamu ngapain ke sini nggak ngajakin kita. Pergi sama Devan lupa sama kita," ucap Karina sambil membuang muka pura-pura marah.


"Aku, bertiga sama Abang, noh." Azmia menunjuk ke dalam ke arah Angga yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Karina dan Melia tersenyum memperlihatkan giginya. "Selamat malam, Pak Devan, Bang Angga," sapa Karina dan Melia.


"Malam juga," balas Devan sedangkan Angga hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


"Sini duduk bergabung sama kita." Azmia mempersilakan kedua sahabatnya untuk bergabung bersamanya.

__ADS_1


"Kalian hanya berdua saja?" tanya Devan.


"Iya, Pak tadi ke apartemen Azmia, tapi kosong eh ... ternyata orangnya ada di sini," jawab Karina.


"Kalian sudah makan?" tanya Azmia.


"Belum, kita baru datang," jawab Karina.


"Pesan makanan dulu sana," ucap Azmia.


"Tidak perlu, Mi. Kita tadi niatnya hanya ingin nongki saja dari pada bosan di rumah ini kan malam minggu biar seperti yang lain gitu, ya meskipun malam mingguannya bersama Melia," balas Karina.


"Gangguin aku dia Mi, padahal kan aku ingin jalan sama Kak Dery. Eh ... si Karina tiba-tiba nonggol ngajakin pergi. Akhirnya Kak Derry ngalah dia pergi sama trio kodok," ujar Melia.


"Dasar jones," ucap Azmia sambil tertawa kecil.


"Ngeledek, mentang-mentang lagi jalan sama Pak Devan dan Bang Angga," balas Karina.


Azmia hanya membalasnya dengan tertawa.


"Mau keliling nggak, Dik?" tawar Devan.


"Nanti saja, Kak. Kasihan Melia dan Karina nanti ngiri," jawab Azmia.


"Nih, anak kadang-kadang suka bikin esmosi juga ya." Karina yang gemas langsung menggelitik perut Azmia.


"Karina, geli, hahaha," keluh Azmia.


"Sudah-sudah kalian ini seperti anak kecil saja," ucap Devan menghentikan kedua muridnya.


"Karina nih, Kak," balas Azmia.


Devan tersenyum sambil mengelus kepala Azmia. "Kalian ngobrol saja," ucap Devan kemudian berjalan menghampiri Angga.


"Ah ... Pak Devan sweet banget," ujar Karina.


"Apa, Pak Devan selalu bersikap seperti itu padamu, Mi?" tanya Melia.

__ADS_1


Azmia mengangguk karena memang dari kecil sering bersama Devan jadi ya sudah biasa jika Devan bersikap manis terhadapnya.


__ADS_2