
Di ruang tamu
"Mas, terima kasih ya kemarin sudah bersedia merawat aku sampai sembuh," ucap Rania.
"Iya, sama-sama. Apa sekarang Papa dan Mama sudah pulang?" tanya Alby.
"Sudah, dua hari yang lalu beliau pulang," jawab Rania.
"Lho, Nak Rania habis sakit?" tanya Bunda yang baru datang ke ruang tamu tanpa sengaja mendengar obrolan Rania dan Alby.
"Iya, Bun," jawab Rania.
"Sakit apa, Nak?" tanya Bunda.
"Hanya kelelahan, Bun," jawab Rania bohong karena tidak mungkin dia bilang bunuh diri.
"Kenapa tidak ada yang memberi kabar pada Bunda?" Bunda menoleh ke arah Alby dan Rania.
"Memangnya Mas Alby tidak memberi tahu, Bunda?" tanya Rania.
"Tidak," jawab Bunda.
"Maaf, Bun," sambung Alby. Sengaja gue nggak bilang-bilang biar Azmia tidak mengetahui, kenapa sekarang malah di bahas
bahaya ini jika Mia denger.
"Maaf ya Kak, Mia juga tidak menjenguk Kakak karena sedang berada di luar kota," ucap Azmia yang baru datang dengan membawa nampan yang berisi dua gelas minum dan dua piring bolu yang tadi dia bawa dari rumah.
"Iya tidak apa. Mas Alby sudah jenguk aku dan menjagaku sampai sembuh," balas Rania.
__ADS_1
"Baguslah. Ah ... iya lupa ini silakan," ujar Azmia mempersilakan Alby serta Rania untuk makan cemilan yang ia bawa.
"Terima kasih," ucap Alby.
"Sama-sama," balas Azmia.
"Bunda boleh tidak jika Nia pinjam Mas Alby sebentar?" Rania meminta izin pada Bunda.
"Bunda sudah tidak punya hak atas Alby, Nak. Jika kamu mau minta ijin pada istrinya," jelas Bunda.
"Kalau Azmia pasti memberi izin, Bun," ucap Rania kemudian beralih ke Azmia. " Iyakan, Mia?" tanya Rania.
"Iya, Kak. Silakan," jawab Azmia memberikan ijin. Bukan merelakan suami untuk orang lain, tapi percuma juga tanpa ijin pun mereka akan tetap pergi.
"Ayo, Mas!" ajak Rania dengan manja sambil melingkarkan tangannya di lengan Alby.
"Mi," panggil Alby.
Ikhlas nggak ikhlas, jika di tanya cemburu. Mana ada seorang istri yang tidak cemburu jika suaminya pergi dengan wanita lain. Jika di tanya marah pasti marah meskipun mulut bilang tidak, tapi dari lubuk hati yang paling dalam ada rasa sakit dan marah.
"Sayang." Bunda memegang tangan Azmia seolah bertanya apa kamu baik-baik saja.
"Mia tak apa, Bun," ucap Azmia dengan tersenyum manis. Azmia tahu bagaimana perasaan Bunda karena kita sesama wanita pasti mengerti dan merasakan hal yang sama, tapi di depan mertuanya Azmia tidak mungkin memperlihatkan kerapuhannya, Azmia tak ingin Bunda Rita mengkhawatirkan dirinya karena harusnya yang khawatir dengan dirinya itu Alby -- suaminya bukan mertuanya.
"Makasih ya, Mia. Kalau begitu kita berdua pergi dulu," pamit Rania di ikuti Alby.
Setelah berpamitan dengan Bunda dan Azmia mereka melangkahkan kakinya keluar rumah pergi menggunakan mobil Alby.
"Sayang, kenapa kamu mengizinkan mereka pergi?" tanya Bunda yang tak mengerti dengan jalan pikiran menantunya
__ADS_1
"Tidak apa, Bun. Bunda kan tahu dulu yang seharusnya jadi istri Mas Alby itu Kak Rania bukan Mia. Mia itukan hanya peran pengganti, mungkin sekarang peran Mia sudah selesai karena Kak Rania sudah kembali," balas Azmia.
"Namun, pernikahan itu kan bukan mainan, sayang," ucap Bunda.
"Iya, Bun, tapi untuk apa di pertahankan jika tidak ada cinta," balas Azmia.
"Sini, Sayang!" Bunda menyuruh Azmia agar duduk di samping Bunda. Tadi posisi Azmia duduk di sofa sendiri. Sekarang Bunda menyuruh Azmia duduk di sofa yang panjang.
Azmia mengangguk kemudian berpindah sesuai keinginan Bunda.
Setelah Azmia duduk di samping Bunda. Bunda Rita menyuruh Azmia agar merebahkan tubuhnya dan menjadikan pahanya sebagi bantal.
"Awal bertemu dengan mu, Bunda sebenarnya ingin marah karena tiba-tiba keluarga Pranata mengganti pengantin tanpa persetujuan dengan kami terlebih dahulu apalagi kami tidak mengenalmu, tapi tidak mungkin juga kami batalkan pernikahan itu karena akan membuat keluarga kami malu. Setelah seiring berjalannya waktu dan saat Bunda tahu jika kamu adalah wanita yang selalu di banggakan Revan, Bunda jadi menyayangimu, Nak," ucap Bunda sambil mengelus lembut kepala Azmia.
Sentuhan lembut dari Bunda Rita membuat Azmia merasa nyaman.
"Terima kasih ya Bun. Mia sayang sekali sama Bunda," balas Azmia. "Boleh nggak Mia peluk, Bunda," lanjut Azmia.
"Boleh dong, Sayang," balas Bunda Rita.
Setelah mendapat persetujuan dari Bunda. Azmia langsung membenarkan posisinya kemudian memeluk Bunda Rita. Bunda mengelus punggung Azmia.
"Maafkan Bunda ya, Sayang andai saja waktu bisa berputar kembali Bunda ingin pernikahan yang terjadi adalah pernikahan kamu dengan Revan pasti saat ini kalian bahagia. Maafkan Bunda tidak bisa mencegah Alby pergi dengan Rania," ucap Bunda setelah melepaskan pelukannya. Bunda menggenggam erat tangan Azmia seakan memberikan kekuatan pada Azmia.
Azmia tersenyum ke arah Bunda.
"Mia, tidak apa Bun. Andaikan saat ini tugas Mia sebagai peran pengganti harus selesai hari ini, Mia tidak apa. Mungkin memang Allah sudah merencanakan keindahan untuk Azmia," balas Azmia.
"Jika Alby meninggalkan kamu, maka Revan yang akan menjadi penggantinya," ujar Bunda.
__ADS_1
"Bun, Kak Revan punya kehidupan sendiri tidak harus menggantikan Mas Alby. Jika memang semua harus terjadi, Azmia yakin Allah menyiapkan sebuah kebahagiaan buat kami," balas Azmia. Semua apa yang terjadi pada manusia sudah tertulis di sana, kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan. Manusia hanya bisa berencana Allah yang menentukan.