Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 279 Menuju Halal Karina


__ADS_3

Di tempat lain


Daffa, Alby, Bunda dan Ayah Wisnu mereka duduk berkumpul di gazebo samping rumah mereka berdiskusi tentang niat Daffa dan Karina yang ingin mempercepat hari pernikahan mereka.


"Apa kalian sudah siap untuk menjalani rumah tangga?" tanya Bunda memastikan.


"Insya'Allah, Bun," jawab Daffa.


"Alhamdulillah, Ayah sama Bunda sih terserah kalian saja, jika memang sudah siap lahir batin, besok Ayah akan bicara pada Papanya Nak Karin supaya mempercepat kepulangannya," ucap Ayah Wisnu. Beliau akan menghubungi orang tua Karina agar bisa pulang lebih awal untuk membicarakan tentang pernikahan putra putrinya.


"Terima kasih, Yah," balas Daffa.


"Oh, iya, apa ada sesuatu yang ingin, Nak Karin minta saat nanti acara seserahan?" tanya Bunda Rita.


"Tidak, Bun. Karina menerima apapun yang Kak Daffa berikan," jawab Karina. Karena di mata Karina barang itu tidaklah penting yang terpenting adalah cinta yang tulus dari Daffa untuknya. Barang, kemewahan tak mampu menjamin harmonisnya bahtera rumah tangga.


"Baiklah, kalau begitu. Bunda senang sekali Daffa bisa bersama kamu selain kamu sahabat karib Azmia, kamu juga anaknya baik," ujar Bunda Rita.


"Bunda bisa aja," balas Karina dengan tersenyum kecil.


****


Di tempat lain


"Permisi, Tuan," ucap Afi di depan pintu ruang kerja Alby.


"Masuk, Fi," balas Alby dari dalam.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban dari Alby, Afi pun berjalan masuk ke dalam mengantarkan pesanan Alby.


"Tuan, ini tehnya," ucap art sambil menaruh segelas teh hangat di atas meja kerja Alby.


"Terima kasih, Fi," balas Alby.


"Apa, Tuan butuh sesuatu lagi?" tanya Afi pada Alby.


"Tidak," jawab Alby tanpa menoleh ke arah Afi. Alby sibuk dengan layar laptop yang ada di depannya.


"Tuan tidak mau cemilan gitu?" tanya Afi.


"Tidak perlu, keluarlah saya sedang sibuk!" Alby menyuruh Afi keluar dari ruangannya. Dia tahu Afi hanya mencari perhatiannya saja.


"Baiklah, Tuan kalau begitu saya permisi dulu," ucap Afi kemudian berjalan keluar ruangan Alby.


Setelah Afi pergi Alby menghentikan pekerjaannya kemudian mengambil segelas teh yang tadi di berikan Afi.


Dulu saat aku sedang sibuk seperti ini tanpa aku suruh pun kamu selalu membawakan kopi atau teh serta cemilan ke dalam ruangan, sekarang tak ada lagi yang memperhatikan aku seperti perhatianmu padaku Mi, batin Alby sambil menatap segelas teh yang dia pegang.


*****


Di tempat lain


Setelah pulang dari rumah sakit Azmia dan Revan mampir ke pedagang nasi goreng yang berada di pinggir jalan.


"Mau makan di sini?" tanya Revan.

__ADS_1


Azmia mengangguk baginya di manapun tempatnya yang penting bersih, nyaman, dan halal, tidak harus makan di restoran, di pinggir jalan pun nggak kalah enak kok rasanya sama chef bintang lima.


Setelah memarkirkan mobilnya Azmia dan Revan keluar dari mobil. Mereka berjalan menghampiri pedagang nasi goreng. "Pak nasi goreng dua ya," ucap Revan.


"Siap, Mas," balas Pedagang.


Setelah memesan makanan Azmia dan Revan duduk di tempat yang telah di sediakan. Duduk beralas tiker dan satu meja, setiap satu tiket terdapat satu meja kecil.


Sambil menunggu makanan mereka mengobrol membahas tentang kuliah mereka yang sebentar lagi akan selesai.


"Nanti pas aku wisuda kamu harus datang ya," ucap Revan meminta agar Azmia ikut hadir saat dia wisuda.


"Insya'Allah, jika tidak ada halangan," balas Azmia.


"Pokonya harus kalau kamu nggak datang sampai kapanpun aku nggak akan pernah mau menemui kamu lagi," ujar Revan.


"Iya-iya nanti Mia usahakan," balas Azmia. Sekarang kan dia tidak seperti dulu yang sesuka hatinya pergi, saat ini dia adalah pemimpin perusahaan jadi waktunya sangat padat belum lagi kuliah, ngurus cafe.


"Aku akan menunggumu," ucap Revan.


Obrolan mereka harus terhenti karena pedangan datang.


"Permisi, Mba, Mas ini pesanannya." Pedagang mengantarkan makanan pesanan Azmia dan Revan.


"Terima kasih, Pak," ucap Azmia.


"Sama-sama, Mba," balas Pedagang.

__ADS_1


__ADS_2