
Azmia sudah beraktivitas seperti biasa pagi kuliah sore di kafe.
"Mia," panggil Karina di depan pintu ruangan Azmia.
"Masuk saja, Rin," balas Azmia yang sudah sangat mengenali suara Karina.
"Lagi sibuk, Mi?" tanya Karina yang melihat Azmia serius menatap layar laptop di depannya.
"Ah, tidak juga. Melia mana, Rin?" Azmia melihat Karina masuk seorang diri.
"Paling bentar lagi sampai, tadi dia katanya pergi sebentar," jawab Karina. Setelah kuliah mereka memang pulang bersama, tapi membawa kendaraan masing-masing, jadi saat sampai di kafe tidak bersamaan.
"Oh. Rin, kamu lihat nih bagus nggak?" tanya Azmia sambil memperlihatkan layar laptop ke arah Karina.
"Wah, keren tuh, Mi. Apa kamu ingin buka cabang?" tanya Karina setelah melihat foto ruko berlantai dua yang di desain sangat keren.
"Insya'Allah, baru niat sih semoga saja di ijabah sama Allah," jawab Azmia.
"Amin, aku akan selalu dukung kamu, Mi. Oh, iya, apa Kak Angga tahu jika kamu ingin buka cabang?" Pasalnya kafe cinta berdiri berkat tangan Angga juga.
__ADS_1
"Aku belum bilang, nanti saja kalau sudah siap dan pasti. Baru aku akan bicarakan ke Bang Angga," balas Azmia.
"Kita ke bawah yuk!" Azmia mengajak Karina ke lantai bawah.
Azmia berdiri dari duduknya, di ikuti Karina dari belakang. Mereka berdua berjalan sambil bercerita sampai tak terasa kini mereka berada di dapur kafe.
"Mba Mia, Mba Karina butuh sesuatu?" tanya Nina yang melihat kedatangan Bosnya.
"Tidak, Nin," jawab Azmia.
"Apa di luar ramai?" tanya Azmia.
"Alhamdulillah, Mba," jawab Nina.
"Ada, Mba itu." Nina menunjuk ke meja tempat menaruh nampan berisi pesanan pembeli.
"Baiklah, biar saya saja yang mengantarkan." Azmia berjalan menuju meja, mengambil satu nampan pesanan meja nomor 3. Jadi di nampan itu sudah ada kertas nomor meja.
"Silakan!" Azmia mempersilakan tamunya.
__ADS_1
"Oh, ternyata lu pelayan kafe, setelah di tolak bekerja di kantor Alby," ucap di cabe rawit siapa lagi kalau bukan Elvina.
Azmia pergi tanpa menanggapi ocehan Elvina yang baginya tak bermutu dan nggak penting. Bukan Azmia takut, tapi Azmia malas berurusan dengan wanita seperti Elvina. Jika dia tahu yang sebenarnya pasti dia akan mati berdiri di tempat, he-he-he.
Entah apa yang Alby lihat dari Elvina. Cantik sih cantik, tapi mulutnya itu melebihi pedesnya seblak level 10.
"Lu nggak apa, Mi?" Karina yang melihat kejadian tadi, dia langsung menghampiri Azmia setelah mengantarkan pesanan.
"Santai aja, Rin. Kamu kan tahu. Aku bukan wanita yang cengeng bagiku itu hanya angin lewat," jawab Azmia sambil memegang lengan Karina meyakinkan Karina agar tidak mengkhawatirkan dirinya hanya karena ucapan tidak penting.
"Ayolah, Mi. Jujur dengan identitas mu supaya dia bungkam." Karina mencoba membujuk Azmia. Dia tidak suka melihat sahabatnya di hina seperti itu.
"Biarkan saja orang nggak penting." Azmia mengajak Karina kembali mengantar pesanan dari pada dengerin ocehan Elvina. Kejahatan tidak harus di balas dengan kejahatan.
"Kamu memang yang terbaik." Karina mengacungkan kedua jari jempolnya ke arah Azmia dengan tersenyum manis.
Mereka berdua kembali mengantarkan pesanan. Azmia tidak perduli dengan pandangan orang tentang dirinya.
***
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir.
Jangan lupa like dan vote ya Kakak 😊