
Setelah selesai sarapan para sanak saudara berkumpul sebelum mereka pulang ke tempat tujuan masing-masing.
Sedangkan Azmia dan Revan memilih bergabung bersama para sahabatnya yaitu Karina, Melia, Derry dan Kabin.
"Van, lancar?" tanya Kabin membuka obrolan.
"Alhamdulillah," jawab Revan. Seakan dia sudah mengerti arah pembicaraan Kabin.
"Kalian berdua kenapa senyum-senyum?" tanya Azmia sambil menatap ke arah kedu sahabatnya secara bergantian.
"Enggak apa," jawab Karina dan Melia kompak.
"Pasti kalian nih pelakunya." Tebak Azmia karena kedua sahabatnya tiba-tiba senyum nggak jelas setelah mendengar obrolan Revan dan Kabin.
"Kita hanya menjalankan perintah, Mi," balas Karina.
"Iya, Mi. Kita hanya korban perintah," sambung Melia.
"Mana ada korban perintah," ujar Azmia.
"Ada. Sudahlah, Mi nggak apa. Secara tidak langsung kita kan sudah bantuin kamu cara untuk menyenangkan suami," balas Melia.
"Memangnya nyenengin suami harus pakai itu, Mel?" tanya Karina dengan polosnya. Karina memang ya kadang agak-agak.
"Enggak juga, Karina," jawab Azmia dan Melia bersamaan.
"Biasa aja dong, aku kan cuma nanya," ucap Karina.
__ADS_1
"Itu hanya salah satu cara, tapi dengan cara lain juga bisa nanti juga kamu mengerti sendiri setelah menikah. Jangan belajar sekarang takut kamu ngebet nikah," balas Azmia.
"Aku kan emang pengen cepet nikah biar nggak beda sendiri kayak dia noh." Karina berkata sambil menunjuk ke arah Kabin.
"Nyindir gue, lu?" tanya Kabin.
"Kagak, hanya berbicara sesuai fakta," jawab Karina.
"Sue, Lu, Rin." Kabin yang merasa kesal.
"Si Karina kadang kalau ngomong suka bener," sahut Revan.
"Apa, Kalian masih betah di sini?" tanya seseorang yang baru tiba menghampiri meja Azmia dan temannya.
"Eh, Bunda," ucap semua kompak.
"Baik, Bun nanti kita langsung ke hotel Queen saja," balas Revan.
"Iya, Bun," sambung yang lain.
"Ok, baiklah kalau begitu Bunda pulang terlebih dahulu," ucap Bunda Rita.
"Iya, Bun," balas semua kompak.
Setelah berpamitan pada anak, menantu dan sahabat putranya, Bunda Rita berjalan menghampiri Ayah Wisnu yang sudah menunggu di mobil.
*****
__ADS_1
Di tempat lain
"Sekarang dia udah milik orang lain apa, kamu akan terus mengenangnya?" tanya Daffa.
Alby dan Daffa kini berada di kantor, karena ada kerjaan yang harus mereka selesaikan, jadi dengan terpaksa mereka berdua harus pulang duluan dari hotel.
"Perlahan gue akan melepas semuanya," jawab Alby.
"Apa sampai sekarang, Lu masih menyimpan semua tentangnya?" tanya Daffa lagi.
"Masih, tapi sedikit demi sedikit sudah mulai gue beresin. Gue juga nggak mau kali nyakitin istri dan adik gue," jelas Alby.
"Pinter," ujar Daffa.
"Sue, Lu," balas Alby.
"Apa sampai sekarang Nila nggak tahu tentang kamar itu?" tanya Daffa.
Alby menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Gue sih cuma pengen ingetin aja sebelum semuanya ke bongkar lebih baik sekarang dari sekarang, lu harus secepatnya bersihkan itu semua, dari pada nanti dia tahu dan itu pasti akan sakit banget." Daffa memberikan saran pada Alby, karena dia nggak rumah tangga Alby hancur hanya karena masa lalu yang masih tersimpan.
"Iya, besok gue akan bilang ke Mbok Asih agar datang ke rumah merapikan semuanya, mumpung Nila dan Art di rumah nggak ada," balas Alby. Dia juga tidak ingin Nila mengetahui semuanya.
"Besok, Lu telpon aja gue pasti akan bantu, Lu," ucap Daffa.
"Ok, siap."
__ADS_1