Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 335


__ADS_3

"Lu, tumben banget sih datang terlambat?" tanya Daffa saat berpapasan dengan Alby di depan ruangan Alby.


"Ada insiden sebentar," jawab Alby sambil berjalan masuk ke dalam ruangan di ikuti Daffa dari belakang.


"Insiden apaan?" tanya Daffa.


"Si Nila tiba-tiba pengen makan bubur ayam di depan gang dan harus gue yang beli nggak boleh orang lain," jawab Alby.


"Nila ngidam?" tanya Daffa.


"Ngidam? hamil maksud, Lu?" tanya Alby.


"Iya. Biasanya orang kalau suka aneh-aneh tuh sedang ngidam," jawab Daffa.


"Sotoy, Lu," ucap Alby.


"Lha emang bener, kata orang-orang sih gitu," balas Daffa.


"Entahlah, tapi memang beberapa hari ini dia suka ngeluh nggak enak badan terus," ujar Alby.


"Lu, udah periksa belum?" tanya Daffa.


"Belum, kata dia cuma masuk angin duang," jawab Alby.


"Nanti, lu coba bujuk dia agar mau di ajak periksa, karena dari tanda-tandanya sih seperti orang hamil," ujar Daffa.


"Iya," balas Alby.


"Siap-siap lima menit lagi ada kunjungan dari perusahaan FTR." Daffa memberi tahu Alby supaya bersiap untuk bertemu klien.


"Ok," balas Alby.


***


Di tempat lain


"Pagi, Nin," sapa seseorang yang baru datang.


"Pagi juga, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nina.


"Jangan panggil saya Pak berasa tua sekali," ujarnya.


"Pak Ali kan Kakaknya Mba Mia jadi sudah sepantasnya saya panggil Pak," balas Nina.


"Iya, tapi kan saya bukan Bos kamu," ujar Ali.


"Lalu saya harus panggil apa dong?" tanya Nina.


"Apa saja yang penting jangan, Pak," jelas Ali.


"Baiklah, Om Ali," ucap Nina dengan tertawa kecil.

__ADS_1


"Nina," panggil Ali.


"Iya-iya, Pak. Eh ... Mas maaf." Nina berkata masih dengan tertawa kecil sambil menangkupkan ke dua tangannya sebagai permintaan maaf.


"Itu lebih baik. Buatkan saya coffelatte," ucap Ali.


"Siap, Mas," balas Nina kemudian berjalan menuju dapur menyiapkan pesanannya.


"Sepertinya ada yang lagi berbunga-bunga nih," sindir seseorang yang berdiri di samping pintu dapur.


"Iya, vitamin pagi," sambung yang lain.


"Kalian ngapain sih?" tanya Nina.


"Enggak apa, Nin. Cuma lagi ngomongin drakor tadi pagi bagus banget yang gue tonton sama Ina. Iyakan, Na." Ine menyenggol bahu Ina.


*Ah ... iya Nina. Coba tadi pagi lu ikut nonton pasti ikutan baper," sambung Ina.


"Kalian ini aneh nggak jelas," ucap Nina kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam dapur.


***


Jam makan siang


"Mba, saya keluar dulu, ya." Azmia berpamitan pada sekretarisnya sebelum keluar dari kantor.


"Baik, Bu Mia," balas sekretaris.


Setelah berpamitan dengan sekretaris. Azmia bergegas keluar kantor. Azmia pergi menggunakan mobilnya.


Satu jam perjalanan kini Azmia tiba di kantor suaminya.


"Selamat siang, Bu," sapa satpam sambil membukakan pintu.


"Siang juga, Pak," balas Azmia dengan tersenyum ramah.


"Mba, Pak Revan ada di ruangan?" tanya Azmia pada resepsionis.


"Apa, Ibu sudah membuat janji?" resepsionis bertanya balik.


"Sudah, Mba. Bilang saja ada Azmia," ucap Azmia.


"Baik, Kak. Tunggu sebentar!" Resepsionis memulai menelpon.


"Baik, Pak," balas resepsionis kemudian mematikan sambungan telponnya.


"Kakak sudah di tunggu di ruangan," ucap resepsionis memberi tahu Azmia.


"Ok, terima kasih, Mba," balas Azmia kemudian berjalan menuju ruangan Revan.


Sepanjang perjalanan menuju ruangan direktur para karyawan menyapanya saat berpapasan.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Azmia di depan pintu ruangan Revan.


"Wa'alaikumussalam, masuk, Dek!" Revan menyuruh Azmia agar masuk.


"Eh ... ada Kak Kabin," ucap Azmia saat melihat ada kabin di dalam ruangan.


Azmia berjalan menghampiri suaminya menyalami Revan kemudian dia baru duduk di sofa.


"Kita mau makan di luar apa di sini saja?" tanya Revan.


"Di luar sajalah," jawab Kabin.


"Mia ikut aja," sambung Azmia.


"Ya sudah kita makan siang di luar saja yuk!" Mereka berdiri dari duduknya berjalan keluar ruangan.


Revan berjalan dengan bergandengan tangan dengan istrinya.


"Kamu mau makan di mana, Sayang?" tanya Revan.


"Terserah, Kakak saja," jawab Azmia.


"Siang, Pak, Bu," sapa karyawan yang berpapasan dengan Azmia dan Revan.


"Siang juga," balas Azmia dan Revan dengan ramah.


"Mereka romantis banget ya," ucap salah satu karyawan.


"Iya, suami idaman," balas si A.


"Heem. Semoga saja masih tersisa untuk gue," sambung si C.


"Amin." Bertiga mengaminkan ucapan si C.


"Eh ... memangnya wanita itu siapa? kok sepertinya Pak Revan lengket banget?" tanya resepsionis pada temannya saat melihat Revan dan Azmia keluar bersama dengan posisi Revan merangkul pinggul Azmia.


"Oh, itu istrinya Pak Revan namanya Bu Azmia beliau itu seorang pemilik salah satu perusahaan cabang keluarga Bakhri," jelas karyawan senior.


"Hah ... kira-kira tadi Bu Mia marah nggak ya sama gue," ucap resepsionis.


"Memangnya, lu tadi ngapain?" tanya Temannya.


Resepsionis itu pun menceritakan tentang kejadian yang terjadi. "Gue kan nggak tahu," ucap Resepsionis tersebut di akhir ceritanya.


"Pasti Bu Mia maklumi lu kan karyawan baru," balas temennya.


Resepsionis memang baru dua hari kerja jadi dia tidak mengenal Azmia sama sekali.


"Iya, semoga saja," ucap resepsionis.


***

__ADS_1


__ADS_2