Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 73 Jahil


__ADS_3

"Selamat pagi, Mbok," sapa Azmia pada Mbok Asih yang sedang memasak untuk sarapan.


"Pagi juga, Non," balas Mbok Asih.


"Mbok, biar Mia saja yang melanjutkan masaknya, Mbok Asih bisa kerjakan yang lainnya." Azmia mengambil alih pertempuran di dapur. Dia rindu memasak lagi setelah beberapa hari pensiun karena sakit.


"Sayang," panggil Alby.


"Mas, kenapa belum mandi?" tanya Azmia karena Alby masih menggunakan piyama, rambut juga berantakan, mata masih merem melek.


"Mas pikir kamu pergi karena Mas cari di kamar tidak ada orang, eh ... ternyata ada di dapur," jawab Alby. Tadi setelah sholat subuh Alby keluar kamar melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja, jadi tak mengetahui jika istrinya berada di dapur.


"Mia pasti bilang jika mau pergi. Mas mau ngapain kesini?" tanya Azmia saat melihat langkah Alby mendekat ke arahnya.


"Bantuin istri si Alby masak," jawab Alby terus melangkah mendekati Azmia.


"Memangnya si Alby sudah punya istri, bukankah calon istrinya baru pulang dari luar negeri?"


"Itu sih bukan calon istri, tapi calon poligami," balas Alby.


"Nih, kalau berani." Azmia mengangkat centong sayur yang terbuat dari besi, ia arahkan ke hadapan Alby lebih tepatnya di depan wajah Alby.


"Ampun, sayang." Alby menangkupkan ke dua tangannya.


"Silakan saja kalau berani bukan melarang sih karena berbagi itu indah, tapi jika berbagi suami aku lebih memilih cari lagi dari pada bertahan menjadi istri yang di poligami," ujar Azmia.


"Sayang, jangan serius gitu, Aku nggak akan poligami satu cukup." Alby memegang pipi Azmia dengan kedua tangannya.


"Mas sana mandi, bau!" Azmia menyuruh Alby agar segera mandi, sebenarnya bukan karena bau badan Alby, tapi dia sedang menghindari detakan jantungnya yang berjoget ria. 'Duh, ya Allah jika Mas Alby tidak segera pergi bisa gagal masak ini,' batin Azmia.


"Wangi sayang, coba nih cium." Alby sengaja mendekatkan wajahnya ke arah wajah Azmia.


"Tidak-tidak." Azmia segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Pipinya yang putih seketika langsung berubah menjadi merah merona karena malu.


Alby yang melihat tingkah Azmia yang lucu membuatnya tertawa, sekarang dia jadi punya peri kecil imut yang mampu memberi warna dalam hidupnya. Alby bahagian karena semakin hari hubungannya dengan Azmia semakin membaik, meskipun masih banyak sekali rintangan yang bakal menghadang.


Bukannya pergi Alby semakin tertarik untuk menggoda istrinya.

__ADS_1


"Mas, kalau begini kapan aku masaknya nanti keburu siang," ujar Azmia karena Alby terus saja mengganggunya masak.


"Baiklah, aku mandi dulu ya sayang," pamit Alby kemudian melangkah menjauh dari istrinya, dia berjalan ke arah kamar.


'Kenapa sekarang jantungku berbeda saat dekat dengan Mas Alby, apa nih jantung kumatnya saat berdekatan dengan Mas Alby, dasar jantung ganjen, berjoget saat di deketin cowok ganteng,' batin Azmia.


Setengah jam kemudian Alby kembali turun menuju dapur, tapi kini dia sudah berpenampilan rapi pakai kemeja biru muda, dengan jas warna hitam, celana senada,.


"Kenapa dasinya tidak di pakai, Mas?" tanya Azmia saat melihat dasi Alby hanya di gantungkan di leher tanpa di pakai dengan benar.


"Pakaikan dong, sayang," jawab Alby dengan senyum menggoda.


"Iya, nanti. Sekarang kita sarapan saja dulu," ucap Azmia.


"Baiklah." Alby mengikuti apa kemauan istrinya, dia kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan sang istri.


"Mas, ayam apa telur?" tanya Azmia.


"Apa saja sayang, apapun yang kamu beri akan aku makan," jawab Alby.


Azmia mengambilkan keduanya dari pada nanti salah lebih baik dia ambil saja ayam dan telur.


"Biar kenyang, Mas habiskan kata Mas Alby apapun yang aku ambi akan di makan habis. Ayo, makan!" ucap Azmia sambil menahan tawa.


"Baiklah, tap___." Alby belum selesai ngomong sudah di sahut Azmia.


"Nggak ada tapi-tapian," balas Azmia.


Alby pun hanya bisa pasrah. Dia mulai memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. 'Kenapa istri gue sekarang jadi berubah kejam begini, baru kemarin gue puji-puji, sekarang hihihi,' batin Alby.


"Sayang, makannya udah ya." Alby menaruh sendok makanannya.


"Habiskan, Mas. Kalau tidak di habiskan yaudah pakai saja sendiri tuh dasinya," balas Azmia dengan memasang wajah cemberut.


"Kok gitu, jangan ngambek dong sayang." Dengan terpaksa Alby memakan makanannya hingga habis tak tersisa.


'Ya Allah, apa dia kesambet setan jahat, kenapa sekarang dia jadi nggak kalem seperti biasanya," batin Alby.

__ADS_1


Azmia pura-pura tak melihat, dalam hatinya dia tertawa ngakak bisa ngerjain Alby.


Setelah selesai sarapan Azmia dan Alby berdiri dari duduknya berjalan menuju pintu keluar. Azmia mengantarkan Alby yang ingin berangkat ke kantor. Sebelum Alby berangkat sesuai dengan janjinya Azmia memasangkan dasi Alby.


"Mas berangkat dulu ya, assalamualaikum," ucap Alby.


"Wa'alaikumussalam," balas Azmia sambil mencium punggung tangan Alby kemudian Alby membalasnya dengan mencium kening Azmia.


Setelah mobil Alby keluar gerbang Azmia kembali masuk ke dalam melanjutkan pekerjaannya di dapur mencuci piring dan merapikan meja makan.


"Non, sudah biar si Mbok saja yang lanjutkan," ucap Mbok Asih tiba-tiba dari arah belakang Azmia.


"Mbok, bikin kaget Mia saja," balas Azmia.


"Maaf, Non, hehehe." Mbok Asih tertawa kecil.


"Mbok kerjain yang lain saja, ini sudah hampir selesai kok," balas Azmia.


"Baiklah." Mbok Asih pergi meninggalkan Azmia berjalan ke arah samping mengambil sapu beserta lap pel.


Selesai bertempur dengan peralatan dapur, Azmia kembali ke kamarnya membersihkan diri kemudian bersiap untuk pergi ke kantor Papi Bagas. Entah ada urusan apa Angga semalam telpon menyuruhnya untuk ke kantor.


Setelah Azmia di rawat di rumah sakit, Angga jadi sedikit protektif sama Azmia. Bukan ingin ikut campur urusan keluarga Azmia, tapi Angga hanya tidak ingin Alby mempermainkan adik kecilnya. Sejak kecil Angga selalu menjaganya dengan sepenuh jiwa, tapi setelah dewasa dengan seenak jidatnya Alby menyakiti Azmia.


Dirasa sudah puas dengan penampilannya Azmia keluar kamar melangkahkan kakinya menuju garasi mengambil motor kesayangannya. Azmia akan menggunakan motor menuju cafe, sampai di cafe dia akan menukar motor dengan mobilnya. Dia ke kantor Angga menggunakan mobil.


Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai ke cafe. Sebelum mengambil mobil Azmia lebih dulu bilang ke asistennya takut nanti di cariin tuh mobil kalau tiba-tiba Azmia bawa tanpa bilang, takut di kira tuh mobil hilang.


"Assalamualaikum, Nin," sapa Azmia saat masuk langsung menuju ke belakang tempat kasir.


"Wa'alaikumussalam, Mba. Mau pergi ya rapi banget?" tanya Nina.


"Iya, biasa ada panggilan ke kantor Bang Angga. Oh, iya, Nin saya pergi bawa mobil ya," ucap Azmia.


"Iya, Mba," balas Nina.


"Saya ambil kuncinya ya, Nin." Azmia mengambil kunci mobil yang berada di laci bawah meja kasir.

__ADS_1


"Iya, mau pergi sekarang?" tanya Nina.


"Iya, Nin. Saya pergi dulu ya," pamit Azmia kemudian pergi keluar cafe menuju garasi mobil mengambil mobilnya.


__ADS_2