Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 220 Perdebatan anak dan Ibu


__ADS_3

Di karekan hari ini libur kuliah Azmia memilih untuk berdiam diri di cafe. Kali ini dia akan benar-benar lebih fokus di dunia usahanya.


Azmia duduk di meja kerjanya fokus menatap ke arah layar laptop yang ada di depannya. Dari pada terus memikirkan kejadian semalam lebih baik menyibukkan diri di meja kerja agar bisa melupakan semua ucapan orang tua Ardiaz yang begitu nyelekit seperti cabe rawit setan.


Alhamdulillah bulan ini pemasukan naik lagi, semoga tetap stabil supaya tetap membantu mereka yang membutuhkan pekerjaan, karena hanya dengan cara memberi pekerjaan pada mereka yang bisa aku lakukan. Sepertinya hari ini akan banyak barang masuk,' batin Azmia sambil mengecek laporan yang di berikan Novi.


***


Di tempat lain.


Sepertinya gua harus menemui Azmia untuk memperjelas kejadian semalam. Gue yakin pasti terjadi sesuatu nggak mungkin Azmia pergi begitu saja, meskipun gue baru kenal dia, tapi gue tahu banget dia bukan orang yang seperti itu pergi tanpa pamit, batin Ardiaz. Dia masih memikirkan tentang acara makan malam yang tidak sesuai dengan bayangannya padahal dia berharap setelah acara itu orang tuanya bisa berubah pikiran, tapi ternyata malah tidak sesuai ekspektasi.

__ADS_1


Ardiaz berdiri dari duduknya kemudian menyambar kunci motornya berjalan keluar kamar.


"Kamu mau kemana, Ar?" tanya Mama Diva pada putranya saat melihat Ardiaz menuruni anak tangga.


"Keluar sebentar, Ma," jawab Ardiaz. Ia menghampiri Mamanya yang duduk bersantai di ruang tamu.


"Mau nemenin Azmia lagi? Ar, bukankah kamu sudah berjanji tidak akan menemui perempuan itu lagi setelah Mama dan Papa bertemu dengannya," ucap Mama Diva dengan tegas. Beliau mengingatkan janji yang telah di sepakati oleh Putranya.


"Ma, sekali ini saja. Ar mohon," balas Ardiaz mencoba memohon pada Mamanya agar memberikan kesempatan sekali saja padanya untuk bisa bertemu dengan Azmia. Dia harus tahu jelas tentang semalam supaya tidak terjadi kesalahpahaman.


Ardiaz terdiam berdiri mematung di depan Mama Diva Dia nggak mau berdebat dengan Mamanya, jika dia melawan maka nama Azmia akan jelek di mata Mamanya. Mungkin sekarang belum saatnya berbicara dengan Mamanya.

__ADS_1


"Wanita di luar sana masih banyak untuk apa kamu mengejar bekas orang yang masih fresh kan ada," ujar Mama Diva.


"Cinta itu tidak bisa di paksa, Ma," balas Ardiaz.


"Kamu itu bukan cinta, Ar, tapi buta dan kasihan," ucap Mama Diva.


"Ar, ke kamar dulu, Ma," pamit Ardiaz kemudian perlahan kakinya melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua di mana kamarnya berada dari pada berdebat dengan Mamanya.


Apa sih kehebatan wanita itu hingga membuat Ardiaz bisa tergila-gila padanya, batin Mama Diva sambil mandangin Ardiaz yang berjalan menuju kamarnya.


Karena Ardiaz itu anak tunggal jadi orang tuanya benar-benar menginginkan yang terbaik untuk putranya. Akan tetapi terkadang kesalahan orang karena

__ADS_1


Sesama di dalam kamar Ardiaz merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Ah ...," keluar Ardiaz sambil membanting bantal dan guling.


Mama dan Papa selalu saja seperti itu, batin Ardiaz. Dia bukannya ingin melawan orang tuanya, tapi setiap memilih pasangan itu kan harus sesuai dengan hatinya. Jika hatinya bilang tidak, maka sulit untuk menerima keadaan.


__ADS_2