
Pagi hari
Setelah selesai sholat subuh Revan dan Azmia bersantai duduk di kasur dengan bersandar kepala ranjang.
"Dek, boleh nggak, kalau Kakak minta sekarang?" tanya Revan dengan nada lembut.
Azmia mengangguk. Tak ada alasan untuknya menolak, karena semalam Revan sudah memberinya waktu istirahat.
"Alhamdulillah."
Setelah mendapat persetujuan dari sang istri. Revan memulai dengan mencium kening istrinya kemudian ________." Maaf ya author tidak bisa melanjutkan. Bagi yang sudah menikah pasti sudah tahulah ya, tapi kalau yang belum tunggu halal dulu ya sayang. Jangan di bayangin.
"Terima kasih," ucap Revan setelah berhasil mendapatkan mahkota Azmia.
"Dek," panggil Revan.
"Iya, Kak," balas Azmia.
"Boleh tanya sesuatu?" tanya Revan.
"Pasti, Kakak pengen tanya kenapa Mia masih ___. Mia memang pernah menikah tinggal satu atap bahkan satu ranjang, tapi kami tidak pernah melakukan kewajiban yang semestinya. Bukan Mas Alby tak mau, akan tetapi Mia belum bisa memberikan sesuatu yang berharga pada orang yang belum bisa menghargai dan mencintai Mia seutuhnya." Azmia berkata yang sejujurnya pada Revan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kakak pikir itu hanya halusinasi, karena sejatinya setiap orang yang menikah pasti melakukan kewajiban itu," ucap Revan. Dia benar-benar tak percaya, jika wanita yang sekarang berada di sampingnya sosok yang berbeda dari wanita lainnya.
"Setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda, karena pernikahan kita di landasi keterpaksaan bukan kasih sayang," balas Azmia.
"Sayang, ayo, sarapan!" teriak Bunda di depan kamar Azmia.
"Iya, Bun sebentar lagi keluar," balas Revan dari dalam kamar.
__ADS_1
"Ok, baiklah. Kopernya Bunda taruh didepan pintu ya," ucap Bunda Rita.
"Iya, Bun," balas Revan. Dia hanya membalas dengan suara tanpa ada niatan membukakan pintu untuk Bundanya.
"Mandilah, biar Kakak yang ambil koper kamu." Revan menyuruh Azmia mandi duluan.
Azmia mengangguk kemudian dengan perlahan beranjak dari tempat tidur.
"Sakit?" tanya Revan.
"Sedikit," jawab Azmia.
"Sini biar Kakak bantu," ucap Revan sambil mengulurkan tangannya.
"Mia bisa sendiri kok, Kak," balas Azmia.
Setelah mengambil koper dan manaruhnya didepan lemari Revan kembali ke ranjang mengambil ponsel miliknya.
Lima belas menit berlalu Azmia keluar kamar mandi.
"Koper Mia di mana, Kak?" tanya Azmia.
"Depan lemari, Dik," jawab Revan tanpa menoleh kearah Azmia. Dia sibuk dengan benda pipih di tangannya.
Azmia berjalan menuju dimana kopernya berada, setelah di depan koper Azmia mengambil satu baju untuk ia pakai. Azmia berganti pakaian di kamar mandi.
"Masya'Allah, cantiknya istriku," ucap Revan memuji istrinya.
"Terima kasih suamiku, aku memang sudah cantik sejak lahir," balas Azmia dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Nyesel aku ngomong gitu," lirih Revan.
"Kenapa?" tanya Azmia.
"Enggak apa, sudah ayo kita keluar pasti yang lain sudah menunggu di bawah." Revan menggandeng tangan istrinya mengajaknya segera keluar dari kamar menuju loby.
*
*
*
"Akhirnya yang di tunggu datang juga," ucap Bunda Rita.
"Sini, sayang!" Bunda Rita menyuruh Azmia agar duduk di sampingnya.
"Gimana, Van lancar?" tanya salah satu sanak saudara.
"Alhamdulillah," jawab Revan.
"Hei ... kalian jangan itu nanti menantuku malu. Kita mulai saja sarapannya," ucap Bunda Rita.
"Siap, kanjeng Mami," balas semua.
"Ma, Mas Ali kemana?" tanya Azmia. Posisi duduk Azmia di tengah-tengah Mama Iren dan Bunda Rita.
"Tadi dia di telpon asistennya jadi pagi-pagi sudah harus pergi," jawab Mama Iren.
"Oh."
__ADS_1