
"Gimana, sayang dengan persiapan acara nanti malam minggu?" tanya Mama Iren.
Setelah cara pernikahan Azmia dan Revan tinggal berpindah-pindah dia hari di kediaman Bakhri, dia hari di rumah Bunda Rita, karena rumah yang di siapkan Revan masih tahap penyelesaian.
"Alhamdulillah sudah tujuh puluh persen, Ma. Nanti mulai hari jumat Mia minta bantuan sama teman-teman dari cafe untuk mempersiapkan semuanya," jawab Azmia.
"Apa semua perlengkapan rumah sudah lengkap?" tanya Mama Iren karena beliau belum melihat langsung keadaan di rumah yang akan di tinggali putrinya.
"Alhamdulillah, Ma hanya kasur untuk kamar tamu saja yang belum karena Mia belum sempat ke toko kasur," jawab azmia.
"Kalau begitu biar Mama saja yang beliin sekalian nanti saat Mama ke rumah kamu," ujar Mama Iren.
"Tidak perlu, Ma. Nanti biar Kak Revan saja yang beli," balas Azmia menolak pemberian Mamanya, dia tidak ingin merepotkan orang tuanya.
"Tidak apa, Sayang. Biar mama saja," ucap Mama Iren dengan tegas tidak menerima penolakan dari putrinya.
"Baiklah kalau begitu terima kasih ya, Ma." Azmia memeluk Mamanya sebagai rasa terima kasih.
__ADS_1
"Sama-sama, Sayang." Mama Irene membalas pelukan dari sang putri sambil mengelus lembut kepala putrinya.
"Lalu, kamu kapan mulai ke sana?" tanya Mama Iren.
"Insya'Allah hari kamis Mia mulai tinggal di sana, karena hari jumat pagi para karyawan cafe akan ke rumah. Mia juga ingin belanja keperluan buat acara selamatan jadi supaya tidak terlalu mepet mulai hari kamis Mia sudah berada di rumah bersama Mbok Asih," jelas Azmia. Karena akan ada dua acara jadi Azmia harus persiapan lebih awal. Acara pertama sabtu siang setelah Dzuhur akan ada acara pengajian ibu-ibu komplek, untuk acara kedua malam hari makan bersama sanak saudara dan para karyawan, serta sahabat-sahabat Azmia.
"Kalau begitu Mama ikut kamu ya hari kamis supaya bisa bantu-bantu kamu di sana," ujar Mama Iren.
"Memangnya Mama tidak ke kantor Papa?" tanya Azmia.
"Mama sedang tidak ada kerjaan, minggu depan Mama mulai banyak kerjaan ikut meeting Papa dan ada pertemuan klien Papa di luar kota," jawab Mama Iren. Mungkin orang yang melihat Mama Iren adalah wanita bisa yang kerjaannya berdiam diri di rumah dan suka keluar rumah berkumpul dengan geng arisan emak-emak, tapi jangan salah beliau adalah istri yang luar biasa di saat Papa Bakhri ada pekerjaan di luar negeri Mama Iren dan Ali yang megang dan menghandle semua pekerjaan Papa Bahri di Indonesia.
"Enggak mungkin lah Papa di sini. Papa pasti ikut ke rumah kamu mana mau Papa ditinggal sendiri di sini," jelas Mama Iren.
"Hehehe, kirain mau LDR," ucap Azmia.
"Kalau LDR Mama sudah sering, tapi itukan karena pekerjaan yang mengharuskan kita LDR beda dengan ini, kita mau ke rumah anak sendiri jadi pasti Papa ikut," balas Mama Iren.
__ADS_1
"Eh ada, Adik Mas yang paling cantik," ucap Ali saat tiba di rumah melihat Azmia sedang berbincang-bincang dengan Mama Iren.
"Mas Ali tumben baru pulang?" tanya Azmia.
"Iya tadi habis dari kampus Mas langsung ke kantor karena ada beberapa dokumen yang harus Mas tanda tangani," jawab Ali.
"Oh ... gitu, ya sudah Mas mandi dulu sana! bau tahu." Azmia menyuruh Ali agar segera membersihkan diri.
"Wangi, Dek, nih wangi. Mas tuh selalu wangi." Ali sengaja mendekatkan dirinya Kak arah Azmia.
"Mama Mas Ali nih, Ma," rengek Azmia meminta bantuan pada Mamanya.
"Kalian ini udah pada besar seperti anak kecil aja. Sana pergi mandi dulu sambil nunggu Papa dan Revan pulang setelah itu kita makan malam bersama,"ucap Mama Iren menghentikan pertengkaran adik dan kakak.
"Siap kanbalas ali kemudian dia berjalan menuju kamarnya.
"Au, Mas Ali," keluh Azmia sambil memegangi hidungnya yang di cubit Ali sebelum dia melarikan diri ke kamar.
__ADS_1
Mama Iren yang melihat tingkah laku kedua anaknya hanya bisa menggelengkan kepala.