
Saat perjalanan pulang ke rumah Daffa tiba-tiba handphone Alby bergetar menandakan ada pesan masuk. Alby pun segera merogoh ponselnya yang berada di saku jasnya.
Setelah mendapatkan benda pipih tersebut Alby segera menggeser layar ponsel kemudian membuka pesan chat yang masuk.
"Daf," panggil Alby.
"Iya," balas Daffa.
"Rania mengundang kita untuk makan malam bersama di rumahnya," ucap Alby. Tadi yang mengirim pesan adalah Rania. Dia memberitahu Alby agar makan malam di rumahnya bersama Papa dan Mamanya. Alby sempat menolak dengan alasan sedang pergi dengan Daffa, tapi malah di suruh ajak Daffa juga karena makanan sudah di hidangkan dengan terpaksa Alby kesana.
"Dia lagi - dia lagi. Al, lu kalau mau nikah lagi mending cari yang lain sajalah jangan dia," ujar Daffa.
"Memangnya kenapa?" tanya Alby.
"Gue kurang setuju aja sih kalau lu sama dia. Bukan niat hati mengungkit masa lalu sih, tapi kalau gue sih udah males ya berurusan dengan perempuan seperti Rania," jawab Daffa.
"Namun, gue takut dia bunuh diri lagi, nanti gue pada di salahin sama keluarganya," ucap Alby.
"Kalau dia mau mati ya sudah biarin aja dia ini yang mati, tapi kalau lu masih ada cinta ya nggak apa-apa, gue sih bukannya melarang," balas Daffa. Semua orang memang bisa berubah, tapi jika sudah watak dan sifatnya begitu maka sulit untuk kita ubab.
Ibarat kata batang pohon yang melengkung maka sulit untuk kita luruskan kembali.
Jika kesan pertama saja sudah tidak baik apalagi kedepannya, ya meskipun kita tak pernah tahu keadaan hari esok.
"Tidak semudah itu, Daf semua butuh waktu. Jika memang jodoh ya semoga Allah memberikan hidayah padanya supaya bisa berubah, tapi jika memang tidak berjodoh semoga secepatnya Allah pisahkan kami dan semoga memberikan yang tebaik untuk kami berdua," ujar Alby.
Alby hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Allah karena setiap apa yang terjadi pada manusia sudah tertulis di buku Allah.
"Amin. Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik," sambung Daffa.
"Amin," balas Alby.
Tak terasa mobil mereka sampai di kediaman Pranata. Mobil Alby langsung masuk karena gerbang terbuka.
Setelah memarkirkan mobilnya Alby dan Daffa keluar dari mobil berjalan menuju pintu masuk ke
[22/12 11.51] Sury: Ternyata di depan pintu sudah ada Rania yang menunggu kedatangan mereka.
"Assalamualaikum," ucap Alby dan Daffa.
"Waalaikumsalam," balas Rania. "Mari masuk, Mas!" Rania mempersilakan Alby dan Daffa masuk ke dalam.
__ADS_1
Alby mengangguk kemudian berjalan masuk di ikuti Daffa dari belakang.
"Mari silakan, Nak!" Mama Sonia mempersilakan Alby dan juga Daffa supaya duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
Alby dan Daffa pun duduk bersebelahan.
"Eh, Nak Alby sudah datang?" Papa Prabu yang baru keluar kamar.
"Iya, Pa." Alby berdiri dari duduknya kemudian menyalami mertuanya.
Dulu pertama kali dia datang sebagai calon menantu, datang lagi sebagai menantu, sekarang datang lagi berstatus mantan menantu dan calon mantu lagi.
"Bagaimana kabar kamu, Nak?" tanya Papa Prabu membuka obrolan.
"Alhamdulillah baik, Pa," balas Alby. 'Ingin rasanya aku bertanya kabar Azmia, tapi harus aku urungkan karena takut merusak suasana,' batin Papa Prabu.
Mereka pun berbincang-bincang terlebih dahulu sebelum menikmati acara makan malam bersama.
*
*
*
*
Azmia bersama Karina sedang duduk berkumpul bersama Fakhri dan para sahabatnya.
Azmia terpaksa harus menemui Fakhri hanya bersama Karina karena Melia dan Derry sedang ada acara keluarga sehingga mereka tidak bisa ngumpul bareng bersama Azmia.
"Maaf ya aku mengajakmu bertemu secara mendadak," ucap Fakhri membuka suara.
"Tidak apa, Kak. Kebetulan juga Nisa sedang ada kerjaan di sini," balas Azmia. (Nisa) Azmia namanya sudah berganti ya jadi Nisa.
"Kamu pemilik cafe ini, Nis?" tanya salah satu sahabat Fakhri.
"Tidak, Mar. Aku hanya karyawan disini kebetulan pemilik cafe ini masih ada hubungan keluarga dengan Papa," jawab Azmia (Nisa)
Tetap pada prinsipnya Azmia akan selalu menutup identitas aslinya.
Jika orang lain bangga dengan apa yang dia punya terkadang pamer sana-sini. Berbeda dengan Azmia dia justru dengan rapat-rapat menutup identitas aslinya dari orang-orang.
__ADS_1
"Oh. Hebat kamu, Nis kuliah sambil kerja," ucap Damar -- salah satu sahabat Fakhri, tapi dia satu kelas dengan Azmia (Nisa).
Damar -- salah satu personil band yang di pimpin Fakhri.
"Kalau nggak kerja nanti aku nggak bisa lanjut kuliah," balas Azmia.
"Kamu tuh selalu saja merendahkan diri, Nis," ucap Damar.
"Berkata apa adanya itu lebih baik, Mar dari pada tidak sesuai fakta," balas Azmia.
"Iya juga sih keren." Damar mengacaukan kedua jempolnya ke arah Azmia.
"Oh, iya, Nis jadi begini kita sengaja ngajakin kamu ketemuan saya ingin membahas tentang tawaran kamu waktu itu." Kini Fakhri yang berbicara.
"Iya, Kak bagaimana keputusannya?" tanya Azmia.
"Kita sudah sepakat akan menerima tawaran kamu, jadwal kami live hari sabtu dan minggu ya. Mulai tampil dari sore jam empat nanti istirahat magrib setelah itu kita lanjut lagi hingga jam sepuluh malam. Bagaimana, Nis?" Fakhri bertanya balik tentang keputusannya.
"Alhamdulillah. Kalau untuk jadwal tampil Nisa serahkan semuanya pada Kak Fakhri saja," balas Nisa ( Azmia) karena baginya Fakhri menerima tawarannya saja dia udah bersyukur.
"Berarti deal ya," ucap Fakhri.
"Iya," balas Azmia. "Semoga kerjasama kita berjalan dengan baik sesuai dengan keinginan kita," lanjut Azmia.
"Amin," balas yang lain.
"Mari kita makan untuk merayakan kerjasama kita," ucap Karina yang datang bersama dua karyawan cafe sambil membawa nampan berisi makanan dan beberapa cemilan.
"Wih, mantap," ujar salah satu sahabat Fakhri saat melihat begitu banyak makanan yang di sediakan di atas meja.
"Mari silakan di nikmati!" Azmia mempersilakan semuanya agar segera menikmati hidangan yang sudah di sajikan di meja.
Satu persatu dari mereka mulai mengambil makanan. Mereka pun makan bersama hingga habis tak tersisa hanya tinggal piring dan gelas kosong.
**
Jangan lupa ya Azmia sudah berganti nama menjadi Nisa.
Terima kasih para reader yang selalu setia membaca cerita saya semoga kalian semua selalu dalam keadaan sehat.
lope lope buat kalian 😘🥰❤️❤️❤️
__ADS_1