Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 191 Pusing sendiri


__ADS_3

"Selamat pagi, Azmia," sapa Ali saat berpapasan di parkiran.


"Pagi juga, Pak," balas Azmia.


"Sendirian aja?" tanya Ali.


"Iya, Pak tadi Karina mampir pulang ke rumah dulu," jawab Azmia.


"Oh, mari! mau masuk kelas kan?" tanya Ali.


"Tidak, Pak. Mia nunggu Karina dulu di kursi itu," jawab Azmia sambil menunjuk ke arah kursi yang tak jauh dari parkiran.


"Kalau begitu saya duluan ya," ucap Ali kemudian berjalan lebih dulu.


"Iya, Pak," balas Azmia.


Azmia duduk di kursi sambil membaca buku. Tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkannya. "Sendirian aja, neng?" suara seseorang di belakang Azmia. Mendengar ada suara orang Azmia menoleh ke belakang. "Kak Derry," ucap Azmia. Tadi saat Derry ingin masuk ruang kelas tanpa sengaja dia lihat Azmia jadi dia menghampiri Azmia terlebih dahulu.


"Ngapain sendirian di sini?" tanya Derry.


"Nunggu Karina," jawab Azmia. "Kak Derry juga sendiri mana si Meli?" Azmia balik bertanya


"Melia lagi kurang sehat. Karina kemana tuh anak?"


"Tadi saat mau berangkat ke kampus tiba-tiba dia bilang ingin pulang ke rumahnya lebih dulu," jawab Azmia.


Posisi mereka duduk saling membelakangi.

__ADS_1


"Oh. Mi, boleh tanya sesuatu nggak?" ucap Derry.


"Tanya apa," balas Azmia.


"Bagaimana menurut kamu tentang Ardiaz?" tanya Derry.


"Lumayan asyik," jawab Azmia.


"Mudah-mudahan cocok ya," ucap Derry.


"Maksudnya?" tanya Azmia.


"Mia, Kak Derry ngapain disini?" tanya Karina yang baru datang langsung menghampiri Azmia.


"Nungguin kamu," jawab Azmia dan Derry bersamaan.


"Cie ... kompak," ucap Karina sambil tertawa kecil.


"Kak Derry ngapain, Mi?" tanya Karina sambil berjalan menuju ruang kelas mereka.


"Nanyain tentang Kak Diaz," jawab Azmia jujur dia tak mau ada kesalahpahaman.


"Oh. Eh ... si Melia nggak masuk?" tanya Karina karena Kak Derry bisa ngobrol sama Azmia.


"Enggak, katanya lagi kurang sehat," jawab Azmia.


"Oh."

__ADS_1


*


*


*


Di kantor


Tanpa permisi Daffa langsung masuk ke ruangan Alby karena ada dokumen yang harus di tanda tangani.


"Ngapa tuh muka?" tanya Daffa. Saat masuk ke dalam ruangan Alby melihat muka Alby yang murung kemudian dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Alby.


"Pusing gue," jawab Alby sambil memegangi pelipis matanya.


"Ada masalah?" tanya Daffa.


"Ayah nyuruh gue cepetan lamar si Nila," jawab Alby. Bukan tidak ingin meresmikan hubungannya dengan Nila, tapi entah kenapa saat ini dia belum siap untuk melangkah ke situ.


"Lha bagus itu," ucap Daffa. Bagi Daffa saran Ayah Wisnu memang benar niat baik lebih baik di segerakan.


"Bagus pala lu," balas Alby. Dia mau nyari solusi malah tanggapan Daffa berpihak ke Ayahnya.


"Apa yang salah dari pada pacaran lama-lama nanti ujung-ujungnya di comot orang kan nyesek," ujar Daffa.


"Tapi, kan nggak secepat ini juga kali, gue kan baru kenal Nila," balas Alby. Alby masih berpikir untuk melangkah ke jenjang yang lebih jauh karena tak ingin menyesal di belakang, ya meskipun Nila itu pilihannya sendiri.


"Terserah lu ajalah," ucap Daffa nggak mau ikut pusing masalah asmara Alby. Sedangkan dia sendiri aja sampai sekarang masih jomblo. "Tanda tangan nih." Daffa memberikan dokumen yang tadi ia bawa.

__ADS_1


Alby mengambil dokumen tersebut kemudian membuka dan mendatanginya. "Nih." Alby memberikan kembali dokumen tersebut pada Daffa.


"Ok. Selamat berpusing bye." Daffa berdiri dari duduknya kemudian berjalan keluar dari ruangan Alby.


__ADS_2