
Dua hari berlalu sesuai dengan yang dia katakan pada Daffa bahwa dia akan bilang pada Azmia pergi keluar kota karena ada urusan mendadak.
Azmia pun percaya. Selama Alby di luar kota Azmia menghabiskan waktunya di cafe. Azmia memilih menginap di cafe dari pada di rumah, sepi, sendirian, sedangkan di cafe banyak teman karena ada beberapa juga yang memilih menginap di cafe jika mereka malas pulang ke rumah.
**
"Mia, tolong Mi," ucap seseorang pada sambungan telpon.
"Kak Derry, ada apa?" tanya Azmia. Dia yang sedang memeriksa hasil laporan pemasukan stok makanan langsung menutup layar laptopnya mendengar suara panik Derry.
"Melia, Mi. Dia pingsan," jawab Derry.
"Kalian berada dimana?" tanya Azmia langsung panik mendengar sahabatnya pingsan.
"Di cafe Zhe," balas Derry.
"Baiklah, Mia akan segera ke sana," ucap Azmia langsung keluar dari ruangannya menuju lantai bawah.
"Mba, ada apa?" tanya Nina saat melihat Azmia berlari kecil ingin keluar cafe.
"Melia, pingsan di tempat Zhe, Saya ke sana dulu, Nin," ucap Azmia kemudian bergegas keluar dari cafe cinta.
"Iya, Mba hati-hati," balas Nina.
Azmia langsung menuju parkiran mobil mengambil mobilnya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di cafe Zhe karena jalanan lumayan sepi sehingga membuatnya leluasa saat berkendara.
Setelah memarkirkan mobilnya Azmia langsung bergegas masuk kedalam cafe Zhe mencari keberadaan Melia.
"Mia, sini," panggil Derry sambil melambaikan tangannya.
Saat melihat panggilan Derry Azmia langsung menghampiri Derry. "Kak Derry, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Azmia mulai panik melihat kondisi Melia yang belum juga siuman.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang," ucap Derry.
"Ayo! biar Mia yang bawa mobil." Azmia berlari keluar cafe Zhe terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuk Derry yang menggotong tubuh Melia.
Setelah Derry masuk kedalam. Azmia langsung bergegas masuk kedalam mobil bagian sopir. Azmia melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Tiga puluh menit perjalanan kini mereka sampai di rumah sakit. Azmia membukakan pintu untuk Derry sambil berteriak memanggil perawat. Datang dua perawat dengan membawa brankar Derry membaringkan tubuh Melia di atas brankar kemudian perawat mendorong brankar menuju ICU. "Silakan tunggu di luar ya, Kak," ucap salah satu perawat sebelum menutup pintu ruang ICU.
"Apa terjadi sesuatu sehingga membuat Melia pingsan?" tanya Azmia.
"Tadi dia hanya bilang badannya lemas, tiba-tiba langsung pingsan, sepertinya dia kelelahan, Mi," jawab Derry karena sejak pagi mereka mondar-mandir mencari gedung, WO, serta butik yang akan merancang gaun pengantin mereka.
"Dik, duduk!" ucap Derry karena sejak tadi Azmia mondar-mandir tidak bisa diem duduk manis.
"Iya, Kak," balas Azmia. Iya duang, tapi dia nggak duduk, Azmia berdiri bersandar di tembok samping pintu.
'Segitu khawatirnya kamu terhadap sahabatmu, apalagi jika pasanganmu yang sakit mungkin kamu jauh lebih khawatir dan perhatian, sungguh beruntung sekali laki-laki bisa mendapatkan wanita seperti mu, Mia. Sayang sekali aku terlambat mengenal dan mencintaimu, andai saja waktu bisa di putar kembali dan aku lebih awal mengenalmu mungkin cinta kita bisa bersatu,' batin Derry sambil menatap ke arah Azmia yang sedang berdiri menunggu dokter keluar dari ruangan.
Tak lama dokter pun keluar. Azmia secepat kilat langsung menghampiri dokter tersebut. "Bagaimana, keadaan Melia, Dok?" tanya Azmia.
"Pasien hanya kelelahan, dan sepertinya beban pikiran juga jadi untuk sementara waktu pasien harus di rawat inap supaya kondisinya pulih kembali," jelas Dokter.
"Baik, dok. Terima kasih," ucap Azmia.
"Sama-sama. Saya permisi dulu," pamit dokter.
"Iya, Dok," balas Azmia.
Setelah dokter pergi, kini perawat keluar dari ruangan ICU.
"Saya, Sus." Azmia menghampiri perawat tersebut.
"Silakan ke administrasi ya, Kak agar secepatnya bisa kita pindahkan ke ruang rawat inap," ujar perawat tersebut.
"Baik, Sus," balas Azmia.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit suster kemudian pergi meninggalkan ruangan ICU.
"Biar Kakak saja yang urus kamu tunggu di sini," ucap Derry.
Azmia mengangguk sebagai jawaban.
"Mia, gimana keadaan, Melia? sorry aku baru sempat cek handphone habis nganterin nyokap." Karina yang baru datang langsung menghampiri Azmia. Beruntung saat Karina baru masuk rumah sakit ketemu Derry jadi dia tidak kesusahan mencari Azmia.
"Alhamdulillah, Melia baik-baik saja hanya kelelahan," ucap Azmia.
__ADS_1
"Alhamdulillah," balas Karina.
"Apa kita boleh masuk ke dalam?" tanya Karina.
"Boleh, tapi kita tunggu Kak Derry terlebih dahulu," jawab Azmia.
"Rin, aku ke kantin dulu ya beli minuman," ucap Azmia karena merasa haus, lagi pula dia sudah berniat akan menunggu Melia di rumah sakit.
"Iya, Mi," balas Karina. Kini bergantian Karina yang duduk di kursi tunggu depan ruang ICU.
Azmia berjalan mencari keberadaan kantin. Setelah berputar-putar akhirnya Azmia menemukan tempat yang ia cari. Azmia masuk ke dalam membeli beberapa botol air mineral dan cemilan. Setelah mendapatkan apa yang ia cari Azmia kembali ke ruang ICU, tapi saat di pertengahan jalan langkahnya terhenti tatkala melihat sosok yang dia kenal masuk ke dalam ruang rawat inap.
Beberapa saat kemudian Azmia melanjutkan langkahnya menuju ruang ICU.
"Kamu dari mana, Dik?" tanya Derry saat melihat Azmia datang dengan membawa kantong plastik.
"Dari kantin, minum nih, Kak." Azmia memberikan satu botol air mineral.
"Terima kasih," ucap Derry sambil menerima botol pemberian Azmia.
Azmia mengangguk kemudian menghampiri Karina memberikan kantong plastik yang berisi air dan cemilan pada Karina.
"Melia, kapan akan di pindah, Kak?" tanya Azmia.
"Sebentar lagi, sedang siapkan oleh perawatan," jawab Derry.
"Alhamdulillah," ucap Azmia.
"Kamu nggak, Mi?" tanya Derry.
"Tidak," jawab Azmia.
"Nanti suami kamu nyariin, Mia," ujar Karina.
"Tidak, Mas Alby ada kerjaan di luar kota," balas Azmia.
"Oh," ucap Karina.
Azmia duduk termenung di kursi tunggu otaknya kini bekerja mengingat apa yang tadi dia lihat tidaklah mimpi semua nyata. 'Apa mungkin dia __, jika semua itu benar jangan pernah menganggap aku ada, aku akan pergi sampai kamu tidak bisa menemukan aku. Kesetiaan ku, ketulusanku, kepercayaan ku, selalu kau balas dengan goresan luka di hatiku. Sekarang aku terlalu lelah untuk bertahan, aku seperti boneka mainan mu saja terkadang kamu sayang-sayang, tapi setelah bosan kau buang dan mencari yang baru. Jika kamu bisa seperti ini, maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Bukan karena balas dendam, tapi aku hanya ingin memberi mu pelajaran.' batin Azmia. Ada saatnya kita marah jika memang itu menyakiti kita.
__ADS_1
"Kamu melamun apaan sih, dari tadi aku panggil nggak nyaut-nyaut," ucap Karina.
"Maa