
"Pagi, Mba Mia," sapa Doni saat berpapasan dengan Azmia yang melangkah masuk ke dalam kantor.
"Pagi juga, Mas Doni," balas Azmia dengan tersenyum ramah.
"Abang sudah datang, Mas?" tanya Azmia.
"Sudah, Mba. Ayo!" Doni mempersilakan Azmia masuk lebih dulu.
Azmia dan Doni berjalan bareng menuju ruang Angga.
"Assalamualaikum," ucap Azmia di depan pintu ruangan Angga.
"Wa'alaikumussalam, masuk Dik," balas Angga dari dalam ruangan.
Setelah mendengar jawaban dari Angga. Doni membukakan pintu untuk Azmia. "Terima kasih, Mas," ucap Azmia.
Doni mengangguk sebagai jawaban.
"Sini, Dik!" Angga mempersilakan Azmia agar duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Azmia menyalami Angga kemudian dia duduk di kursi bersebelahan dengan Doni.
__ADS_1
"Kalian kok bisa bareng?" tanya Angga.
"Tadi nggak sengaja ketemu di loby," jawab Doni.
"Oh, Don tolong suruh OB bawa minum ke ruangan gue ya," ucap Angga.
"Siap, Pak Bos kalau begitu saya permisi dulu, mari Mba Mia," pamit Doni.
"Iya, Mas Doni," balas Azmia.
"Apa ada sesuatu?" tanya Azmia tanpa basa-basi.
"Apa kamu sudah tahu jika Rania sudah pulang?" Angga balik bertanya.
"Peri kecil Abang, ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Abang?" tanya Angga.
Azmia terdiam, pikirannya kini berputar harus berkata jujur atau tidak.
"Kenapa, diam? pasti terjadi sesuatu, Dik kamu mau jujur ke Abang atau Abang akan cari tahu sendiri?" Angga menatap kearah Azmia dengan tatapan yang tak biasa.
"Bang." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Cerita saja jika memang itu harus kamu ceritakan," ucap Angga tak ingin memaksa Azmia karena tanpa Azmia bercerita pun dia bisa mengetahui semua yang terjadi.
"Mama Sonia meminta Mas Alby kembali," ujar Azmia dengan nada yang sedikit lemah ada rasa sakit di hatinya saat mengucapkan kata-kata itu, pikirannya juga mulai teringat kata-kata Mama Sonia malam itu.
"Terus, apa Alby mengetahui semua itu?" tanya Angga.
"Sepertinya tidak, tapi Mas Alby sudah curiga akan hal itu," balas Azmia.
"Apa sekarang Rania pernah menghubungi Alby?" Angga seperti polisi yang sedang mengintrogasi tersangka.
"Iya, beberapa hari yang lalu, sebelum Mia sakit mereka jalan bareng," jelas Azmia.
"Kenapa kamu diam saja?" Angga yang gemas dengan Azmia karena memiliki hati terlalu baik meskipun sering di sakiti, tapi tetap aja baik sama orangnya.
"Mia tidak bisa memasak, Mas Alby untuk mencintai Mia, Bang. Bukankah Abang tahu pernikahan aku dengan Mas Alby karena terpaksa. Jika kini Kak Rania meminta Mas Alby kembali Mia serahkan semuanya dengan Mas Alby keputusan ada padanya, Mia tak bisa berbuat apa-apa," jawab Azmia.
"Apa kamu tidak mencintai Alby?" selidik Angga.
"Jika di tanya cinta, Mia hanya bisa serahkan semua sama Allah karena Mia mencintainya karena Allah, jika memang kami tak bersatu maka Allah telah menyiapkan yang lebih baik buat Mia." Azmia tak ingin ribet soal cinta karena jodoh, rezeki sudah di tentukan oleh Allah SWT.
"Masya'Allah, Dik. Entah terbuat dari apa hatimu itu, kenapa kamu merelakan suamimu sendiri untuk orang lain." Angga sebagai laki-laki saja tidak rela jika harus berbagi istrinya.
__ADS_1
"Hubungan karena terpaksa itu sakit, Bang jadi untuk apa kita harus memaksakan sesuatu yang memang sudah tidak menginginkan kita," jelas Azmia.