Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 265 Perjuangan Mbok Asih


__ADS_3

Pagi ini Mbok Asih bangun lebih awal agar kerjaannya cepat selesai dan dia bisa segera pergi bersama suaminya untuk mencari lowongan pekerjaan.


Mbok Asih memulai pekerjaannya menyapu, mengepel ruang tamu dan ruang keluarga terlebih dahulu, kemudian lanjut memutar cucian sambil menyiapkan sarapan.


Sekitar tiga jam tugas Mbok Asih berperang dengan kerjaan rumah selesai. Semua ruangan sudah bersih, makanan sudah tersaji di meja makan, cucian beras, halaman rumah juga sudah bersih.


Setelah pekerjaannya kelar, Mbok Asih masuk ke dalam kamar membersihkan diri. Tak butuh waktu lama untuknya ritual di kamar mandi kini Mbok Asih sudah siap untuk pergi.


"Pak, cepetan! ibu sudah rapi ini." Mbok Asih menyuruh suaminya agar segera bersiap juga.


"Iya, Bu," balas Mang Udin yang masih bersantai di atas kasur sambil mengelus-elus ponselnya.


Sekitar lima belas menit Mang Udin sudah rapi dan siap untuk pergi.


"Ayo! Bu," ajak Mang Udin.


"Iya, Pak," balas Mbok Asih.


Mereka pun keluar kamar berjalan keluar rumah, tapi sebelum mereka keluar dari rumah Mbok Asih lebih dulu pamitan pada Alby yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Den, kami pergi dulu ya," ucap Mbok Asih.


"Iya, Mbok, hati-hati ya," balas Alby.


"Iya, Den. Assalamualaikum," ucap Mbok Asih sebelum melangkah keluar pintu.


"Wa'alaikumussalam," balas Alby.


"Pagi-pagi buta sudah pergi, enak ya jadi art begitu bisa pergi sesuka hati udah kayak majikan aja," sindir Nila. Dia yang sedang berjalan menuruni anak tangga ingin menghampiri Alby tanpa sengaja melihat Mbok Asih dan Mang Udin ingin berjalan keluar rumah.


"Sudah, Pak! jangan di dengar." Mbok Asih memegang tangan suaminya memberikan isyarat bahwa Mang Udin tidak boleh membalas ucapan majikan terlaknatnya. Tanpa menjawab sepatah kata pun Mbok Asih langsung menarik tangan suaminya untuk keluar rumah.


"Dasar art ku**ng a**r," kesal Nila karena Mbok Asih dan Mang Udin mengabaikannya.


"Masih pagi jangan teriak-teriak, kamu tuh hobi banget sih marah-marah, teriak-teriak," ujar Alby.


"Kenapa kamu jadi marahin aku sih, Mas," balas Nila.


"Aku tidak marah, hanya memberi nasehat berkata sesuai fakta," ucap Alby.

__ADS_1


"Ih ... Mas Alby menyebalkan," kesal Nila. Dia yang tadinya ingin duduk bersama Alby niat itu dia urungkan. Nila berlari kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Sabar." Alby mengelus dadanya menguatkan dirinya sendiri agar tetap sabar dalam menghadapi sifat Nila.


***


"Bu, gimana apa kamu sudah bertanya dimana non Mia?" tanya Mang Udin.


"Tidak, Pak. Semalam saat Ibu coba menghubungi nomornya tidak aktif," jawab Mbok Asih.


"Oh. Kita bismillah ya, Bu semoga Allah memberikan kita jalan untuk mencari pekerjaan yang cocok buat Ibu," ujar Mang Udin.


"Amin," balas Mbok Asih.


Langkah demi langkah mereka tempuh sambil sesekali bertanya lowongan di rumah-rumah yang ada satpamnya.


"Ternyata mencari pekerjaan itu sangat sulit ya, Bu, padahal hanya sebagai art," ucap Mang Udin, karena sudah puluhan rumah mereka datangi, tapi tak satu pun lowongan pekerjaan.


"Iya, Pak," balas Mbok Asih.


"Pak, kita istirahat dulu ibu capek." Mbok Asih meminta pada suaminya agar menghentikan langkahnya terlebih dahulu.


"Kita harus pergi kemana lagi ya, Pak?" tanya Mbok Asih.


"Bapak juga nggak tahu, Bu," jawab Mang Udin.


Setelah setengah jam mereka istirahat kini mereka melanjutkan langkahnya menelusuri setiap jalan menghampiri setiap rumah-rumah yang terlihat mewah bertanya apakah ada lowongan pekerjaan untuknya atau tidak. Tanpa mereka sadari waktu berputar begitu cepat kini sudah hampir menjelang malam, tapi tak ada satupun rumah yang mau menerimanya.


"Bu, kita coba sekali lagi rumah yang itu," ucap Mang Udin sambil menunjuk bagunan tiga lantai yang terlihat begitu megah.


"Iya, Pak." Mbok Asih menyetujui saran suaminya. Mereka pun bergegas menghampiri rumah tersebut.


"Assalamualaikum, permisi," ucap Mbok Asih dan Mang Udin.


"Wa'alaikumussalam, cari siapa ya, Pak, Bu?" tanya satpam. Satpam hanya mengintip dari lubang gerbang yang biasa untuk melihat tamu sebelum dia membuka pintu gerbang.


"Maaf, Pak, kami ingin bertanya apa di sini ada lowongan pekerjaan untuk jadi asisten rumah tangga?" tanya Mang Udin.


"Maaf, Pak, Bu disini tidak lowongan pekerjaan," jawab Pak Satpam.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu terima kasih ya, Pak," ucap Mang Udin.


"Sama-sama," balas Pak satpam.


Setelah mendengar jawaban pak satpam, mereka berdua begitu lemah, lesu karena sudah hampir seharian mereka mengelilingi setiap kompleks, akan tetapi tak ada satupun pekerjaan Mbok Asih.


Lelahnya raga seharian berjalan mereka istirahat terlebih dahulu di depan pintu gerbang.


"Apa kita bilang ke Nyonya saja ya, Pak? supaya kita kembali ke rumah Nyonya." Mbok Asih meminta pendapat dari suaminya.


"Jangan, Bu takut nanti Nyonya dan Tuan marah sama Aden kan jadi kasihan si Aden gara-gara ulah istrinya itu mereka jadi bertengkar," balas Mang Udin.


"Iya, juga sih, tapi kita harus bagaimana mana lagi, Pak?" Mbok Asih rasanya sudah tak ingin kembali lagi ke rumah Alby.


"Nanti kita cari solusi lagi ya, Bu. Saat ini kita hanya bisa sabar dulu," balas Mang Udin.


***


"Kenapa, Dek?" tanya Ali.


"Itu siapa ya, Mas yang duduk di depan gerbang?" Azmia bukannya menjawab pertanyaan Ali, dia malah balik bertanya.


"Iya, siapa mereka kenapa di biarkan di depan gerbang." Karena penasaran Ali menambah kecepatan laju mobilnya.


Azmia di buat terkejut saat mobil berhenti tepat di samping dua orang duduk di depan pintu gerbang rumahnya. Azmia segera membuka pintu mobil kemudian dia bergegas keluar.


"Mbok Asih, Mang Udin," teriak Azmia.


Mbok Asih dan Mang Udin yang masih asyik mengobrol mendengar namanya di panggil mereka pun langsung menoleh ke sumber suara. Karena posisi mereka tadi sedang menunduk jadi mereka tak melihat ada seseorang yang datang, lagi pula posisi duduk mereka tak menghalangi jika mobil masuk ke dalam rumah, jadi saat mobil Azmia berhenti Mbok Asih tetap santai duduk.


"Non Mia," ucap Mbok Asih dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat ada seseorang yang dia harapkan datang Mbok Asih segera berdiri dari duduknya berjalan menghampiri Azmia.


Azmi pun berjalan menghampiri Mbok Asih.


"Masya'Allah, Non ini si Mbok nggak sedang bermimpi kan?" Mbok Asih mengelus lembut pipi Azmia dengan derai air mata.


"Iya, Mbok ini Mia. Mbok Asih jangan menangis." Azmia menghapus air mata yang membasahi pipi Mbok Asih.


Mbok Asih langsung memeluk Azmia melepaskan rasa rindu yang selama ini dia pendam Azmia pun membalas pelukan Mbok Asih sambil mengelus lembut punggung Mbok Asih.

__ADS_1


Ali dan Mang Udin yang melihat pemandangan di depannya pun ikut meneteskan air mata. Jika Mang Udin sudah paham dengan drama di depannya, tapi tidak dengan Ali. Dia terharu melihat drama di depannya, akan tetapi dalam pikirannya dia bertanya-tanya siapa orang yang memeluk Azmia sampai meneteskan air mata hanya karena bertemu Azmia.


__ADS_2