Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 250 Pertemuan anak & bapak


__ADS_3

Malam hari


"Mi, aku nggak bisa nemenin kamu ya," ucap Karina.


"Iya, Rin. Kamu mau dinner ya sama Kak Daffa?" tebak Azmia.


"Tahu aja kamu," balas Karina.


"Kamu pergi sendiri nggak apa-apa kan, Mi?" tanya Karina.


"Enggak apa, nanti dijemput Mas Ali," jawab Azmia.


"Cie sekarang yang udah punya mas, semoga hasil tes dna-nya sesuai dengan harapan kita ya, Mi. kamu beneran adik pak Ali," ucap Karina.


"Amin," balas Azmia.


"Ya sudah kalau begitu aku duluan ya, Mi," ujar Karina.


"Iya hati-hati di jalan," balas Azmia.


Setelah Karina pergi. Azmia juga mulai bersiap untuk berangkat ke rumah Mama Iren. Lima belas menit kemudian Azmia sudah siap untuk berangkat, ia pun keluar dari ruangannya menuju lantai bawah.


"Nov, saya pergi dulu ya," ucap Azmia saat tiba di lantai satu.


"Iya, Mbak," balas Novi.


Sudah menjadi kebiasaan Azmia sebelum pergi pasti dia selalu berpamitan terlebih dahulu pada salah satu karyawannya, agar saat ada orang yang mencarinya karyawan bisa menjawab kalau dia sedang tidak ada di cafe.


Setelah berpamitan pada Novi. Azmia melangkahkan kakinya keluar cafe berjalan menghampiri mobil Ali yang sudah terparkir di depan gerbang cafe.


"Maaf ya, Mas jadi nungguin," ucap Azmia sambil membuka pintu mobil.


"Enggak apa santai aja," bales Ali.


Setelah Azmia masuk ke dalam mobil Ali mulai melajukan mobilnya meninggalkan cafe .


"Mas memangnya siapa yang ingin bertemu dengan Mia?" tanya Azmia.

__ADS_1


"Nanti juga tahu," jawab Ali.


"Iya pasti, tapi kan Mia penasaran," ucap Azmia.


"Lihat saja nanti," balas Ali tak ingin memberi tahu Azmia.


"Ah ...." Azmia mulai merajuk karena Ali tidak memberi tahu dirinya.


"Dih ngambek, tapi kalau lagi ngambek gitu lucu," ucap Ali malah menggoda Azmia.


Azmia tidak membalas ucapan Ali dia memalingkan wajahnya ia arah jendela.


"Jangan ngambek gitu nanti cantiknya ilang loh," ucap Ali.


"Biarin aja," balas Azmia.


"Mi, boleh nggak Mas tanya sesuatu?"


"Boleh," jawab Azmia.


"Bagaimana perasaan kamu jika hasil tes DNA kamu beneran keturunan dari keluarga Bakhri?" tanya Ali meminta pendapat Azmia.


"Alhamdulillah kalau begitu. Mas jadi merasa lega. Saya berharap hasil tes DNA itu membuktikan kamu adalah benar-benar adik saya," ujar Ali.


"Amin. Kita sama-sama berdoa saja semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita," balas Azmia.


Ali mengangguk.


Tnpa terasa kini mereka tiba di rumah keluarga Bakhri.


Setelah memarkirkan mobil. Mereka berdua keluar dari mobil kemudian Ali mengajak Azmia masuk ke dalam.


"Assalamualaikum," ucap Ali dan Azmia saat melangkah masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumussalam," balas Mama Iren yang berada di ruang tamu.


Azmia berjalan menghampiri Mama Iren menyalami tangan beliau.

__ADS_1


"Duduk sini sayang!" Mama Iren menyuruh Azmia agar duduk di sampingnya.


"Lupa kan kalau udah ada anaknya yang cewek," sindir Ali karena merasa di abaikan Mamanya setiap ada Azmia.


"Makanya buruan nikah biar ada yang merhatiin," balas Mama Iren.


"Kenapa jadi bahas itu sih, Ma," ucap Ali.


"Ada apaan sih ramai-ramai?" tanya seseorang yang baru saja datang menghampiri mereka bertiga.


"Ini, Pa si Ali cemburu sama Azmia," jawab Mama Iren pada suaminya. Ya orang yang barusan datang menghampiri mereka adalah Papanya Ali yaitu Papa Ari Bakhri.


"Siapa Azmia?" tanya Papa Ari.


"Dia putri kita yang hilang dua puluh satu tahun lalu," jawab Mama Iren dengan mata sudah mulai berkaca-kaca setiap mengingat kembali kejadian itu.


"Zahra?"


"Iya, Pa. Dia Zahra putri bungsu kita," jawab Mama Iren.


Papa terdiam dengan posisi berdiri di samping sofa yang di duduki Ali. Beliau menatap ke arah Azmia.


"Papa baik-baik saja?" tanya Mama Iren karena Papa Ari hanya diam tak berbicara.


Papa Ari mengangguk sebagai jawaban kalau dia baik-baik saja. Kemudian beliau melangkahkan kakinya menghampiri Azmia.


"Benarkah kamu putri, Papa sayang?" tanya Papa Ari saat sudah berada di samping Azmia.


Azmia bingung harus menjawab apa karena dia juga belum yakin.


"Apa papa boleh memelukmu, Nak?" tanya Papa Ari lagi.


Azmia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, kemudian dia berdiri di hadapan Papa Ari.


Setelah mendapat jawaban dari Azmia. Papa Ari langsung memeluk Azmia dengan derai air mata. "Papa senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu lagi, Nak. Papa bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan untuk Papa bisa melihat mu kembali," ucap Papa Ari di sela-sela pelukannya.


Azmia hanya diam tak membalas ucapan Papa Ari, tapi air matanya tak henti-hentinya mengalir hingga membasahi pipinya.

__ADS_1


Mama Iren dan Ali juga ikut meneteskan air mata melihat pemandangan di depannya pertemuan antara anak dan bapaknya.


__ADS_2