
“Minta maaflah kepada mereka, Daniel. Tak seharusnya kau memendam kebencian sebesar itu. Bukan Tuan Prabu yang meninggalkan Mommy, tapi Mommy-lah yang memutuskan untuk pergi. Dan satu hal yang perlu kau tahu, Nak. Tuan Prabu memang suamiku, tapi dia bukan ayahmu,” tutur Aghata lirih.
“Apa maksudmu, Mom?” tanya Daniel tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Tubuhnya tiba-tiba lunglai, hingga duduk begitu saja di lantai.
“Maksudnya apa, Tante? Tante dan Papa?” Ryan yang hanya mengenal Aghata sebagai tante masa kecilnya pun tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan Aghata.
***
Flash back
Dua puluh tiga tahun yang lalu
Aghata frustasi, melihat pertengkaran demi pertengkaran yang setiap hari dilakukan oleh ibunya dan suami barunya di depan mata kepalanya sendiri. Bahkan sejak ibunya menikah lagi, ibunya terlalu fokus pada pernikahan dan pekerjaannya sehingga perhatian untuk Aghata bisa dibilang sama sekali tak ada lagi.
Bingung ke mana harus mencurahkan isi hati dan menghilangkan rasa sepi dalam hidupnya, Aghata galau berkepanjangan. Sementara pada saat yang bersamaan, teman-temannya hadir, menampung segala keluh kesahnya dan selalu ada di saat-saat sulit yang Aghata rasakan.
Pergaulan itulah yang menjadi jembatan awal bagi Aghata untuk mencoba berbagai hal negatif, termasuk minuman keras dan narkoba.
Awalnya, Aghata hanya dipaksa merokok oleh teman-temannya. Atas dasar rasa kesetiakawananpun Aghata tak kuasa menolaknya.
"Ahh, cuma rokok biasa saja," pikir Aghata ketika itu.
Tapi di luar dugaan, ternyata yang Aghata hisab bukanlah rokok biasa, melainkan sebuah ganja. Dan karena pada kesempatan pertama Aghata tidak menolaknya, maka teman-temannya terus mencekokinya dengan ganja setiap harinya.
__ADS_1
Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Hanya dalam waktu dua pekan, Aghata mengaku tidak nyaman mengkonsumsi daun yang banyak ditemui di sebuah pulau di Indonesia itu.
’’Aku nggak mau lagi. Nggak enak tahu, pahit,’’ tolak Aghata dengan polosnya.
Penolakan Aghata pun tak membuat semangat teman-temannya surut. Mereka justru menawari Aghata dengan narkoba golongan Opiad jenis Heroin atau putaw, yang merupakan narkotika sangat adiktif yang diproses dari morfin, yaitu zat alami dari ekstrak benih biji tanaman poppy varietas tertentu. Heroin ini biasa dijual dalam bentuk serbuk putih atau kecoklatan yang telah dicampur dengan gula, pati, susu bubuk atau kina, yang biasanya digunakan dengan dihisap, dimasukkan ke dalam rokok atau dicairkan dengan memanaskannya di atas sendok lalu disuntikkan ke pembuluh darah, otot, atau di bawah kulit.
Aghata sendiri selalu mengkonsumsinya dengan cara menyuntikkannya ke pembuluh darah. Dan setelah heroin masuk ke dalam otak, dia akan berubah menjadi morfin dan mengikat dengan cepat ke reseptor opiad. Saat-saat itulah Aghata merasakan sensasi kegembiraan yang luar biasa, bahkan semakin lama Aghata tak ragu untuk menambah jumlah heroin yang dikonsumsinya mengingat intensitas kegembiraan yang dirasakannya tergantung dari banyaknya jumlah heroin yang masuk ke dalam tubuhnya. Semakin banyak Aghata menyuntikkan heroin itu ke dalam pembuluh darahnya, maka akan semakin kuat pula efek euforia yang dirasakannya. Dan itu berlangsung cukup lama, sampai tibalah hari kelulusannya.
Namun ternyata, lulus dari sekolah menengah atas, tidak lantas membuat Aghata bertaubat, justru malah kelakuan buruknya semakin menjadi saja. Apalagi setelah Aghata mengenal Arsen, seorang mahasiswa semester atas yang merupakan seorang bandar narkoba yang kaya raya.
Ketika keuangan Aghata mulai jebol dan mulai sakau sementara dia tak mampu membeli heroin lagi, akhirnya Aghata bersedia menjalin hubungan percintaan dengan Arsen, bahkan sampai pada hubungan terlarang di atas ranjang. Dengan begitu, heroin gratis bisa selalu dia dapatkan.
"Bagaimana jika aku hamil?" Aghata selalu melempar pertanyaan itu kepada Arsen, setiap kali mereka selesai melakukan hubungan terlarang itu.
Namun janji sekedar janji. Ketika Aghata benar-benar hamil karena ulahnya, Arsen justru memilih untuk meninggalkannya dan memutuskan untuk pergi. Ya, dia tidak pernah datang menemui Aghata lagi, apalagi memberi Aghata sebuah pernikahan seperti apa yang pernah dia janjikan.
Aghata yang waktu itu dalam kondisi hamil delapan bulan pun harus menelan kenyataan pahit, ketika sang ibu mengusirnya pergi karena tak mau menanggung malu jika anak dalam kandungan Aghata akhirnya terlahir nanti.
Dengan perasaan sedih, hancur, marah dan seluruh perasaan lain yang sedang berkecamuk dalam hatinya, akhirnya Aghata memutuskan untuk pergi.
Dia terus berjalan tanpa arah. Ketidaksiapan fisik Aghata selama menjalani kehamilan pun membuat tubuhnya terasa begitu lemah. Apalagi setelah Arsen benar-benar meninggalkannya, selama beberapa hari terakhir Aghata tidak mempunyai cukup uang untuk membeli heroin sehingga rasa gelisah, resah dan cemas dalam diri Aghata menjadi terasa berlebih.
Aghata terlihat seperti orang depresi, bahkan sepanjang jalan dia merasakan mual hingga muntah berkali-kali. Hidung dan matanya terus berair, tulang-tulangnya pun terasa begitu nyeri, sampai-sampai membuat Aghata tak mampu berjalan lagi. Tak kuat, akhirnya dia berhenti dan duduk begitu saja dipinggir jalan, menangis sejadi-jadinya tanpa peduli dengan banyaknya orang yang berlalu lalang dan hanya memandangnya aneh tanpa sedikitpun menaruh belas kasihan.
__ADS_1
Hingga malam pun tiba. Jalanan mulai sepi, tak ada orang yang melewatinya lagi. Hembusan angin malam pun menghempas begitu saja tubuh itu mulai dari ujung rambut hingga ke ujung jari kaki, menambah rasa sakit yang Aghata rasakan saat otot-ototnya mulai mengejang, akibat sakau yang sudah dilaluinya berhari-hari.
Kini tubuh Aghata mulai menggigil. Rasa sakit yang menjalar di seluruh badannya, terlebih sakit di hatinya yang kini dia rasa, membuat pikirannya menjadi linglung seketika. Dia mulai berhalusinasi dan berpikir ingin mengakhiri diri.
“Tak ada gunanya lagi aku hidup,” gumamnya sambil tersenyum getir.
Diraihnya sebuah botol kaca yang kebetulan ada di sebelahnya, kemudian dia benturkan botol itu pada tepian jalan hingga menjadi serpihan-serpihan. Dengan tekad bulat, diraihnya satu serpihan kaca itu dan diarahkannya pada tangan kirinya untuk memutus urat nadi yang ada disana.
Namun tiba-tiba, seseorang mengagetkannya.
“Apa yang kau lakukan, Nona?” Prabu yang waktu itu kebetulan lewat dan melihat seorang perempuan hamil sedang duduk di tepi jalan dan berusaha mengakhiri hidup dengan memotong urat nadi melalui tangannya, akhirnya menghentikan mobilnya dan segera menghampiri Aghata.
“Siapa kau? Jangan campuri urusanku!” seru Aghata kesal. Setelah menoleh ke arah Prabu sebentar, dia memilih memalingkan muka kembali dan melihat ke arah kaca yang dia pegang.
“Kau benar-benar gila, Nona. Pikirkan bayi yang ada dalam kandunganmu itu,” pekik Prabu sambil mendekati Aghata dan merampas benda tajam itu dari tangannya secara paksa.
“Sudah kubilang jangan campuri urusanku!” seru Aghata begitu tersadar bahwa ternyata dua tangannya sudah berada di antara kedua tangan Prabu, sesaat setelah Prabu merampas dan membuang jauh-jauh serpihan kaca itu.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Pembaca setia, karena beberapa hal, mohon maaf episode 100 s.d. 104 ceritanya author ganti ya. Semoga tetap menarik dan bisa dinikmati. Terima kasih.
__ADS_1