METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tidur Bersama


__ADS_3

Jika seorang istri ingin hidup dalam hati suaminya, maka sudah tentu dia harus memenuhi hak dan melaksanakan segala kewajibannya terhadap suaminya. Sesungguhnya hal ini sudah sangat dipahami oleh seorang Meysie. Cuma karena ada gejolak di hatinya yang tak seiring sejalan saja sehingga batin dan raganya seolah bertentangan.


Kini, Meysie terduduk di tepi ranjang dengan gusar. Bahkan tangannya sudah asyik memilin-milin ujung gaun tidur yang dia kenakan karena begitu tegangnya. Secara fisik, dia benar-benar sudah mempersiapkan diri. Buktinya, pakaian tidur yang dia kenakan adalah pakaian tidur yang Ega siapkan khusus untuknya. Tubuhnya pun sudah wangi dengan parfum yang dia balurkan di seluruh tubuhnya. Jadi bisa dipastikan, Meysie memang sengaja mempersiapkan dirinya agar Ega menginginkannya dan mengambil mahkota yang selama ini dia jaga. Namun seperti apapun persiapan yang dilakukannya, tetap saja dia benar-benar tidak bisa memungkiri bahwa batinnya terus meronta-ronta.


"Apakah dia akan meminta haknya sebagai seorang suami malam ini? Aku benar-benar tak bisa. Tapi bagaimana caraku menolaknya? Bukankah ini adalah bagian dari kewajibanku sekarang?" batin Meysie dalam hati.


Apalagi ketika dia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan melihat Ega keluar sambil tersenyum dan berjalan ke arahnya, dada Meysie benar-benar bergetar luar biasa.


Sedetik kemudian, Ega menghentikan langkahnya. Dia berlutut di depan Meysie, meraih tangannya dan mencium tangan itu dengan segala perasaan yang membuncah di dalam dadanya. Jantungnya berdegup kencang, matanya pun berbinar melihat gadis yang sekian lama dia rindukan kini benar-benar ada di hadapannya meski belum bisa dia miliki seutuhnya.


"Terima kasih karena telah bersedia hidup bersamaku," tutur Ega dengan tatapan yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata.


Meysie pun tak menjawab dengan satu perkataan pun yang keluar dari mulutnya. Dia hanya memberikan seulas senyum, yang dia buat setulus mungkin dan berusaha mengusir semua kecanggungan serta hal aneh yang saat ini masih menguasai dirinya.


Sungguh, Ega tak bisa menahan hasratnya. Dia mulai membelai rambut hitam yang terurai itu tanpa ada kata yang bisa menggambarkan bagaimana rasa bahagianya saat ini. Dari arah rambut, Ega mulai bergerak mencium kening, kedua mata, kedua pipi dan menuju bibir Meysie yang selama ini sudah sangat mengundang hasrat kelaki-lakiannya.


Ega terus bermain menikmati setiap inci wajah istrinya dan mengabsen setiap sudut di rongga mulut Meysie tanpa penolakan sedikitpun dari gadisnya. Meski respon agak kaku harus Ega terima karena Meysie sampai saat ini belum juga menginginkan hal yang sama, tapi Ega tak berniat untuk menghentikan aktifitasnya. Dia yakin, perlakuan lembutnya akan mengikis secara perlahan pertahanan Meysie hingga cinta itu akan datang suatu saat nanti.


Mata Meysie terpejam menerima cumbuan dari suaminya. Walaupun dia tidak bisa menikmati setiap perlakuan Ega terhadap dirinya, tapi mau tidak mau dia harus merelakan semua yang dia miliki sekarang. Selain karena saat ini dia berada di negeri orang sendirian, Ega juga telah membuktikan betapa besar cinta itu kepadanya. Sungguh, bukan hal kecil yang telah dilakukan Ega untuknya. Mulai membatalkan perjodohan dengan skenario perselingkuhannya, merawat bahkan menikahinya saat dia masih koma, juga menyelamatkannya dari hukum yang menjeratnya, tentu bukanlah sesuatu yang bisa dibilang kecil dan bukannya tak butuh pengorbanan.

__ADS_1


Meysie pun terus mengikuti permainan Ega, hingga suaminya itu membimbingnya untuk berbaring di atas ranjang. Bahkan sebuah gendongan kecil membuat Meysie membenarkan posisi dan membuat tak ada lagi jarak di antara mereka. Namun di luar dugaan, Ega menghentikan permainannya. Dari arah bibir, Ega kembali mengecup kening Meysie dengan senyum termanis yang dia miliki.


"Tidurlah dengan nyenyak, Sayang. Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak akan meminta itu darimu sekarang. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap dan rela memberikannya untukku," ucap Ega sambil mengelus ujung kepala istrinya dan merebahkan diri di salah satu sisi ranjang.


"Abang, aku ...," Meysie merasa tak enak hati. Tangannya meraih tangan Ega dan menggenggamnya erat, seolah memintanya untuk melanjutkan permainan.


"Sssttt. Abang tahu kamu belum siap, Sayang. Jangan paksakan dirimu," ucap Ega lembut. Dia benar-benar berusaha dengan keras untuk menahan hasrat kelaki-lakiannya yang kini sudah membara.


"Maafkan aku, Bang," mata Meysie berkaca-kaca.


Ega tidak menanggapi perkataan Meysie. Dia hanya mengangguk dan tersenyum ke arah gadis cantiknya itu.


"Bang," panggil Meysie lagi.


"Hmmm," Ega memandang wajah cantik itu penuh tanda tanya besar.


"Terima kasih," lirih Meysie. Suaranya bergetar, air matanya pun kembali bercucuran.


"Tidurlah, Sayang. Besok pagi kita jalan-jalan ke tempat yang sangat kau inginkan. Kalau kau mau, besok kita juga bisa berkunjung ke rumah mama dan papaku. Mereka sudah sangat merindukanmu," jawab Ega sambil mengusap air mata Meysie dengan tangannya.

__ADS_1


Meysie hanya menganggukkan kepalanya, sesaat sebelum akhirnya Ega mengecup kening dan ujung kepalanya. Setelah itu, mereka pun mengambil posisi ternyaman dan berusaha untuk memejamkan mata hingga pagi akan datang.


Tiga puluh menit sudah mereka berusaha memejamkan mata mereka, tapi rasa kantuk tak juga datang mendera. Bahkan Meysie berkali-kali membolak-balikkan tubuhnya, berusaha mencari posisi ternyaman agar dia bisa menikmati tidurnya, tapi usahanya sia-sia. Ega yang juga merasakan hal yang sama pun akhirnya bangkit dan beranjak dari tidurnya.


"Abang mau kemana, Bang?" tanya Meysie begitu merasakan ada pergerakan di sebelahnya.


"Aku tidur di sofa saja ya, Sayang?" sahut Ega asal.


"Kenapa Abang mau tidur di sofa?" cecar Meysie, tak mengerti.


"Aku hanya tak mau mengganggu tidurmu, Sayang. Sepertinya kau tidak nyaman, mungkin karena ini kali pertama kau tidur dengan seorang laki-laki dalam satu ranjang," jawab Ega. Walaupun sebenarnya dia juga tidak benar-benar tahu, apakah ini adalah kali pertama Meysie tidur dengan seorang laki-laki atau tidak. Karena sebelum perjodohan mereka dulu, juga sebelum Meysie mencintai Ryan, Meysie pernah memiliki seorang kekasih yang cukup lama mereka menjalin hubungan.


"Jangan tidur di sofa, Bang. Abang tidur di sini saja sama Meysie. Bukankah sekarang kita sudah menjadi suami istri?" Meysie menjawab dengan polosnya. Secara tidak langsung, hatinya sudah menerima bahwa kini dia adalah istri sah dari seorang Ega Rahardian.


Ega tersenyum tulus mendengar permintaan istrinya. Hanya dengan mendengar pengakuan sekecil ini dari mulut istrinya, dia sudah merasa sangat bahagia. Akhirnya, dengan semangat empat lima dia mengurungkan niatnya dan kembali membaringkan tubuhnya.


Walaupun mereka tidur dengan saling membelakangi, tapi kini Ega bisa merasa lega dengan sikap yang ditunjukkan Meysie. Dan akhirnya, mereka pun bisa tertidur pulas sampai pagi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2