METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Senjata Tajam Yang Ditunggu-tunggu


__ADS_3

Pesta telah berakhir. Tamu undangan yang hadir telah berangsur-angsur pergi, meninggalkan sepasang pengantin yang sudah semakin gelisah dengan perasaannya masing-masing.


“Rani dan Lena antar Naja ke kamarnya dulu ya, Mas, Mom,” Pamit Rani seraya menggandeng tangan Naja. Setelah Ryan dan Aghata menganggukkan kepalanya, Rani dan Naja yang diikuti Lena pun meninggalkan tempat resepsi menuju kamar pengantin yang telah disiapkan oleh pihak hotel sebelumnya.


Sesampai di kamar, Naja memperhatikan setiap sudut ruang yang sudah disulap menjadi kamar pengantin yang menawan. Seperti altar pernikahan yang didominasi oleh bunga mawar berwarna putih, kamar itu juga didesain dengan warna dan bunga yang sama. Warna putih dari rangkaian bunga mawar putih.


“Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Apakah dia bisa menangkap kecintaanku kepada mawar putih hingga impianku akan sebuah pernikahan yang dipenuhi dengan ribuan mawar putih dia penuhi? Tapi mana mungkin?” batin Naja dalam hati.


Sejak kecil, Naja memang sangat menyukai bunga mawar putih. Bahkan dia pun bermimpi jika dia menikah suatu hari nanti, dia ingin pernikahannya dipenuhi mawar putih yang selalu bisa menghipnotis hati yang dia miliki. Dan kini, semua tak hanya sekedar mimpi. Apa yang didambakannya dalam sebuah pernikahan, benar-benar dia dapatkan.


“Eh, pengantin baru jangan melamun. Tenang saja Daniel pasti melakukannya dengan pelan dan penuh cinta,” bisik Rani membuyarkan lamunan Naja.


“Ihh, apa sih, Nona?” Naja tersipu malu.


“Anda tidak tau saja, Nona. Kalau pernikahan saya tidak seperti pernikahan orang pada umumnya. Tuan Daniel menikahi saya bukan karena dia telah jatuh cinta, tapi karena dia ingin memberi pelajaran atas pengkhianatan saya kepadanya,” lagi, Naja bergumam dalam hati.


“Jangan panggil saya Nona, Naja. Panggil saya Kakak, karena sekarang kamu adalah istri dari adik iparku,” pinta Rani dengan tatapan hangat.


Tak berapa lama, Rani pun meminta Naja membersihkan diri, kemudian memberikan gaun tidur yang telah Rani persiapkan untuk Naja kenakan di malam pertamanya. Setelah itu, Lena mengaplikasikan foundation pada wajah putih Naja menggunakan makeup sponge, sebelum akhirnya menyapukan sedikit bedak, lipstik dan blush on hingga wajah cantik itu semakin terlihat menawan.


“Selesai. Cantik bukan?” seru Rani sambil mengajak Naja berkaca di depan cermin.

__ADS_1


Naja memandangi bayangan wajahnya di dalam cermin dengan hati yang sulit diterka. Rambut hitamnya yang terurai, wajah cantik, disempurnakan dengan gaun tidur di atas lutut dengan bagian dada sangat terbuka, membuat malam pertamanya sangat terlihat sempurna.


“Secantik apapun Anda mendandani saya, tak akan bisa mengubah tekad Tuan Daniel untuk menghabisi saya malam ini, Nona,” batin Naja lagi.


“Oke, semua sudah sempurna. Tinggal kau duduk manis di sini, akan kuberi tahu pangeranmu kalau kau sudah siap,” Lena menimpali, sambil menarik tangan Rani dan beranjak pergi.


Kini Naja berada di dalam kamar itu seorang diri. Dalam sepi itu, dia pun melafaz semua do’a yang dia punya, berharap dia bisa menerima apapun hukuman yang akan dia terima.


Ceklek.


Terdengar suara pintu dibuka.


Naja pun meraba hatinya, seiring dengan hentakan kaki yang semakin mendekati dirinya. Ya, sungguh ada rasa takut di sana, terbukti dengan degup jantungnya yang kian mengencang. Langkah itu semakin mendekat, mendekat dan mendekat, hingga Naja memejamkan matanya, berharap mampu menjalani semua hukuman yang akan dia terima.


Lama, tak ada siapapun yang menghampirinya. Akhirnya Naja membuka mata, menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Tak ada siapapun di sana, hingga Naja sedikit bernafas lega.


“Mana dia?” tanya Naja dalam hati.


Sampai akhirnya, terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi yang membuat wajah Naja tegang kembali. Suasana hatinya pun semakin mencekam ketika derit pintu kamar mandi terdengar.


“Aku harus siap. Aku harus tegar. Aku harus kuat,” oceh Naja masih dalam hatinya.

__ADS_1


Melawan semua ketakutannya, Naja pun memberanikan diri untuk menatap pria yang semakin mendekatinya itu. Namun alangkah terkejutnya Naja ketika mendapati Daniel yang keluar hanya mengenakan handuk yang dia lilitkan sebatas pinggangnya, hingga menampakkan otot perutnya yang six pack.


“Jika kau ingin memberi penawaran lain untuk hukumanmu setelah kau melihat tubuhku ini, akan aku pertimbangkan,” cicit Daniel, hingga membuat Naja mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Daniel hanya menyeringai melihat ekspresi perempuan yang baru saja menjadi istrinya itu.


“Tidak, Tuan Daniel. Saya tidak pernah bermain-main dengan ucapan saya. Anda menikahi saya karena ingin menghukum saya perlahan bukan? Atau Anda akan menghabisi saya malam ini juga?” timpal Naja masih tak berani menatap pria di depannya.


“Jika kau tak mempunyai penawaran lain, mau tak mau harus kulakukan seperti apa yang tadi aku katakan kepadamu, Daysie. Malam ini juga aku akan menghabisimu dengan mencabik-cabikmu hingga bahkan kau tak akan punya kesempatan lagi untuk menyesali segala pengkhianatan yang telah kau lakukan kepadaku,” tekan Daniel, dengan tatapan tajam.


“Lakukan, Tuan! Aku memang pantas mendapatkannya,” meskipun ngeri, namun Naja tetap akan mengatakannya. Bahkan kini dia memejamkan mata, menunggu Daniel mengeksekusi hukuman yang akan dia berikan kepadanya.


Naja pun sama sekali tak berani membuka matanya ketika dia merasakan pria di depannya itu semakin mendekat hingga tidak ada jarak lagi di antara keduanya. Dia membayangkan sebilah pisau atau senjata tajam lainnya sesaat lagi akan mengoyak dan mencabik-cabik tubuhnya. Bahkan ketika Daniel membuat posisi tubuhnya berdiri dan melepas satu per satu pakaiannya tanpa sisa, Naja masih terus berpikir bahwa mungkin mantan majikannya itu akan mencabik seluruh bagian dari tubuhnya tanpa melewatkan satu bagian pun di sana.


Namun senjata tajam yang ditunggu-tunggu Naja tak juga mendarat manis dan mengoyak tubuhnya segera. Dia hanya merasakan sebuah tangan yang terus menyusuri setiap inchi tubuh yang kini polos itu dengan lembut, sebelum akhirnya rasa sakit akibat gigitan kecil di bibirnya membuat dia memekik dan membuka mulutnya. Dan segera saja nafas hangat itu mulai mengalir dalam rongga Naja, menyusuri setiap inchi mulutnya hingga merasuk dalam setiap hembusan nafas dan irama jantungnya.


Naja membulatkan mata dan berhenti bernafas sejenak ketika lidah itu merangkai cerita di dalam sana, hingga akhirnya tautannya terlepas dan mendarat indah menyusuri setiap lekuk tubuhnya hingga menjadi racun yang membuat gelombang indah yang menerpa jiwa-jiwa yang kini bersatu. Sampai akhirnya, muntahlah peluru demi peluru dari senjata itu hingga mampu mengoyak dan mendesir sampai aliran darah dalam desahan nafas yang memburu, membuat keduanya lepas kendali dan bermain hingga ke puncak, lalu melepaskan angan menuju syurga dunia yang telah mereka rindu.


BERSAMBUNG


💕💕💕


Author mohon buat yang tidak berkenan dengan cerita author, please tinggalkan comment membangun, tapi jangan kejam-kejam ngasih bintang kecil hingga rate author turun. 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2