METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Butuh Penjelasan


__ADS_3

Zara bisa bernafas lega, akhirnya Indra keluar juga dari apartemennya. Agaknya memang mulai saat ini Zara harus berhati-hati dan berpikir betul jika berbicara atau berhadapan dengan Indra, agar dia tidak kembali sukses membuat Zara mati kutu saat bertemu dengannya.


"Hmmm, selain pria narsis dan pria misterius, sepertinya aku harus menjulukinya si pria hantu. Oh tidak, tidak. Pria menyebalkan lebih tepat untuknya. Jika tidak, si pria teraneh di dunia," gerutu Zara dalam hati.


Setelah memastikan bahwa Indra benar-benar turun melalui seutas tali dari balkon Zara ke balkonnya sendiri, Zara pun langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Maklum saja, Indra sering tiba-tiba muncul di hadapan Zara tanpa adanya angin juga datangnya hujan sebagai pertanda. Jadi Zara harus benar-benar memastikan ada dan tidaknya pria itu di dalam apartemennya, jika dia tidak ingin kepergok sedang melakukan aktifitas pribadinya.


Apalagi malam ini Zara harus tampil menawan saat menemani Felix bertemu dengan koleganya, sehingga kepergian Indra sangat dinanti-nanti agar Zara bisa segera bersiap diri.


"Sudah jam segini. Aku nggak sempet tidur dulu deh gara-gara pria menyebalkan itu," gumam Zara lirih, sambil menanggalkan satu per satu pakaiannya dan mulai membersihkan tubuhnya.


Hanya dalam waktu sepuluh menit pun, Zara sudah keluar dari kamar mandi dan mulai merias dirinya, sebelum akhirnya siap dengan gaun panjang menawan yang mengekspos kesempurnaannya sebagai seorang wanita berkelas dengan segala kecantikan yang dia punya.


"Semangat. Semangat. Semangat. Semoga malam ini ada satu nama yang berhasil kudapat," Zara menyemangati dirinya sendiri di depan kaca, sembari mengecek secara detail penampilannya.


Setelah semuanya dirasa sempurna, Zara pun meraih tas dan kunci mobil, kemudian bergegas keluar dari apartemennya.


***


Berbeda dengan Zara yang sudah siap menjalankan rencana untuk segera menyelesaikan misinya, Indra justru masih senyum-senyum sendiri mengingat ekspresi Zara saat berhasil dikerjai olehnya. Muka Zara yang begitu memerah saat mendengar ucapan Indra yang sedang menggodanya, juga wajah yang berubah-ubah antara takut, kesal, juga marah ketika Indra berkali-kali membuat Zara tak mampu menimpali perkataannya, membuat Indra tertawa geli dan selalu mengingatnya.

__ADS_1


"Bisa-bisanya ya, Felix Adinata memakainya sebagai agen? Apa dalam diri gadis itu ada yang istimewa?" batin Indra dalam hati.


"Ih. Ih. Ih. Kenapa aku jadi memikirkan dia sih?" Indra bermonolog sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Masih belum move on dari bayangan Zara, akhirnya Indra pun mencoba mengecek keberadaan Zara melalui alat pelacak yang sempat Indra pasang pada handphone yang sempat dia berikan kepada gadis itu. Ya, selain agar Zara bisa dia hubungi sewaktu-waktu, sebenarnya Indra meminta Zara untuk selalu membawa alat komunikasi itu agar Indra selalu bisa mengecek keberadaan Zara melalui alat pelacak yang telah dipasangnya. Tentu saja tanpa Zara mengetahui semuanya.


Dan Kini, Indra memantau keberadaan Zara dari layar ponselnya. Ekspresi mukanya pun berubah-ubah seiring dengan pergerakan koordinat Zara yang bisa lihat dari benda pipih canggih yang sedang di pegangnya itu.


"Aku jadi penasaran, seperti apa dia saat sedang bersama Felix," gumam Indra lirih.


Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa bayangan yang ada di kepala Indra, Zara selalu menempel dengan tuannya, dan melayani segala kemauan Felix Adinata.


"Tapi mana mungkin? Dia terlihat sangat menjaga kesuciannya," oceh Indra lagi, tanpa ada seorang pun yang mendengarkan ucapannya


Tapi tetap saja, malam itu Indra tak tenang karena penasaran dengan apa yang Zara lakukan saat menemani Felix bertemu dengan koleganya. Hingga saat layar ponselnya menunjukkan bahwa Zara berhenti di satu titik, Indra langsung menyambar kunci mobilnya dan menuju ke tempat Zara berada.


***


Dan di sinilah Indra sekarang. Di sebuah parkiran restoran ternama di Kota X, yang terkenal dengan menu-menu mewah dan harganya yang fantastis. Dari mobilnya, terlihat bahwa Felix Adinata sedang berbicara cukup serius dengan seorang pria dan seorang wanita, dengan posisi Felix menghadap ke arah pintu sehingga bisa terlihat dengan jelas dari mobil Indra. Sementara dua orang yang sedang melakukan pembicaraan serius dengan Felix, Indra tak bisa melihatnya.

__ADS_1


Di meja lain tak jauh dari meja Felix, seorang gadis cantik dengan balutan gaun panjang berwarna hitam, terlihat sedang menikmati tenderloin steak dengan segelas orange juice yang sudah tersaji di atas meja. Bahkan Zara bersikap seolah-olah tak mengenal Felix, dan terus sibuk dengan makanan dan minuman yang terhidang di hadapannya.


"Hanya seperti itu? Lalu kenapa Felix selalu mengajaknya?" batin Indra sambil mengerutkan dahinya.


Hingga beberapa menit kemudian, Zara terlihat berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arah toilet dengan melewati Felix dan kedua tamunya. Namun tiba-tiba, Indra melihat dengan jelas bahwa Zara terjatuh karena sepatu high heel yang dikenakannya ada yang patah, hingga gadis itu terjatuh dengan manis di pangkuan seorang pria yang duduk tepat di depan Felix. Tidak hanya sampai di situ, Zara yang segera berdiri dari pangkuan pria itu pun menyambar secangkir kopi di atas meja, sehingga kopi itu tumpah mengotori baju yang dikenakan Felix Adinata.


Zara terlihat meminta maaf kepada Felix dan meraih tisu yang berada di atas meja, lalu membersihkan baju Felix yang kotor karena ulah Zara.


"Sebenarnya sandiwara apa yang sedang kalian lakukan, Zara?" Indra bergumam kecil sambil mengerutkan dahinya.


Tak berapa lama setelah itu, Felix dengan wajah datarnya keluar ke area parkir dan langsung meninggalkan restoran, diikuti beberapa mobil anak buahnya yang mengikutinya dari belakang. Sementara dua orang yang sesaat tadi melakukan pertemuan dengan Felix, tetap duduk di tempatnya.


"Sekarang aku mau lihat, apa yang akan kau lakukan bersama kedua orang itu Zara?" Indra masih begitu penasaran. Dia terus mengamati pergerakan Zara, sebelum akhirnya melodi Indah dari saku celananya membuyarkan konsentrasinya.


"Ya, Tuan," sapa Indra dengan sopan. Rupanya yang di ujung telepon sana adalah Ryan.


"Sekarang juga kau ke rumah, Ndra! Ada yang harus kubicarakan denganmu," titah Ryan yang terdengar begitu jelas di telinga Indra.


"Baik, Tuan. Saya ke rumah Anda sekarang," Indra tak lagi menoleh ke arah Zara. Dia langsung menyalakan mobilnya, dan menekan pedal gasnya dengan dalam hingga mobil itu langsung melaju kencang meninggalkan restoran.

__ADS_1


"Kelihatannya ada banyak hal yang harus kau jelaskan kepadaku malam ini, Zara," gumam Indra sambil terus fokus pada jalanan yang sedang dilaluinya.


BERSAMBUNG


__ADS_2