METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bagaimana Ini Semua Bisa Terjadi?


__ADS_3

Semburat jingga yang indah di sore itu terpaksa hilang seiring dengan gumpalan kapas hitam yang menutup batas cakrawala. Tetes demi tetes kehidupan yang tiba-tiba jatuh serentak, memborbardir jutaan meter tanah kering yang berada di bawah rintik-rintik nikmat Sang Maha Pencipta.


"Aggght," pekik Johan dan Nina secara bersamaan, menambah syahdu irama hujan di sore itu.


Johan pun langsung turun dari tubuh mungil Nina. Dia tumbang seketika, setelah hasrat yang dia tahan sekian lama akhirnya bisa tersalurkan juga.


"Terima kasih, Sayangku," Johan menciumi setiap inchi wajah Nina, setelah menarik selimut yang sudah berserakan di lantai dan menutupi tubuh polos mereka berdua.


Nina hanya tersenyum malu sambil mengeratkan pelukannya, dan menenggelamkan diri dalam dada bidang suaminya.


"Maaf," cicit Nina dengan terbata.


"Kenapa minta maaf?" Johan berusaha meraih wajah istrinya, tapi Nina terus menyembunyikannya di balik dada suaminya.


"Aku hanya sangat merindukanmu, makanya aku mengucapkan kata-kata itu. Aku sungguh menginginkanmu, dan berharap bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Aku benar-benar tak serius memintamu melepaskanku. Bahkan aku tak bisa membayangkan jika aku harus hidup tanpa dirimu," Nina kembali terisak.


"Sssttt. Meski kau memintanya ribuan kali sekalipun, aku tak akan pernah melepaskanmu," Johan menggeser tubuh Nina dan membuat tubuh mungil itu kembali dalam kungkungannya.


Reflek, tangan Johan menghapus air mata yang membasahi wajah cantik milik istrinya. Dia pun menempelkan dahinya di atas dahi Nina, hingga hidungnya pun menempel dan dengan mudah bisa dia gesek-gesekan untuk menggoda istrinya. Sedetik kemudian, bibir Johan yang sudah menunjukkan aksinya, membuat hasrat keduanya kembali menyala-nyala. Hingga tiba-tiba ...,


Ndret-ndret. Ndret-ndret.


Ponsel Johan terus bergetar, menandakan sebuah panggilan sudah menanti mendapatkan jawaban. Sesaat, Johan melepaskan pagutannya dan menatap pada kedalaman mata istrinya.


Ndret-ndret. Ndret-ndret.


Getaran benda pipih itu terus mengganggu, meski akhirnya Johan tetap melanjutkan aktifitas indah bersama istri kecilnya itu.


"Angkatlah," Nina melepaskan pagutan suaminya.

__ADS_1


"Apakah kau tak marah?" tanya Johan hati-hati. Dia benar-benar tak mau melihat istrinya kembali marah kepadanya, hanya karena prioritasnya jatuh kepada majikan dan pekerjaannya.


"Baru saja baikan. Masa sudah ada gangguan lagi sih?" gerutu Johan dalam hati.


"Asal kau tetap punya waktu untukku," sahut Nina sambil tersenyum manis ke arah suaminya. Nina benar-benar bisa menangkap sebuah keraguan dalam diri suaminya itu, dan menurutnya hal ini adalah sebuah wujud dari komitmen akan janji yang sempat Johan ucapkan beberapa saat yang lalu.


"Terima kasih, Sayang," dengan semangat empat lima, Johan mengecup kening Nina dan segera turun dari tubuh polos istrinya.


Tak butuh waktu lama, Johan segera meraih ponsel itu dari atas nakas di sampingnya, kemudian menempelkan benda pipih canggih itu ke telinganya begitu icon warna hijau dia sentuh dengan mantapnya.


"Saya sedang tidak di sana, Tuan. Rudi yang menggantikan saya. Baik. Baik, Tuan. Saya akan segera menyusul Anda," kata Johan, menanggapi pertanyaan Ryan dari seberang sana.


"Sayang, aku harus ...," ucap Johan ragu.


"Pergilah," sahut Nina, bisa membaca apa yang akan diucapkan suaminya.


"Apa kau .. ," Johan masih terlihat ragu.


"Terima kasih, Sayang. Aku sungguh mencintaimu. Sangat mencintaimu," ucap Johan sambil berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lima belas menit kemudian, Johan pun sudah rapi dan siap untuk pergi. Dikecupnya kening Nina yang masih betah dengan selimut yang membungkus tubuh polosnya. Setelah membisiki kata-kata mesra, baru Johan meninggalkan istrinya dengan senyum mengembang yang terus melengkung di bibirnya.


***


Ryan mengemudikan mobilnya dengan hati-hati, mengingat langit sudah mulai menghitam, bukan hanya karena awan yang kini menurunkan hujan, tapi karena waktu yang hampir menjelang malam. Apalagi tepat berada di sampingnya saat ini, ada seorang ibu hamil yang selalu cerewet mengomentari dirinya saat sedang menyetir, hingga membuat Ryan merasa tak ada pilihan lain.


Setelah tiga puluh menit perjalanan, Ryan pun memarkirkan mobilnya di basement rumah sakit, agar mereka tak terkena air hujan saat menuju ke ruang yang Hengky tunjukkan. Setelah Ryan membantu Rani turun, Johan pun segera menghampiri mereka dari arah belakang.


"Ada apa, Tuan?" sapa Johan sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan.

__ADS_1


"Aku juga belum tahu. Hengky hanya memintaku untuk menemui ayahnya saat ini juga," jawab Ryan sambil meraih tangan Rani dan segera berjalan mendahuli Johan yang terlihat masih menunggu perintah dari mulutnya.


Johan hanya mengangguk kembali dan mengikuti kemana Ryan melangkah pergi. Bahkan setelah masuk ke dalam lift dan keluar di lantai tujuh rumah sakit itu, mereka masih rela berjalan menyusuri lorong demi lorong bangunan modern yang kini dipenuhi dengan pasien yang pesakitan itu.


Dari kejauhan, mereka melihat Hengky, Nyonya Atmaja juga Fisha sedang duduk berjejer di bangku panjang sebuah ruang perawatan. Beberapa meter dari tempat mereka duduk, terlihat ada dua orang polisi yang berjaga. Ya, tentu saja ini pemandangan biasa untuk pasien seorang narapidana.


Sekilas, Ryan melihat ke arah istrinya dan mengangguk, memastikan bahwa Rani benar-benar sudah siap bertemu dengan Tuan Atmaja. Setelah Rani membalas anggukan suaminya dengan anggukan yang sama, mereka pun berjalan semakin mendekat ke arah Hengky dan keluarganya.


"Assalamualaikum," sapa Rani dengan begitu ramahnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Hengky, Fisha dan Nyonya Atmaja serentak.


Ryan, Rani juga Johan bisa menangkap kesenduan yang terpancar dari wajah ketiga anggota keluarga Atmaja itu. Mata mereka terlihat begitu sembab, akibat air mata yang mengalir entah berapa lama.


"Apakah Tuan Atmaja sakit? Bagaimana kondisinya?" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Ryan.


"Tidak. Papa tak lagi sakit. Dia sudah sembuh dari sakitnya," Hengky menggeleng pelan.


"Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya. Kalau begitu dimana beliau sekarang? Bolehkah kami bertemu dengannya sebelum kalian pulang?" sahut Ryan dengan seulas senyum di bibirnya. Pikirnya, Tuan Atmaja akan keluar rumah sakit setelah mendapatkan perawatan akibat sakit yang dideritanya.


"Papa ada di dalam. Tapi ...," ucap Hengky ragu. Bahkan kini dia memeluk ibunya yang sudah tergugu.


"Apakah Tuan Atmaja sudah ...," Ryan tak mampu melanjutkan kalimatnya.


Hengky tak menanggapi pertanyaan Ryan kepadanya. Hanya sebuah anggukan yang mampu dia tunjukkan untuk menjawab bahwa kini Tuan Atmaja telah tiada.


"Jadi? Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Allahumma ajirhum fii mushibatihim, wa akhlif lahum khoiron minha. Sesungguhnya kita milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah, berilah mereka pahala dalam musibah mereka dan berilah ganti yang lebih baik," ucap Rani setelah menutup mulutnya yang membulat seketika, mendengar kabar yang sangat begitu mengejutkannya.


"Bagaimana ini semua bisa terjadi?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2