METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Dia Adalah Hidupku


__ADS_3

Hari ini, Allah melukis pagi dengan begitu indahnya. Bola sang surya menyembul dari balik awan yang menjingga, membiaskan rona cahaya penuh cinta bagi alam semesta.


Berbeda dengan matahari yang selalu menjadikan dunia terlihat indah di pandang mata, hati Zara pagi ini begitu pias dalam lipatan mata lelahnya. Rasa takut jika harus hidup tanpa Indra, membuat dia merasa bahwa esok, paginya takkan pernah sama lagi jika Indra tak bisa lagi bersamanya.


"Jika semua waktu di dunia bisa kumiliki, aku hanya ingin menghabiskan waktu itu hanya bersamamu, Sayang," ucap Zara sambil mengecup kening Indra berkali-kali.


Indra hanya bisa tersenyum tanpa berkata apa-apa lagi. Kepalanya yang kini masih bersandar di bahu Zara, membuat wajah pucatnya makin terlihat sempurna. Hal inilah yang membuat ketakutan di hati Zara semakin bertambah saja. Baginya, Indra adalah mentari yang menjadi penerang dalam menapaki masa depannya yang masih panjang. Jika mentari dalam dunianya tak lagi bisa bersinar, maka tak ada gunanya lagi dia berpikir tentang masa depan. Karena mentari yang dicintainya, adalah satu-satunya cahaya yang telah menerangi ruang gelap di dalam hatinya. Dan jika mentari yang Zara cinta itu kehilangan cahayanya, apa yang harus dia lakukan untuk mempertahankan hidupnya?


"Bertahanlah, Sayang. Sebentar lagi mereka akan datang. Kau sudah berjanji akan kuat untukku, kan?" tangis Zara kembali pecah. Kondisi Indra semakin lemah, sementara Johan, Rudi, dan anak buah mereka masih dalam perjalanan menuju ke tempat ini.


Indra hanya diam saja. Candaan dan godaan yang semalam masih keluar dari mulutnya, kini seolah hilang ditelan sang surya. Mata Indra pun tetap terpejam, meski berkali-kali Zara menepuk-nepuk pipinya agar mata itu tetap terbuka. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, yang jelas dia teramat takut jika sekali Indra memejamkan matanya, mata itu tak kan pernah terbuka untuk selama-lamanya.


"Jangan tidur, Ndra. Dengarkan aku bicara," Zara terus mengulang kalimatnya, tapi Indra sudah tak bisa lagi bertahan dengan mata yang terbuka. Tubuhnya terasa semakin berat, kesakitan luar biasa di sekujur tubuhnya sudah tak bisa lagi ditahannya.


Hingga tiba-tiba, suara helikopter terdengar jelas melintas di atas mereka. Helikopter itu terlihat berputar-putar berkali-kali, mencoba mencari tempat landasan sebelum mereka membawa Indra pergi.

__ADS_1


"Tak ada tempat yang bisa kita gunakan untuk melakukan pendaratan, Zara. Satu-satunya jalan, kami harus turun ke dasar jurang dan membawa Indra naik dengan cara manual," terdengar suara Rudi dari earpeace yang masih terpasang di telinga Zara.


Tak ada pilihan lain, memang. Mengingat kondisi Indra yang kemungkinan mengalami patah tulang, membuat mereka harus ekstra hati-hati jika tak ingin hal fatal harus Indra rasakan. Hingga beberapa saat kemudian, terlihat beberapa pengawal yang turun menggunakan seutas tali dari helikopter itu, dan menghampiri Zara juga Indra yang masih berada di lubang tempat pilot itu membuang tubuhnya.


Begitu beberapa orang turun, mereka mengangkat tubuh Indra yang kini sudah hilang kesadarannya. Dengan hati-hati, Indra dibaringkan di atas sebuah dragbar. Beberapa bagian tubuhnya pun diikat dengan tandu modern itu, agar tidak ada bagian tulang yang bergeser saat mereka membawanya naik mendaki jalan setapak menuju helipad yang terletak di atap istana yang mereka tuju.


Mereka berusaha bergerak secepat mungkin karena berkejaran dengan waktu. Zara yang mengikuti mereka dari belakang pun terus melangkahkan kakinya, sambil mengucap untaian do'a.


Dan apa yang dia lakukan tak sia-sia. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai juga di atap istana, dengan banyaknya tenaga medis yang sudah menunggu untuk melakukan pertolongan pertama. Begitu infus dan selang oksigen terpasang di tubuh Indra, akhirnya mereka langsung terbang ke rumah sakit yang sama dimana Rani dan Fisha juga berada.


Naja berjalan mondar-mandir di atap sebuah gedung rumah sakit. Hatinya begitu tak tenang, walaupun sudah mendengar laporan bahwa adiknya sudah mendapatkan penanganan dan kini sedang dalam perjalanan.


"Tenanglah, Sayang. Indra punya Zara yang betul-betul mencintainya. Kau sadar, bahkan dia bisa menemukan Indra karena ikatan batin di antara mereka yang sedemikian kuatnya," ucap Daniel yang berdiri tak jauh dari Naja, sambil menggerakkan matanya mengikuti kemana pun Naja melangkahkan kakinya.


"Kau benar, Sayang. Tapi aku tak tahu kondisi Indra seperti apa sekarang. Sebelum aku memastikan sendiri bahwa dia baik-baik saja, aku tetap belum bisa tenang," Naja menghentikan langkahnya, tapi tak bertahan lama. Dia kembali berjalan mondar-mandir, menanti kedatangan helikopter yang akan membawa Indra ke hadapannya.

__ADS_1


"Istirahatkan tubuhmu juga, Sayang. Kau tak lihat seperti apa kondisimu sekarang? Kau terlihat sangat pucat karena begitu kelelahan," nada khawatir mulai terdengar dari setiap ucapan Daniel. Ya, hari ini Naja benar-benar terlihat pucat, gurat lelah pun tergambar jelas dari wajah ayunya.


"Kelelahanku saat ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kelelahan jiwa dan ragaku untuk membuat kami bertiga bisa tetap bertahan hidup di dunia dengan segala perjuanganku, Sayang. Aku hanya tak mau semua yang kulakukan selama ini berakhir sia-sia. Karena itulah aku harus memastikan bahwa Indra baik-baik saja," mendengar jawaban terakhir Naja, Daniel sama sekali tak ingin membantahnya. Apalagi dia sendiri adalah saksi, bagaimana beratnya perjuangan Naja demi bisa menghidupi adik dan ibunya. Mulai dari menjadi seorang balerina, hingga akhirnya menjadi seorang agen mata-mata dengan tugas yang luar biasa berbahaya karena sering bertaruh nyawa.


Hingga tak berapa lama, yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Indra bersama Zara dan tim medis yang menanganinya turun dan segera berlari membawa Indra ke IGD untuk diperiksa lebih seksama, agar luka di sekujur tubuhnya bisa segera mendapatkan penanganan sesuai apa yang seharusnya.


Naja mengambil nafas lega begitu tahu bahwa Indra benar-benar masih menghembuskan nafasnya. Bahkan begitu Indra di bawa masuk dan ditangani tim dokter yang ada di sana, Naja langsung meraih tubuh Zara dan dengan begitu erat memeluknya.


"Terima kasih, Zara. Indra sungguh beruntung memiliki gadis seperti kamu," ucap Naja tulus.


"Dia adalah hidupku, Kak. Jika dia redup, aku juga tak akan bisa hidup. Dia satu-satunya yang aku punya, karena semua orang yang kucintai telah pergi dari dunia ini. Dan aku tak sanggup jika harus kehilangan lagi, seperti kemarin saat Indra ..., hiks ..., hiks ..., hiks .. ," tangis Zara pecah, mengingat ketakutannya akan kembali kehilangan.


"Sssttt. Mulai hari ini, kau tak boleh merasa sendiri lagi, Zara. Aku adalah kakakmu, dan selamanya akan tetap seperti itu. Jadilah adikku, dan cintai Indra seumur hidupmu,"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2