METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Penyesalan


__ADS_3

Sekali lagi, Naja melihat jarum jam yang terpasang dengan cantik di tangan kirinya. Merasa belum puas, dia kembali memastikan jam digital yang terpampang di depan kemudinya, juga jam di dalam ponselnya menunjukkan angka yang sama. Sudah tiga jam terhitung sejak pertengkaran Naja dan Daniel pagi itu, artinya jika diasumsikan bahwa Daniel langsung terjatuh begitu Naja meninggalkannya, selama tiga jam itu pula Daniel terluka tanpa ada Naja di sampingnya.


"Bodoh. Bodoh. Bodoh," sepanjang perjalanan, Naja terus mengutuki dirinya yang terlalu emosi hingga tak mau mendengarkan Daniel menjelaskan semuanya.


Bahkan kini Naja semakin ugal-ugalan mengendalikan laju mobilnya, hingga akhirnya Lamborghini Veneno Roadster yang dibanderol dengan harga 69 miliar itu mendecit begitu tiba di halaman parkir rumah sakit, karena pedal rem yang ditekan mendadak dan terlalu ke dalam. Beberapa detik kemudian, Naja segera turun dan berlari ke arah dalam gedung, kemudian mulai menyusuri lorong demi lorong rumah sakit itu dengan perasaan yang begitu tak menentu.


Meski Naja mulai terengah, tetap saja baginya tak ada kata menyerah. Dia terus berlari menyusul sang pujaan hati, bahkan terlihat tak peduli lagi saat harus menyenggol atau menabrak orang yang tak sengaja berpapasan dengannya. Yang ada di benaknya hanya satu, Daniel, Daniel dan Daniel.


Hingga tiba-tiba, Naja berhenti di depan sebuah kamar perawatan yang diberitahukan Aghata melalui pesan whatsapp beberapa jam lalu yang baru saja dibukanya.


Dengan ragu, Naja terus memegang gagang pintu itu, kemudian secara perlahan memutarnya dengan pelan.


Ceklek.


Ketika pintu terbuka, semua mata memandang ke arahnya dengan tatapan tidak suka. Ekspresi marah, kecewa, juga sedih, benar-benar terlihat dari ekspresi wajah Aghata, sementara yang lain hanya menatapnya dengan datar, tanpa ekspresi sama sekali. Bahkan, Johan dan Rudi kini meninggalkan ruang itu begitu Naja muncul, hingga yang tersisa di dalam hanya Ryan, Rani, Aghata, Arsen, dan juga Daniel yang kini masih terbaring lemah di ranjang pasien, dengan mata terpejam karena masih belum sadar.

__ADS_1


Naja hanya diam mematung melihat kondisi suaminya. Wajah Daniel yang pucat, juga kepalanya yang di lilit dengan perban, membuat Naja semakin merasa bersalah dengan prasangkanya yang sama sekali tak berdasar.


Mulut Naja pun semakin bergetar, seiring dengan isak tangis yang tak lagi bisa tertahankan. Hingga tiba-tiba, Naja menjatuhkan dirinya dan bersimpuh di hadapan kelima orang yang kini berada di hadapannya.


Waktu itu, hanya Rani yang menunjukkan sikap ibanya, tapi Ryan mencegahnya saat ingin mendekati Naja. Ryan, Aghata dan Arsen benar-benar marah dengan keegoisan Naja yang berakibat pada cideranya Daniel bahkan di saat kondisi matanya sudah buta.


"Saya memang tidak pantas menerima ampunan dari kalian. Karena itu, hukumlah saya, Tuan!" ucap Naja masih dalam posisi berlutut.


"Apa kau sudah lupa dengan janji setiamu kepada Daniel, Naja? Jika kau memang lupa, biar aku ingatkan sekali lagi," sahut Ryan ketus. Kekhawatirannya pada kondisi Daniel, membuat sifat asli Ryan yang dingin bisa nampak dengan sempurna.


"Sekarang aku baru tahu, kenapa waktu itu begitu mudahnya kau mengkhianati Daniel dan berjanji setia kepada papaku, Naja. Agen lain akan memilih mati untuk tuannya, tapi kau? Kau memilih berkhianat hanya karena keegoanmu untuk tetap hidup di dunia. Tahukah bahwa hari ini kau telah melakukan hal yang sama? Dengan keegoanmu akan keluargamu, kau telah mengkhianati Daniel untuk yang kedua kalinya. Bahkan kau memilih ibumu tanpa mendengarkan perkataannya terlebih dulu, padahal ikatanmu dengannya saat ini bukan hanya ikatan antara atasan dan bawahan, tapi lebih dari itu. Kau telah terikat janji suci dimana Allahlah yang menjadi saksi bahwa segala kewajibanmu sebagai istri kini melekat tanpa bisa ditawar lagi," oceh Ryan dengan tatapannya yang tajam, sementara Naja hanya mendengarkannya dengan derai air mata.


"Hubby," Rani mengeratkan genggamannya, bahkan kini satu tangannya mengelus bahu Ryan agar suaminya lebih tenang. Gadis itu benar-benar tahu bagaimana cara mengendalikan emosi suaminya.


"Hubby sudah berjanji kepada Mama dan Papa, akan menjaga Daniel dan Mommy seumur hidup Hubby, Sayang. Dan itu wasiat terakhir Mama untuk Hubby. Hubby sungguh menyesal telah menyetujui permintaannya untuk menikahi Naja," Ryan melepas genggaman tangan istrinya dengan pelan, kemudian berjalan ke arah sofa dan mrnghempaskan tubuhnya begitu saja di sana. Kini dia memejamkan mata, dan memijit pangkal hidungnya, seolah dengan begitu kepenatan yang dirasakannya akan hilang dengan sendirinya.

__ADS_1


Rani pun mengikuti langkah Ryan, kemudian duduk di sampingnya. Dia meraih tangan suaminya itu dan meletakkannya di atas perutnya yang sudah membola. Ternyata berhasil, hal itu benar-benar mampu mengubah suasana hati suaminya.


"Saya bersalah, Tuan. Hukumlah saya! Hukum saya sesuai keinginan Anda, Tuan! Sungguh, saya bukanlah seorang agen yang sempurna. Saya juga bukan seorang putri dan kakak yang baik bagi keluarga saya, bahkan menjadi istri yang baik untuk suami saya saja, saya sudah gagal melakukannya, Tuan. Saya mohon, hukumlah saya sesuai keinginan Anda!" Naja semakin tergugu mendengar kemarahan Ryan kepadanya. Segala penyesalan dalam dirinya, kini hadir dan berkecamuk dalam dadanya.


Hingga tiba-tiba ...,


"Sayang! Sayang! Dengarkan aku dulu! Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan," Daniel menceracau, bahkan tiba-tiba terduduk begitu dia sadar dari pingsannya yang berjam-jam lamanya. Rupanya apa yang dia hadapi sebelum dia terjatuh dan pingsan, masih terbawa dan menjadi beban di bawah alam sadarnya.


Kini semua mata tertuju padanya. Sedetik kemudian, mereka semua mendekati Daniel dan memeluknya erat.


"Kau sudah siuman, Nak?" pekik Aghata, sambil memeluk Daniel. Air mata bahagia mengucur dengan begitu derasnya, perasaan khawatir bahwa suatu hal buruk akan terjadi pada putranya kini hilang seketika.


Naja hanya bersimpuh di tempatnya tanpa berani mendekati pria yang teramat sangat dicintainya itu. Sungguh, ingin sekali dia mendekat dan menghambur dalam pelukan suaminya, tapi dia hanya mampu menelan salivanya. Biar bagaimanapun, dia tetap harus mempertanggungjawabkan semua yang telah dia perbuat. Dia benar-benar sudah merasa gagal. Bukan hanya gagal sebagai seorang agen, tapi juga gagal sebagai seorang anak, sebagai seorang kakak, lebih-lebih sebagai seorang istri.


"Naja! Dimana Naja, Mom? Dia begitu marah karena aku tak memberitahukan keberadaan ibu dan adiknya, bahkan dia mengira bahwa aku yang menyekapnya. Dia harus mendengarkan penjelasanku,"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2