
Daniel berusaha untuk tersenyum, demi menenangkan orang-orang yang sangat dicintainya. Walaupun begitu, semua orang yang melihatnya ketika itu pasti tahu apa arti senyum itu. Ya, Daniel tersenyum untuk menutupi segala kepedihan yang dirasakannya, juga untuk mengurangi kepedihan yang dirasakan oleh keluarganya.
"Kau tenanglah, Niel. Aku akan mencari donor kornea untukmu. Walau sampai ke ujung dunia pun, pendonor itu pasti akan aku dapatkan untukmu," Ryan menepuk bahu Daniel kemudian keluar ruangan.
Tanpa menoleh ke belakang lagi, Ryan segera keluar dari kamar itu. Setelah menutup pintu dari luar, dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Arya yang berdiri bersandar ke dinding dengan kedua tangan yang bersedekap di depan dadanya, Rudi yang duduk di bangku panjang dengan pandangan tertuju ke ponselnya, Mama Davina yang duduk lesu bersama Nina, juga Johan yang kini duduk tanpa ekspresi dengan balutan perban di kening dan telapak tangannya. Mereka semua masih menunggu Ryan atau siapa saja yang berada di dalam untuk menjelaskan kondisi Daniel kepada mereka.
Melihat Ryan keluar, mereka semua sontak berdiri dan menghampirinya.
"Bagaimana?" Arya menjadi yang pertama membuka mulutnya.
"Korneanya rusak. Satu-satunya harapan hanya donor," jawab Ryan lesu.
"Ini semua gara-gara si tua bangka dan anak tak tahu terima kasih itu," seru Johan penuh emosi. Bahkan kini dia memukul-mukulkan tangannya ke dinding, tanpa bisa dikendalikan. Setelah puas meluapkan kemarahannya, Johan pergi begitu saja meninggalkan mereka semua.
"Jo!" panggil Ryan. Sayangnya emosi Johan sudah mengalahkan akal sehatnya.
"Huhhhh. Sial. Ayo Ar, kita selesaikan sekarang," umpat Ryan, sesaat sebelum akhirnya menyusul Johan bersama Rudi dan Arya.
Nina dan Davina yang menyaksikan mereka pergi dengan luapan emosi yang masih menyelimuti mereka pun hanya bisa mengelus dada. Sedetik kemudian, Nina dan Davina masuk ke ruang dimana Daniel berada. Untung saja Hengky yang tadinya juga berada di tempat itu terlebih dahulu pamit pulang. Jika tidak, tentu semua akan menjadi berantakan.
***
Warna-warni pelangi adalah gambaran dari warna-warni perjalanan hidup kita. Perbedaan, perselisihan, kejahatan, datang silih berganti membersamai sebuah cinta, keindahan juga kebaikan. Pada fase inilah mereka sekarang, dimana kebahagiaan yang baru saja mereka dapatkan diuji dengan cobaan demi cobaan yang ternyata belum dapat terselesaikan.
Setelah kematian putra Arya, juga diculiknya Rani dan Nina, kini Daniel menjadi sasaran kejahatan Charles juga Atmaja. Dan ini adalah pukulan yang luar biasa bagi Johan. Ya, Johanlah yang paling terpukul atas terlukanya Daniel, sang malaikat penolong dalam hidupnya.
Seperti waktu itu. Begitu Johan tahu bagaimana kondisi majikan sekaligus sepupu dari istrinya itu, emosinya benar-benar berada di luar kendalinya. Hingga tanpa pikir panjang, dia segera pergi, memasuki mobilnya dan hendak memburu Charles dan Atmaja seorang sendiri.
"Kalian tak bisa lari lagi dariku," geram Johan dalam hati.
Johan pun menstater mobilnya. Namun, sebelum mobil itu berhasil melaju, tiba-tiba Rudi membuka pintu depan, diikuti Ryan dan Arya yang membuka pintu belakang sebelum akhirnya naik dan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Kalian?" ucap Johan tertahan.
"Berani-beraninya kau meninggalkan aku begitu saja, Jo. Ingat, selain Daniel aku adalah Tuanmu," ucap Ryan datar.
"Maafkan saya, Tuan," Johan menunduk.
"Jalan," titah Ryan tanpa peduli dengan permohonan maaf yang Johan ucapkan.
"Kemana, Tuan?" tanya Johan ragu.
"Cih. Bahkan kau tak tahu kemana kita harus pergi? Bagaimana bisa kau berpikir mau jalan sendiri?" cibir Ryan.
Johan diam seribu bahasa, tidak menanggapi ocehan Tuannya.
"Rud, beritahu dia kemana kita akan pergi!" titah Ryan kepada Rudi yang kini telah duduk di samping Johan. Rupanya Rudi bergerak cepat. Melalui teknologi dan banyaknya anak buah yang dia sebar paska penembakan ban mobil Daniel, saat ini Rudi sudah menemukan posisi Charles dan Atmaja.
"Siap, Tuan," sahut Rudi.
"Satu lagi," kata Ryan.
"Hubungi aparat. Hari ini kita cukup menjadi penunjuk jalan," titah Ryan lagi.
"Baik, Tuan," jawab Rudi mantap.
***
Tok-tok-tok.
Sebuah ketukan keras di pintu itu menggelegar bagaikan petir yang menyambar. Charles dan Atmaja yang waktu itu sengaja bersembunyi tanpa seorang pengawal pun, akhirnya terbangun dari tidurnya.
"Apakah aku mimpi buruk?" guman Atmaja dalam hati.
__ADS_1
Atmaja benar-benar mengira bahwa suara itu bagian dari mimpi buruknya. Namun, setelah sepenuhnya sadar, Atmaja langsung menyentakkan selimut dan beranjak. Hingga suara ketukan itu makin lama makin keras, dan mulai berubah menjadi gedoran demi gedoran yang tidak beraturan.
"Saudara Atmaja! Saudara Charles! Keluar kalian. Atau pintu kami dobrak. Kalian sudah kami kepung," seru seorang polisi kepada Charles dan Atmaja.
Hingga tiba-tiba, suara bentakan keras dari arah pintu terdengar. Charles dan Atmaja yang sudah memahami bahwa polisi sudah mendobrak pintu utama rumah tempat mereka tinggal sementara pun segera keluar kamar dan siap siaga dengan senjata di tangannya.
Akan tetapi, suara itu kemudian berubah menjadi suara pintu yang berdebam, diikuti dengan derap langkah banyak orang yang masuk ke dalam, dengan senjata lengkap yang di arahkan ke sembarang arah.
Charles dan Atmaja yang sekarang berada di area dapur, masih siap dengan senjata api di tangannya. Mereka mendekati jendela yang berada di dekat mereka, ternyata di luar sana luput dari kepungan para polisi itu.
Sedetik kemudian, mereka keluar mengendap-endap melalui jendela itu, dengan jantung yang berdegup kencang. Ya, akhirnya mereka berhasil melarikan diri, menembus kepekatan malam di bawah naungan langit yang menghitam.
Mereka terus berlari, di bawah remang-remang cahaya bulan. Mereka melewati semak-semak belukar, bahkan mereka rela menyeberangi sungai yang penuh dengan kotoran.
"Apa jalan raya masih jauh, Tuan? Tidakkah anak buah Anda kita hubungi sekarang?" tanya Charles, benar-benar merasa tidak nyaman dengan kondisi mereka sekarang.
"Kita hubungi mereka begitu kita rasa situasi sudah aman," sahut Atmaja sambil beberapa kali menoleh ke belakang.
Sesampainya di seberang sungai, mereka masuk ke sepetak tanah lapang yang terlihat seperti sebuah lapangan volly. Di seberang tanah lapang itu, terdapat kebun ilalang yang bisa mereka gunakan untuk tempat persembunyian. Tanpa pikir panjang, mereka pun masuk ke kebun ilalang itu, sambil menunggu anak buah mereka datang.
Ya, mereka rela bersembunyi di balik ilalang yang tinggi dan lembap. Hingga tiba-tiba, semak-semak di belakang, depan dan samping kanan kirinya berdesir, membuat jantung mereka seolah berhenti berdetak.
Dan dalam kegelapan itu, Charles dan Atmaja merasakan kehadiran beberapa orang.
“Menyerahlah, atau kami tak segan-segan akan menambakmu," seru salah seorang polisi itu.
Kini, Charles dan Atmaja berada tepat di tengah-tengah kawanan polisi yang menodong mereka dengan senjata api.
"Turunkan senjata kalian, atau kami tak segan-segan menarik senjata kami ke arah kalian,"
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Jangan lupa vote, like dan rate 5 ya.