METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Rujak Gobet Termahal di Dunia


__ADS_3

Rani bisa bernafas lega, mendapati Daniel dan Naja kini sudah baik-baik saja. Dengan senyum mengembang, Rani berjalan mengikuti genggaman tangan Ryan yang membawanya melangkah ke luar rumah sakit yang selama beberapa jam ini telah sukses membuat hatinya juga hati semua orang yang ada di sana menegang, karena Daniel tak juga siuman sebelum akhirnya Naja datang.


"By," tiba-tiba Rani menghentikan langkahnya, membuat tangan suaminya tertarik ke belakang.


Spontan, Ryan memandang Rani penuh tanya. Namun ketika mengikuti kemana arah mata istrinya tertuju, Ryan langsung mengerti apa yang diingini istrinya itu.


"Sayangnya Hubby pengen itu?" tanyanya sambil menunjuk pada pedagang rujak gobet yang berjualan di depan area parkir rumah sakit.


"Hmmm," sahut Rani sambil mengangguk.


"Ya sudah, kamu tunggu di mobil, biar Hubby yang belikan ya," senyum Ryan mengembang, melihat istrinya yang sekarang selalu berbinar jika melihat makanan. Belajar dari pengalaman, membuat Ryan tak lagi protes dengan apapun yang ingin istrinya makan, walau harus dengan susah payah mengusir pikiran buruknya pada pedagang keliling yang sering berjualan di pinggir jalan.


"By, ikuuut," rengek Rani seperti anak kecil.


Ryan menoleh ke arah istrinya dan ke arah pedagang rujak gobet itu secara bergantian. Dilihatnya wajah Rani yang sudah memerah karena kepanasan, juga dengan perut buncit yang terlihat berat saat diajak untuk berjalan. Dilihatnya juga pedagang rujak itu yang sedang melayani lebih dari lima orang pelanggan yang sedang mengerumuninya.


"Antrinya panjang, Sayang. Butuh waktu lama sampai rujak gobet itu bisa kita dapatkan," Ryan mencoba memberi pengertian.


"Byyyy," Rani masih terus merajuk.


"Wajahmu sudah sangat memerah karena kepanasan. Perutmu juga sudah membesar, hingga kamu terasa berat untuk berjalan. Hubby hanya tidak ingin kamu kelelahan, karena harus menunggu dengan berpanas-panasan. Tunggu di mobil saja ya," rayu Ryan.


"Ya sudahlah," Rani menurut, dan membiarkan suaminya menuntunnya ke dalam mobil, sebelum akhirnya Ryan menyalakan mobil berikut dengan AC-nya, lalu pergi meninggalkannya menuju tukang rujak gobet yang dia minta.


"Sebentar ya, Sayang," ucap Ryan sebelum pergi meninggalkan Rani yang masih terus memandangi kemana arah suaminya bergerak.


Rani mengangguk. Dia benar-benar sudah tak sabar ingin merasakan sensasi asam dari mangga muda yang dipadu dengan dinginnya es krim yang biasanya juga ditawarkan oleh pedagang rujak itu.


"By!" Rani membuka kaca mobilnya dan berseru memanggil suaminya lagi. Ryan pun membalikkan badannya dan tersenyum ke arah istrinya.


"Pakai es krim kan?" ucap Ryan sambil mengerlingkan matanya.


Senyum Rani pun merekah seketika. Suaminya itu kini betul-betul sudah menjadi orang yang paling tau apapun yang menjadi keinginannya. Sejak beberapa kali harus berurusan dengannya dengan berbagai drama ngidam di tri mester pertama, sekarang Ryan memang cenderung jadi pengalah dan meladani semua kemauan istrinya.


"Siiip," sahut Rani sambil mengacungkan jempolnya.


Di dalam mobil, Rani terus memandangi punggung suaminya yang sedang antri dengan sabarnya, menunggu satu porsi rujak gubet pesanannya.


"Semoga tidak curang seperti saat membeli cilok untukku saja," batin Rani dalam hati.


Seketika, ingatan Rani jadi kembali pada saat suaminya itu membawa cilok se abang-abangnya ke rumah, setelah mengusir seluruh orang yang telah mengantri panjang, dengan sejumlah penawaran yang lumayan besar.


Dan apa yang dia takutnya, agaknya memang benar. Bahkan kini Rani mengerutkan dahinya, ketika akhirnya Ryan mendekati abang tukang rujak itu dan membisikinya sesuatu.


"Tuh kan, pasti pakai strategi itu lagi," gumam Rani lirih, sambil menepuk dahinya sendiri.


Ternyata dugaan Rani selanjutnya pun benar. Si abang mengerutkan dahinya. Sangat terlihat bahwa dia kebingungan, tapi beberapa detik kemudian terlihat antrian mulai bubar.

__ADS_1


"Mohon maaf, Mas dan Mbak, rujaknya sudah habis. Silahkan besok datang kembali," seru abang tukang rujak itu, sama persis seperti yang dilakukan abang tukang cilok di ujung jalan, saat Rani ngidam dulu.


"Yahh," sebagian besar orang yang sudah rela antri panjang akhirnya bubar.


"Masa habis sih, Bang? Bukannya itu masih banyak?" terlihat beberapa orang melancarkan aksi protesnya.


"Kok nggak bilang dari tadi sih, Bang? Tau gitu kan aku nggak usah capek-capek ikut antrian," celetuk yang lainnya sambil bersungut kesal.


"Sekali lagi, maaf!" hanya itu yang bisa abang itu katakan. Rupanya beberapa lembar uang warna merah lebih menggiurkan dan dia lebih memilih mengecewakan pelanggan.


Ryan tersenyum menang, melihat semua antrian akhirnya bubar. Dengan semangat empat lima, akhirnya Ryan menunjuk ke arah mobil, kemudian berlari menghampiri Rani diikuti si abang.


"Masya Allah, dibawa ke sini juga abangnya?" Rani geleng-geleng kepala.


"Hubby curang lagi? Dengan sedikit antrian rasanya akan makin enak, By," Rani mengerucutkan bibirnya, begitu Ryan sudah masuk mobil dan berada tepat di sampingnya.


"Apa? Jadi Hubby harus ...," Ryan memandang Rani dan tukang rujak itu secara bergantian.


"Ohh My God, apakah setelah susah payah aku membayar mahal demi untuk membubarkan antrian aku harus menyuruhnya untuk berjualan lagi, menunggu orang mengantri dan akhirnya ikut antrian sampai rujak itu aku dapatkan?" batin Ryan meronta.


Rani masih saja cemberut sambil memperhatikan ekspresi suaminya yang berubah menjadi sangat lucu menurutnya.


"Baiklah, akan Hubby suruh abang itu untuk berjualan lagi, dan Hubby akan ...," sebelum Ryan menyelesaikan kalimatnya, Rani sudah mendekati suaminya dan mengecup pipinya.


"Thank you for all the love you give me," bisik Rani kemudian.


Ryan tersenyum lega, menyadari bahwa Rani hanya sedang mengerjainya.


Bahkan kini matanya sudah memandang bibir ranum milik istrinya, hingga hasratnya sudah tidak mampu terbendung lagi untuk segera melahap makanan enak di depannya. Ryan pun memajukan kepalanya, hingga hampir tak ada jarak lagi di antara keduanya. Hingga tiba-tiba ...,


"Sssttt," Rani mencegah Ryan dengan meletakkan ibu jarinya tepat di bibir suaminya. Ryan yang merasa mendapat penolakan hanya mengerutkan dahinya, namun begitu Rani memberi isyarat mata, Ryan langsung memahami alasan istri cantiknya itu.


Ya, di depan mobil mereka sudah ada tukang rujak yang sedang menunggu adegan sepasang kekasih itu dengan dua mangkuk rujak gubet di tangannya.


"He-he-he," Ryan hanya tergelak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah itu, dia membuka kaca mobilnya dan memberi isyarat melalui lambaian tangan, sehingga dalam sekejap abang tukang rujak itu sudah berada di samping mobil mereka dan menyodorkan dua mangkuk rujak dari tangannya.


"Jangan pergi dulu ya, Bang. Barangkali istri saya masih mau makan," ucap Ryan sambil menerima rujak itu dan menyodorkannya pada Rani, sesaat sebelum dia menerima semangkuk rujak untuk dirinya sendiri.


Dengan semangat empat lima, Rani pun segera menerima rujak itu dan langsung melahapnya.


"Pelan-pelan saja makannya, Sayang," pinta Ryan, melihat cara makan istrinya yang seolah sedang kelaparan.


"Habisnya enak banget, By," jawab Rani sembari menyerahkan mangkuk kosong ke arah suaminya.


"Ya Allah, Sayang. Kilat khusus nih makannya. Punya Hubby saja baru berkurang dua sendok," Ryan membulatkan matanya.


"Kalau Hubby nggak suka buat Rani aja, By," ucap Rani dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Kamu mau lagi?" tanya Ryan.


"Hmmm," Rani langsung mengangguk.


"Hubby pesenin lagi ya? Tunggu sebentar nggak papa kan?" tawar Ryan lembut.


Mendengar jawaban suaminya, Rani langsung mengerucutkan bibirnya.


"Kesayangan Hubby mau makan yang ini?" tanya Ryan sambil menunjuk mangkuk yang ada di tangannya.


"Apa boleh?" Rani bertanya penuh harap.


"Apa sih yang nggak boleh buat istri cantik Hubby?" senyum Ryan mengembang, mendapati istrinya yang semakin ingin dia manjakan.


"Tapi suapin," rajuk Rani dengan manja.


Mereka pun akhirnya saling menyuapi hingga rujak itu benar-benar bersih dari mangkuknya.


"Mau lagi?"


Rani menggeleng pelan, hingga Ryan menyodorkan dua mangkuk di tangannya pada pedagang rujak gubet itu serta membayar sejumlah uang sesuai yang dia janjikan.


"Mahal banget harga rujaknya, By. Ini rujak gobet termahal di dunia," Rani membulatkan mata melihat Ryan menyodorkan uang sebanyak lima ratus ribu dari tangannya.


"Tidak ada yang mahal untuk istri cantiknya Hubby juga jagoan Daddy yang masih di dalam perut Mommynya," Ryan mencium kening Rani, kemudian mencium perutnya yang membola.


"Terima kasih," cicit Rani dengan senyum termanisnya.


"Sama-sama, Sayang," sahut Ryan lembut.


"Lalu sekarang kita mau kemana? Kita langsung cari makan siang? Rendang jengkol masih mau nggak?" Ryan mengerlingkan matanya.


"Ihh, Hubby ngledek deh," Rani mencubit perut suaminya.


"Aduuh. Ampun, Sayang. Sakit," keluh Ryan.


"Salah sendiri. Siapa suruh ngledekin Rani kayak gitu," Rani mengerucutkan bibirnya kembali.


"Bener ini nggak mau? Mumpung Hubby lagi baik hati loh," Ryan terus menggoda.


"Hubby!" sebuah cubitan sekali lagi mendarat dengan mesra.


"Iya, iya, Sayang. Hubby serius sekarang. Kita mau lanjut makan siang?" Ryan mengulangi lagi pertanyaannya.


"Rani mau langsung pulang aja, By. Rani mau makan masakan Bik Tum saja," putus Rani, sambil membayangkan masakan Bik Tum yang sudah tersaji di meja.


"Siap, Tuan Putri," Ryan langsung menginjak pedal gasnya, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Ya, seindah itu kisah cinta mereka. Mereka tak tahu pasti kapan cinta itu hadir, seperti orang yang tak mampu memastikan apakah ayam atau telurnya dulu yang pertama kali ada di dunia. Yang mereka tahu hanya satu, bahwa detik demi detik waktu itu akan selalu mereka lukis dengan warna indah, hingga terukirlah legenda cinta di antara mereka berdua.


BERSAMBUNG


__ADS_2