METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Senyum Yang Tiba-Tiba Memudar


__ADS_3

Aghata diam mematung di tempatnya. Kata demi kata yang Arsen eja, benar-benar melambungkan angannya, tapi sekaligus membuat hatinya meronta.


"Aku masih mencintaimu, Aghata. Aku selalu mencintaimu baik dulu, sekarang, ataupun nanti. Dan itu tidak akan berubah hingga nafas terakhirku," ungkapan cinta Arsen kepada Aghata, terus berputar-putar di benaknya.


Perasaan benci, rindu, sekaligus cinta, kini berperang dan mengaduk-aduk jiwa dan pikirannya. Bahkan kini rasa rindu di hatinya benar-benar menusuk, menerjang sukma yang kian membara.


"Ada apa denganku? Kenapa desiran yang dulu kembali mengisi lorong-lorong kosong hati ini? Apakah aku masih mencintainya? Ahh, tidak. Aku benar-benar membencinya. Tapi kenapa aku merindukan kata-kata itu? Huh, apa-apaan ini?" batin Aghata dalam hati.


Bibir Aghata pun bergetar, seiring dengan jantungnya yang berdegup tak beraturan.


"Cintamu tak akan pernah mengembalikan masa lalu putraku. Kau tau berapa lama dia hidup dalam dendam? Bahkan dia harus membenci seseorang yang telah menjadi malaikat penolongku karena mengira bahwa dia adalah ayah yang membuat hidupnya menderita. Dan kau tau apa yang Mas Prabu pertaruhkan demi hidupku dan hidup putraku? Dia rela mempertaruhkan cinta dan juga keluarganya. Sudah terlalu banyak yang tersakiti karena kesalahanmu, dan sekarang kau bilang masih mencintaiku? Tolong hentikan leluconmu," cicit Aghata, kemudian dengan setengah berlari dia pergi dari hadapan Arsen yang masih tak melepaskan pandangannya.


Air mata Arsen menggenang, mendengar kata-kata yang Aghata ucapkan.


"Bahkan aku sudah cukup bahagia hanya dengan mengatakan itu kepadamu, Aghata. Bisa melihatmu lagi, bisa melihat putraku yang tumbuh menjadi pemuda tampan, dan bisa membuatmu mendengar langsung bahwa aku akan selalu mencintaimu sepanjang hidupku, sudah lebih dari cukup untukku. Tapi apakah boleh aku mengharapkan cintamu kembali, sedikit saja?" batin Arsen dalam hati.


Melihat punggung Aghata yang tidak terlihat lagi, Arsen pun memutuskan untuk turun dan menuju taman belakang. Sebenarnya selama tinggal di rumah itu, Arsen lebih banyak di kamar untuk menghindari bertemu dengan putranya, tapi karena dia butuh udara segar untuk menenangkan hatinya, akhirnya Arsen memilih taman sebagai tempat berbagi kisah dalam kesendiriannya.


Meskipun, tak dapat dipungkiri bahwa selain kerinduannya pada Aghata, Arsen ingin sekali bisa bertemu dan bercengkrama dengan putranya. Tapi mengingat Daniel belum bisa menerima dan memaafkannya, maka tak ada pilihan selain menghindari pertemuan dengannya.


***


Daniel masih berada di ruang tamu bersama Ryan, Arya dan Johan ketika Aghata melewati mereka menuju rumah belakang.


"Mom!" Daniel memanggil Aghata. Dia benar-benar melihat gelagat aneh pada sikap ibunya yang tak seperti biasanya.

__ADS_1


Aghata menghentikan langkahnya. Dengan tergesa, dia langsung mengusap air mata yang masih membekas di pipinya.


"Iya, Sayang," jawab Aghata pelan. Matanya yang bengkak juga suaranya yang bergetar betul-betul tak bisa menyembunyikan perasaan yang kini dia rasakan.


"Apa Mommy baik-baik saja?" Daniel menelisik.


"Mommy baik-baik saja, Nak," Aghata memaksakan senyumnya.


"Apa Mommy habis menangis? Mata Mommy memerah," pancing Daniel.


"Tidak, Sayang. Mata Mommy hanya terasa panas saja. Mungkin karena terlalu lama membaca novel tadi. Makanya Mommy mau ke dapur ini, cari kesibukan bareng Bik Tum," sahut Aghata masih mencoba untuk tersenyum.


"Baiklah, Mom. Jangan terlalu capek," ucap Daniel, sambil melangkah kembali ke arah Ryan, Arya, dan Johan di sofa yang sedari tadi mereka gunakan.


"Mommy kenapa, Niel?" tanya Ryan penasaran.


"Nggak jelas gimana?" Ryan menelisik.


"Mommy seperti habis menangis gitu. Tapi pas aku tanya, dia bilang nggak papa," jelas Daniel sambil mengedarkan pandangan kepada ketiga pria yang ada di hadapannya.


"Kelihatannya kau perlu pikirkan baik-baik perkataan ku tadi, Niel. Demi Mommy. Tidakkah kau memikirkan perasaan Mommy? Kau tidak boleh egois," setelah mengucapkan itu, Ryan beranjak pergi meninggalkan ruang tamu, sesaat setelah menepuk bahu Daniel dengan lembut, diikuti Arya. Hanya Johan yang masih setia menemani Daniel seperti biasanya.


Tak berapa lama, Daniel ikut meninggalkan ruang tamu itu dan memilih masuk ke dalam kamar, begitu juga dengan Johan yang terus mengikuti semua hal yang Daniel lakukan. Begitu melihat Daniel memasuki kamarnya, Johan pun melakukan hal yang sama.


***

__ADS_1


Daniel memelankan langkahnya, begitu kakinya sudah mendekati pintu kamar. Pasalnya, saat dia meninggalkan tempat itu beberapa waktu lalu, Naja sedang mengistirahatkan diri dan terlelap di alam mimpi.


Dan ternyata benar. Begitu Daniel membuka pintu, istri tercintanya itu masih dengan posisi yang sama persis dengan saat Daniel pergi.


"Maaf telah membuatmu selelah ini, Sayang. Kau begitu manis, hingga selalu bersedia melayaniku yang tak pernah bisa puas jika sedang bersama denganmu," ucap Daniel lembut, sambil mengusap ujung kepala istrinya dengan penuh kehangatan.


Setelah mengecup kening Naja dan membenarkan selimut yang dikenakannya, Daniel pun menuju balkon kamar dan berdiri bersandar pada besi pembatas yang mengelilingi balkon itu.


Daniel menyapukan pandangannya ke sekeliling rumah. Dilihat dari balkon kamarnya, sebuah taman indah benar-benar memanjakan penglihatannya. Bahkan, sesekali dia memejamkan mata dan menajamkan indra penciumannya, berharap angin berhembus dari segala penjuru, hingga semerbak wangi dari bunga-bunga bisa sampai ke tempat dimana dia sedang menunggu.


"Hmmm, harumnya," lirih Daniel dengan senyum yang mengembang, begitu semilir angin betul-betul berhembus dan membawa aroma wangi yang khas juga menyegarkan. Daniel pun mencoba membuka matanya kembali, agar netra dan hidungnya bisa sama-sama menikmati taman indah itu.


Namun, senyum Daniel tiba-tiba memudar, ketika penglihatannya menangkap sosok Arsen yang sedang duduk termenung seorang diri di salah satu bangku taman.


"*Apa yang sedang pria itu lakukan di sana? Kenapa dia menyendiri di tempat itu dan terlihat sangat gelisah? Apa ada beban berat yang sedang dia rasakan?" gumam Daniel dalam hati.


"Ahh, ada apa denganku? Kenapa juga aku harus memikirkan dan peduli padanya? Bukankan dia saja tidak pernah peduli padaku. Untuk apa aku mengkhawatirkannya?" batin Daniel lagi*.


Kini hati dan pikiran Daniel berkecamuk. Antara benci dan dendam beradu dengan apa yang Ryan katakan, kini berperang dan berputar-putar mengotori pikirannya yang belum juga bisa tenang. Apalagi jika mengingat mata sembab dan bekas air mata yang terlihat jelas di wajah Aghata, membuat segala rasa kini mengaduk-aduk hatinya.


Dan sekarang, Daniel bisa melihat betapa pria yang sedang duduk di kursi taman itu begitu sangat kesepian dan penuh dengan beban.


"Apa yang dia rasakan? Apakah dia benar-benar menyesal dengan semua yang telah dia lakukan? Lantas, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memaafkannya? Atau bolehkah aku tetap membencinya?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Tinggalkan jejak ya guys😘


__ADS_2