METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Atraksi Menjijikkan


__ADS_3

"Jika Tuan Felix ada di rumah ini, seharusnya dia berada di ruang tamu atau di ruang makan," cicit Zara dengan lirih.


"Masih ada satu ruang lagi yang belum kita periksa, Zara," bisik Indra sambil memandang lekat gadis yang sedang bersamanya itu.


"Yang belum kita periksa hanya kamar utama, Tuan. Mana mungkin Tuan Felix berada di kamar Sesil? Tunggu, jangan-jangan ...," Zara tak melanjutkan kalimatnya. Pikirannya sudah traveling kemana-mana.


"Apa yang kita pikirkan sama, Zara. Dan jika memang mereka sedang berada di kamar utama, kenapa Sesil akhirnya berkhianat kepada Tuan Ryan semakin jelas alasannya," sahut Indra, diiringi anggukan penuh keyakinan oleh Zara.


Mereka pun terus bergerak, menuju satu-satunya ruang di rumah itu yang lampunya menyala terang. Dan begitu mereka sampai tepat di atas kamar utama, mereka segera menangkap apa saja yang berada di bawah mereka, melalui celah plafon yang lumayan besar.


Dari atas, baik Zara maupun Indra tidak ada di bawah sana. Hanya Felix yang terlihat sedang duduk bersandar di kepala ranjang, dengan mengenakan celana boxer saja.


"Kau yakin tak akan menutup mata, Zara? Aku takut jika setelah ini mereka melakukannya, kau akan meminta itu kepadaku," bisik Indra yang sukses membuat wajah Zara merah seketika.


"Bisakah Anda tidak narsis di saat-saat sedang seperti ini, Tuan?" Zara dibuat semakin kesal.


Dan agaknya, apa yang menjadi dugaan Zara dan Indra sepenuhnya benar. Beberapa menit setelah mereka menunggu, terlihat jelas dari celah-celah plafon itu Sesil keluar dari arah kamar mandi dengan mengenakan lingerie berwarna hitam yang super seksi, bahkan hampir tak bisa menutupi bagian tubuh Sesil sama sekali.


Dengan anggun, Sesil terlihat berjalan mendekati Felix, dan berhenti tepat di samping pria yang sedang menunggu-nunggu kedatangannya itu.


"Sayang, kau sudah siap? Kau cantik sekali," Felix segera membenarkan posisi duduknya dan menarik Sesil untuk duduk di atas pangkuannya dengan menghadap ke arahnya.


Sesil yang sudah di mabuk cinta pun tak menolak dengan apa yang diinginkan Felix pada dirinya. Dengan senyumnya yang menawan, Sesil justru membuat tubuhnya semakin menantang, dengan mengekspose bagian-bagian menonjol agar pria yang sedang memangkunya itu semakin terangsang.


"Bisakah kita kembali lagi lewat tengah malam nanti, Tuan? Saya tidak bisa jika melihat hal menjijikkan yang mereka lakukan," anak Zara, yang tak kuat lagi melihat adegan panas di bawah sana. Sungguh, hanya dengan melihat adegan di awal itu, kepunyaan Zara sudah nyut-nyutan luar biasa.


"Apa kau ingin melewatkan sesuatu yang mungkin akan mereka bicarakan, Zara? Kita akan kehilangan kesempatan untuk mendengarnya jika kita meninggalkan mereka begitu saja," sanggah Indra tetap berusaha bertahan pada posisi mereka.


Mau tak mau, Zara pun mengikuti kehendak patner kerjanya. Dia kembali melihat ke bawah dan menangkap kebuasan Felix saat menerkam Sesil di area leher dan dua pemandangan indah di bawah leher seorang wanita. Sesil yang masih duduk menghadap Felix dengan tetap berada di pangkuan pria itu pun terlihat sangat menikmati sentuhan demi sentuhan yang Felix berikan kepadanya. Desahan dan lenguhan pun kini menggema hingga ke telinga Zara maupun Indra, hingga membuat bagian bawah Zara semakin berdenyut, begitu juga dengan bagian pusaka Indra yang kini ikut berdiri menjulang.


"Ahhhh," desahan syahdu membuat Zara dan Indra kembali melihat adegan panas di bawahnya.


Felix yang sudah semakin menggila, mendorong tubuh Sesil hingga gadis itu kini berada di bawah kungkungannya. Semua helaian benang yang sempat menutupi area-area khusus kepunyaan Sesil pun kini sudah berserakan dimana-mana, hingga tubuh polos Sesil kini terekspose dan terpampang Nyata.


Setelah Felix membuat tubuh gadis itu polos tanpa satu penghalang pun yang menutupinya, Felix pun berdiri dan melepaskan celana boxer, satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya. Hingga sempurnalah hal menjijikkan yang dilakukan keduanya.


Felix yang sudah seperti orang kesurupan saja, mengabsen setiap inchi tubuh Sesil dan meninggalkan stempel kepemilikan dimana-mana. Bahkan kini kepala Felix sudah asyik menenggelamkan diri di lembah surgawi milik Sesil, hingga atraksi mereka semakin erotis saat bunyi-bunyi aneh keluar tak jelas dari mulut mereka.


Hingga akhirnya, mereka pun mencapai puncaknya, setelah sekitar tiga puluh menit senjata pusaka Felix memporak-porandakan isi goa kepunyaan Sesil yang begitu berharga, tapi malam ini telah dia hinakan dengan kelakuan bejat yang mereka berdua lakukan dengan sengaja.


"Kau memang tak pernah mengecewakan, Sayang," puji Felix sambil mengecup kening Sesil, sebelum akhirnya tumbang di sisinya.


Sesil pun memeluk erat tubuh Felix, setelah menarik selembar selimut dan menutupi tubuh polos mereka berdua.


"Kelihatannya ini bukan untuk yang pertama kalinya mereka melakukannya," bisik Indra lirih.


"Hmmm," Zara hanya menjawab singkat perkataan Indra. Sebagai seorang gadis yang belum pernah tersentuh oleh tangan seorang pria, dia betul-betul dibuat shok dengan adegan panas yang hampir satu jam itu dilihatnya.


"Apa yang akan mereka bicarakan kira-kira?" Indra semakin penasaran.


"Kita tunggu sebentar, saya yakin ada satu petunjuk yang akan kita dapatkan," sahut Zara hampir tak terdengar.

__ADS_1


Dan ternyata tebakan mereka tak pernah salah. Malam itu, mereka benar-benar mendapatkan informasi yang sangat berguna untuk mereka.


"Kau benar-benar tak akan pernah meninggalkan aku kan?" Sesil membenamkan kepalanya pada dada bidang Felix Adinata.


"Tentu saja aku tak akan meninggalkanmu, selama kau tak pernah berkhianat kepadaku," jawab Felix sambil mengecup bibir ranum Sesil berkali-kali.


"Kau benar-benar akan menikahi aku kan?" tanya Sesil lagi dengan nada yang terdengar sangat khawatir.


"Tentu saja, Sayang. Asal kau segera menyelesaikan tugasmu. Beri aku data sebanyak-banyaknya terkait perusahaan itu. Saat perusahaanku sudah sejajar dengan Dewangga Group bahkan bisa berada di atasnya, kita akan menikah, Sayang. Kau jangan meragukan aku," kini Felix mengusap kepala Sesil dengan segala kelembutan yang dia punya.


"Tapi kehamilanku sudah masuk tiga bulan, Sayang. Aku ingin kau nikahi sebelum perutku membesar," ucapan Sesil ketika itu sukses membuat Zara dan Indra membulatkan matanya.


"Sesil hamil?" Zara dan Indra saking pandang, bahkan Zara terlihat menutup mulutnya karena begitu kagetnya.


"Semakin cepat kau memberikan semua data yang aku mau, maka semakin cepat pula aku akan menikahimu. Ayolah, Sayang. Kau sudah berhasil mendapatkan file penting mega proyek Green Canyon itu dengan mudah. Kau pasti bisa mendapatkan file yang sama untuk proyek-proyek Ryan yang lainnya," rayu Felix, membuat Sesil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Mendengar ucapan Felix, Indra mengepalkan tangannya kencang-kencang karena begitu geramnya. Bahkan jika saja mereka tak punya kepentingan lain dan harus bertindak elegan untuk membuat Felix jatuh dalam perangkap mereka, ingin sekali Indra menghabisi Felix detik itu juga. Sayangnya, ada misi lebih besar yang Ryan berikan kepadanya, tidak hanya sekedar membuat pria itu tumbang di hadapannya.


"Apakah dia akan berada di tempat ini hingga pagi tiba?" Zara kembali berbisik lirih.


"Kita harus tetap menunggunya, sampai jam berapapun pria itu bertahan di sana," putus Indra, yang hanya di jawab dengan anggukan kecil oleh Zara.


Satu jam pun berlalu. Felix masih mengusap-usap kepala Sesil dengan begitu telatennya. Tapi begitu menyadari bahwa wanita yang sedang di dekapnya itu terlelap, Felix langsung menarik tangan yang sedang ditindih Sesil secara perlahan dan membuat tangan Sesil yang sedang memeluknya beralih memeluk bantal guling yang sengaja di pasang Felix untuk menggantikannya.


Setelah memastikan bahwa Sesil tak terbangun dari tidurnya, Felix pun dengan hati-hati turun dari peraduan mereka dan memakai kembali pakaiannya. Begitu tubuhnya terbungkus sempurna, pria itu keluar dari kamar Sesil kemudian meninggalkan rumahnya.


Indra dan Zara yang melihat kepergian Felix pun bisa bernafas lega. Mereka kembali bergerak mencari jalan yang bisa mereka gunakan untuk turun ke bawah, tanpa merusak apapun agar ketika Felix akhirnya menyadari kepergian Sesil keesokan harinya, Felix tidak curiga kalau ada seseorang yang telah sengaja membawanya.


"Dapat," seru Zara, begitu melihat ada sebuah besi berbentuk persegi yang bisa di buka tutup, yang sengaja di pasang jika si pemilik rumah butuh akses untuk membenarkan instalasi listrik atau apapun dari bagian atas rumah.


"Ups. Maaf," Zara membungkam mulutnya sendiri.


Sedetik kemudian, Indra pun membuka kotak besi itu dan membiarkan Zara untuk keluar duluan.


"Hati-hati. Kau harus meloncat dari sini. Tinggi antara plafon dengan lantai itu sekitar tiga setengah meter, jika kau tak bisa menjaga keseimbangan tubuhmu, bisa dipastikan kau akan terluka," pesan Indra, penuh perhatian.


"Anda jangan meremehkan saya, Tuan. Saya sudah terlatih untuk ketinggian lebih dari itu," Zara menyombongkan dirinya.


"Aku akan melihatnya, Zara," sahut Indra terdengar sangat bersahabat.


Dan ternyata apa yang dikatakan Zara benar. Dengan begitu mudahnya, Zara bisa mendarat di lantai itu dengan sempurna.


"Ternyata kau memang istimewa, Nona," gumam Indra dalam hati.


Begitu Zara memberi kode bahwa situasi di bawah aman, Indra pun segera meloncat dan mendarat dengan cantik di depan Zara.


"Semua oke?" Indra memastikan sesuatu.


"Siap, Tuan," jawab Zara terlihat kompak.


Tak berapa lama, Zara pun mengeluarkan selembar sapu tangan dan meneteskan cairan yang mengandung obat bius di atasnya. Begitu dirasa cukup, Zara segera mendekati tubuh Sesil dan membekap mulutnya dengan sapu tangan itu. Karena posisi Sesil memang sedang tertidur nyenyak, aksi mereka pun sukses tanpa ada gangguan yang menghalang.

__ADS_1


"Semua berjalan sesuai rencana, Tuan. Tolong Anda keluar sebentar, saya akan memakaikan baju untuknya," pinta Zara sambil menatap lekat ke arah Indra yang masih berdiri saja di tempatnya.


"Bukankah tadi aku sudah melihat semuanya, Zara? Sekarang apa bedanya?" protes Indra yang merasa bahwa sesaat tadi telah melihat semuanya saat Felix dan Sesil melakukan atraksi bejatnya.


"Tuan," Zara sudah memasang wajah garang.


"Baiklah jika kau memang tak rela aku melihatnya. Aku ikut saja apa maumu," kini Indra justru mengerling nakal.


"Tuan, bukan begitu maksud saya," Zara berusaha mengklarifikasi perkataan Indra, tapi pria itu sudah terlanjur keluar dari sana.


"Huh, dasar Tuan Narsis," gerutu Zara, sambil berjalan ke arah lemari dan mengambil beberapa helai pakaian untuk Sesil.


Setelah pakaian itu terpasang dengan cantik pada pemiliknya, Zara pun keluar dan memanggil Indra agar segera mengangkat tubuh Sesil dengan segera. Tapi saat Zara keluar, ternyata beberapa pengawal sudah berada di sana.


"Kalian bawa wanita itu ke apartemenku, aku dan Zara akan mengikuti kalian dari belakang," titah Indra kepada para pengawal.


"Baik, Tuan," jawab para pengawal secara bersamaan.


Setelah para pengawal itu memindahkan tubuh Sesil ke dalam mobil dan melaju kencang, Indra pun kembali mengunci pintu dari dalam.


"Katamu kita bergerak tanpa pengawal itu?" protes Zara, merasa Indra telah berbohong kepadanya.


"Jadi, kau benar-benar hanya ingin berdua saja denganku?" Indra mulai lagi dengan kalimat narsisnya.


"Huh, lama-lama bisa stress saya berbicara dengan Anda," Zara mengurungkan niatnya untuk melanjutkan aksi protesnya.


Dia justru berjalan ke arah tempat tidur dan merapikannya agar jika Felix masuk keesokan harinya, tak akan menaruh curiga. Begitu juga dengan pakaian yang berserakan di lantai, dengan telaten Zara memungutnya dan memasukkannya ke tempat kotor di dekat kamar mandi. Tak lupa, semua alat komunikasi milik Sesil pun Zara ambil.


"Hati-hati, bisa saja terpasang alat pelacak di alat komunikasinya," Indra mengingatkan.


"Yang penting kita keluar dulu, Tuan. Begitu kita sampai di luar, semua alat pelacak akan saya hancurkan," ucap Zara, sambil memasukkan ponsel Sesil di saku celananya.


"Oke. Apa kau membawa alat cadangan agar kita bisa kembali naik ke loteng itu? Tak mungkin kan, kita pakai bangku atau meja agar kita sampai di atas sana? Apa yang kita lakukan bisa sia-sia jika Felix sampai bisa mengetahuinya. Jika meja atau bangku itu berada di bawah jalan keluar masuk itu, Felix pasti curiga ada yang tidak beres dengan wanitanya," oceh Indra panjang lebar kali tinggi.


Zara tak menyahut ucapan Indra. Dia hanya melepas pengait ikat pinggangnya, yang ketika ikat pinggang itu di tarik, ternyata panjangnya lebih dari lima meter, bahkan dilengkapi dengan pengait yang bisa menancap di atas kayu atau besi seperti pengait tali yang mereka gunakan untuk memanjat pagar sebelum mereka masuk rumah itu tadi.


"Beres," seru Zara setelah pengait ikat pinggangnya tertancap manis pada kayu di atas sana.


Beberapa detik kemudian, Zara pun memanjat ikat pinggang itu hingga dia kembali di atas plafon rumah Sesil, diikuti Indra yang dalam sekejap bisa menyusul Zara.


Begitu mereka berdua berada di atas, mereka kembali menutup lempengan besi itu dan segera keluar, melalui jalan yang tadi mereka pakai ketika masuk.


"Pastikan gentingnya tertata rapi seperti semula," titah Indra.


"Pastikan juga, tali yang kita gunakan untuk memanjat pagar itu tidak tertinggal di tempatnya!" Indra kembali memberi perintah.


"Baik, Tuan," Zara melakukan setiap tugas yang diberikan Indra dengan sempurna.


Begitu semua beres, Zara pun berjalan menuju motornya mendahului Indra yang masih berjalan jauh di belakangnya.


"Zara!" tiba-tiba Indra memanggil nama Zara dan berlari menyusulnya.

__ADS_1


"Ada apa, Tuan?"


BERSAMBUNG


__ADS_2