
Setelah Dokter Amanda selesai memeriksa Nina, dia hanya memberikan beberapa vitamin dan mengatakan bahwa Nina hanya perlu istirahat saja.
Johan pun tersenyum lega, walau senyumannya harus memudar seketika, saat Dokter Amanda memberikan isyarat kepada Johan, bahwa mereka harus bicara.
"Bisakah saya titip istri saya sebentar, Nyonya? Saya akan turun untuk mengantarkan Dokter Amanda," ucap Johan pada dua majikannya.
"Tentu saja. Turunlah. Kami akan menjaga Nina selama kau tak ada," sahut Davina, yang mendapatkan anggukan segera dari Aghata.
Johan segera mempersilahkan Dokter Amanda keluar, menuju ruang kerja Daniel yang dia sendiri memang dibebaskan untuk masuk ke sana. Ya, selain Daniel, orang lain memang tidak bisa keluar masuk sembarangan ke ruang itu, kecuali Johan dan Naja.
"Apa ada yang perlu Anda sampaikan tentang kondisi istri saya, Dok?" Johan tak sabar, ingin segera mengetahui apa yang ingin Dokter Amanda bicarakan.
"Boleh saya duduk dulu, Tuan?" karena begitu tegang, Johan sampai lupa tidak mempersilahkan Dokter Amanda untuk duduk.
"Tentu saja, Dok. Maaf saya terlalu tegang, jadi lupa tidak mempersilahkan," Johan ikut mendudukkan diri di sofa ruang kerja, sesaat setelah Dokter Amanda duduk mendahuluinya.
"Jadi bagaimana, Dokter?" tanya Johan lagi.
"Sebelumnya maaf jika saya terlalu lancang. Bolehkah saya bertanya tentang hal yang sangat pribadi mengenai istri Anda?" ucap Dokter Amanda dengan sangat hati-hati.
"Jika itu demi kebaikan istri saya, saya tidak keberatan, Dok," sahut Johan antusias.
"Begini, Tuan. Apakah istri Anda mengkonsumsi obat penunda kehamilan?" pertanyaan itu benar-benar seperti petir yang menyambar hati Johan. Seketika, mukanya merah padam karena marah yang tertahan.
"Maksud Dokter, istri saya meminum pil KB?" Johan bahkan berteriak saking kagetnya.
"Jadi ini tidak sepengetahuan Anda ya? Maafkan saya," Dokter Amanda jadi merasa tidak enak sendiri mengatakannya, apalagi melihat ekspresi Johan yang berubah menjadi sangat menakutkan.
"Apa Anda sudah memastikan betul bahwa istri saya mengkonsumsi pil itu, Dok? Atau jangan-jangan dia sakit kepala karena efek pil itu?" tanya Johan, sudah terdengar tidak bersahabat.
"Itu baru dugaan saya, Tuan. Untuk memastikan, ada baiknya Anda menanyakan kepada istri Anda. Tapi dari gejala yang diperlihatkan istri Anda, saya 80 persen yakin bahwa itu adalah efek samping obat penunda kehamilan yang di konsumsi istri Anda," Dokter Amanda terlihat menarik nafas sejenak, mengeluarkannya perlahan, kemudian kembali melanjutkan penjelasannya.
"Efek obat ini tidak sama antara satu pengguna dengan pengguna lainnya. Sejalan dengan efeknya yang dapat mencegah kehamilan, resiko efek samping yang mungkin terjadi adalah timbulnya rasa mual, sakit kepala dan rasa tidak nyaman pada payudara, perdarahan secara tiba-tiba di luar masa haid, peningkatan berat badan, gairah **** yang menurun, juga perubahan suasana hati yang terjadi secara mendadak. Bahkan dampak yang ditimbulkan bisa lebih serius, yaitu dapat menyebabkan darah lebih mudah menggumpal. Jika sampai terbentuk gumpalan darah, maka dapat menyebabkan trombosis vena dalam pada tungkai, gumpalan darah pada paru-paru, bahkan stroke atau serangan jantung. Penggumpalan ini bisa menyebabkan nyeri di bagian dada, sakit perut, gangguan penglihatan, sakit kepala yang tidak tertahankan, bahkan bisa menyebabkan bengkak atau nyeri pada kaki dan paha. Dari semua gejala yang ditunjukkan istri Anda, semua mengarah kesana," lanjut Dokter Amanda dengan degup jantung yang mengencang, berhadapan dengan muka Johan yang terlihat semakin garang.
"Lalu bagaimana?" tanya Johan singkat.
"Efeknya akan hilang setelah istri Anda berhenti meminumnya, Tuan. Dan itu satu-satunya cara, sebelum efek lain yang timbul jauh lebih membahayakan," Dokter Amanda memberanikan diri untuk melihat ekspresi Johan.
"Baik, Dok. Terima kasih. Saya akan kembali berkonsultasi kepada Anda begitu saya sudah membicarakannya dengan istri saya," tutur Johan sembari membuka pintu, tanda mempersilahkan Dokter Amanda keluar.
"Baik, Tuan. Saya tunggu kedatangan Anda dan istri Anda untuk program kehamilan. Ada beberapa vitamin yang harus istri Anda konsumsi, agar rahimnya bisa kembali normal," ucap Dokter Amanda sambil beranjak dan menuju ke luar ruangan.
__ADS_1
"Terima kasih," Johan menjawab dengan singkat.
"Satu lagi, Tuan," Dokter Amanda berbalik dan dengan ragu kembali ingin mengatakan sesuatu.
"Ya, Dok?" Johan mengerutkan dahinya.
"Setiap wanita yang mengkonsumsi obat itu, pasti punya alasan," setelah mengucapkan itu, Dokter Amanda buru-buru berlalu.
Begitu Dokter Amanda keluar, Johan menendang apa saja yang ada di depannya dengan perasaan kesal. Setelah puas meluapkan kekesalannya, Johan langsung berjalan ke kamarnya dan membuka pintu itu dengan begitu kasar.
Ceklek. Duer.
Suara pintu yang seperti dibanting setelah dia buka pun mengagetkan Aghata juga Davina yang masih menemani Nina.
"Sssttt, jangan keras-keras, Jo. Nanti istrimu terbangun. Dia baru saja tertidur, mungkin karena efek obat yang diberikan Dokter Amanda," cicit Davina lirih.
Johan hanya mengangguk dan menutup kembali pintu kamarnya. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa, dan mengacak rambutnya dengan kasar berkali-kali.
"Apa kau baik-baik saja, Jo? Apa yang dikatakan Dokter Amanda terkait kondisi Nina?" giliran Aghata yang angkat bicara.
"Kata Dokter Amanda, sakit yang dirasakan Nina karena efek obat penunda kehamilan yang selama ini diminumnya, Nyonya," sahut Johan sambil mengusap mukanya dengan kasar.
"Bahkan saya tidak tahu dia mendapatkan keberaniannya dari mana, hingga tega-teganya dia melakukan itu di belakang saya," aura kemarahan yang terpancar dari raut wajah Johan, cukup memberikan jawaban kepada Davina dan Aghata bahwa Nina memang diam-diam melakukannya, tanpa sepengetahuan suaminya.
"Ya sudah, bicarakan baik-baik dengan istrimu. Dia pasti punya alasan tersendiri, kenapa sampai melakukannya. Ingat, jangan bersikap kasar," ucap Aghata, kemudian bersama Davina pergi meninggalkan mereka hanya berdua saja.
Johan mengunci pintu, begitu Aghata dan Davina keluar dari kamarnya. Dia menatap Nina yang kini masih tertidur di tempat tidurnya dengan lekat, bahkan beberapa kali Johan mendapati Nina sesekali masih meringis kesakitan di dalam tidurnya.
"Setidak rela itukah kau mengandung anakku hingga rasa sakit itu dengan senang hati kau tahan demi menghalau sebuah kehamilan?" Johan tersenyum miris sambil bergumam dalam hati.
Sedetik kemudian, dia terlihat memeriksa seluruh barang-barang Nina, isi lemari, juga semua isi meja dan perabot di kamarnya.
"Dimana kau menyembunyikannya, heh?" gerutu Johan lirih.
Dia terus mengacak-acak semua barang, demi membuktikan apa yang Dokter Amanda katakan. Hingga tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah barang.
"Ya, mungkin dia menyembunyikan benda itu di dalam tasnya," lirih Johan sambil meraih tas jinjing Nina yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya.
Johan mengeluarkan seluruh isi tas istrinya, dengan perasaan kesal juga penasaran. Pasalnya, dalam tas itu pil yang dicarinya tak juga dia temukan.
"Apakah semua yang Dokter Amanda katakan tidak benar?" ada sebuah harapan yang begitu saja terpancar.
__ADS_1
Johan pun kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa, sambil berpikir apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Hingg tiba-tiba, dia berdiri dan memeriksa tas Nina sekali lagi. Johan meraih sebuah dompet yang terparkir manis di dalam sana, dan ternyata benar dugaannya. Johan mendapatkan obat itu, begitu dia membuka dompet Nina.
"Apakah ini obat penunda kehamilan itu?" gumam Johan lagi.
Karena penasaran, Johan merogoh ponsel miliknya di saku celana kanannya, kemudian mulai berselancar dengan benda pipih canggih itu.
"Jenis obat penunda kehamilan," Johan menuliskan itu sambil mengejanya.
Dalam sekejab, gambar macam-macam pil KB segera muncul di layar ponsel yang dia pegang.
"Yang mana ini?" Johan kebingungan. Dia kemudian sibuk membandingkan obat yang kini di tangan dengan beberapa gambar yang dia dapatkan.
Lima menit kemudian, wajah Johan kembali memerah. Dia mendapati sebuah gambar yang sama persis dengan obat yang kini masih dipegangnya. Itu artinya, Nina memang betul mengkonsumsinya.
***
Begitu terbangun dari tidurnya, Nina merasakan kepala dan tubuhnya terasa segar dan lebih baik dari sebelumnya. Dia sedikit menggeliat, kemudian mengedarkan pandangannya di seluruh sudut kamar. Dipandangnya Johan yang sedang terduduk dengan baju santainya di atas sofa, dengan kepala bersandar dan tangan yang terus memijit pangkal hidungnya seolah ingin rileks dengan aktifitas yang dilakukannya.
"Sayang," lirih Nina.
Ada sedikit harapan bahwa Johan akan menyambut Nina dengan penuh cinta, begitu dia terbangun dari tidurnya. Tapi, sungguh Nina merasa kecewa, ketika Johan hanya menoleh tanpa menghampiri maupun menanyakan kondisinya.
"Sayang, bisakah kau bantu aku ke kamar mandi? Kepala aku masih pusing jika dibuat berdiri," Nina mencoba mencari perhatian Johan.
Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Johan. Dia hanya berdiri, mengangkat tubuh istri kecilnya ke kamar mandi dan membantu aktifitas pribadinya tanpa bicara. Begitu selesai, Johan kembali membopong tubuh istrinya dan kembali membaringkannya di tempat tidur.
"Sayang," panggil Nina dengan penuh keheranan.
"Katakan apa maksud semua ini!" bentak Johan, sambil melempar sesuatu, tepat di hadapan Nina.
Nina membulatkan mata. Mulutnya pun terkunci secara tiba-tiba, seolah semua kata menghilang dari otaknya.
"Sayang, aku ...," lirih Nina tanpa berani menatap apalagi memegang obat penunda kehamilan yang baru saja dilempar oleh Johan.
"Sebegitu takutnya kau mengandung anakku, hah? Katakan, sejak kapan kau meminum pil itu?" Johan benar-benar murka.
Nina hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan suaminya.
"Kenapa kau terdiam? Jawab!!!" Johan berteriak dengan kencang, membuat Nina meraih bantal di dekatnya dan memeluknya erat.
BERSAMBUNG
__ADS_1