METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Johan dan Nina


__ADS_3

Acara pernikahan Johan dan Nina sangatlah meriah. Kendati mereka hanya mengadakan pesta kecil-kecilan dan dihadiri oleh anak buah Daniel dan Ryan, tapi mereka semua hadir dengan membawa senyum bahagia. Ya, acara pernikahan itu memang sengaja tak mengundang orang luar, mengingat posisi Nina, Arsen dan juga Mira yang masih berbahaya. Jadilah pesta itu dikhususkan untuk keluarga dan para anak buah serta beberapa orang terdekat saja.


Setelah acara akad nikah, foto-foto dan makan bersama pun satu per satu mereka pulang ke kediaman masing-masing. Ryan dan Rani pulang bersama Daniel, Naja dan juga Agata ke rumah utama keluarga Dewangga, Arya dan Lena pulang bersama Mama Davina ke rumahnya, begitu juga para anak buah sudah kembali bekerja di pos masing-masing sesuai dengan pekerjaannya. Tinggallah Arsen yang tak lama setelah acara langsung memasuki kamarnya, begitu juga dengan Mira yang segera di antar pelayan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Yang tersisa hanyalah anak buah Johan yang memang ditugaskan untuk berjaga di tempat itu dan para pelayan yang membersihkan bekas-bekas pesta tentunya.


Kini, tibalah saatnya Johan dan Nina memberikan hak kepada tubuhnya yang lelah, akibat hari yang panjang dalam prosesi akad nikah dan pesta kecil-kecilan yang diadakan di kediaman Daniel yang kini telah resmi menjadi kediaman mereka untuk selama-lamanya itu.


“Ayo,” Johan mengulurkan tangannya kepada Nina. Dengan ragu dan malu-malu pun Nina meraih tangan Johan sebelum akhirnya Johan menggenggamnya dan menuntunnya naik ke arah kamar pengantin yang sudah Johan nantikan.


“Jangan cepat-cepat, Tuan! Nina susah ini jalannya,” Nina sedikit menarik tangan Johan hingga Johan pun menghentikan langkahnya.


Johan memperhatikan Nina dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dilihatnya gadis kecilnya itu sangat cantik dengan gaun pengantin warna putih yang bagian belakangnya menjuntai ke lantai beberapa meter. Kepalanya pun di balut hijab warna senada yang bagian luarnya di lapisi kain tile yang menjuntai hingga ke bagian kakinya. Ya, Nina memang akhirnya berhijab mengikuti Rani dan Lena pasca drama penyelamatannya saat hendak di jual ke Malaysia setahun yang lalu. Dan Johan justru menikmati penampilan anggun istri kecilnya itu.


“Bagaimana tidak susah jalan kalau gaunmu saja ribet begitu?” Johan menaikkan satu alisnya, sambil sesekali mengedarkan pandangannya pada anak tangga demi anak tangga yang harus mereka lewati untuk sampai ke kamar mereka.


Tak mau buang waktu lagi, akhirnya Johan mengangkat tubuh kecil istrinya begitu saja dan menggendongnya ala bridal style, berjalan dan menaiki anak tangga itu satu per satu hingga akhirnya mereka sampai di kamar yang mereka tuju.


Ketika mereka masuk, segera saja tersuguh pemandangan yang tak kalah indah dengan dekorasi ruang pesta yang ada di bawah. Ya, kamar itu sudah di hias sedemikian rupa dengan lilin-lilin kecil yang cantik, juga taburan mawar warna merah yang sengaja di taburkan pada sprey warna putih ranjang pengantin, hingga membuat suasanya kamar itu menjadi begitu romantis. Ditambah lagi lampu utama yang sengaja di matikan dan hanya tersisa cahaya lilin dan cahaya lampu temaram, membuat bukan hanya keromantisan yang tercipta, tapi juga menambah kesyahduan yang semakin menimbulkan hasrat bagi keduanya.


Nina yang awalnya Johan turunkan di tepi ranjang pun akhirnya beranjak dan menuju kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan make up dan menghilangkan lengket-lengket di tubuhnya.

__ADS_1


“Mau kemana, Sayang?” Johan yang sedang membuka jasnya tiba-tiba menoleh ke arah Nina begitu menyadari bahwa Nina beranjak dari ranjang pengantin mereka.


“Saya harus melepas gaun ini dan membersihkan diri, Tuan,” Nina menghentikan langkahnya dan menatap suaminya yang kini berjalan ke arahnya dengan hati yang bergetar.


“Sampai kapan kau akan memanggilku dengan sebutan tuan?” Johan terus mendekati Nina dan memeluknya dari belakang. Tangannya melingkar dengan manis tepat di bagian pinggang, sementara mulutnya sudah sibuk menghujani kepala istrinya dengan ribuan kecupan.


“Maaf,” ucap Nina lirih.


Nina semakin salah tingkah mendapat perlakuan manis dari suaminya. Ini adalah kali pertama dia melihat suaminya begitu manja, mengingat selama ini Johan selalu terlihat datar baik dalam sikap, ekspresi maupun perkataannya.


“Kenapa minta maaf?” Johan mulai membenamkan mukanya pada leher Nina yang masih lengkap dengan balutan hijab yang melekat di kepalanya.


“Kalau tuan ..., maksudku kalau kamu ..., aduh jadi saya harus memanggil Anda apa?” ucap Nina sambil mencoba menghindari serangan suaminya.


“Baiklah, Sa ... Sayang. Saya harus membersihkan diri sebentar,” dari pada urusannya panjang, Nina memilih untuk menuruti semua yang Johan inginkan.


“Ulangi! Masih terlalu formal,” goda Johan. Dia semakin mengeratkan pelukannya dan terus menyusuri bagian kepala Nina dengan mulutnya.


“Baiklah, Sayang. Biarkan Nina membersihkan diri sebentar,” mendapat perlakuan dari Johan, hati Nina semakin deg-degan tidak karuan.

__ADS_1


“Istri yang manis. Mau aku bantu melepas gaunmu?” kini Johan mengendorkan pelukannya, kemudian menyeret jemarinya untuk menyentuh punggung Nina hendak menurunkan resleting gaun yang Nina kenakan.


“Tidak perlu, Sayang. Nanti saja Nina lepas di dalam,” Nina berusaha menjauhkan tubuhnya dari tangan Johan.


“Kenapa? Bukankah sekarang atau nanti tidak ada bedanya? Tetap saja aku akan melihat semuanya,” Johan merapatkan tubuhnya pada tubuh Nina dan memeluknya kembali dari belakang, kali ini tingkahnya lebih nakal.


“Jangan, Sayang. Nina malu,” Nina berusaha menyingkirkan tangan Johan yang sudah mulai tidak bisa dikondisikan.


“Kenapa sih?” semakin Nina melawan, Johan semakin merasa tertantang dan makin penasaran. Kini tangan kirinya tetap berada di pinggang Nina, sementara tangan kanannya berusaha membuka resleting gaun pengantin yang masih menutupi tubuhnya.


“Sayang, jangan. Biar Nina lakukan sendiri,” cegah Nina.


“Mana enak kamu melakukannya sendiri. Lebih enak begini, bukan?” kini Johan semakin tak bisa di kendalikan. Tangannya bergerak ke semua bagian yang dia inginkan tanpa bisa tertahankan.


“Bukan begitu maksud Nina, maksudnya ...,” akhirnya kalimat Nina dibiarkan menggantung begitu saja, berganti dengan aksara demi aksara yang satu persatu mereka eja dalam setiap desahan nafas mereka. Alunan lagu pun tercipta dari nada-nada cinta yang teralun lembut, mengiringi ibadah agung yang sekaligus menunjukkan betapa nikmatnya berada dalam surga dunia. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga tak terhitung lagi berapa kali tubuh mereka bertemu meresapi keinginan jiwa-jiwa itu, hingga tarikan demi tarikan pun mereka buat seiring dengan irama dari degup jantung yang kini menjadi satu dalam peraduan itu.


Bulan dan bintang pun malu-malu ketika mereka harus menjadi saksi bisu, perhelatan panjang dua manusia yang kini telah menyatu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


💖💖💖


Lanjut? Like, vote dan rate 5 dulu...


__ADS_2