METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Jangan Tinggalin Rani, By!


__ADS_3

Rani terus meremas gundukan tanah merah yang kini ada di hadapannya. Tatapannya nanar, dadanya terasa begitu sesak karena tangis yang terus mendesak. Dia mencoba untuk bisa tegar berkali-kali, demi janin yang kini menjadi satu-satunya bukti cinta mereka berdua. Tapi semakin Rani mencoba, berkali-kali itu juga dia gagal melakukannya.


Sejak Rani mendapati suaminya menghembuskan nafas terakhirnya, tak henti-hentinya dia menangis dan berteriak histeris. Mama Davina dan Mommy Aghata juga seluruh keluarga yang membujuknya di tolak mentah-mentah, sehingga tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya.


"Sudahlah, Sayang. Ikhlaskan. Kasihan Ryan yang sudah tenang di sana. Pasti dia sedih jika melihatmu seperti ini, Nak. Kasihan juga janin yang sedang kau kandung itu," ucap Davina, berusaha membujuk Rani yang terus meronta.


"Tidak, Ma! Dia tidak boleh pergi meninggalkan Rani. Hubby jahat. Hubby bilang tak akan pernah ninggalin Rani seorang diri. Sekarang kembalilah, By. Jangan tinggalkan Rani. Rani tak bisa hidup tanpa Hubby. Hubyy ...!!! Bangun By! Rani bilang bangun! Hubby ...!!!" Rani semakin histeris memanggil-manggil suaminya. Dia terus meronta sambil bersimpuh dan meremas gundukan tanah merah yang masih basah, menutupi penghuni baru yang ada di dalamnya.


"Biar Rani ikut, By. Ajak Rani bersama Hubby. Jemput Rani, By! Jemput Rani! Rani mohon," lanjutnya masih dengan tangis yang menggema.


Rani terus menangis histeris sambil memanggil-manggil nama suaminya. Semua yang hadir dan ikut menyaksikan pemakaman Ryan waktu itu pun tidak ada yang mampu menahan air mata, melihat seorang istri yang seperti kehilangan nyawanya sendiri, saat menghadapi kenyataan bahwa pria yang dia cintai harus pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


"Kamu tidak boleh seperti ini, Sayang. Kamu harus kuat. Jika kamu seperti ini, bagaimana dengan bayimu? Kamu masih punya keluarga yang mencintaimu, Nak. Kami akan selalu menjagamu, juga anakmu. Ayolah, Sayang. Ikhlaskan dan do'akan suamimu biar tenang," tutur Aghata kembali, berusaha menenangkan.


"Ayo kita pulang, Nak. Kamu dan janinmu butuh istirahat," sahut Davina.


"Tidak, Ma. Rani mau disini. Rani mau temani Hubby,"


"Sayang, ayolah, Nak!"


"Tidak Ma. Biarkan Rani ikut Hubby saja, Ma. Rani tidak bisa hidup tanpa dia," kini Rani berteriak-teriak tanpa bisa mengendalikan emosinya.


Melihat Rani yang tidak bisa dibujuk, akhirnya Daniel dan Arya mengangkat Rani dengan paksa.


"Hubby...! jemput Rani, By. Rani tidak bisa hidup tanpa Hubby," teriak Rani sambil terus memberontak dan berusaha melepaskan tangan Daniel dan Arya.


"Hubby...! Jangan tinggalin Rani, By! Bagaimana Rani hidup jika Hubby pergi?" Rani terus meronta.


"Hubby...! Hiks. Hiks. Hiks,"

__ADS_1


"Hubby ...!!!"


"Hubby ...!!!"


"Hubby ...!!!"


Rani terus berteriak histeris sambil memanggil-manggil nama suaminya. Hingga akhirnya, sebuah suara menyadarkannya.


"Ran! Rani! Bangun, Sayang. Kau bermimpi, Nak?" panggil Davina sambil menggoyang-goyangkan bahu Rani, yang masih memejamkan mata di kursi penumpang, tepat di sebelahnya.


Rudi yang sedang menyetir pun menepikan mobilnya sejenak, diikuti beberapa mobil pengawal yang akhirnya juga berhenti, mengikuti setiap pergerakan mobil yang membawa nonanya.


"Nona!" Naja yang duduk di samping Rudi pun turun dan menyerahkan sebotol air mineral begitu Rani terbangun dari tidurnya.


"Astaghfirullah wal hamdulillah, semua hanya mimpi kan, Ma? Rani bermimpi dia pergi meninggalkan Rani, Ma. Hubby tidak kenapa-kenapa kan, Ma? Naja? Rud? Suamiku baik-baik saja kan?" cicit Rani sambil menghapus air matanya dan menerima sebotol air minum dari Naja.


"Tidak, Nona. Tuan masih ditangani tim dokter di IGD rumah sakit," jawab Naja menenangkan. Walaupun sejujurnya dia sendiri belum tahu betul kondisi Ryan, tapi Naja berusaha tersenyum untuk menenangkan.


"Syukurlah kalau aku hanya mimpi," Rani mengelus dadanya, kemudian meneguk air mineral itu hingga mampu menyegarkan kerongkongannya.


"Berapa lama lagi kita akan sampai, Naja?" tanya Rani masih terlihat gusar.


"Tiga puluh menit lagi kita sudah sampai, Nona," jawab Rudi, kemudian kembali melajukan mobilnya.


***


"Aku tak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padanya. Harusnya aku tak memaksa dia untuk hadir di tempat ini. Harusnya aku membiarkan dia bersama istrinya menunggu kelahiran putra mereka. Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya pada Rani jika dia sampai ke tempat ini nanti?" Arya tergugu, begitu pun semua orang yang berada di tempat itu.


Hingga tiba-tiba, seorang dokter keluar, dengan tampang yang begitu lesu dan seperti putus harapan.

__ADS_1


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Daniel tak sabar.


"Maaf, Tuan. Tuan Ryan dalam kondisi kritis. Beliau kehilangan banyak darah, akibat beberapa luka tusukan yang terdapat di area perut. Kita butuh donor segera, karena kita berburu dengan waktu," jelas dokter itu dengan wajah yang terlihat murung.


"Selamatkan dia, Dokter! Lakukan apa saja, asalkan dia bisa selama!" ucap Daniel dengan mantap.


"Masalahnya persediaan darah yang cocok dengan golongan darah beliau habis, Tuan. Sementara kami butuh beberapa kantong sekarang juga," sahut sang dokter terlihat frustasi.


"Golongan darah saya sama dengan dia, Dok. Ambillah sebanyak yang dia butuhkan," Arya mendekat dan dengan penuh kerelaan menyerahkan dirinya untuk diambil darahnya.


"Kami butuh setidaknya satu orang lagi, Tuan. Tidak mungkin kami mengambil darah hanya dari Anda, sementara darah yang Tuan Ryan butuhkan cukup banyak," sahut dokter itu kembali menegang.


"Apa golongan darahnya, Dok?" Daniel menimpali.


"AB," Arya menyahut, diikuti anggukan kepala sang dokter.


Daniel dan Johan hanya saling pandang. Diantara mereka berdua tidak ada yang bergolongan darah AB seperti yang dibutuhkan.


"Bagaimana ini?" cicit Daniel sambil menatap Johan dengan tajam.


"Akan saya cari dari pengawal, Tuan. Jika tidak ada juga kita bisa segera siarkan di seluruh medsos dan media elektronik nasional," jawab Johan sambil merogoh saku celana kanannya, dan meraih handphone yang dia simpan di sana.


"Ambil darah saya, Dok!" seru Indra yang baru saja datang.


"Baiklah, Tuan-Tuan. Ikut perawat saya agar donor dan transfusi bisa segera kita lakukan. Jika masih bisa, usahakan ada pendonor lagi untuk jaga-jaga jika darah yang dibutuhkan masih kurang," ujar dokter itu dengan seulas senyum tipisnya.


"Baik, Dok," sahut Daniel tak kalah lega.


"Cari pendonor lain, Jo! Bilang pada semua anak buahmu dan seluruh pekerja di proyek itu, bagi siapa saja yang mempunyai golongan darah yang sama dan bersedia mendonorkan darahnya, akan kita kasih bonus seratus kali lipat dari gaji bulanan mereka," titah Daniel, yang hanya di jawab dengan anggukan dari Johan, yang sudah sibuk berselancar dengan ponsel di tangannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2