
Ryan dan Arya kompak berlari menyusuri lorong rumah sakit itu, begitu sebuah telepon dari seorang aparat kepolisian masuk dan mengabarkan bahwa Sesil dinyatakan meninggal paska melakukan percobaan bunuh diri dalam sel tahanan. Walau Ryan masih harus meringis menahan sisa-sisa luka tusuk yang belum sepenuhnya kering, tapi semua kesakitan yang dirasakannya tak menyurutkan langkahnya untuk segera melihat jasad seorang gadis yang pernah ditolongnya, sekaligus gadis yang telah mengkhianatinya itu.
Bahkan ketika akhirnya mereka diperbolehkan masuk ke kamar jenazah dan melihat langsung tubuh Sesil yang sudah terbujur kaku, air mata mereka pun tak mampu terbendung, sesakit apapun luka akibat pengkhianatan yang dilakukan perempuan itu.
"Mohon maaf, Tuan Ryan. Kami menemukan surat ini di ruang tahanan korban. Sebelum korban melakukan hal nekat itu, korban memang sempat meminta kertas dan meminjam sebuah pena dari penjaga yang sedang bertugas di sana," seorang aparat mendekati Ryan, setelah dia keluar dari ruang jenazah itu.
Ryan menerima secarik kertas yang diberikan oleh aparat itu dengan wajah begitu sendu. Ya, sejahat apapun Sesil hingga memutuskan untuk melakukan pengkhianatan itu, Sesil tetaplah seorang sahabat yang telah banyak membantu terutama di masa-masa Ryan masih sangat baru di perusahaan yang telah papanya wariskan beberapa tahun lalu.
Maafkan saya, Tuan.
Mungkin hanya kata itu yang bisa saya sampaikan.
Saya tahu, jika saja air mata ini mengalir hingga ke dasar bumi, semua itu tak akan pernah cukup untuk mendapatkan kata maaf darimu.
Saya tahu, jika saja saya bisa menyadari lebih awal kesalahan ini, mungkin tak akan pernah sesakit ini. Ya, kebodohan saya sudah mengubah hidup saya selamanya, dan menyerakkan puing-puing dosa saya kepada Anda, Tuan. Sementara orang yang telah membuat saya berkhianat kepada Anda, justru lepas begitu saja akan tanggungjawabnya. Sayangnya, saya baru sadar kalau saya bodoh setelah tahu bahwa dia tidak pernah mencintai saya dan hanya memperalat saya untuk menghancurkan Anda.
Saya tahu, berjuta tangis pun tak kan bisa mengubah apapun. Karena itu, ijinkan saya pergi dengan segala dosa ini, Tuan. Karena tanpa atau dengan maaf dari Anda, saya sadar diri tak kan pernah mengubah semuanya.
Maafkan saya, Tuan.
Maafkan saya.
Dari manusia bodoh yang penuh dosa,
Sesilia
__ADS_1
***
Flashback
Di balik jeruji besi itu, ingatan Sesil mengembara pada kisah demi kisah usang yang hadir bagai sebuah slide yang berputar-putar. Matanya tiba-tiba menggenang, menyadari waktu yang berlalu tak bisa terulang.
"Andai waktu bisa terulang, aku tak akan pernah memilih untuk masuk dalam kehidupanmu, Felix," gumam Sesil lirih.
Kini rasa sesal di hatinya mampu membakar hangus kekhilafan yang sempat memberangus akal sehatnya. Besi hitam yang berjejer rapat di depannya itu pun, bukan hanya menutup kebebasannya untuk menikmati dunia luar, tapi juga membuat Sesil benar-benar merasa menjadi seorang pendosa. Apalagi sikap Felix yang sama sekali tak mau bertanggung jawab atas dirinya juga anak yang kini sedang dikandungnya, membuat rasa sesal di hatinya kian terasa.
Berada di sel tahanan, Sesil terus larut dalam kesedihan. Felix yang betul-betul tak peduli dengan nasib Sesil selama ditahan itupun semakin membuat keterpurukannya di balik jeruji besi yang kini mengungkung kebebasan hidupnya semakin menjadi.
Ya, dia terus merasa berdosa dengan kebusukannya sendiri, yang bahkan telah berusaha menghancurkan perusahaan orang yang sangat berjasa di dalam hidupnya, demi orang yang kini justru meninggalkannya.
"Masih adakah kata pengampunan?" batin Sesil meronta.
"Aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Bukankah ada masa depan?" Sesil mencoba untuk menyemangati diri.
"Tapi untuk apa aku hidup? Untuk siapa aku hidup? Bukankah sudah tidak ada lagi seseorang yang menjadi alasan untukku bertahan di dunia yang fana ini?" lintasan-lintasan pikiran terus berkecamuk di dalam benaknya.
Ya, semakin Sesil mencoba, semakin terpuruk pula hatinya. Lingkaran sepi dibalik jeruji besi itu, betul-betul mampu merajai hati yang bahkan kini menabur rasa sesal bersamaan dengan diri yang menjadi mudah tergoncang. Kini, hanya tarian dosa yang tertawa di dalam dirinya, membuat hidupnya dirajai oleh nestapa.
Dan sore itu, dadanya terasa penuh sesak. Bulir-bulir bening terus keluar dari ujung matanya. Pikirannya benar-benar kacau, setan pun sudah menguasai pikirannya tanpa bisa dikendalikan lagi.
Hingga saat mata Sesil menangkap ada sebuah kain yang semalam dia kenakan sebagai selimut untuk menghangatkan tubuhnya, angannya sudah mengembara kemana-mana.
__ADS_1
Sesil mengambil kain itu, kemudian mengaitkannya pada sebuah jeruji besi di dekat lubang ventilasi ruang itu. Setelah membuat simpul, Sesil menjerat lehernya sendiri hingga dia tercekat dan tak bisa bernafas lagi.
Sayangnya, tak ada tahanan lain di ruang itu. Petugas jaga yang pertama kali melihat aksi nekat Sesil pun datang tiga puluh menit setelah kejadian berakhir, hingga pertolongan pertama tak lagi bisa dilakukan kepada Sesil, begitu juga saat akhirnya mereka melarikan Sesil ke rumah sakit, dia telah meregang nyawa.
Flashback off
***
"Makamkan dia dengan layak, Ar. Setelah itu kita harus beri pelajaran kepada Felix untuk semua yang telah dia lakukan kepada kita. Pelajaran yang kita berikan kepadanya dulu ternyata belum juga membuat dia jera. Karena itu, buat agar dia benar-benar menyesal telah berurusan dengan Ryan Dewangga," titah Ryan kepada Arya.
"Serahkan semuanya kepadaku," sahut Arya sambil mengangguk pelan.
"Baiklah. Kita ketemu di pemakaman. Aku akan pulang sebentar untuk melihat apakah istriku baik-baik saja dan bisa ikut ke pemakamannya," setelah mendapatkan jawaban dari Arya, Ryan pun langsung pergi meninggalkan ruang itu.
Namun belum sempat Ryan ke luar dari rumah sakit, sebuah panggilan suara dari Daniel tiba-tiba masuk hingga membuat Ryan menghentikan langkahnya.
"Hallo, Niel," sapa Ryan setelah menempelkan ponsel itu ke telinga kanannya.
"Yan, apa kau baik-baik saja?" sahut Daniel dengan nada bicara yang tak biasa.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu?" Ryan mengerutkan dahinya.
"Tadi Rani keluar begitu saja dan membawa mobilnya sendiri, setelah mengangkat sebuah telepon dan memanggil-manggil namamu. Rudi dan semua penjaga yang bertanya kepadanya pun tak dihiraukannya. Rani terus saja melajukan mobilnya, bahkan kini Rudi dan anak buahnya yang mengejar langsung kehilangan jejak begitu saja," ungkap Daniel dengan begitu tegang.
"Apa? Bagaimana bisa kalian gagal mencegahnya?"
__ADS_1
BERSAMBUNG