METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
When You Look At Me


__ADS_3

Kedua pasang mata itu masih saja saling menatap tajam, mencoba mendalami rasa hati yang tersembunyi dalam setiap tatapan.


"Believe me, please," bisik Ryan di telinga Rani, sesaat sebelum sebuah kecupan hangat mendarat di kening istrinya itu.


"Peluk," di luar dugaan, kata itu yang justru ke luar dari mulut Rani.


Ryan mengembangkan senyum lega begitu wanitanya sudah mulai merajuk kepadanya. Karena dengan sikapnya, itu artinya sudah tidak ada kemarahan di dalam hatinya.


Dengan semangat empat lima, Ryan naik ke atas ranjang pasien yang sebenarnya hanya untuk satu orang itu dan segera memeluk erat istrinya.


"Cepet sehat, biar kita bisa segera bikin anak lagi," ucap Ryan di balik punggung Rani.


"Maaf," mendengar kalimat Ryan, rasa sesal kembali menyelimuti hati Rani.


"Mungkin Allah merasa Rani belum pantas menjadi seorang ibu," lanjut Rani, menggantung kalimatnya.


"Kok jadi sedih begini? Nggak boleh ngawur lho ngomongnya!" cegah Ryan sekali lagi.


"Sebenarnya, hamil dan mempunyai anak adalah hal yang paling Rani takutkan. Rani berpikir bahwa itu akan sangat merepotkan dan akan membuat jiwa bebas Rani terkungkung. Mas Ryan tahu sendiri kan, seperti apa aktivitas Rani di luar dan begitu banyaknya orang di luar sana yang membutuhkan Rani. Tapi ketika dokter bilang Rani keguguran dan harus menjalani kuratase untuk membersihkannya dari rahim ini, Rani baru tersadar kalau Rani sangat menginginkannya. Rani sangat ingin benih Mas Ryan bisa ada dalam rahim ini kembali, melahirkan dan membesarkannya karena dia adalah bukti cinta kita," Rani membalikkan badan dan menatap suaminya, mencoba mencari apakah ada kekecewaan di mata itu terhadap dirinya.


"Kalau begitu lekaslah sembuh biar kita bisa bikin lagi setiap hari," goda Ryan sambil mengerlingkan matanya. Sebenarnya dia memang kecewa, namun dia segera tersadar, bahwa semua yang mereka hadapi adalah takdir cinta yang harus mereka lalui.


"Ihh maunya Mas Ryan itu mah,"


"Tapi kamu mau juga kan?"


"Enggak. Rani nggak mau,"


"Bener?"


"Nggak mau nolak,"


"Ha-ha-ha, dasar. Udah ayo kita tidur. Jika kondisi kamu baik, sore udah boleh pulang,"


***


Ryan terbangun begitu suara adzan menggema. Diliriknya gadis cantik yang masih berada dalam pelukannya, masih tertidur pulas. Tentu saja, mereka baru tertidur sekitar jam 3 pagi karena dokter memutuskan untuk langsung melakukan tindakan kuratase malam itu juga. Jadi wajar jika gadisnya begitu enggan membuka matanya. Apalagi mengingat kemarin dia menyetir sendiri selama 8 jam dalam kondisi masih hamil dan tidak makan seharian, tentu istirahat adalah satu-satunya pilihan.


Ryan pun tidak berniat mengusiknya, karena kondisi kewanitaannya tetap sama persis dengan orang yang baru saja melahirkan sehingga tidak mempunyai kewajiban sholat di hari itu. Sehingga selepas sholat shubuh, Ryan pun lebih memilih untuk tidur kembali di samping istrinya dari pada mengusik ketenangan istrinya yang masih terlelap.


Sampai akhirnya, sebuah ketukan pintu beriringan dengan sinar mentari yang masuk melalui celah-celah jendela rumah sakit itu membangunkan sepasang kekasih itu.


"Ya, masuk!" seru Ryan sambil melepaskan pelukannya dan turun dari tempat tidur. Rani pun membenarkan posisi hijabnya yang tidak pernah dia lepas jika sedang tidur di tempat asing.

__ADS_1


Tak lama, dokter diikuti seorang perawat menghampiri mereka.


"Selamat pagi, Tuan dan Nona," sapa dokter itu ramah.


"Selamat pagi, Dok," jawab Ryan dan Rani secara bersamaan.


"Bagaimana kondisi Anda, Nona? Apakah ada yang terasa nyeri?" tanya dokter itu sambil memeriksa beberapa bagian di tubuh Rani, kemudian terlihat menuliskan sesuatu pada berkas yang disodorkan perawat yang berada di sampingnya.


"Tidak, Dokter. Hanya sedikit lemas saja," Rani menyunggingkan senyumnya yang masih sedikit dipaksakan.


"Baiklah, sore nanti Anda sudah bisa pulang setelah suntikan obat terakhir kami berikan dan cairan infus habis," dokter itu menyerahkan berkas kepada perawat lagi dan memandang Rani dan Ryan secara bergantian.


"Dok, kira-kira istri saya boleh langsung hamil lagi atau tidak pasca keguguran ini?" dengan polosnya, Ryan bertanya yang membuat dokter itu mengembangkan senyumnya.


"Selama kondisi istri Anda sehat, sebenarnya tidak ada masalah secara medis. Namun akan lebih baik jika Anda menunda dulu sampai dua atau tiga kali haid, baru Anda program untuk hamil lagi," jelas dokter itu, yang disambut dengan ekspresi kecewa di muka Ryan.


Dokter itu terlihat tersenyum melihat ekspresi muka Ryan, seolah tahu apa yang sedang berkecamuk dalam benaknya.


"Anda bisa tetap berhubungan dengan istri Anda tanpa membuat istri Anda hamil, Tuan. Istri Anda pasti tahu bagaimana menyiasatinya," tutur dokter itu sambil tersenyum geli dan meninggalkan pasangan muda itu.


Setelah dokter dan perawat itu pergi, Ryan segera mengelus kepala istrinya kemudian mengecupnya berkali-kali dan kembali membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Ryan penuh selidik.


"Biar kita bisa tetap beribadah tapi kamu tidak hamil dulu?"


"Mau tahu atau mau tau banget?" Rani mulai berniat menjaili suaminya.


"Banget," jawab Ryan dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.


"Bisa dengan kalender. Di tanggal-tanggal tertentu perempuan punya masa tidak subur," jawab Rani sambil mengeratkan pelukannya.


"Ribet banget, Sayang. Mas nggak mau. Bisa stress mau ibadah aja harus pikir-pikir dulu," rajuk Ryan sambil mengerucutkan bibirnya.


"Terserah Mas aja. Yakin sama pertolongan Allah. Langsung hamil lagi juga Rani sudah siap sekarang," Rani mulai serius dengan ucapannya.


Ryan yang mendengar itu hanya tersenyum penuh arti. Memang selalu ada hikmah di setiap kejadian. Setelah dia kehilangan janinnya, justru dia baru tersadar bahwa dia sangat menginginkannya.


"Bismillah ya, Sayang. Setelah kamu sehat kita coba lagi,"


Rani hanya mengangguk pelan, kemudian mereka kembali saling bertatap. Ada getar rasa yang merajut berjuta asa di hati mereka. Hingga binar-binar cinta itu pun tak lagi bersembunyi di balik rasa gengsi yang selama ini menghalangi.


"I know you love me when I saw your eyes shine bright when looked at me," bisik Ryan lirih.

__ADS_1


"Ihh, pede banget sih?" Rani memalingkan mukanya.


"Memangnya enggak?"


"Enggak,"


"Bener enggak?"


"Enggak salah,"


Mereka tergelak bersamaan, melupakan kesedihan dan mencoba memperbaiki diri untuk menapaki masa depan yang sudah Allah takdirkan.


"Terima kasih sudah bersedia mempercayai Mas," Ryan menghentikan tawanya dan menggenggam erat tangan lembut istrinya.


"Terima kasih juga sudah bersedia mencintai Rani,"


Kini senyum mereka mengembang seiring dengan jantung mereka yang tiba-tiba berdegup kencang. Tak ada kata lagi yang keluar dari mulut mereka selain ungkapan cinta dari tatapan mata. Hingga akhirnya, suara ketukan pintu membuyarkan angan mereka.


"Ya, masuk!" suara Ryan menggema begitu saja.


Melihat siapa yang muncul dari balik pintu, Ryan dan Rani kembali saling bertatapan.


BERSAMBUNG


Hallo readers...


Ada rekomendasi novel bagus yang bisa kalian baca nih.


Nama pena : AliceLin


Judul : My Fate Is You


Genre : Romance, comedy



Terkadang takdir hanya memberikan kesempatan untuk mengenalnya, bukan untuk memilikinya. Takdir selalu memiliki jalannya, entah itu berderai air mata atau berderai air mata.


Amira Lin, seorang gadis belia putri pengusaha Lin Corp bertemu dengan Vincent Zhang, seorang Presdir perusahaan Royal Group karena ikatan takdir yang mereka miliki. Mereka berusaha menjalani takdir mereka masing-masing. Di saat mereka memutuskan bersama, ada sebuah misteri besar yang mengguncang kisah cinta mereka berdua.


Sanggupkah mereka berdua menghadapinya? Apakah mereka memang ditakdirkan bersama atau malah sebaliknya?


"Bertemu denganmu adalah nasib, tetapi tak bisa bersamamu adalah takdir yang ingin kuhindari."

__ADS_1


__ADS_2