METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kejadian di Istana


__ADS_3

"Jika Rani sedang di sekap di ruang itu, dimana Felix? Atau jangan-jangan dia sedang bersama Rani di dalam sana? Ya ampun, apa yang sedang Felix lakukan?" Arya nerocos tanpa mempedulikan ekspresi Ryan yang sudah berubah sangat marah, mendengar apa yang dia ucap barusan.


"Aku tak akan membiarkan dia menyentuh istriku seujung kuku pun," seru Ryan, langsung turun dari dalam mobil dan berjalan mendekati bangunan megah yang berdiri tinggi menjulang.


"Tunggu, Yan! Terlalu berbahaya jika kamu ke sana sekarang!" Daniel berusaha mengejar Ryan, sementara matanya menatap ke arah Arya dengan tatapan kesal.


"Maaf, aku keceplosan," Arya menutup mulutnya, menyadari akibat fatal dari ucapannya tentang kemungkinan-kemungkinan yang sedang terjadi di dalam sana.


Sementara apa yang dilakukan Daniel, semua sia-sia. Langkah Ryan sudah tidak bisa dihentikan lagi, hingga mau tak mau Daniel ikut masuk, disusul Arya yang memilih untuk membantu mereka berdua.


Untung saja mobil yang ditumpangi Indra, Zara, Rudi dan Johan segera tiba. Jika tidak, Ryan pasti tak akan berhasil dengan aksi nekatnya.


Hingga mereka pun masuk ke bangunan megah itu dengan cara mengendap-endap, dan menumbangkan satu per satu musuh mereka dengan tangan kosong, tanpa satu senjata pun mereka gunakan.


Ryan benar-benar beruntung memiliki Daniel, Arya, Johan, Rudi, Indra dan Zara yang begitu setia dan lihai dalam ilmu bela dirinya. Hingga dengan mudah, mereka bisa membuka jalan bagi Ryan untuk segera menuju ke sebuah ruang yang mereka duga merupakan tempat dimana istrinya berada. Apalagi beberapa saat setelah itu, sebagian anak buah mereka sudah sampai dan ikut membantu, hingga peluang Ryan untuk segera masuk ke ruang itu semakin terbuka.


Dan benar saja. Begitu Ryan sampai tepat di depan ruang itu, pengawal yang berjaga langsung sigap dan mengangkat senjata. Namun lagi-lagi, para sahabat setianya segera melindungi Ryan dan melawan musuh-musuhnya tanpa ada rasa gentar sedikitpun. Bahkan beberapa di antara mereka terluka, tapi sama sekali tak dirasakannya.


Jalan untuk Ryan pun terbuka lebar, karena setiap ada musuh yang menghadang, sahabat dan anak buahnya terus melindunginya. Hingga akhirnya, Ryan bisa meraih handel pintu itu, dan membukanya dengan segera. Namun alangkah kagetnya Ryan, ketika melihat Rani dan Felix dalam kondisi yang sungguh sangat tidak dia inginkan.


"Sayang!" Ryan langsung berteriak dengan spontan, membuat Rani dan Felix menatap Ryan dengan pandangan masing-masing yang sangat sulit diterjemahkan.


***


"Sayang, jangan seperti ini. Berikan pisau itu kepadaku. Sedikit saja pisau itu menggores wajahmu, rasanya akan sakit sekali, Sayang. Kau tak akan tahan jika harus merasakannya," Felix mencoba menakut-nakuti, berharap dengan begitu, Rani akan terpengaruh dan membuang pisau itu kembali.


"Jangan kau kira aku akan menyerah hanya karena kau ucapankan kata-kata seperti itu, Felix. Aku bukan anak kecil yang bisa kau takut-takuti. Kau tahu? Bahkan aku rela menanggung kesakitan lebih dari ini, demi rasa setiaku pada cinta dan suamiku," Rani semakin mendekatkan pisau itu ke wajahnya.


"Hentikan, Sayang!" Felix mencoba maju ke depan, mendekatkan dirinya agar bisa mengambil pisau itu dari tangan Rani.


"Jangan coba-coba mendekat," Rani melangkah mundur, tanpa melepaskan pisau itu dari wajahnya.


Felix tak menyerah. Dia betul-betul yakin bahwa wanita yang kini berada di hadapannya tidak mungkin akan seberani itu menyakiti dirinya sendiri, apalagi pada bagian wajah dan mahkota terindah yang dia punya. Hingga dengan mantap, Felix terus bergerak maju, dan mendekati Rani yang kini sudah semakin gemetar dengan pisau yang dengan erat siap dia sayatkan.


Melihat Felix yang tak juga mau menyerah, Rani pun semakin membulatkan tekat untuk menjalankan rencana yang dia buat. Dengan menarik nafas panjang beberapa kali, dia siap untuk melukai dirinya sendiri. Bahkan dalam hati, dia sudah menghitung maju tiga kali. Satu, dua, ti ...


"Sayang!" Rani sudah siap menggores mukanya sendiri, namun suara Ryan dari arah pintu membuat Rani dan Felix menoleh dan menatap Ryan dengan pandangan masing-masing yang sangat sulit diartikan. Bahkan dua orang yang sudah disiapkan Felix untuk menjadi saksi dan satu penghulu dalam pernikahan gilanya itu, kini ikut memandang Ryan dengan tatapan heran.

__ADS_1


Felix sangat kaget melihat kedatangan Ryan. Ini semua di luar prediksinya. Seharusnya Ryan tidak bisa menemukan tempat rahasianya secepat itu, tapi ternyata dia harus mengakui kehebatan saingannya itu sekali lagi.


"Hubby!" panggil Rani. Rasa haru dan bahagia, kini bercampur menjadi satu.


Namun tak mau kalah untuk yang kesekian kalinya, Felix langsung merebut pisau di tangan Rani dan mencengkeram tubuh wanita yang sedang mengandung anak Ryan itu, serta mengarahkan pisau yang dipegangnya ke arah leher Rani dengan jarak begitu dekatnya.


"Berhenti di tempatmu atau aku akan ...,"


"Aaaaaagh," Rani berteriak ketika benda tajam itu menempel di lehernya. Walau terhalang hijab, tapi Rani betul-betul merasakan bahwa tajamnya benda itu sudah mengenai kulitnya.


Ryan pun berhenti seketika. Daniel dan Arya yang kini sudah ikut masuk, ikut berhenti melihat kondisi yang sama sekali tak menguntungkan mereka itu. Begitu juga dengan dua saksi dan penghulu gadungan itu, kini beranjak dari duduknya dan terlihat sangat ketakutan melihat pemandangan mengerikan yang ada di hadapannya.


"Lepaskan dia, Felix," teriak Ryan penuh emosi .


"Jangan harap, Pria Bod*h. Aku tak kan pernah lagi melepaskannya. Dia adalah milikku," Felix membalas teriakan Ryan dengan teriakan lebih kencang.


"Bukankah kau mencintainya? Jika benar cinta di hatimu itu tulus untuknya, lepaskan dia. Jangan sakiti dia, Felix!" Ryan mencoba bernegosiasi.


"Kau pikir aku akan menyerah, heh? Sejak hari ini dan seterusnya, dia akan menjadi milikku," sahut Felix semakin mengencangkan cengkeramannya pada tubuh wanita yang sangat dicintainya.


"Baiklah, aku tahu kau tak akan pernah menyakitinya. Bukankah begitu?" Ryan mencoba tetap tenang. Dia melangkahkan kakinya satu langkah, mendekat ke arah istri dan pria yang begitu menggilai istrinya itu.


"Itu tak mungkin kau lakukan," kata Ryan lagi.


"Kubilang jangan bergerak! Aku bisa nekat, Tuan Ryan Dewangga yang terhormat. Aku tak akan segan-segan menghabisi wanitaku, setelah itu aku akan menyusulnya dengan mengakhiri hidupku. Jika aku tak bisa memilikinya di dunia ini, maka tak kuijinkan dia menjadi milik siapa saja tak terkecuali dirimu," Felix terlihat sangat serius dengan ucapannya. Dia semakin mengeratkan cengkeramannya dan menekan pisau itu semakin dalam lagi dan lagi. Bahkan hijab yang dikenakan Rani sudah nampak noda darah, seiring dengan wajahnya yang terlihat meringis menahan perih yang kian terasa.


"Hentikan, Felix. Jangan sakiti dia!" Ryan yang begitu ketakutan melihat istrinya meringis kesakitan pun akhirnya merasa tak ada pilihan selain menuruti apa yang Felix katakan. Ya, Ryan dan sahabat beserta seluruh anak buahnya, semua berdiam di tempatnya, tak ada yang berani bergerak sedikitpun dan tak bisa berbuat apa-apa.


Melihat musuh di hadapannya tak lagi menentang perkataannya, Felix bergerak ke luar kamar tanpa melepaskan cengkramannya pada tubuh Rani, dengan pisau masih setia di leher jenjang wanitanya. Dia terus bergerak ke luar dan berjalan mundur bersama Rani, menuju lantai atas dengan menaiki puluhan anak tangga yang kini tepat berada di belakangnya.


Ryan yang begitu takut kondisi psikis istrinya akan tergoncang, juga fisiknya akan tersakiti oleh senjata pria yang sekarang seperti sedang kesetanan, hanya bisa mengikuti langkah mereka secara pelan. Matanya terus menatap kedalaman mata istrinya, seolah ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, sementara yang ditatap begitu sendu membalas tatapan suaminya.


"Aku pasrah jika waktuku sudah sedekat ini untuk menghadap-Mu, Ya Rabby. Tapi setidaknya beri waktu kepadaku terlebih dahulu untuk melahirkan putraku ini," do'a Rani dalam hati.


Hingga akhirnya, sampailah mereka di atap istana itu. Sebuah helikopter yang sudah terpampang nyata di atas helipad yang dia punya, juga seorang pilot andalan Felix sudah siap terbang membawa mereka.


"Mau kau bawa kemana istriku, Felix?" Ryan membulatkan matanya. Meski dia sangat yakin jika Naja sudah memprediksi akan hal ini dan sedang mengusahakan agar helikopternya juga datang untuk melakukan pengejaran, tapi sudah pasti waktu yang heli itu butuhkan untuk sampai ke tempat ini tak sesingkat yang dia ingini.

__ADS_1


"Dia bukan istrimu lagi, Ryan Dewangga. Dia adalah wanitaku selamanya. Ha-ha-ha," Felix semakin menggila. Dia sudah mulai menaiki helikopternya dengan Rani yang terlihat sedikit di seretnya.


Ya, Felix bisa merasa menang kali ini. Walaupun seluruh anak buahnya kini telah tumbang karena kehebatan seluruh anak buah Ryan, tapi dia sangat berbangga bahwa wanitanya masih berada dalam genggaman.


Ryan, Daniel, Arya, yang merasa sulit untuk melepaskan Rani dalam kondisi seperti itu pun tak mau bertindak gegabah yang bisa mengancam keselamatan Rani. Begitu juga dengan Johan, Rudi, Indra dan Zara yang kini menyaksikan Felix sebentar lagi akan membawa nonanya, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu helikopter mereka menjemput dan mengejar helikopter Felix yang sebentar lagi akan mengudara.


Namun Rani yang tak ingin mengikuti Felix dan terpisah jauh dengan suaminya lagi segera mencari ide untuk bisa melepaskan diri. Melihat Felix sedikit lengah saat membawanya naik ke atas heli, Rani menggigit tangan Felix dan berusaha untuk turun dan berlari.


Karena gigitan itu, pisau di tangan Felix memang terlepas seiring dengan lepasnya tubuh Rani dari cengkeraman tangannya. Namun saat Rani akan turun dengan satu kaki yang sudah menjulai ke luar pesawat, Felix meraih tubuh Rani lagi dan berusaha untuk menyeretnya ke dalam helikopter itu lagi. Rani terus memberontak, tangan dan tubuhnya pun terus berusaha melepaskan diri. Hingga hal yang sangat menakutkan pun justru terjadi.


Saat Rani dengan kuat menarik tubuhnya sendiri dari pria gila yang begitu terosebsi dengan dirinya, tubuhnya justru terhempas ke luar begitu saja.


"Aaagggt," Rani berteriak sekencang-kencangnya, seiring dengan semua mata yang membulat melihat hal yang sungguh tak mereka inginkan, terjadi di depan mata.


Namun sayang sungguh sayang, semua sudah terlambat dan tak bisa dikendalikan. Tubuh Rani sudah tersungkur di helipad itu, dengan darah yang mengucur deras dari arah pangkal paha wanita yang sedang berusaha mereka selamatkan itu.


"Sayang!" teriak Ryan dan Felix secara bersamaan.


Ryan langsung menghambur ke arah istrinya dengan wajah ketakutan. Begitu juga dengan Felix, dia bergegas ingin turun dengan ekspresi yang sangat terlihat penuh dengan sesal. Tapi saat Felix akan turun, dia melihat Indra dan Zara sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan penuh kemarahan mereka, di susul aparat kepolisian yang baru saja datang dan kini sudah menodongkan sebuah senjata api ke arahnya.


Felix pun mengurungkan niatnya. Dia kembali masuk ke dalam helikopter miliknya, dan memilih melarikan diri agar bisa menyusun rencana kembali untuk mengejar obsesinya. Namun melihat aparat kepolisian yang bergerak begitu cepat dan langsung mengepungnya dengan senjata api yang mengarah langsung ke tubuhnya, Felix merasa tak ada lagi yang bisa dia lakukan, selain harus meringkuk di penjara.


Hingga sebuah ide pun tiba-tiba datang. Felix melirik senjata api yang berada di dalam saku celananya, kemudian melihat sosok Zara yang kini berada sangat dekat dengan pesawat dan dirinya. Dan sekali lagi, Felix merasa punya jalan untuk melarikan diri. Dengan secepat kilat, dia menarik tubuh Zara dan menempelkan senjata api miliknya persis di pelipis gadis yang telah berkhianat padanya itu.


"Turunkan senjata kalian, atau akan kutarik pelatuknya hingga kujamin gadis ini tak akan bernyawa seketika!" teriak Felix sambil menarik tubuh Zara masuk ke dalam helikopternya.


Pasukan aparat tak bisa berbuat apa-apa. Bagi mereka, menyelamatkan nyawa adalah hal yang paling utama.


Melihat pihak musuhnya tak bisa berbuat apa-apa, Felix segera meminta pilot itu untuk segera menerbangkan helikopternya. Pesawat kecil itupun langsung terangkat ke udara, seiring dengan Felix yang sedang berusaha untuk menutup pintunya.


Namun jiwa kepahlawanan Indra terus meronta, tak rela jika gadisnya harus tersandra oleh mantan majikan Zara yang tentu kini sangat dendam kepadanya. Karena tak ingin terjadi apa-apa dengan kekasih hatinya, Indra pun melompat ke atas dan mencegah Felix untuk menutup pintu itu dan membawa Zara bersamanya.


Seketika, terlihatlah pemandangan mengerikan di hadapan mereka semua. Tubuh Indra ikut terangkat seiring dengan helikopter yang perlahan mengudara. Hingga Felix yang merasa berada di atas pun, terus berusaha menendang tubuh Indra yang kini bergelantung di bawah pijakan helikopternya.


"Kau ingin mengantarkan nyawamu, Anak Muda?" ucap Felix sambil berusaha membuat Indra jatuh dari helikopternya, sementara sang pilot terus menjalankan mainan canggihnya semakin mengangkasa.


Sementara itu, aparat kepolisian segera berinisiatif untuk mengambil kesempatan. Melihat Felix tak lagi fokus dengan senjata api di tangannya, aparat mengambil senjatanya kembali dan berusaha membidik tubuh Felix yang kini sudah terbang semakin tinggi. Tapi karena helikopter itu belum pergi jauh, tembakan demi tembakan pun terus sang aparat layangkan ke arahnya. Satu tembakan, dua tembakan, tiga tembakan, akhirnya peluru mengenai sasaran. Tubuh Felix limbung hingga terjatuh dari pesawat kecil itu, namun sayang tangannya berhasil meraih kaki Indra hingga mereka sama-sama jatuh entah kemana.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2