METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bayi Laki-Laki


__ADS_3

Setelah Rani menabrakkan mobilnya beberapa saat yang lalu, Ryan pasang mode waspada setiap waktu. Bahkan status yang Ryan terapkan untuk seluruh penghuni rumah itu adalah status siaga satu. Artinya, semua orang wajib mengawasi pergerakan Rani dan melaporkan semua hal yang mereka ketahui kepada Ryan setiap hari.


Bahkan, pekerjaan kantor pun kini lebih sering berpindah ke rumah. Ryan hanya pergi ke kantor, saat Rani berangkat kerja ke kantornya juga, sehingga seluruh jadwal meeting untuk perusahaan menyesuaikan dengan jadwal Rani di kantor Dewan.


Seperti hari itu. Karena Rani free agenda, Ryan pun akhirnya ikut membebaskan diri dari semua pekerjaan di kantornya. Untung saja ada Arya dan Rudi yang siap menghandel perusahaan dengan seabrek pekerjaan yang menyita waktu juga tenaga mereka.


Dan seperti biasanya, Rani yang selalu tidak tahan jika harus berada di rumah saja sudah ribut minta jalan.


"Ayolah, By," rajuk Rani.


"Ayo, ayo, mau kemana sih, Sayang? Udah bener kita berduaan saja di kamar. Kamu nih ya, nggak betah kalau suruh di rumah saja," sahut Ryan sambil bermalas-malasan di sofa empuk depan tempat tidurnya. Tangannya masih asik memencet-mencet tombol remote control yang dipegangnya, sementara matanya tetap fokus pada televisi yang sudah menyala sejak mereka membuka mata.


"Rani kan bosen di rumah terus, By," cicit Rani manja.


"Di rumah terus katamu? Bukannya setiap hari kamu sibuk bekerja di luar sana? Kan cuma hari ini saja kamunya free agenda, Sayang," Ryan masih enggan diajak keluar.


"Ya udahlah, Rani bisa ajak Naja," akhirnya Rani menyerah. Dia pikir suaminya itu bisa diluluhkan dengan mudah. Nyatanya Rani salah. Kali ini kelihatannya tidak ada harapan untuk Rani bisa keluar dan bebas berjalan-jalan.


"Dia kan setiap hari sudah nemenin kamu. Setidaknya beri waktu dia untuk bisa menemani suaminya. Kamu tahu sendiri kan, kondisi Daniel sekarang kayak gimana?" cegah Ryan.


"Kalau begitu Rani pergi sendiri saja. Lebih gampang kan?" kini nada Rani terdengar mengancam. Dia benar-benar tahu, jika ancaman itu sangat ampuh membuat suaminya kembali ke mode siaga satu.


"Hmmm, pinter ya ngancamnya," Ryan beranjak kemudian mendekati istrinya, sebelum akhirnya mencubit hidung mancung kesayangannya itu dengan begitu gemasnya.


Rani hanya mengangkat bahunya, pura-pura tak peduli.


"Baiklah, mau kemana kita?" Ryan berdiri tepat di belakang Rani, dengan kedua tangan yang melingkar di perut buncitnya. Seolah sudah menjadi kebiasaan, Ryan selalu mengelus perut istrinya saat dia memeluknya dari belakang. Janin yang dikandungnya pun seolah sudah mempunyai ikatan. Setiap tangan Ryan menempel di perut Rani, si janin selalu menunjukkan pergerakan.


"Kita makan di luar aja yuk, By," Rani menyandarkan tubuhnya ke dada bidang Ryan dan sedikit mendongak demi bisa melihat ekspresi wajah yang suaminya tunjukkan.


"Tapi Hubby sudah terlanjur janji dengan dokter kandungan," tiba-tiba Ryan teringat, hari ini sudah membuat janji dengan Dokter Amanda untuk melakukan USG yang sempat tertunda.


"Ohh iya ya, By? Kita kan bisa makan dulu baru ke rumah sakit, By," seloroh Rani.

__ADS_1


"Kita balik saja gimana, Sayang? Kita ke rumah sakit dulu, pulangnya baru Hubby antar kemana pun yang kamu mau," tawar Ryan, mencoba mengambil jalan tengah.


Kali ini Rani hanya mengangguk, mengiyakan semua perkataan Ryan.


"Deal, ya. Kalau begitu, ayo kita bersiap!" ajak Ryan sambil mengulurkan tangannya.


"Hubby dulu yang siap-siap. Baru Rani," sahut Rani manja.


"Harusnya kan kamu dulu. Kamu kan persiapannya butuh waktu lama," ujar Ryan kembali mendebat istrinya.


"Ya sudah, kita sama-sama siap-siap," Rani terlihat membalikkan badan, kemudian menuju lemari pakaian untuk memilih pakaian mana yang akan dia kenakan.


Ryan sudah siap dengan pakaian santai dan jaket kerennya, tapi sudah tiga puluh menit sejak dia duduk di sofa, Rani belum juga ada tanda-tanda menyelesaikan dandanannya.


"Sayang, masih lamakah? Nanti kita terlambat," Ryan mengerutkan dahinya mendapati istrinya yang berkali-kali mengganti pakaian dan hijabnya.


"Sebentar lagi, By," sahut Rani tanpa melihat ke arah suaminya.


"Sebenarnya kamu itu mau mencari baju yang seperti apa sih?" Ryan beranjak dari duduknya dan menghampiri Rani sambil mencoba memilihkan gamis yang kira-kira cocok untuk istri kesayangannya.


"Pakai yang ada dulu, Sayang. Dari rumah sakit, kita cari pakaian baru yang bisa kamu kenakan," Ryan mengelus kepala istrinya dengan sayang.


"Tapi Rani malu, Hubby," Rani mulai merajuk.


"Pakai apapun, kamu tetap terlihat cantik, Sayang," Ryan mencoba meyakinkan.


Ini adalah drama yang untuk kesekian kalinya berulang, sejak usia kehamilan Rani mulai membesar. Setiap kali Rani memilih pakaian, Rani selalu bimbang dan berkali-kali menggantinya dengan alasan yang bermacam-macam.


Setelah drama pakaian mana yang ingin Rani kenakan selesai, mereka bergegas keluar dan masuk ke dalam mobil yang telah Pak Mamad siapkan. Ryan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang cukup lengang dengan kendaraan yang berlalu lalang. Karena sepanjang perjalanan mereka terus bercengkerama tentang segala hak, tak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit. Sebagai suami siaga, begitu Ryan keluar dari mobilnya, dia mengambil gerakan memutar dan dengan sigap membukakan pintu mobil untuk istrinya. Tak lama, mereka berdua pun bergandengan tangan dan bergegas menuju poli kandungan, tempat Dokter Amanda sudah menunggu kedatangan mereka.


Karena Ryan mendaftar melalui poli VVIP, maka sesampai mereka di depan ruang, seorang suster langsung keluar dan memanggil nama Rani untuk segera masuk ke dalam.


"Hallo, Tuan dan Nona. Bagaimana kabar Anda berdua?" sapa Dokter Amanda setelah mempersilahkan mereka duduk.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, Dok," sahut Rani dengan ramah, sementara Ryan hanya tersenyum tipis, mempertahankan gaya khasnya yang dingin jika bertemu dengan orang yang tidak begitu dekat dengannya.


"Alhamdulillah. Apa masih terasa nyeri dan keluar flek coklat kemerahan?" Dokter Amanda menyuguhi Rani dengan beberapa pertanyaan.


"Tidak, Dok," jawab Rani sambil menggelengkan kepalanya.


"Apakah masih terasa mual atau pusing?" Dokter Amanda kembali bertanya.


"Tidak, Dok," Rani menggelengkan kepalanya lagi.


Ryan yang waktu itu hanya menjadi pendengar, hanya memperhatikan setiap jawaban yang Rani berikan. Setidaknya, dia tahu kondisi Rani dari jawaban Rani atas pertanyaan yang Dokter Amanda lontarkan.


"Alhamdulillah. Kalau begitu mari kita lihat janin kalian," ucap Dokter Amanda, sembari membimbing Rani untuk berbaring di atas ranjang pasien. Sedetik kemudian, Dokter Amanda mengoleskan gel di perut buncit Rani, kemudian pemeriksaan USG pun segera dimulai.


Degup jantung Rani dan Ryan tiba-tiba mengencang, begitu Dokter Amanda mulai menggerakkan tranducer di atas perut buncit Rani. Mereka pun saling berpegangan tangan, saat melihat janin mereka dari monitor yang berada di samping ranjang.


"Apakah kalian melihatnya? Ini adalah bagian kepalanya. Ini adalah tangan, dan ini adalah kakinya. Untuk jenis kelaminnya ..., sebentar. Coba kita lihat," Dokter Amanda terus menggerakkan tranducer di tangannya, mencoba mencari posisi yang pas agar jenis kelamin bayi mereka bisa terlihat dengan jelas.


"Bagaimana, Dok? Apakah bisa terlihat?" tanya Ryan gugup.


"Sebentar, Tuan. Bayi Anda malu-malu. Bagian kelam*nnya agak tertutup," Dokter Amanda masih aktif menggerakkan tranducer itu di atas perut Rani.


"Yup, dapat," seru Dokter Amanda girang.


"Bagaimana, Dok?" Ryan semakin penasaran.


"Bayi Anda laki-laki, Tuan," Dokter Amanda berhenti di satu titik, kemudian mengutak-atik layar monitornya dan mencetaknya dalam bentuk seperti foto hitam putih.


"Jadi anak saya laki-laki, Dok?" tanya Ryan, memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.


"Betul, Tuan. Bayi Anda laki-laki," Dokter Amanda mengulang penjelasannya.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih, Sayang," Ryan berseru girang sambil menghujani istrinya dengan puluhan kecupan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2