METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Butuh Waktu


__ADS_3

Ryan merangkul istrinya dan membawanya kembali masuk ke kamarnya, kemudian merebahkan tubuh yang kian berisi itu agar kembali terlelap dalam pelukannya.


"Kenapa Hubby ninggalin Rani tanpa permisi? Hubby kan tahu kalau Rani akan selalu terbangun jika Hubby lepasin pelukan Hubby," Rani memanyunkan bibirnya. Sejak Rani menjadi istri Ryan seutuhnya, Rani memang akan selalu terbangun jika pelukan Ryan terlepas dari tubuhnya. Bahkan hanya sekedar ditinggal pergi ke kamar mandi, bisa dipastikan Rani akan terbangun dan menunggu sampai Ryan bersamanya kembali. Kecuali memang posisi salah satu di antara mereka sedang di luar kota, semua menjadi lain cerita.


"Maafkan Hubby, Sayang. Habisnya Hubby nggak tenang mendengar Arya dan Lena tak juga pulang," sahut Ryan sambil mengusap ujung kepala istrinya dengan sayang. Ya, sebuah rutinitas sebelum tidur yang selalu Ryan lakukan adalah mengelus kepala, sampai istrinya tertidur baru Ryan akan menghentikan aktifitasnya. Dan itu sudah berlangsung sejak Rani menjadi istri Ryan seutuhnya.


"Lain kali bilang Rani. Biar Rani nggak cariin Hubby," Rajuk Rani manja.


"Iya, Sayang. Hubby janji. Sekarang bobok lagi ya, Hubby akan temani kamu sampai pagi," sebuah kecupan mendarat dengan manis di kening Rani. Tak lama setelah itu, Rani pun terlelap kembali.


Ryan tersenyum bahagia mendapati istrinya yang selalu ingin bermanja. Bahkan selama kehamilannya, dia terus saja khawatir jika putra mereka sudah lahir ke dunia, kasih sayang Ryan tak akan ada lagi untuknya. Untung saja Ryan selalu bisa meyakinkan bahwa tak akan ada yang berubah pada perhatian dan cinta juga perhatiannya, sehingga Rani tak selalu terbawa dengan pikiran dan kekhawatirannya.


"Kau anugerah terindah yang pernah ada dalam hidupku, Sayang. Dan sekarang hanya kamulah satu-satunya yang kumiliki," gumam Ryan lirih.


Ryan terus memandangi istri cantiknya yang kini masih berada dalam pelukannya.


"Cantik," cicit Ryan lagi.


Tatapannya yang lekat, tak mampu beralih dari alis hitam Rani yang tebal meski tanpa make up. Garis matanya yang sedikit sayu, juga lesung pipi yang kini bersembunyi malu jika tak dia tampakkan senyum itu, membuat hasratnya selalu menggebu setiap waktu.


Ryan pun akhirnya ikut terlelap, dalam sebuah dekapan hangat.


***


"Panggikan dokter, cepat!" di luar sana, Arya masuk bersama Lena yang terlihat lemah dalam gendongannya.

__ADS_1


Mendengar Arya berteriak, Rudi langsung menyambar telepon dan menghubungi dokter tanpa bertanya lebih banyak lagi. Sementara Johan, mengikuti langkah Arya dengan wajah tegang yang tak mampu dia sembunyikan.


"Kenapa tidak langsung membawanya ke rumah sakit?" tanya Johan sambil membukakan pintu kamar.


"Dia menolaknya," sahut Arya sambil membaringkan istrinya.


Melihat Johan yang masih mematung di depan pintu kamar, Arya pun mengusirnya dengan tak segan.


"Tunggulah di luar sebentar, Jo. Aku akan mengganti pakaian istriku. Dia kedinginan karena semalaman berada di luar," ucap Arya sambil menatap ke arah Johan.


"Baiklah, temanilah istrimu. Aku akan menunggu sampai dokter datang," jawab Johan sambil menutup pintu dari luar.


Begitu Johan keluar, Arya langsung ke kamar mandi dan mengambil air panas untuk mengelap tubuh Lena. Setelah dia melepaskan hijab dan satu per satu pakaian istrinya, dengan telaten Arya mengelap setiap inchi tubuh istrinya dengan air agak panas, untuk menghilangkan efek dingin angin malam yang sepanjang malam dia dapatkan dari luar.


Setelah dirasa tak ada yang terlewat, Arya pun segera memakaikan pakaian dalam dan gaun tidur panjang, sebelum akhirnya sebuah selimut dia julurkan hingga menutupi tubuh istrinya sebatas leher, untuk menghangatkan.


Tepat di saat Arya selesai menyelimuti Lena, dokter pun datang. Johan dan Rudi yang mengantar dokter itu hingga di depan kamar, tak Arya biarkan masuk mengingat Lena tak mengenakan hijab hingga rambutnya kelihatan.


Johan dan Rudi pun paham dan tetap berjaga di depan kamar. Sementara sang dokter yang selalu datang tepat waktu walaupun keluarga Dewangga selalu memanggilnya sewaktu-waktu itupun langsung memeriksa Lena dengan segala perlengkapan yang dia bawa.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" tanya Arya dengan nada khawatir.


"Sejauh ini tidak membahayakan, Tuan. Istri Anda demam karena kedinginan dan sedikit tertekan. Saya akan memberikan obat untuk menurunkan panasnya, tapi jika boleh saya berpesan, tolong buat istri Anda merasa nyaman dan tenang, dan jauhkan dia dari banyak pikiran," jelas dokter itu sambil mengemasi peralatannya kembali.


"Baik, Dokter," Arya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mengingat istri Anda tak memungkinkan untuk menelan obatnya karena setengah sadar, saya akan memberi dia dua suntikan. Suntikan pertama untuk menurunkan suhu badannya, dan suntikan kedua semacam obat penenang yang akan memberikan efek tidurnya menjadi lebih panjang. Setelah dia bangun nanti, saya harap istri Anda sudah lebih segar. Jika saat istri Anda bangun nanti kondisinya masih sama seperti ini, Anda bisa menghubungi saya lagi," ucap dokter itu sambil menyiapkan dua cairan ke alat suntik yang dia pegang.


"Baiklah, Dokter," Arya menganggukkan kepalanya..


Setelah semuanya selesai, Arya pun meninggalkan istrinya dan mengantar sang dokter ke luar kamar.


Di depan pintu, Johan dan Rudi masih setia menunggu. Begitu Arya dan sang dokter keluar, mereka pun ikut turun dan mengikuti kemana arah dua orang di depannya berjalan. Begitu dokter pulang, mereka bertiga kembali masuk dan duduk, dengan tiga cangkir kopi yang Bik Tum siapkan. Ya, di saat Johan, Rudi dan Arya belum sedikitpun terpejam, Bik Tim sudah bangun dan mulai beraktifitas seperti yang setiap hari dia lakukan.


"Bagaimana dengan istrimu?" Johan membuka pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.


"Dia terlihat sangat tertekan. Apa aku salah mengambil keputusan? Mungkin seharusnya tak secepat ini mereka dipertemukan," Arya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, sambil memijit-mijit pangkal hidungnya untuk sedikit meringankan rasa pening di kepalanya.


"Sekarang atau nanti, bisa jadi reaksi Lena tetap akan sama seperti ini. Jadi, jangan salahkan dirimu," sahut Johan menenangkan.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan pada Nyonya Safira?" Rudi bertanya dengan polosnya.


"Tolong hubungi dia. Katakan kepadanya bahwa Lena butuh waktu untuk bisa kembali bertemu dengannya. Pastikan dia tak menampakkan dirinya di hadapan Lena untuk sementara waktu, dan suruh dia menunggu hingga Lena sendiri mengatakan bahwa dia siap bertemu," tegas Arya, sembari beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.


Johan dan Rudi pun hanya saling pandang, sesaat sebelum akhirnya Johan juga ikut masuk kamar.


"Baiklah-Baiklah, ini adalah tugas untuk jomblowan seperti aku," celoteh Rudi sembari meneguh secangkir kopi yang kini menemani.


Johan yang mendengar ocehan Rudi pun hanya menoleh, sambil tersenyum penuh ejekan.


"Dari pada kau terus mengejekku, lebih baik kau segera hampiri istrimu itu, sebelum dia bangun dan minta perpisahan lagi darimu," seru Rudi kesal.

__ADS_1


Johan pun hanya terkekeh, sambil terus melangkah menuju kamar.


BERSAMBUNG


__ADS_2