METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Sebuah Rahasia


__ADS_3

Sekelumit ragu muncul pada wajah Tante Safira untuk melanjutkan kalimat itu. Sebuah pertanyaan besar terus membisiki puing-puing hatinya, takut jika sesuatu keluar dari mulutnya akan ada hati yang terluka.


"Apakah harus kukatakan semuanya sekarang?" gumamnya dalam hati.


"Tante?" ucap Rani sambil menggenggam erat tangan Tante Safira.


Tante safira menarik nafas panjang, sambil menyapukan pandangan ke arah Ryan dan Rani secara bergantian.


"Tante mohon, temuilah Tede untuk yang terakhir kali. Mungkin waktu hidupnya tidak akan lama lagi. Setidaknya dia akan pergi dengan tenang, setelah kamu tahu bahwa selama ini dia sakit. Itu satu-satunya alasan kenapa dia memilih untuk pergi dalam kehidupanmu," ucap Tante Safira, merasa lega setelah kalimat itu akhirnya keluar dari mulutnya.


Rani mencoba mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Tante Safira. Kaget memang, mendengar kenyataan yang tiba-tiba terkuak di depannya. Namun dia meraba hatinya, masih ada perasaan sakit disana.


"Tede sakit?" pertanyaan itu terus berputar-putar dibenaknya. Bahkan Rani tidak bisa menilai perasaannya, apakah masih sesakit dulu atau tidak setelah mengetahui kenyataan pahit tentang orang yang pernah hadir dalam kehidupan masa lalunya itu.


Pandangan Rani beralih menatap mata Ryan yang saat ini menuntut penjelasan, membuat Rani menghela nafas panjang mencoba keluar dari sesuatu yang kini demikian rumit di hatinya.


"Apakah Tede dirawat di rumah sakit ini, Tante?" tanya Rani lirih.


"Iya, Sayang. Tolonglah Tante. Setelah dia bertemu denganmu, Tante akan ikhlas bahkan jika anak Tante itu harus pergi secepat ini," ucap Tante Safira penuh harap.


"Beri Rani waktu untuk berbicara dengan Mas Ryan dulu boleh, Tante? Ma?"


Tante Safira dan Mama Davina pun mengangguk secara bersamaan. Mereka kemudian keluar dan memutuskan untuk menemui Tede di kamar perawatan yang kebetulan berada persis di sebelah kamar di mana Rani dirawat.


Rani meremas tangan suaminya dengan perasaan yang sulit diartikan. Kini suaminya itu sudah siap mendengarkan apapun yang akan dikatakan oleh istri yang kini ada di hadapannya.


Namun entah kenapa, saat itu ada keraguan di hati Rani, mencoba menebak reaksi suaminya jika sepenggal kisah masa lalu itu harus dia ceritakan.


"Apakah Mas Ryan akan membiarkanku menemuinya?" tanya Rani dalam hati.

__ADS_1


***


Flashback


Tujuh tahun lalu, Rani adalah gadis gaul yang cukup terkenal di SMA nya. Selain karena parasnya yang cantik, dia cukup disegani karena ayahnya adalah seorang pejabat, yang kebetulan adalah donatur tetap dan terbesar di sekolahnya.


Hal menarik yang membuat Rani lebih terkenal adalah ketika dia dan gengnya membuat sebuah group band bernama XXX band, dengan Rani sebagai vokalisnya. Hampir tiga tahun group band itu bersinar, bahkan sempat masuk dapur rekaman.


Cinta tumbuh karena terbiasa, itu berlaku untuk Rani dan Tede. Karena terlalu sering bersama, Tede yang kebetulan adalah gitaris di group itu pun berhasil membuat Rani jatuh cinta.


Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membuat dua hati itu saling terpaut. Bahkan kedua orang tua masing-masing pun sudah memberi restu, mengingat kedekatan mereka memang sudah sejak di kelas satu.


Hingga saat mereka kuliah, memasuki semester tiga orang tua mereka memutuskan agar Rani dan Tede menikah muda. Menikah sembari kuliah adalah pilihan yang tepat untuk lebih menjaga mereka dari perbuatan zina. Kendati selama berpacaran mereka tidak pernah melakukan hal-hal yang melampaui batas, namun keputusan orang tua mereka bukan karena tanpa alasan.


Dan dari situlah cerita dimulai. Sehari sebelum acara lamaran, keluarga Tede memutuskan secara sepihak untuk membatalkan rencana pernikahan mereka, tanpa memberi alasan yang jelas. Tede hanya memberikan sebuah surat, tanpa ada i'tikat baik untuk menemui dan memberikan penjelasan kepada Rani dan keluarganya.


Setelah kamu membaca surat ini, aku tahu kamu akan menaruh rasa benci karena aku memilih untuk menyakitimu.


Aku berharap, kelak kau temukan yang lebih baik dari aku untuk mendampingimu, karena melalui surat ini aku ingin katakan bahwa ternyata aku tidak bisa.


Tapi mengertilah, Sayang. Bila akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berjuang, ini bukan soal cinta yang tak lagi ada, atau karena aku tak punya rasa yang sesungguhnya*.


*Justru aku ingin cinta ini membuat kita dewasa, bahwa cinta tak harus saling memiliki.


Terima kasih karena telah menjadikan aku spesial di hatimu, namun ijinkan aku pergi. Suatu saat nanti kamu pasti akan mengerti kenapa aku harus mengambil keputusan ini.


Tede*


Saat Tede memilih pergi di saat babak baru kehidupan mereka akan dimulai, rasa diabaikan dan tidak dihargai segera saja mendominasi dalam diri Rani.

__ADS_1


Rani berusaha dengan keras untuk mengikhlaskan laki-laki yang selama empat tahun telah mengisi hatinya itu. Sampai akhirnya, setelah ratusan hari Rani lewati pasca kejadian itu, Rani merasa kembali lahir menjadi sosok yang baru. Sosok yang lebih kuat dari sebelumnya.


Luka yang Tede torehkan memang begitu dalam. Hingga membuat Rani hampir putus asa dan merasa tak akan pernah mampu menyembuhkan. Namun ternyata Rani salah, justru luka itulah yang membuat Rani menjadi lebih dewasa dalam menyikapi setiap persoalan yang datang padanya.


Bahkan untuk Tede yang memilih pergi, justru kini membuat Rani selalu bersyukur. Karena Tede lah yang membuat Rani melampiaskan semua rasa sakitnya dengan menyibukkan diri dengan semua aktivitas kemahasiswaan dan aktivitas sosial demi secercah harapan untuk bangkit lagi, hingga akhirnya Rani bisa menjadi pribadi yang kuat dan bisa membawa manfaat untuk orang lain sampai bisa berdiri kokoh sampai sejauh ini.


Mungkin jika tidak ada luka yang ditorehkan oleh seorang Tede, Rani tidak akan bisa memperbaiki diri sampai pada titik ini.


End of flashback


***


Ryan mencerna setiap cerita Rani dengan seksama.


"Dan apa yang akan kamu rasakan saat orang yang pernah kamu cintai itu ternyata meninggalkanmu justru karena dia sangat mencintaimu?" guman Ryan dalam hati. Ada secercah rasa gundah dalam dirinya.


"Kenapa waktu itu kamu bohong sama Mas? Bukannya waktu itu kamu bilang nggak pernah pacaran?" tanya Ryan berusaha setenang mungkin.


"Karena Rani tidak ingin ada yang menggajal di hati Mas Ryan. Rani tidak mau membuat Mas Ryan berpikir macam-macam tentang Rani bersama orang yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Rani. Coba ketika Mas Ryan tahu dari awal. Pasti Mas Ryan akan berpikir bahwa apa yang Mas dapat dari Rani adalah yang kedua. Padahal demi Allah Rani katakan, apa yang Rani serahkan kepada Mas Ryan sekecil apapun, belum pernah Rani berikan kepada orang lain termasuk kepada Tede. Bahkan sekedar pegangan tangan saja Rani belum pernah, Mas," jelas Rani, berharap suami yang kini sangat dicintainya itu percaya.


Sesaat, Ryan tidak menjawab apapun. Dia hanya tersenyum simpul sambil membelai pucuk kepala istrinya dengan hangat.


"Haruskah kulepaskan dia untuk menemui masa lalunya?" gumam Ryan dalam hati.


BERSAMBUNG


🌹🌹🌹


Pembaca setia Metafora Cinta Legislator Muda yang baik, jangan lupa vote, like, comment dan favorit ya...

__ADS_1


__ADS_2