METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tak Ada Yang Sempurna


__ADS_3

Sore itu, Daniel tak melewatkan sedetik pun kebersamaannya dengan wanita yang dia puja. Bahkan, cidera karena jatuhnya Daniel dari tangga pagi itu, seolah hilang dan tak terasa ketika Naja kini kembali dalam pelukannya, setelah kesalahpahaman yang sempat menegang di antara mereka.


"Kenapa kau bisa bertahan dengan kondisiku yang tak sempurna ini, Sayang? Apa kamu tidak bosan melihat tak ada satu hal pun yang kini bisa kulakukan?" cicit Daniel sambil mengusap punggung istrinya, yang kini ikut naik ke ranjang pasien dan telah memeluk erat tubuh kekarnya.


"Aku bukan wanita yang sempurna, Sayang. Aku hanyalah wanita biasa yang berusaha mencintai kamu dengan sempurna. Aku ingin mencintai kamu bukan hanya dengan menerima kelebihanmu saja, tetapi aku juga akan menerima kamu apa adanya," Naja mendongak ke atas demi melihat ekspresi suaminya dan kembali mengeratkan pelukannya.


"Bukankah kau tahu seperti apa aku di masa lalu dan begitu lemahnya aku saat ini, Sayang? Bahkan aku sendiri tak pernah tahu apakah aku bisa menjadi manusia yang lebih baik di masa yang akan datang atau terpuruk dalam angan-angan? Aku sungguh tak mau menjadi beban seumur hidupku," oceh Daniel lagi, dengan suara yang sangat berat.


"Aku akan menerima semua kekurangan dan keburukan yang kamu miliki, baik di masa lalu, sekarang, maupun yang akan datang. Kau tetap istimewa di mataku, Sayang, apapun kekurangan dan hal tak sempurna yang kamu miliki. Seperti apapun kamu, aku tak peduli. Karena aku mencintaimu dengan setulus hati," sahut Naja yakin.


"Apa kau tak menyesal? Kau tak pernah membayangkan jika pria sepertiku akhirnya akan nenjadi pria tak sempurna yang hanya bisa bergantung kepadamu bukan?" Daniel terus mengungkapkan kegalauannya.


"Satu-satunya yang membuatku menyesal adalah pernah mengkhianatimu," Naja menghela nafas panjang.


"Naif jika aku menginginkan pasangan yang sempurna sedangkan kesempurnaan itu juga tidak melekat padaku. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Sayang. Allah menciptakan kelebihan itu pasti bersama kekurangan. Begitu juga dengan kita. Allah menciptakan kita dengan kelebihan tertentu, juga kekurangan tertentu, yang semua itu hadir secara alami dan bersamaan," lanjut Naja meyakinkan.


"Tapi kekuranganku lebih banyak daripada kekuranganmu. Aku takut kau tak bisa menerimaku dalam kondisi seperti ini sepanjang waktu," lirih Daniel.


"Mana ada? Kekuranganku lebih banyak dari kekuranganmu," sahut Naja mantap.


"Kau ini, membeo aja," Daniel meletakkan dagunya pada ujung kepala istrinya.


"Allah menciptakan manusia, semua tidak ada yang sempurna, Sayang. Berdosa tau, menuntut pasangan kita untuk sempurna. Karena sampe kapan pun, kita tidak akan pernah menemukannya," lanjut Naja tanpa ada beban di hatinya.


"Jika masih ada kekurangan dan keburukan di masa lalu yang sampai saat ini belum kau ketahui? Apa kau masih akan terus mencintaiku?" tiba-tiba wajah Daniel berubah.


"Aku mencintaimu karena ingin mengukir masa depan bersamamu, Sayang. Aku punya masa lalu, kau pun punya masa lalu. Biarlah kita ambil setiap makna dari perjalanan hidup kita, agar hikmah itu bisa kita jadikan pelajaran untuk mengukir sejarah kehidupan kita di depan sana," yakin Naja.


"Terima kasih, Sayang," Daniel tersenyum lega, dan memeluk erat tubuh Naja.

__ADS_1


Tanpa mereka ketahui, di balik pintu Ryan, Rani, juga Johan sedang berdiri terpaku, mendengarkan obrolan dua orang anak manusia itu dengan perasaan yang mengharu biru. Mereka sengaja tidak ingin memutus obrolan Daniel dan Naja sampai mereka mengakhiri semuanya.


Tok-tok-tok.


akhirnya Ryan mengetuk pintu, begitu yakin bahwa pembicaraan Daniel dan Naja bisa dijeda.


"Masuk!" seru Naja setelah turun dari ranjang suaminya dan membenarkan posisi duduknya di kursi samping ranjang.


Ryan, Rani dan Johan pun langsung masuk dengan muka berseri. Sedangkan di depan pintu, Rudi dan beberapa anak buah Johan masih betah berdiri, memastikan bahwa hal buruk tak akan terjadi.


"Kenapa Anda kembali, Tuan? Bukannya Nona harus banyak istirahat?" tanya Naja sambil mengerutkan dahinya.


"Kalian tidak istirahat? Bukannya kalian baru saja pulang? Aku benar-benar tak apa-apa. Jangan khawatirkan aku secara berlebihan," oceh Daniel begitu tahu siapa yang datang.


"Aku tak sabar ingin memberitahukan dua kabar untukmu," Ryan mendekat ke arah Daniel dan Naja.


"Kabar apa?" tanya Daniel tak mengerti.


"Apaan?" Daniel benar-benar tak sabar.


"Kabar bahagianya, kau sudah mendapatkan pendonor untuk matamu dan transplantasi kornea itu akan tim dokter lakukan hari ini juga. Jadi persiapkanlah dirimu," Ryan mengembangkan senyumnya, sambil menarik ibu hamil di sampingnya dan melingkarkan tangan kekarnya pada pinggang istrinya itu.


Daniel dan Naja membulatkan mulut dan matanya, seolah tak percaya dengan kabar yang disampaikan Ryan kepada mereka.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Kau telah mengabulkan do'a demi do'a yang hamba minta" ucap Naja, kemudian langsung menghambur ke pelukan suaminya.


"Selamat ya, Sayang," ucap Naja yang langsung dijawab dengan sebuah anggukan dan ciuman suaminya.


"Siapa pendonor mata untukku, Yan? Dan apa kabar yang kedua?" tanya Daniel penasaran.

__ADS_1


"Kabar keduanya, pendonor kornea untukmu adalah Om Atmaja. Dia meninggal beberapa menit yang lalu," Ryan menjawab dengan lirih.


"Om Atmaja meninggal?" seru Daniel.


"Hmmm. Serangan jantung. Kemungkinan dia sangat stres karena merasa berdosa atas semua yang terjadi padamu dan Arya yang sampai harus kehilangan putra pertamanya. Dan soal donor kornea, itu menjadi wasiat terakhirnya untuk Hengky dan seluruh anggota keluarga Atmaja," sahut Ryan kemudian.


"Tapi aku tidak mungkin menerimanya, kecuali ...," Daniel menggantungkan kalimatnya.


"Kecuali apa?" timpal Ryan dan Rani secara bersamaan.


"Kecuali Arya mengizinkan aku menerima donor mata itu," kata Daniel sendu.


"Maksudnya?" Ryan memperjelas.


"Ya, kecuali Arya mengizinkan aku untuk menerima donor mata dari seseorang yang telah menghilangkan nyawa putranya. Aku khawatir, ketika melihat mataku, Arya akan mengingat semua hal yang telah Om Atmaja lakukan kepadanya dan juga kepada keluarganya," Daniel mengungkapkan alasannya.


"Pasti tidak menjadi masalah besar untuknya. Aku benar-benar mengenal Arya luar dalam, hingga betul-betul bisa memahami siapa dirinya, dan apa yang dia pikirkan tentang Om Atmaja dan keluarganya" Ryan yang merasa tahu betul sifat Arya karena besar bersama dan memegang perusahaan orang tuanya secara bersama-sama pun mengungkapkan alasannya.


"Tapi aku tetap ingin mendengar jawaban itu dari Arya secara langsung," pinta Daniel penuh harap.


"Ayolah, Niel. Tak banyak waktu yang kita punya," rayu Ryan.


"Tapi aku ingin mendengar jawaban Arya," kekeh Hengky.


"Baiklah kita telepon dia," Johan yang semenjak tadi terdiam, akhirnya berinisiatif.


"Aku akan menjawabnya sekarang," tiba-tiba Arya dan Lena datang.


"Bagaimana Arya? Apa jawabanmu sekarang?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2