
Daniel sama sekali tak menghiraukan dering handphone yang terus saja berdendang. Bahkan karena tak ingin sama sekali ada gangguan, seluruh alat komunikasinya dan Naja dia matikan.
"Kok dimatikan semua sih, Sayang? Kalau ada yang penting gimana?" protes Naja, yang selalu siap siaga saat Ryan dan Rani membutuhkannya.
"Sudah kubilang sama mereka, satu pekan ini kamu milikku. Hanya milikku," jawab Daniel, tak membiarkan Naja bergerak dari kungkungannya.
Naja hanya bisa pasrah saja menanggapi suaminya yang semakin menggilainya begitu matanya tak lagi buta. Maklum saja, beberapa bulan berpuasa, ketika berbuka nikmatnya menjadi lebih luar biasa.
"Kamu nggak capek apa?" tanya Naja, menerima serangan bertubi-tubi dari suaminya.
"Tolong biarkan aku melakukannya. Aku sudah menahannya sekian lama, Sayang," sahut Daniel tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Sayang, tapi lepasin aku dulu dong. Bentar aja. Please," rengek Naja.
"Nggak," tegas Daniel.
"Sayang, aku mau pipis nih," Naja mengerucutkan bibirnya.
"Enak aja. Pipis di sini. Kita pipis bersamaan," Daniel tak juga mau berhenti.
"Ihhh, bukan pipis yang itu, Yank. Aku pengen pipis beneran," Naja semakin kesal.
"Bentar lagi, Sayang," nafas Daniel semakin tertahan, sebelum akhirnya sebuah lenguhan panjang keluar dari mulutnya, begitu dia berhasil melakukan pelepasan untuk yang ke sekian kalinya.
"Aku pipis dulu," Naja langsung berlari ke kamar mandi.
Daniel hanya tersenyum penuh makna memandang kelakuan istri cantiknya itu. Hingga tiba-tiba ...,
Tok-tok-tok.
Terdengar suara pintu diketuk.
Dengan malas, Daniel beranjak kemudian mengenakan celana pendek dan kaos santainya, sebelum akhirnya membuka pintu kamar yang sejak keberhasilan operasinya selalu terkunci dari dalam.
"Kalau kau sudah bosan bekerja denganku bilang saja. Biar aku pecat kau sekarang juga," omel Daniel, dengan tatapan membunuhnya.
"Maaf telah mengganggu Anda, Tuan. Tapi ini benar-benar hal penting yang tidak bisa di jadwal ulang," Johan menanggapi omelan majikannya dengan begitu santainya.
"Kau benar-benar ingin di pecat atau sudah bosan hidup, Jo? Sudah kubilang aku tak mau diganggu apapun alasannya," Daniel keluar kemudian menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Saya sudah menelepon Anda, tapi rupanya semua alat komunikasi Anda dan istri Anda dimatikan. Jadi dengan terpaksa, saya harus mengetuk pintu kamar Anda," ucap Johan datar. Rupanya Johan sudah terlalu terbiasa menghadapi sikap tuannya yang selalu memarahinya jika merasa terganggu atau semua berjalan tidak sesuai kehendaknya.
"Hmm. Katakan! Sepenting apa hal yang membuatmu berani mengantarkan nyawamu kepadaku," ketus Daniel.
"Semua pemegang saham Green Canyon harus merapat di Kota Y siang ini juga, Tuan," Johan masih bicara dengan gayanya yang dingin.
"Separah apa?" Daniel menatap Johan penuh selidik.
"Hanya 45 persen harapan, Tuan. Mereka melibatkan orang dalam," lapor Johan.
"Siapa yang sudah bergerak?" rupanya Daniel baru tersadar, kini dia menjadi orang yang tak tahu apa-apa soal perusahaan, gegara terlalu asyik dengan mainan yang membuatnya mabuk kepayang.
"Indra," Johan mencoba menatap Daniel, sekedar ingin melihat ekspresinya saat nama itu dia sebutkan.
"Keputusan Ryan memang selalu bisa diandalkan. Tunggu di bawah. Satu jam lagi aku akan bergabung bersama kalian," cicit Daniel, lalu masuk kembali ke dalam kamar.
Begitu Daniel masuk, dia langsung menghampiri Naja yang sudah kembali ke ranjangnya.
"Siapa, Sayang?" tanya Naja sambil membenarkan selimutnya.
Daniel tak menjawab. Dia justru menghampiri Naja dan memeluknya erat, lalu mengapsen setiap inchi wajah istrinya dengan ciuman bertubi-tubi.
"Rencana kita gagal lagi?" Naja mengerucutkan bibirnya.
"Aku janji hanya sebentar. Begitu semuanya selesai, aku akan langsung pulang," tutur Daniel lembut. Dia memainkan rambut Naja dengan memilin-milin kemudian mencium dan menikmati aromanya.
"Apa semua ikut ke sana?" Daniel hanya mengangguk mendengar pertanyaan istrinya.
"Keselamatan Rani ada di tanganmu dan Rudi. Berhati-hatilah dan jangan gegabah. Ingat, selain kau mengambil janji setia kepadanya, kau punya sumpah kepadaku. Ingatlah aku dalam setiap langkah dan keputusanmu, jika terjadi sesuatu," cicit Daniel dengan tatapannya yang begitu tajam.
"Baik. Kau mandilah! Biar kusiapkan semua keperluanmu," ucap Naja, sambil melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
***
Satu jam kemudian, Daniel turun bersama Naja, kemudian bergabung dengan Ryan dan yang lainnya, yang terlihat sudah siap melakukan perjalanan dan menyelesaikan segala permasalahan mereka. Hanya Hengky saja yang waktu itu tidak berangkat dari kediaman Dewangga, karena dia langsung bertolak ke Kota Y bersama asistennya.
Indra yang berdiri di samping Ryan, sama sekali tak berkedip melihat kakaknya kini terlihat sangat bahagia bersama suaminya.
Merasa mendapatkan tatapan dari seseorang, Naja yang penglihatannya sangat tajam pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah orang yang sedang begitu intens memandangnya.
__ADS_1
"Indra!" seru Naja dengan mata berkaca-kaca.
Bahkan Naja menghempaskan tangan Daniel begitu saja, dan langsung berlari memeluk adiknya dengan linangan air mata.
"Apa kau baik-baik saja, dhek?" tanya Naja sambil memeriksa seluruh bagian tubuh Indra.
"Mereka memperlakukan aku dengan sangat baik, Kakak. Kau bisa lihat sendiri kan?" Indra merentangkan tangannya.
Naja pun kembali memeluk adiknya, dengan perasaan yang hampir tak bisa diterjemahkan dengan kata-kata.
"Hmm. Hmm," Daniel berdehem.
"Ayolah, Daniel. Mereka itu kakak beradik. Masak dengan adikmu saja kau sampai secemburu itu?" Ryan geleng-geleng kepala.
"Baiklah-Baiklah," sahut Daniel masih dengan tatapan jengkelnya.
Naja yang sangat hafal dengan sikap suaminya pun tersenyum dan langsung meninggalkan Indra.
"Sayangku mau dipeluk juga? Belum puas memangnya?" goda Naja, kemudian langsung menenggelamkan diri dalam pelukan suaminya.
"Ya elah, kayak mau kemana aja. Kota Y tuh bisa kita tempuh dalam waktu empat jam saja. kita cuma keluar kota, woy. Bukannya ke luar negeri," Arya yang melihat adegan romantis di depannya langsung mencium kening Lena dan keluar menuju mobil meninggalkan mereka.
"Oke. Aku pamitan sama istriku dulu," Ryan segera beranjak dan masuk ke kamarnya.
"Bisa gila lama-lama kita ngadepin orang yang pada jadi bucin semua," bisik Rudi kepada Indra.
"Jaga mulutmu. Tunggu saja bucin selanjutnya adalah kamu. Kita buktikan, akan sebucin apa kau sama dokter itu," sahut Johan sambil berjalan mengikuti Arya.
"Mana ada," Rudi bersungut kesal.
Johan yang mendengar ucapan Rudi hanya mengangkat bahunya.
"Ihh, dasar bucin. Aku yakin tadi di kamarmu juga ada drama antara kau dan Nina," Rudi berteriak karena Johan sudah berjarak cukup jauh darinya.
"Apa benar yang Johan katakan itu, Rud?" Ryan yang baru keluar dari kamar langsung menanggapi banyolan Johan.
"Yang mana, Tuan?" Rudi pura-pura tidak mengerti.
"Itu lho. Yang kamu jadi budak cintanya Dokter Dina," sahut Ryan dengan santainya.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Eh. Eh. Eh. Tidak, Tuan,"
BERSAMBUNG