
Dengan tergesa, Hengky berlari kecil agar segera sampai ke ruang perawatan istrinya. Hengky benar-benar trauma, dan mendadak takut luar biasa jika Fisha salah paham dan meninggalkan dirinya.
Begitu Hengky sampai di president suite room yang ditempati Fisha, dia pun masuk secara perlahan agar tak membangunkan istri dan mamanya.
"Mas Hengky baru pulang?" suara Fisha benar-benar mengagetkan.
"Kok kamu belum tidur sih, Sayang?" Hengky yang awalnya ingin langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mengurungkan niatnya dan langsung mendekat ke ranjang pesakitan yang ditempati istrinya.
"Jangan keras-keras! Nanti Mama terbangun," ucap Fisha sambil menoleh ke arah mama mertuanya yang sudah pulas tertidur di ranjang khusus penunggu pasien.
"Oke. Oke. Kamu kok belum tidur? Ini sudah lewat tengah malam loh," Hengky memelankan suaranya. Dia mengecup kening istrinya, kemudian beralih ke perut Fisha. Ya, kelihatannya hal ini akan menjadi kebiasaan baru untuk Hengky, setelah dokter mengabarkan berita kehamilan sang istri.
"Fisha nungguin Mas Hengky," Fisha menjawab dengan manja.
"Ya Allah, Sayang. Kamu itu kan harus banyak istirahat. Ingat, kehamilanku masih belum kuat sepenuhnya, jadi harus benar-benar kamu jaga jika kita tidak ingin sesuatu terjadi padanya," ucap Hengky sambil membelai kepala Fisha.
"Tapi Fisha tak bisa tidur, sebelum Mas Hengky pulang dan menemani Fisha," sahut Fisha masih dengan nada yang begitu manja.
"Sekarang jujur, apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Kamu ingin tahu apakah aku bertemu dengan Rani kan?" Hengky mencoba menebak kekhawatiran istrinya.
Fisha tak menjawab. Bibirnya sungguh ingin berkata tidak, tapi hatinya lain. Hanya sorot matanya saja yang mampu menunjukkan betapa khawatirnya Fisha saat suaminya harus kembali bertemu dengan wanita yang pernah dia cinta.
"Kalau kamu ingin tahu apakah tadi kami bertemu, jawabnya iya. Kami memang tadi bertemu. Jika kamu mau tahu apakah tadi kami sempat berbicara berdua saja, jawabannya tidak. Tadi kami semua meeting dengan banyak orang. Ada Rani bersama suaminya, ada Daniel bersama istrinya, Ada Arya, Johan, Rudi, Indra dan Zara yang hingga malam ini masih belum juga selesai dengan tugas yang diberikan kepadanya," Hengky menatap Fisha dengan tatapan tajam. Fisha yang di tatap seperti itu, langsung ciut nyalinya dan merasa semakin tak nyaman.
"Maaf," hanya itu yang keluar dari mulutnya, seiring dengan bulir bening yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Sssttt. Jangan menangis. Aku tidak sedang marah, Fisha. Aku hanya sedang menegaskan bahwa cukup sampai di sini kecurigaan di hatimu itu kau berikan kepadaku. Sampai kapan aku harus meyakinkan dirimu bahwa tak ada rasa cinta lagi untuknya setelah kamu masuk dalam kehidupanku. Ingat Fisha, tak ada cinta jika tak ada rasa saling percaya. Jadi, aku mohon, stop Fisha. Jangan menaruh curiga lagi kepadaku, dan hilangkan perasaan khawatirmu itu. Aku mencintaimu, tetap mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu hingga Tuhan mengambil nyawaku. Hanya dirimu, Fisha. Hanya dirimu satu-satunya wanita yang aku cinta selain mama dan kakakku," Hengky meraih tangan Fisha, dan mencium punggung tangannya dengan penuh cinta.
"Maafkan Fisha," mendengar ucapan suaminya, Fisha justru tergugu.
"Jangan menangis, Sayang. Mulai hari ini tak boleh ada air mata yang keluar dan membasahi pipimu. Kau hanya boleh tertawa dan bahagia bersamaku," Hengky merebahkan tubuhnya di samping Fisha dan memeluknya erat.
Fisha yang kini benar-benar yakin dengan perasaan suaminya itupun membalas pelukan Hengky, kemudian tertidur pulas dalam pelukannya.
***
Tak jauh berbeda dengan Hengky, Johan pun dengan perlahan masuk ke dalam kamar agar istri kecilnya tak terbangun dan merasa kesal dengan kehadiran Johan yang pulang larut malam.
Merasa aman, Johan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian hendak langsung tidur dengan memeluk sang istri.
Tapi begitu dia keluar dari kamar mandi, Nina sudah menyalakan semua lampu kamar dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Sayang, kau belum tidur atau terbangun? Apakah aku mengagetkanmu?" setelah mengenakan baju santainya, Johan langsung naik ke atas ranjang dan menghampiri Nina yang kini sedang memandang ke arahnya.
__ADS_1
"Aku hanya sedang menunggu suamiku," lirih Nina sambil melirik jam digital di atas nakas samping tempat tidurnya.
"Jangan mulai lagi dong, Sayang. Kita kan sudah membahasnya berulang-ulang," Johan terlihat sedikit kesal. Berulang kali mereka ribut-ribut hanya karena waktu Johan yang sering tidak bisa terbagi, tanpa Nina mau tahu bagaimana kondisi Johan juga tanggungjawabnya di perusahaan selama ini.
"Memangnya kamu tahu, kenapa aku menunggumu?" Nina yang melihat perubahan mimik muka suaminya, bisa menduga-duga apa yang sedang dipikirkannya.
"Kamu pasti mau protes lagi karena aku pulang malam kan? Sudah kubilang berulang-ulang, Sayang. Aku punya tanggug jawab besar di perusahaan. Apalagi sekarang proyek kami sedang berada dalam masalah, masak iya suamimu ini malah asyik-asyikan di kamar seolah-olah tak ada apa-apa yang terjadi di luar. Ayolah, ayolah. Kamu harus belajar berpikir dewasa. Aku ini bekerja untuk siapa, jika bukan untuk kamu juga. Jadi ...," Johan menghentikan kalimatnya, begitu menatap Nina dan ternyata gadis yang dia ajak bicara sudah terlelap dalam tidurnya.
"Huh, mulut sudah berbusa kayak begini, malah ditinggal ke pulau mimpi. Dasar gadis nakal," gumam Johan sambil mengelus kepala istrinya dengan sayang.
"Maafkan aku, Sayang. Suamimu ini sedang menghadapi masalah besar, karena persoalan perusahaan. Aku hanya ingin kau terbiasa dan mengerti dengan kesibukanku, itu saja. Aku janji, akan tetap selalu menjadikanmu sebagai prioritas utamaku," Johan mengecup kening Nina, kemudian langsung tertidur di sampingnya.
Sepuluh menit berselang, Nina membuka mata dan memiringkan tubuhnya menghadap suaminya. Sesaat, dia menatap wajah Johan dengan tatapan penuh cinta, kemudian dibelainya pipi pria yang sangat dicintainya itu dengan usapan halus dan penuh makna.
"Kau tak pernah tahu, betapa aku merasa bahwa kesabaranku menghadapi suami sesibuk kamu itu sudah tanpa batas, Sayang. Jika tidak, tentu sudah sejak lama aku memilih untuk pergi meninggalkan kamu. Tapi aku tak mau seperti itu, karena aku mencintaimu sepenuh hatiku, dan berusaha menerima kamu, bukan hanya karena kelebihan kamu, tapi juga dengan segala kekurangan yang kau miliki," Nina terus berbicara kepada suaminya, meski yang diajak bicara masih terus memejamkan mata.
"Sayangnya, kau selalu saja menganggap bahwa aku sedang menuntutmu untuk selalu menemaniku dan menuduhku seolah aku ini istri yang tak mau mengerti kesibukanmu. Tak bisakah kau tanya baik-baik kepadaku, kenapa aku masih terjaga dan menunggumu pulang agar kita bisa menghabiskan waktu bersama? Huh, karena malam ini kau semakin menyebalkan, akhirnya aku pura-pura tidur saja. Malas ndengerin kamu menasehatiku terus tanpa melihat bagaimana dirimu memperlakukanku. Dengan begitu, kau hentikan ocehanmu itu. He-he-he," Nina tertawa lirih, mengingat Johan yang begitu kecewa menyadari bahwa Nina justru tertidur saat diajak bicara.
"Padahal jika saja kau tanya apa yang sedang kuinginkan hingga sampai menunggumu pulang, dengan senang hati aku akan bilang, bahwa aku sedang merindukanmu, Sayang. Aku rindu belaianmu dan rindu keringatmu yang bercampur dengan keringatku. Tapi sudahlah, mungkin kau terlalu tak punya waktu untuk sekedar berprasangka baik padaku," lirih Nina, dengan perasaan sedih di hatinya.
Sebuah kecupan pun akhirnya mendarat di ujung kepala Johan, sebelum Nina memutuskan untuk benar-benar tidur dan menutup mata.
Namun saat Nina membalikkan tubuhnya, tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang menariknya dan mengungkungnya begitu saja.
"Sayang," Nina membulatkan mata, melihat wajah suaminya yang kini berada tepat di atas wajahnya.
"Jadi kau pura-pura tidur? Jangan bilang kalau kau juga mendengar semua yang aku katakan sesaat yang lalu," Nina bersungut kesal.
"Kenapa tadi kamu tak langsung bilang saja, kalau kamu sedang merindukan belaianku, dan sedang menginginkan hal itu?" Johan sudah menaikkan kedua alisnya. Bahkan kini tangannya sudah mulai bergerilya, tanpa bisa dikendalikan lagi atau atau ditahannya.
"Ihh, kenapa hanya itu saja yang kau tangkap dari ucapanku?" protes Nina sambil mengimbangi atraksi yang mulai dilakukan oleh suaminya.
"he-he-he," Johan hanya terkekeh tanpa menghentikan aktifitasnya.
***
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Indra yang baru saja menerima telepon dari tuannya langsung kembali berselancar dengan benda pipih canggih miliknya. Begitu di layar itu tertera nama Zara, Indra segera menekan icon hijau dan melakukan panggilan suara.
"Ya, Tuan," sapa Zara dari ujung teleponnya.
"Kemarilah, Zara! Sebentar lagi wanita itu pasti siuman, sementara tuanku baru besok pagi akan menginterogasinya dan menjalankan skenario seperti yang kita rencanakan," titah Indra, tak bisa di tawar. Bahkan dia langsung menutup teleponnya begitu saja, tanpa menunggu Zara memberi sebuah jawaban.
Satu menit kemudian, Indra yang kini sudah menunggu Zara di balkon kamarnya pun melihat seutas tali dari arah balkon kamar Zara turun menjulang.
__ADS_1
Indra beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Zara yang sudah bergelayut cantik pada tali yang sudah dipasangnya.
"Hati-hati," ucap Indra dengan segala perhatiannya.
"Apakah Anda tak bisa menjaganya sendiri hingga tetap menyuruh saya membantu Anda di tempat ini, Tuan? Bukannya anak buah Anda sudah begitu banyak yang berjaga di luar sana ya?" ucap Zara sambil menurunkan diri dari tali yang menggantung mesra diantara dua balkon kamar apartemen yang menjulang tinggi.
"Kau tak ingat kalau dia seorang wanita?" ucap Indra sambil menatap lekat lawan bicaranya.
"Saya tahu dia wanita, Tuan. Saya tak pernah bilang kalau dia laki-laki. Terus kalau dia seorang wanita memangnya kenapa?" ketus Zara sambil berjalan masuk ke kamar Indra.
"Aku tak mau kau salah paham dan berpikir bahwa aku berbuat macam-macam dengannya," Indra keceplosan.
"Apa? Memangnya apa hubungannya dengan saya? Mau Anda apain dia, itu hak Anda dan bukan urusan saya," ucap Zara sambil memeriksa keadaan Sesil yang saat ini masih dalam pengaruh obat bius yang sempat diberikannya.
"Bukan itu maksudku, Zara. Aku hanya tak mau ada yang mengira bahwa aku memanfaatkan kelemahannya. Apalagi dia berada di kamarku, dan hanya aku yang tinggal di tempat ini. Karena itu, kau harus tetap berada di tempat ini, sampai mereka semua datang untuk melakukan interogasi," Indra membenarkan ucapannya.
"Baiklah, tapi saya harus tidur, Tuan. Sudah dua malam saya tidak tidur sama sekali," tanpa meminta izin kepada yang punya, Zara langsung mengambil selimut dan bantal dari lemari Indra dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Bukan hanya kau saja yang tidak tidur, Zara. Aku juga terjaga semalaman," cicit Indra sambil mendudukkan diri di kursi kerjanya.
"Kelihatannya aku akan tidur di sini untuk malam ini," gumam Indra lirih. Setelah menatap ke arah Sesil yang kini masih tak sadarkan diri di tempat tidurnya, juga Zara yang sudah tertidur pulas di atas sofa kamarnya, Indra pun memejamkan matanya dengan posisi bersandar di atas kursi kerja yang letaknya tak jauh dari posisi sofa.
Namun satu jam kemudian, tiba-tiba suara aneh membangunkan Indra dan Zara secara bersamaan. Dan rupanya, suara itu berasal dari arah tempat tidur Indra, dimana saat ini Sesil sudah meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikatnya.
"Tenanglah, Nina. Saat ini kau sedang berada di tempatku. Kami tak akan berbuat jahat kepadamu, selama kau bisa diajak kerja sama dan menuruti semua perintahku," ucap Indra dengan sangat tegas.
"Ehhhhmmm, mmmm, mmm," sahut Sesil tidak jelas. Hal ini karena Indra menutup mulut perempuan itu dengan lakban hitam untuk menghindari teriakan-teriakan yang bisa menimbulkan kecurigaan.
"Kita beri dia obat tidur saja agar dia tak mengganggu tidur kita. Aku juga butuh tidur walau hanya sebentar saja," titah Indra yang justru kembali ke kursi kerjanya dan memejamkan mata di sana.
"Baiklah, Tuan. Saya pikir juga begitu sambil menunggu boss kita datang," kali ini Indra dan Zara betul-betul kompak, tanpa ada perdebatan panjang.
Tak mau membuang waktu istirahatnya lebih lama, Zara pun segera membuka kulkas dan mencari cairan berisi obat tidur yang akan diberikan kepada Sesil sesuai perintah Indra.
Sebenarnya, Zara tak tahu dimana Indra meletakkannya. Namun berdasarkan pengalamannya juga kebiasaan para agen mata-mata yang dikenalnya, biasanya kulkas mereka tidak hanya berisi makanan tapi juga obat-obatan.
Dan dugaan Zara kembali benar. Indra memang menyimpan cairan yang sedang dicarinya itu di dalam kulkas yang berada di area dapur, persis seperti posisi apartemen Zara yang terletak tepat di atas apartemen Indra.
Tak perlu waktu lama, Zara pun segera mengambil sebuah suntikkan dan memindahkan cairan itu ke dalam alat suntik yang sudah berada di tangannya. Setelah volume yang dibutuhkan dirasa cukup, Zara segera mendekati Sesil dan bersiap-siap untuk menyuntikkan cairan itu ke dalam tubuhnya.
"Ehhhhmmm, mmmm, mmm," Sesil terus meronta.
Sayangnya, jiwa kejam Zara sedang begitu menguasainya, sehingga dia memilih tidur dari pada meladeni perempuan yang terus meronta dan mengganggu tidurnya. Karena itulah Zara tak peduli dengan rintihan Sesil, sehingga tetap menyuntikkan beberapa cc obat tidur ke dalam tubuhnya.
__ADS_1
Setelah memastikan bahwa Sesil sudah benar-benar tidur dalam pengaruh obat yang disuntikkan kepadanya, Zara pun kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan segala kelelahan yang begitu mendera.
BERSAMBUNG