
Matahari mulai menunjukkan sinarnya, menggantikan warna hitam pekat sang malam yang memanjakan setiap insan di peraduan.
Pagi itu, empat orang pria tampan telah duduk melingkar di meja rapat, membicarakan mega proyek Green Canyon yang melibatkan tiga perusahaan besar, yaitu perusahaan Daniel, perusahaan Ryan dan Perusahaan Tuan Atmaja, yang tidak lain adalah ayah dari Meysie dan Hengky.
Proyek Green Canyon ini adalah proyek pembangunan tempat wisata terbesar di Asia, yang pada awal perencanaannya dibicarakan di luar kota, yang berujung pada pertengkaran Ryan dan Rani, hingga mereka pun kehilangan janin yang dikandung Rani pada kehamilan pertamanya.
Mega proyek ini cukup mendapat perhatian serius dari ketiga perusahaan yang bekerja sama membangunnya, mengingat grand desain yang mereka buat belum pernah ada yang memilikinya. Dengan memanfaatkan sebuah ngarai yang mempunyai lembah curam yang panjang dan berkelok, tempat itu akan disulap menjadi tempat yang sungguh-sungguh elok. Beberapa spot terbaik akan disiapkan, termasuk resort, resto dan wahana bermain. Tempat itu juga akan disulap menjadi pusat bisnis yang lain dari pada yang lain, juga disertai dengan pembangunan mall dan rumah sakit yang terletak tak jauh dari ngarai yang merupakan bagian tak terpisahkan dari proyek besar mereka. Makanya tak heran, ketika ketiga perusahaan itu cukup intens mengadakan rapat terkait proyek besar yang mereka gadang-gadang akan memberikan keuntungan yang luar biasa besar bagi perusahaan.
Meskipun pagi itu perwakilan dari Atmaja Group memang tidak ada yang datang karena Tuan Atmaja dan Hengky sama-sama masih di rumah sakit menunggu Meysie yang tak kunjung sadar dari komanya yang sudah cukup lama, namun rapat tetap berjalan walaupun yang menjadi peserta rapat di ruang itu Hanya Ryan, Arya, Daniel dan juga Johan.
"Huahhmmm," sambil menguap, Ryan menutup mulutnya. Rasa capek akibat ulah Rani semalam, juga agenda rapat yang membuat dia harus merapat ke kantor pagi-pagi sekali, membuat rasa kantuk Ryan sudah tidak tertahankan.
"Kenapa bro? Begadang semalaman seperti dua pengantin baru ini, heh? Istri lagi hamil muda bukannya dijagain, malah dimakan juga. Dasar," oceh Arya melihat Ryan yang sejak datang sudah tidak bersemangat.
"Apaan sih? Begadang sih iya. Tapi bukannya senang-senang. Malam ini si ibu hamil lagi macam-macam ngidamnya. Sudah marah-marah sampai tidurnya pindah kamar, kakinya kram sampai mbangunin semua orang rumah, giliran semua kelar dan bisa tidur sebentar, dianya mbangunin minta rujak bebek tengah malam. Udah gitu mesti aku yang bikin, dan giliran rujaknya jadi dimakan semua sama dia pula," Ryan bercerita dengan wajah memelasnya.
Daniel, Arya dan Johan yang mendengar cerita Ryan pun tergelak dengan kompak hingga menggelegar memenuhi ruangan.
"Iya tuh. Gara-gara Kakak Ipar teriak-teriak kesakitan, jadi nanggung banget deh ronde ke tiga permainanku. Akhirnya kami harus begadang sampai pagi biar nggak nanggung lagi," sahut Daniel vulgar. Senyumnya tiba-tiba mengembang seiring dengan ingatan yang tertuju pada perhelatan panjangnya semalaman.
"Nggak kalah dong sama malam pertama Johan?" timpal Arya, sambil mengerlingkan matanya ke arah Johan.
"Aku tidak yakin kalau Johan semalam sudah membobol gawang. Buktinya pagi-pagi kuminta datang, dalam waktu secepat kilat dia sudah sampai kantor duluan," gumam Daniel.
__ADS_1
"Itu karna saya sama sekali belum tidur, Tuan. Jadi begitu Anda telepon saya langsung bisa datang," sahut Johan masih dengan wajah datarnya.
Mendengar pengakuan Johan, semua kembali tergelak.
"Wah, kejam sekali kau, Niel. Orang baru selesai malam pertama kok langsung diminta datang. Seharusnya hari ini Johan cuti, karena Nina pasti lagi nggak bisa jalan," cicit Arya lagi hingga membuat mereka berempat tertawa terbahak-bahak.
"Berarti di antara kita berempat, Arya dong yang paling fresh?" mereka semua menatap Arya.
"Huh, boro-boro. Semakin perut Lena membesar, aku harus begadang setiap malam. Rasanya tidak tega melihat Lena tak menemukan posisi tidur yang nyaman. Mana tega aku tidur sementara dia tak tidur semalaman," sergah Arya, menceritakan betapa butuh perjuangan seorang wanita untuk mengandung dan melahirkan anak mereka.
"Kau masih harus berjuang hingga usia kehamilan Rani sembilan bulan lebih sepuluh hari. Sementara kau dan kau, sekarang nikmatilah masa-masa indah kalian. Tapi ingat, jika perbuatan kalian sudah membuahkan hasil dalam rahim Naja dan Nina, kalian juga akan merasakan perjuangan yang sama," Arya mengingatkan tiga pria di hadapannya satu per satu.
"Semua perempuan hamil ngidam yang aneh-aneh kah?" celetuk Daniel.
"Kata Mommy sih enggak semua. Tapi kebanyakan iya," sahut Ryan yang membuat keempat pria dalam satu ruangan itu diam membisu, larut dalam pengembaraan pikiran masing-masing.
Arya merogoh sumber suara itu dari saku kanan celananya. Melihat nama yang tertera di benda pipih miliknya, tiba-tiba rasa tidak enak menjalar di seluruh tubuhnya.
"Assalamu'alaikum, Ma," sapa Arya dengan spontan kepada Davina yang berada di seberang sana. Ya, orang yang menelponnya adalah Mama Davina. Dan jika di jam-jam sibuk seperti ini dia sampai menghubungi Arya, artinya ada hal yang sangat penting, atau ada sesuatu yang terjadi pada Lena.
"Apa? Sekarang kalian dimana? Iya, Ma. Iya. Arya segera ke sana," Arya menutup teleponnya dengan panik, kemudian langsung beranjak dari duduknya.
"Ada apa?" Ryan, Daniel dan Arya kompak bertanya.
__ADS_1
"Lena terjatuh. Dia mengeluarkan banyak darah. Mungkin dia akan melahirkan sebelum waktunya," jawab Arya sambil bergegas keluar.
"Tunggu! Aku ikut. Kau tak mungkin menyetir sendiri dalam kondisi seperti ini," Ryan ikut beranjak dan menyusul Arya, begitu juga dengan Daniel dan Johan. Akhirnya semua menemani Arya ke rumah sakit dengan mobil yang sama.
Johan yang mengambil alih kemudi pun segera melaju dengan kencang, membelah jalanan kota yang penuh sesak dengan kendaraan yang berlalu lalang.
"Tak bisakah kau injak gasmu lebih dalam lagi, Jo?" seru Arya tak sabar.
Johan yang diajak bicara justru diam seribu bahasa, tidak berniat sedikitpun menanggapi permintaan Arya.
"Tak bisakah kau melihat banyaknya kendaraan yang memenuhi jalan?" sahut Ryan singkat.
"Dalam situasi darurat seperti ini, kenapa harus macet juga sih?" gerutu Arya berkali-kali.
Mendengar Arya terus mengoceh tak karuan sepanjang perjalanan, Ryan, Daniel dan Johan pun tak berani berkomentar. Ini adalah pengalaman mereka yang pertama menghadapi proses persalinan, sehingga mereka semua memasang wajah tegang karena belum punya gambaran seperti apa kondisi Lena sekarang.
Hingga lagi-lagi, dering handphone dari arah saku celana Arya kembali berbunyi, menambah suasana tegang di tengah kemacetan.
"Assalamu'alaikum, Ma," Arya menyapa dengan nada dibuat seenak mungkin.
"Apa?" teriak Arya selanjutnya, begitu Mama Davina yang berada di ujung telepon mengatakan sesuatu kepadanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
💖💖💖
Like, vote dan rate 5 nya jangan lupa. Terima kasih.