
Naja terduduk kembali sambil melihat rekaman CCTV melalui layar ponselnya. Matanya tiba-tiba memanas, wajahnya sudah memerah menahan marah, menyadari apa yang telah terekam dan tergambar jelas di depan matanya.
“Mereka lari!” seru Naja hingga membuat Johan dan Rudi menoleh seketika, kemudian langsung berlari menuju mobil untuk mengejarnya. Hal yang sama dilakukan oleh masing-masing anak buah mereka. Tanpa aba-aba, dalam hitungan detik mobil demi mobil keluar pintu gerbang untuk melakukan pengejaran.
“Siapa mereka?” tanya Ryan sambil mengedarkan pandangan ke arah Daniel, Naja, Arya dan Meysie secara bergantian. Yang dipandang semuanya menggelengkan kepala, menandakan mereka tidak tahu apa-apa.
Naja terus berselancar dengan handphone di tangannya, melihat rekaman CCTV selama kepergiannya bersama suaminya, sembari sibuk mengutuki diri dan merasa sebal dengan kelakuan suaminya yang selama berbulan madu tidak membiarkan dirinya untuk memegang benda pipih itu sama sekali bahkan menyembunyikannya. Hasilnya? Bisa dilihat. Satu minggu tanpa pengawasannya ternyata banyak hal yang bisa dilakukan oleh musuh-musuh yang masih mengincar keluarga Dewangga, terlebih lagi seorang Arania Levana.
Sementara yang di dalam rumah sibuk menerka dan mencari informasi sebanyak mungkin melalui CCTV selama beberapa hari terakhir baik di sekitar rumah maupun di sekitar perusahaan milik keluarga Dewangga, Johan dan Rudi diikuti beberapa anak buah mereka sedang memerankan drama kejar-kejaran bak film Mission Impossible seri ke-6 yang di rilis Tahun 2019 itu. Bahkan Johan yang mengendarai BMW sebagai tunggangannya, sudah sama persis seperti tunggangan Ethan Hunt saat di kejar Ilsa Faust pada film itu. Tak dapat diragukan lagi, jika aksi Johan dan Rudi beserta anak buahnya waktu itu di tulis dalam novel atau di tuangkan dalam film action, dijamin seru dan mengundang decak kagum bagi siapapun yang menyaksikannya.
“Berapa yang tersisa di rumah utama?” tiba-tiba Johan menoleh ke arah Rudi.
“Astaga,” keduanya saling pandang.
“Sial,” tiba-tiba Johan memutar mobilnya dengan arah 180 derajat dan berbalik ke kediaman utama keluarga Dewangga, dimana semua majikannya sedang berada di sana.
“Semua putar balik. Kita menuju rumah utama,” perintah Johan kepada anak buahnya, melalui earpiece yang terpasang di telinganya dan seluruh anak buahnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Rudi kepada anak buahnya.
Setelah sepuluh menit berselang, Johan dan Rudi beserta seluruh anak buah mereka pun telah sampai ke rumah utama. Tanpa menunggu lama, mereka segera berlari masuk untuk melihat situasi di dalam rumah, dan alangkah kagetnya mereka, ketika mengetahui bahwa apa yang menjadi kekhawatiran merekatelah benar-benar telah terjadi.
“Kita terlambat!” seru Rudi sambil memandang ke arah Johan. Tangannya mengepal karena geram, melihat darah bersimbah di lantai dan melihat salah satu orang yang ingin mereka lindungi sedang meringis kesakitan.
__ADS_1
***
Flashback
Rani sibuk menenangkan mamanya dan mama mertuanya, begitu menyadari dua orang tuanya itu gemetar karena ketakutan. Kini mereka bertiga duduk berjejer di sofa, sembari menunggu Ryan, Hengky, Daniel dan Naja yang masih sibuk dengan rekaman CCTV yang ada di hadapannya. Di sofa sebelah Rani dan kedua mamanya duduk, Meysie terlihat diam terpaku, sementara Lena dan Nina memutuskan untuk menyiapkan minum di belakang.
Masih dalam diam, mata Meysie mengalihkan pandangan dari Rani ke Ryan secara bergantian. Sebuah senyum sinis dia sunggingkan, merasa menang dengan apa yang sudah dia rencanakan.
“Kalian tidak tahu kan? Kalau ini semua adalah rencanaku? Tentu saja tidak. Kalian sudah menjadi budak-budak cinta sehingga lalai bahwa musuh kalian sudah mengintai sekian lama,” batin Meysie.
Ya, semua adalah bagian dari rencananya. Meysie memang memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengawasi dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang aktifitas keluarga Dewangga selama beberapa hari terakhir. Makanya, tanpa Hengky memberi tahu tentang undangan makan malam itu, Meysie dengan mudah bisa mengetahuinya dan berniat untuk segera melancarkan aksinya.
“Kalian juga tidak tahu bukan? Kalau aku sengaja membiarkan anak buahku menampakkan diri agar anak buah kalian mengejar mereka dan keluar dari rumah ini?” Meysie tertawa dalam hati.
“Tentu saja kau mengenalnya, Sayang. Karena itu adalah mobilku. Tapi sebelum kau mengingatnya, aku pastikan istri dan calon anakmu tak akan ada lagi di dunia ini,” lagi-lagi, Meysie bergumam dalam hati.
Dan ternyata Meysie benar-benar melakukan rencana jahatnya. Dia mengeluarkan sebilah pisau kecil yang telah diolesi racun sebelumnya, dan melihat Rani dengan tatapan sinisnya. Dalam hitungan detik, tanpa ada yang menyadari Meysie berdiri dan menghampiri Rani, kemudian mengarahkan pisau kecil itu ke arahnya. Namun, sayang seribu sayang. Nina yang sedang berjalan dari arah dapur dengan sebuah nampan berisi gelas yang sedang dibawanya, langsung membuang nampan itu begitu saja dan mencekal tangan Meysie dengan begitu sigapnya.
Semua orang yang berada di ruang itu sontak terkejut dengan bunyi pecahan gelas kaca yang begitu kerasnya. Apalagi ketika melihat Nina yang sedang memegangi tangan Meysie dengan sebilah pisau di tangannya, mereka semua membualatkan mata.
“Jangan campuri urusanku, Gadis Kecil,” Meysie berusaha melepaskan tangan Nina yang menahan tangannya.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan, Kak?” Hengky berseru.
“Meysie,” Ryan dan Arya berteriak secara bersamaan dan menghampiri dua gadis itu.
Tapi sayang, mereka terlambat. Tenaga Meysie lebih kuat dari tangan Nina sehingga pisau itu melukai tangan Nina dan Meysie berhasil merebut pisau itu kembali ke tangannya. Dalam hitungan detik, Meysie pun mengarahkan pisau itu ke arah Rani yang masih diam terpaku di tempat itu. Semua menghambur ke arah Meysie untuk menggagalkan aksinya, tapi lagi-lagi sayang. Meysie sudah menancapkan pisau itu, darah sudah mengucur deras dan semuanya tak dapat terelakkan lagi karena tak ada satu pun orang di ruang itu yang bisa mencegahnya.
“Rani! Sayang!” Ryan berteriak sambil merengkuh tubuh Rani yang waktu itu tersungkur lemas di atas sofa.
Davina dan Aghata sudah berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya. Nina terlihat bersimpuh di kaki Rani, sementara Meysie mengambil pisau yang tertancap di tubuh gadis yang berada di depannya dan membuang pisau itu ke sembarang arah, kemudian menangis sambil melihat kedua tangannya, seolah sesal menjalar di seluruh hatinya.
“Nina, Hubby. Tolong Nina. Dia tertusuk, Hubby. Nina terluka.” Tangis Rani pecah, dia lemas seketika menyadari Nina telah menyelamatkannya.
“Nina!” Hengki dan Arya segera merengkuh tubuh Nina, sementara Daniel dan Naja memegangi Meysie agar tidak melarikan diri.
Di saat itulah Johan dan Rudi kembali, tapi sayang, semua telah terlanjur terjadi.
And of flashback
BERSAMBUNG
💖💖💖
__ADS_1
Bagaimana nasib Nina dan Meysie? Sebelum lanjut, like, vote dan commennya dulu dong. Bintang 5 nya jangan lupa. Thank you😍