
Sebuah kesetiaan yang bisa ditukar dengan sekeping uang adalah hal yang sangat menyakitkan. Bagi Daniel dan Ryan, masalah uang bisa dibicarakan. Tapi masalah kesetiaan tidak bisa diperdagangkan. Karena itulah setelah Naja mendapatkan satu nama dari anak buah Ryan yang berkhianat, mereka langsung menyusun siasat. Sebenarnya bisa saja mereka langsung menangkap dan menghukumnya. Namun, karena mereka yakin bahwa ada orang kuat dibalik aksi Charles, maka mereka memutuskan untuk mengikuti permainan dan mengelabuhinya terlebih dahulu agar terbongkar dalang yang sebenarnya.
"Maaf, Tuan. Saya permisi untuk berkeliling sebentar. Biasanya di jam-jam seperti ini kami checking lapangan," ucap pengawal itu sambil membungkukkan badannya.
Ryan dan Daniel saling berpandangan.
"Bagaimana ini?" gumam mereka dalam hati.
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan?" pertanyaan cerdas Ryan lontarkan. Sebenarnya pertanyaan itu Ryan tujukan untuk Naja. Tapi bagi siapapun yang melihatnya, pasti akan mengira bahwa pertanyaan itu ditujukan untuk pengawal yang sedang berbicara kepadanya.
"Waktu normal setengah jam, Tuan," jawab pengawal itu tanpa curiga. Dia sungguh benar-benar mengira bahwa Ryan sedang berbicara kepadanya.
"Arahkan dia untuk memantau dari CCTV saja, Tuan. Tiga puluh detik lagi saya selesai meretas dan mengelabuhinya," jawab Naja bersamaan dengan jawaban sang pengawal.
"Hmm, kau ini bagaimana? Apa gunanya CCTV jika kau masih harus mengeceknya secara langsung?" Setelah mendengar ucapan Naja, Ryan melihat pengawal itu dan mengerutkan dahinya. Tentu saja semua itu bagian dari sandiwaranya.
"Tapi, Tuan," sanggah sang pengawal.
"Apa kau tidak tahu, jika aku tak suka dibantah? Apalagi kau meninggalkanku saat kau sedang bertugas menjaga keselamatanku," titah Ryan tak bisa ditawar. Kini dia sudah memasang muka masam, sehingga bagi siapapun yang melihatnya pasti akan langsung ketakutan.
"Baik, Tuan," tidak ada kata lain yang bisa diucapkan oleh seorang bawahan jika majikan sudah memerintahkan.
Ryan dan Daniel pun tersenyum menang, sementara sang pengawal berjalan mundur dan kembali ke tempat awal. Dilihat dari gerak-gerik dan ekspresi mukanya, dia sungguh tidak tenang. Ryan dan Daniel pun sebenarnya dapat membaca secara jelas betapa pengkhianat itu bertindak sangat ketakutan. Bahkan ingin rasanya mereka langsung menghajarnya dan membuat dia menyesal seumur hidupnya karena jalan pengkhianatan yang sudah dipilihnya, tapi demi rencana mereka yang lebih besar, mereka berusaha untuk menahan.
***
"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu. Oke," Naja menghitung waktu mundur, sampai semua siap dan giliran Johan memulai aksinya.
Ini adalah aksi pertama duet maut antara Naja dan Johan setelah Naja berkhianat dan bekerja untuk Prabu Dewangga. Ya, dulu mereka adalah rekan kerja yang sangat kompak, dengan plot twist yang hampir selalu tidak terduga. Bahkan hampir tak ada satu misi pun yang gagal mereka eksekusi, kecuali saat mereka menjebak Prabu Dewangga di kantornya.
__ADS_1
"Sudah lama aku tak melihat kau bekerja, Jo. Mari kita lihat apakah gerakmu masih lincah seperti dulu atau sudah lemot seiring dengan bertambahnya usiamu," cibir Naja begitu Johan mulai bergerak sesuai instruksinya. Kini Naja tinggal memantau dari jauh pergerakan Johan melalui layar laptop dan layar di beberapa handphone miliknya.
"Kau boleh tanya kepada istriku sekuat apa diriku, Nona," Johan menjawab dengan senyum yang tersungging di bibirnya, mengingat adegan sebelum akhirnya dia meninggalkan Nina.
"Ahh, aku jadi merindukan istri kecilku. Ingin rasanya aku menerkamnya sekarang juga," gumam Johan dalam hati.
"Dasar pengantin baru. Norak," cibir Naja dengan nada khasnya.
"Aku jadi merindukanmu, Sayang," batin Naja, sambil mengingat suaminya.
"Seperti apa rasanya kau tahu terlebih dulu, bukan?" mulut Johan terus mengoceh, sementara bagian tubuhnya bergerak dengan lincahnya. Dia memanjat dari satu tempat ke tempat lain, meloncat kesana kemari dengan lincah, bahkan tangannya aktif bergerak mengerjakan apa yang menjadi tugasnya dengan cekatan dan waktu yang terbilang sangat singkat.
Hanya butuh waktu satu jam buat Johan hingga semua tugas bisa diselesaikan.
Setelah semua selesai, Johan meninggalkan rumah itu dan pulang menggunakan cara yang sama dengan cara yang dipakai ketika dia masuk rumah Arya.
Sementara itu, di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Rudi bergerak sendiri di kediaman keluarga Dewangga. Mengapa Rudi bergerak sendirian? Karena mereka yakin bahwa musuh masih fokus di satu titik, yaitu rumah Arya dan Lena.
***
"Mereka sudah pergi, Tuan," terdengar suara seorang pengawal, dengan sebuah ponsel yang dia letakkan di telinga sebelah kanannya.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Atmaja dari balik teleponnya.
"Tidak ada, Tuan," jawab sang pengawal dengan mantap. Walaupun sebenarnya dia merasakan ada hal yang sedikit janggal, tapi dia tidak berani memberitahu Atmaja karena dia tidak punya data. Atmaja adalah orang yang tidak pernah percaya dengan feeling. Bagi dia, fakta adalah sesuatu yang dibuktikan dengan data, bukan sekedar perasaan atau kata-kata.
"Bagaimana mungkin tak ada yang mereka bicarakan? Beberapa jam mereka berbincang di hadapanmu, sungguh keterlaluan jika tak sedikitpun pembicaraan yang bisa kau dengar. Kau bisa bekerja atau tidak?" Atmaja setengah berteriak.
"Bukan begitu, Tuan. Hanya obrolan ringan saja yang mereka bicarakan. Sama sekali tidak ada hal serius," cicit sang pengawal, mulai bergidik ngeri mendengar suara Atmaja yang terlihat sangat kesal.
__ADS_1
"Baiklah, terus pantau keluarga itu!" titah Atmaja yang langsung diiyakan oleh sang pengawal.
"Bagaimana, Tuan?" Charles yang saat itu berada di sebelah Atmaja penasaran.
"Apakah menurutmu tak ada yang aneh, jika selama beberapa jam Ryan dan Daniel bersama, tak ada hal penting yang mereka bicarakan?" Atmaja mengerutkan dahinya.
"Sebenarnya itu bukan kebiasaan Daniel, Tuan. Selama ini Daniel hanya akan berbicara seperlunya dan terbatas urusan pekerjaan saja. Sejak kecil dia memang gila kerja dan kehilangan masa kecil karena obsesi balas dendamnya. Makanya dia hampir tidak punya teman seorang pun. Tak mungkin juga bisa berubah secepat ini kan? Tidakkah kau merasa ada yang janggal, Tuan?" sahut Charles panjang lebar.
"Coba kita periksa rekaman CCTV itu," perintah Atmaja.
Charles terlihat memeriksa ponsel miliknya, dan melihat rekaman CCTV yang sang penjaga itu pasang diam-diam di rumah Arya. Sekilas, Charles masih memasang wajah datar. Tapi satu menit kemudian, mukanya berubah.
"Kita dikelabuhi, Tuan. Mereka mengalihkan perhatian kita, meretas, kemudian melepas CCTV yang kemarin kita pasang," Charles terlihat kesal.
"Periksa CCTV mereka. Bukankah kau telah berhasil mengaksesnya?" Atmaja semakin gusar.
Charles terlihat berselancar dengan benda pipih miliknya.
"Mereka sudah memutus koneksinya,Tuan. Mungkin mereka sudah menggantinya," jawab Charles seolah tak percaya.
"Sial," Atmaja menggebrak meja.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan, Tuan?"
BERSAMBUNG
❤❤❤
Hallo kakak. Bagi like, vote dan rate 5 dong.
__ADS_1