
Ryan terus terjaga di samping ranjang pesakitan istrinya. Dia terus melihat, menatap dan mengamati wajah istrinya yang kini masih terpejam dengan tatapan mengharu biru.
Bahkan jika dia mengingat lagi kejadian itu, juga suara sebuah layar detektor jantung yang begitu memekik telinga dengan sebuah garis lurus terlihat berjalan di dalamnya, Ryan kembali meneteskan air mata.
Segala rasa syukur pun tak henti-hentinya dia ucap, karena akhirnya mereka bisa kembali berada dalam satu atap, dan akan hidup bersama baik dalam terang maupun gelap.
"Terima kasih, Ya Allah. Telah kau berikan kembali titipan terindah-Mu. Seorang wanita yang darinya hanya ada rasa suka dan cita, juga hati yang penuh dengan kasih dan cinta,"
Ryan mengusap bulir bening yang kini menggenang di sudut matanya, kemudian dia mendekat ke arah Rani yang masih setia menutup mata. Diraihnya tangan putih itu, kemudian dikecupnya berkali-kali sebagai bukti bahwa di sanalah hatinya telah terpatri.
Ya, setelah malam yang penuh drama itu, Rani terus menangis di pelukan Ryan semalaman, hingga dia terlelap karena terlalu kelelahan. Bahkan sampai pagi telah datang, matanya masih tetap terpejam walau sesekali terlihat meringis, entah karena bermimpi atau merasa kesakitan.
"Tetaplah bersabar, Sayang. Ini adalah bagian dari nikmat kehidupan. Semua memang tak mudah, tapi ada Hubby yang akan selalu berada di sampingmu, dan takkan pernah membiarkanmu tersakiti lagi," sepenggal kata Ryan ucapkan, sambil mengusap kepala Rani dengan sayang.
Merasakan belaian tangan di kepalanya, Rani pun perlahan mengerjabkan mata. Dipandangnya wajah suaminya yang kini berada tepat di depan wajahnya, membuat tatapan kerinduan kembali mendesak kristal bening itu untuk keluar dan membasahi pipinya.
"Hubby, peluk Rani, By. Tolong peluk Rani," air mata Rani tumpah.
Sebuah kejadian yang hampir saja membuat nyawanya hilang, benar-benar menyisakan trauma yang mendalam. Apalagi jika Rani mengingat bahwa jika saja Ryan tak datang di saat yang tepat, bukan tidak mungkin kecantikan dan mahkota terindah yang dia miliki sudah dia korbankan demi mempertahankan sebuah kehormatan.
"Hubby di sini, Sayang. Kau jangan nangis lagi, ya. Hubby janji, hal seperti ini tak akan pernah terjadi lagi," Ryan memeluk tubuh Rani dengan kesakitan yang mendalam. Dalam hatinya, dia masih menyalahkan diri dan mengutuk dirinya sendiri yang tak pecus menjaga Rani.
"Untung semalam Hubby datang tepat pada waktunya, By. Jika tidak, Rani nggak tahu apa yang akan terjadi. Hiks ..., hiks ..., hiks ...," ucap Rani sambil tersengal.
"Jangan diingat-ingat lagi, Sayang. Hubby tak sanggup jika harus mengingat kau memegang senjata tajam seperti semalam. Bagaimana jika senjata itu justru mengenai dirimu sendiri, hmmm?" Ryan bergidik ngeri. Hanya membayangkan istrinya tersakiti saja, dia benar-benar tak sanggup, apalagi jika hal itu sungguh terjadi.
"Sebenarnya waktu itu Rani memang berniat ingin menyakiti diri sendiri, By," lirih Rani, membuat Ryan semakin tak mengerti.
"Apa yang kau katakan, Sayang?" tanya Ryan, menuntut penjelasan.
"Bukankah Felix mencintai Rani karena kecantikan dan mahkota yang selalu Rani jaga untuk Hubby? Karena itulah Rani berpikir jika muka dan bagian bawah Rani telah rusak, dia tak akan berniat untuk menodai Rani lagi. Makanya waktu itu Rani berniat akan merusaknya dengan tangan Rani sendiri, demi bisa menjaga kehormatan Hubby," Rani menceritakan bagaimana malam itu dia akan menyakiti diri.
Ryan sampai menutup mulutnya, mendengar istrinya hampir bertindak sangat jauh jika dia tidak segera datang dan melakukan penyelamatan.
"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi, Sayang. Berjanjilah kepada Hubby,"
"Apapun akan Rani lakukan untuk menjaga kehormatan Hubby, By. Dan Rani tak akan menyesal seandainya itu benar-benar harus terjadi,"
"Sssttt. Jangan diingat-ingat lagi. Tutup semuanya, karena setelah ini kita akan hidup bahagia bersama putra kita," ucap Ryan, menenangkan.
Mereka pun terus berpelukan untuk melepas kerinduan. Mata mereka bahkan terus basah, seiring dengan bulir bening yang mengalir tanpa bisa dibendung lagi.
__ADS_1
"Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi," ucap Ryan berkali-kali, tapi tak juga mampu menghentikan air mata Rani.
Bahkan ketika Davina, Aghata, Lena, dan Nina datang bersama Arsen, dan Arya, untuk menjenguknya, air mata Rani justru semakin deras saja.
Hal itu membuat mereka mengelilingi Rani untuk menghibur dan menenangkannya, tapi semakin mereka menghibur dan memberikan nasihatnya, Rani semakin terisak sambil mengusap air matanya.
"Apa masih ada yang sakit, Sayang?" Davina memastikan, sementara hanya gelengan kepala Rani yang dia dapatkan.
"Apa perlu Mommy panggilkan dokter?" Aghata ikut bingung melihat menantunya. Namun sekali lagi, Rani hanya menggelengkan kepalanya.
Di saat itulah sebuah ketukan pintu terdengar, sebelum akhirnya Hengky dan Fisha masuk. Melihat Rani terus menangis tanpa mau m dibujuk lagi, Hengky dan Fisha pun saling bertatap mata.
"Kenapa?" tanya Hengky pada Ryan dan Arya. Para lelaki itu kini duduk bersama di sofa, sementara para perempuan masih mengelilingi Rani untuk menghiburnya. Fisha yang baru saja datang pun ikut bergabung dengan para perempuan, dan ikut menghibur Rani setelah berbasa-basi sebentar.
"Atau kau sudah tak sabar ingin melihat putramu, Sayang? Biar Ryan meminta pihak rumah sakit untuk membawanya kemari sebentar, jika itu memang maumu?" tiba-tiba muncul sebuah ide cerdas dari Davina.
Ryan yang mendengar ucapan Mama mertuanya menanggapi itu dengan serius. Dia beranjak dari sofa dan mendekati istrinya, kemudian kembali membelai lembut kepalanya.
"Apa benar, Sayang? Hubby bisa meminta perawat itu membawanya kesini jika kamu mau," Ryan menatap kedalaman mata Rani, tapi tak ada binar yang terlihat dari matanya saat dia menyebut putra mereka.
"Ya Allah, ada apa dengannya? Dia benar-benar tak ingin menemui putranya?" gumam Ryan dalam hati.
"Sayang?" Ryan memastikan.
"Baiklah, kita tunggu sampai kau pilih dan dia juga sehat, baru kita temui dia," ucap Ryan, dengan berjuta tanda tanya di hatinya.
Karena tak tenang, Ryan pun ditemani Aghata berkonsultasi dengan dokter terkait kondisi Rani.
"Apa kami perlu berkonsultasi dengan seorang psikolog atau psikiater, Dok? Istri saya terus saja menangis tanpa alasan yang jelas. Lebih parah lagi, dia seperti tak menginginkan putranya, Dok. Saya sudah berkali-kali menawarkan agar seorang perawat membawa bayi kami ke ruang perawatan agar dia bisa melihatnya, tapi dia menolaknya," keluh Ryan kepada dokter yang menangani istrinya.
Dokter itu diam sesaat, sebelum akhirnya membuka suara.
"Setelah melahirkan, seorang wanita rentan mengalami gangguan atau perubahan mood parah. Kondisi mood swing pada ibu hamil ini sering disebut dengan istilah Baby Blues Syndrome atau Postpartum Distress Syndrome, Tuan Ryan,"
"Baby blues syndrome merupakan kondisi yang dialami wanita berupa munculnya perasaan gundah dan sedih berlebihan. Perubahan suasana hati ini umumnya terjadi setelah ibu melahirkan. Secara umum, baby blues syndrome akan semakin memburuk pada dua sampai tiga hari paska melahirkan. Kondisi ini juga biasanya hanya terjadi pada empat belas hari pertama. Meski begitu, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele begitu saja," terang dokter itu, membuat Ryan melebarkan matanya.
"Sindrom ini sering diduga terjadi karena kondisi hormon di dalam tubuh wanita yang berubah. Saat hamil, seorang wanita mengalami banyak perubahan dari bentuk fisik dan non fisik, termasuk hormon di dalamnya juga emosional. Setelah melahirkan, ada perubahan hormon di dalam tubuh yang mempengaruhi perasaan sang ibu. Penurunan kadar esterogen dan progesteron atau hormon lainnya yang diproduksi kelenjar tiroid juga dapat menyebabkan ibu menjadi mudah lelah, perubahan emosi, hingga depresi,"
"Baby blues pada ibu ditandai dengan beberapa gejala, seperti munculnya rasa sedih yang menyebabkan ibu menangis dan merasa depresi, emosi labil, sehingga mudah marah dan muncul rasa takut yang tidak beralasan, merasa kelelahan, sulit tidur dan sering sakit kepala, merasa kurang percaya diri, juga muncul kecemasan berlebihan,"
"Yang berbahaya adalah, jika yang terjadi pada istri Anda berupa depresi pasca melahirkan, yang menyebabkan kekhawatiran yang cukup besar. Hal ini sangat mungkin terjadi, karena trauma yang sangat dalam sebelum, saat dan setelah istri Anda melahirkan. Jika ini terus dibiarkan dan tidak segera ditangani, depresi pasca melahirkan yang dialami istri Anda dapat menyebabkan ikatannya dan putra Anda tidak terjalin dengan baik. Bahkan, bisa pula meningkatkan risiko terjadinya depresi berat di masa yang akan datang,"
__ADS_1
"Bahayanya lagi, kasus depresi pasca melahirkan yang berat dapat menyebabkan terjadinya psikosis postpartum. Kondisi ini jarang terjadi, tapi memerlukan penanganan yang serius, karena ibu dapat mengalami halusinasi dan delusi yang bisa membahayakan bayi dan dirinya sendiri,"
Ryan mendesah kasar. Ditariknya nafas dalam-dalam, lalu dia lepaskan secara perlahan. Dia tidak pernah membayangkan jika Rani akan mengalami hal seperti ini.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dokter?" tanya Ryan frustasi.
"Istri Anda butuh dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya, Tuan. Jangan biarkan dia merasa sendirian. Berbagi beban lah bersamanya, hal ini adalah cara terbaik untuk menghindari Baby Blues Syndrome, juga depresi pasca melahirkan. Bicarakan masalah merawat si kecil serta berbagi tanggung jawab baik fisik maupun psikis dengan istri Anda, agar dia tak berpikir terlalu keras akan perubahan status barunya,"
"Awal kami menikah, dia memang pernah menyampaikan jika dia belum siap hamil dan menjadi seorang ibu, Dokter. Karena jiwa bebasnya belum sepenuhnya siap untuk diganggu. Apakah itu bisa menjadi salah satu penyebabnya, Dok?" Ryan bertambah gelisah.
"Anda betul, Tuan. Memang ada banyak sekali faktor yang menyebabkan seorang wanita mengalaminya, termasuk yang Anda sebutkan itu. Apalagi ada peristiwa besar yang dialami istri Anda sebelum melahirkan, juga bagaimana dia bertaruh nyawa demi melahirkan putranya, membuat deretan alasan kenapa sindrom itu dialami istri Anda menjadi masuk akal,"
"Bagaimana dengan psikolog atau psikiater yang saya tanyakan tadi, Dok?"
"Sementara, buatlah agar istri Anda selalu berpikiran positif. Jaga pola makannya, dan buat agar istri Anda bisa istirahat secara cukup agar kondisi tubuhnya selalu sehat. Perlahan, mulai dekatkan dia dengan putranya, dan tunjukkan bahwa Anda juga ikut terlibat dalam merawat putra Anda. Secara alami, setelah empat belas hari sindrom ini akan hilang. Jika setelah empat belas hari gejala-gejala yang Anda sebutkan tadi masih saja muncul, baru kita butuh seorang psikolog atau psikiater,"
"Baiklah, Dok. Terima kasih," setelah mendapatkan penjelasan panjang lebar dari dokter itu, Ryan dan Aghata pun kembali ke kamar perawatan Rani dan mulai berusaha melakukan hal-hal seperti yang disarankan dokter tadi.
***
Di waktu yang sama di ruang yang berbeda, Indra masih berjuang di meja operasi, dan bertaruh nyawa antara hidup dan mati.
Sementara Zara yang dipaksa Daniel untuk menuju ke ruang perawatan Indra terlebih dulu sebelum operasi selesai pun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aku harus segera mandi, agar bisa fokus menjaga Indra saat operasinya selesai nanti," gumam Zara seorang diri.
Cukup lama Zara melihat gambaran dirinya di sebuah cermin yang terletak di kamar mandi. Tak lama kemudian, di lepasnya helaian demi helaian benang yang menutupi tubuhnya. Sesekali, Zara meringis akibat perih yang harus di rasakannya. Apalagi saat ada luka yang menempel di bajunya dan harus dilepas secara paksa, jeritan-jeritan kecil pun akhirnya keluar dari mulutnya.
Setelah tubuh itu benar-benar polos tanpa satu penghalang pun, Zara kembali melihat cermin di depannya. Dia baru sadar bahwa sekujur tubuhnya penuh dengan goresan, namun perihnya baru terasa sekarang. Bagaimana mungkin? Mungkin saja, karena yang ada di benak Zara hanya ada Indra, Indra, dan Indra, membuat tubuhnya yang penuh luka seolah tak terasa.
Begitulah cinta. Dia hadir begitu saja, dengan asmara yang menggelora. Cinta itu terus bergerak lirih, bagai lirihnya denyut nadi, namun bisa mengeras tiba-tiba sesuai detakan keras pada jantungnya.
Seperti itu pulalah rasa yang mendominasi Zara jika itu tentang Indra. Betapa sakitnya luka yang dideritanya, dia akan berusaha untuk tetap kuat demi satu cita-cita, hidup bersama Indra.
"Auwww," aliran air dari shower di atasnya lebih terasa seperti sengatan, saat tetesan demi tetesannya mengenai luka pada tubuhnya. Apalagi ketika sabun cair mulai Zara oleskan di seluruh permukaan badannya, membuat genangan air di matanya tiba-tiba muncul begitu saja, karena perih yang dia rasa.
"Hanya luka kecil, Zara ..., hanya luka kecil," Zara bermonolog, dan terus mensugesti dirinya hingga dia selesai dengan urusan pribadinya.
Setelah selesai, Zara pun segera mengeringkan tubuhnya, dan mengenakan pakaian ganti yang telah disediakan untuknya, tanpa mengobati luka-luka di sekujur tubuhnya.
Dan tepat saat Zara selesai mengenakan pakaiannya, saat itu juga tim medis bersama Johan dan Rudi masuk ke dalam ruangan, dengan sebuah ranjang beroda yang membawa Indra.
__ADS_1
"Indra!" Zara mendekat ke arah Indra yang saat ini masih memejamkan matanya.
BERSAMBUNG