METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Indahnya Hamparan Kebun Kopi


__ADS_3

Pagi itu Ryan berdiri mematung di tengah hamparan kebun kopi, yang menyelimuti sebuah perbukitan yang indah. Indranya tergoda seketika ketika melihat kabut tipis memeluk dedaunan yang semakin lama semakin menghilang seiring dengan semilir angin yang menyapu wajah dan ranting-ranting hingga sedikit bergoyang.


“Ternyata indah sekali ya, Sayang,” ucap Ryan sambil merapatkan jaketnya, kemudian merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya untuk saling menghangatkan. Rani tersenyum, binar bahagia sungguh terpancar dari matanya melihat suaminya bisa setenang itu setelah badai besar yang menerpanya.


“Aroma ini sungguh sangat menenangkan,” Ryan terus mengungkapkan kekagumannya pada apa yang sedang dilihatnya. Bahkan kini matanya terpejam, kemudian dihirupnya aroma kafein yang khas, hingga menyusup dan merangsang otaknya berharap ada secangkir kopi panas yang akan memanjakan lidahnya.


“Mau kopi, Den?” suara seorang pekerja perkebunan tiba-tiba membuyarkan khayalannya. Ryan menyunggingkan senyum terindahnya mendengar tawaran itu, seolah mimpi yang baru saja dialaminya akan segera menjadi nyata.


Dengan semangat empat lima, Ryan segera menarik tangan istrinya dan menghampiri wanita paruh baya yang sedang menikmati secangkir kopi di atas gubug sederhana yang terletak di tengah-tengah perkebunan itu. Setelah mereka berdua duduk disana, tak lama kemudian dua cangkir kopi berhasil mendarat indah, siap mengurai resah yang bergelayut di dalam hati mereka.


Rani tak henti-hentinya bersyukur dalam hati, melihat suaminya yang begitu tenang dan mulai menikmati suasana perkebunan. Bahkan awalnya dia tidak pernah berharap jika suaminya itu akan mulai antusias terhadap dunia kopi yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan dunia bisnis yang selama ini Ryan geluti.


Namun hal mengejutkan benar-benar terjadi. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Ryan memutuskan untuk menerima tawaran Mama Davina, membantu mengurus kebun kopi peninggalan Wisnu Raharja, mendiang papa mertuanya. Wisnu sendiri adalah seorang politisi dan legislator ternama pada zamannya, yang kurang bisa menekuni dunia usaha. Karena itulah aset keluarga yang mereka punya kebanyakan dalam bentuk tanah perkebunan, yang hanya butuh sekali tanam dan hasil panen bisa mereka nikmati setiap tahunnya.


“Mmmm, nikmatnya...,” gumam Ryan setiap dia menyeruput seteguk kopi. Hingga tegukan demi tegukan mengalir dasyat menghangatkan lambung di tengah dingin yang menyerang.


“Mas mau lihat dari atas nggak?” ajak Rani sambil menunjukkan jarinya ke arah puncak perbukitan.


“Ayo!” Ryan langsung berjalan menuju mobil Jeep yang biasa digunakan Papa Wisnu dulu setiap memantau perkebunan.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, mereka pun segera menikmati keseruan berwisa alam gratis. Bahkan sesekali mereka berteriak lepas, ketika adrenalin mereka benar-benar diuji dengan medan jalan yang terjal, menanjak serta tikungan tajam yang harus mereka lewati. Untung perkebunan punya supir yang sudah terbiasa melewati medan semacam ini. Jika Ryan harus mengemudikan Jeep itu sendiri, mungkin akan berhenti di tengah jalan dan dijamin tidak akan bisa pulang lagi.


***


Akhirnya mereka memutuskan pulang begitu matahari mulai menunjukkan teriknya. Kunjungan pertama ke perkebunan hari itu, ternyata menyisakan pemikiran besar di benak Ryan. Dia terus memutar otaknya, bagaimana dirinya yang notabene tidak mempunyai basic di bidang pertanian bisa menjalankan amanah sang mertua untuk meneruskan mengelola perkebunan. Hingga setelah melewati lamunan yang panjang, akhirnya sebuah ide cemerlang tiba-tiba membangkitkan semangat dalam dirinya yang hampir saja hilang.


“Mas tahu caranya,” tiba-tiba Ryan menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya, kemudian beranjak dan meraih laptop yang ada di meja kamarnya. Tak lama, Ryan sudah terlihat asyik memainkan laptop di pangkuannya.


“Apa?” Rani yang masih duduk malas sambil bersandar di kepala ranjang sambil memainkan handphone-nya, ikut bangkit dan duduk di sebelah suaminya.


Jiwa seorang pengusaha yang telah melekat pada diri Ryan membuat isi otaknya tak bisa jauh dari pemikiran bisnis dan dunia dagang. Apalagi ditambah background pendidikan Ryan yang merupakan seorang magister perencanaan tata kota, membuat perkebunan kopi yang selama ini dikelola dengan sangat sederhana oleh keluarga mertuanya menjadi sebuah peluang usaha yang menjanjikan.


“Kita bisa membuat perkebunan kita menjadi tempat wisata, Sayang. Jadi selain hasil panen kopi yang kita dapatkan, kita bisa mengambil keuntungan dengan panorama yang indah, medan yang terjal, juga edukasi dari tanaman kopi yang bisa kita jual,” jelas Ryan dengan semangat yang membara.


“Maksud Mas Ryan?” Rani tidak mengerti.


“Kita bisa membuka wisata alam sekaligus wisata edukasi di perkebunan kita. Kita sediakan mobil Jeep sebagai armada yang akan mengantarkan wisatawan dari bawah sampai ke puncak bukit. Di sepanjang perjalanan, kita hanya butuh guide untuk bisa memberikan edukasi sepanjang perjalanan mereka menikmati hamparan kebun kopi. Setelah mereka sampai di puncak, mereka bisa menikmati secangkir kopi panas. Mantab kan?” Ryan mengutarakan konsepnya dengan menggebu-gebu.


“Modalnya? Besar banget kan? Bukannya kita harus membangun jalan mengitari sepanjang bukit? Belum lagi mobil Jeepnya? Cafe di puncaknya?” seperti biasa, mulut bawel Rani nerocos tidak terkendali.

__ADS_1


“Konsep kita wisata alam, wisata adrenalin, dan wisata edukasi. Jalan biarkan tetap seperti itu, karena semakin medannya menantang akan semakin bagus. Untuk Jeepnya? Kita bisa bekerja sama dengan seluruh komunitas Jeep di kota ini jika perlu. Kita pakai sistem bagi hasil untuk keuntungan dari penyewa. Guide? Kita bayar mereka berdasarkan tamu yang mereka layani. Jadi kita cukup membangun area parkir, tempat ticketing, toilet dan Cafe di atas bukit,” tutur Ryan dengan semangat yang tak juga surut.


Rani hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda mengerti. Meskipun dalam benaknya dia masih kepikiran terkait masalah modal. Dia benar-benar tak mempunyai simpanan dalam jumlah besar untuk saat ini. Mengingat gajinya yang sebenarnya cukup besar, tapi tak pernah dia simpan karena habis dia bagi-bagikan untuk orang yang membutuhkan.


“Mmm, Mas. Kita tetap butuh modal kan? Untuk membangun itu tidak cukup hanya dengan kita menjual dua mobil kita. Sedangkan Mas Ryan tahu, gaji Rani tak pernah bisa Rani simpan. Sekarang kita hanya bisa pakai dua mobil kita yang tersisa dan ini,” ucap Rani sambil menunjukkan kartu ATM yang diberikan Ryan beberapa waktu yang lalu.


“Jangan bilang ATM itu belum pernah kamu pakai?” tanya Ryan penuh selidik.


“Habisnya Rani tidak butuh apa-apa,” jawab Rani dengan santainya.


“Kita bisa bangun sesuai isi ATM kamu ini saja sementara. Saat ini, dengan ATM kamu itu sudah cukup,” mata Ryan terlihat berbinar.


“Emang berapa isinya?” Rani mengerutkan dahinya.


BERSAMBUNG


❤❤❤


Pembaca setia,

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Kasih vote, like, comment juga favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Terima kasih.


__ADS_2