
Malam kian larut, namun Lena tak juga bisa memejamkan matanya. Bahkan Arya yang sedari tadi menemaninya pun kini sudah terlelap, dengan dengkuran kecil yang terdengar di rongga telinganya.
Lena mengangkat tangan Arya yang masih melingkar manis di perutnya, kemudian beranjak menuju balkon dan bersandar di pagar pembatas sambil memandangi garis batas cakrawala. Dia terus teringat dengan apa yang dikatakan Bunda kepadanya tentang kemunculan ibu kandungnya yang tiba-tiba. Karena itulah dia terus terjaga, dan diliputi kesedihan yang tak mampu dihilangkan dari hati dan benaknya. Padahal, malam ini rembulan menyapa dengan keindahannya yang luar biasa. Bintang pun berkedip-kedip manja mengajak bicara.
Tapi rasa nyeri masih saja hinggap dalam hatinya. Bahkan malam yang indah itu terasa begitu gelap bagi Lena, seperti apapun dia berusaha untuk melupakan kesedihan di hatinya.
"Sayang, kau terbangun atau belum tidur?" tiba-tiba Arya memeluk Lena dari belakang. Rupanya pria tampan itu terbangun, begitu istri kesayangannya tak lagi berada di sampingnya.
"Kak Tama, tolong terus peluk Deeba dan jangan lepaskan pelukanmu," Lena membalikkan tubuhnya dan menghambur ke arah suaminya. Arya pun memeluk istrinya dengan erat, berharap dengan begitu beban berat di hati istrinya bisa sedikit berkurang.
"Deeba harus bagaimana, Kak? Apa Deeba salah ketika Deeba membencinya? Apa Deeba salah kalau Deeba tak bisa menerima kehadirannya setelah semua hal yang telah dilakukannya?" air mata Lena tumpah.
"Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Begitu juga dengan ibu kandungmu, Sayang. Kita tak pernah tahu sesulit apa kondisinya hingga tega meninggalkanmu di panti asuhan itu. Walaupun apa yang kau rasakan itu sangat wajar, tapi tak ada salahnya jika semua penjelasannya kau dengarkan," tutur Arya lembut. Dia terus menghujani ujung kepala istrinya dengan kecupan bertubi-tubi untuk menguatkan hatinya.
"Terus Deeba harus bagaimana?" tanya Lena masih tergugu.
"Ijinkan aku untuk mencari tahu tentang dirinya dulu, sebelum kau putuskan untuk menerima permintaannya untuk bertemu. Setelah info itu aku dapatkan untukmu, baru kau bisa putuskan apa yang harus kau lakukan dan bagaimana kau harus memperlakukan ibumu," jawab Arya sambil merenggangkan pelukannya, kemudian memegang dua pipi istrinya dengan kedua tangannya. Mereka pun saling menatap selama beberapa saat, sebelum akhirnya Lena mengangguk dan yakin dengan ucapan Arya.
"Kalau begitu tenangkan hatimu dan tidurlah. Besok aku akan mulai mencari tahu," ucap Arya sambil membopong tubuh Lena dan membaringkannya di tempat tidur mereka.
Akhirnya, Lena pun tertidur dalam pelukan suaminya, hingga pagi datang menyapa mereka.
***
__ADS_1
Pagi itu, Arya sudah menunggu di ruang kerja Ryan dengan perasaan gelisah. Dia berdiri mematung di depan jendela, tepat setelah membuka tirai yang menghalanginya tuk bisa menatap dunia dengan lepas.
Begitu tirai terbuka, pesona alam pun segera di tangkap oleh netranya. Namun, hari itu tak seindah biasanya. Suram, hanya itu yang mampu dirasakannya. Sang surya pun bersembunyi dibalik hitamnya awan yang pekat, sepekat kopi yang sempat dia minum menemani sepotong roti hari ini.
Ya. Pagi ini gumpalan kapas hitam terus menggelayut manja, seperti hati Arya yang mendung karena kegelisahan hatinya. Cahaya cerah pun enggan datang, membuat jiwa-jiwa yang sedang menatapnya terasa berat beranjak dari peraduannya.
Tak lama, rintik gerimis datang menambah syahdu hati Arya yang sedang pilu. Bibirnya pun terasa kelu, hingga sebait do'a saja yang mampu dia ucap, semoga kabar itu segera dia dapat.
Ceklek.
Terdengar suara pintu terbuka. Sedetik kemudian, Ryan masuk ke dalam ruangan diikuti Rudi yang mengikutinya dari belakang.
"Mana Johan?" Arya menatap Rudi dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Namun belum sempat Rudi menjawab, tiba-tiba Johan masuk dengan beberapa lembar kertas di tangan yang menyimpan jawaban yang telah semalaman dia nantikan.
"Bagaimana? Apakah kalian sudah mendapatkan data yang aku minta?" Ryan membuka percakapan.
"Kami sudah mengantongi satu nama, Tuan. Dan bisa dipastikan bahwa dia adalah ibu kandung dari Nona Lena," lapor Rudi sambil memandang ke arah Johan.
"Benar, Tuan. Bahkan selama satu bulan terakhir, perempuan itu selalu membuntuti kemanapun Nona Lena pergi," sahut Johan membenarkan.
"Semua data tentang ibu itu sudah kami sertakan dalam berkas ini," Johan memberikan beberapa lembar kertas kepada Ryan.
__ADS_1
Ryan terlihat mengerutkan dahinya, membaca beberapa lembar kertas yang baru saja dia terima. Bahkan ketika dia membaca satu nama dan beberapa foto seorang wanita yang berada di dalamnya, seketika dia membulatkan mata, mulutnya pun sedikit menganga.
Arya yang melihat ekspresi Ryan merebut kertas itu dengan tak sabar. Di ejanya satu per satu kata yang tertera di sana, dia amati juga lembaran demi lembaran foto yang terpampang nyata tanpa ada rekayasa.
"Kalian yakin, ini semua sudah benar?" Arya memandang ke arah Rudi dan Johan, sekedar untuk memastikan.
Yang di pandang hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Tapi bagaimana mungkin? Bukankah putranya seusia istriku? Logikanya, jika putranya saja seusia Rani, maka seharusnya Lena lebih tua dari mereka. Padahal kan kenyataannya mereka bertiga lahir di tahun yang sama," tutur Ryan ragu.
"Putra yang dibesarkannya itu adalah anak sambung, tepatnya anak yang dia dapat dari suaminya. Mereka menikah begitu putranya usia tiga bulan, paska ibu kandungnya meninggal saat melahirkannya," jawab Johan sambil menunjukkan dua buah foto. Satu foto ibu kandung Lena saat menikah, dan satu lagi foto suami dari ibu kandung Lena saat menikah dengan istri pertamanya.
Ryan terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, mencoba mencerna setiap perkataan Johan dan Rudi kepadanya, juga melihat data lengkap yang kini tepat berada di hadapannya.
"Lalu apakah kalian bisa mengorek informasi, kenapa dia meninggalkan Lena begitu saja di panti asuhan itu?" cecar Arya dengan begitu penasarannya.
"Kami tidak bisa mengorek dari siapapun terkait hal itu. Yang jelas, sebelum menikah dengan suaminya, dia menjalin hubungan dengan seseorang, yang kebetulan saat ini sudah meninggal. Dugaan kami untuk sementara, kelihatannya motifnya motif ekonomi, karena jika dilihat dari background keluarganya, dia berasal dari keluarga yang tak punya apa-apa. Ditambah lagi kemungkinan besar dia hamil di luar nikah, membuat dorongan untuk membuang putrinya sedemikian kuat," jelas Johan panjang lebar.
"Apa kau bisa pastikan, Jo?" tanya Ryan lagi.
"Saya sudah menghubunginya dan meminta dia menemui Anda satu jam lagi ke tempat ini," Rudi menimpali.
Ryan dan Arya hanya mengangguk pelan, tanpa protes sama sekali. Meskipun Rudi dan Johan terkesan lancang karena tak meminta izin dulu sebelum meminta ibu kandung Lena datang, tapi mereka benar-benar tahu apa yang memang Ryan dan Arya inginkan.
__ADS_1
Siapakah wanita itu?
BERSAMBUNG