
Suasana tiba-tiba hening, diantara ribuan resah yang kini memporak-porandakan keberanian hati seorang Safira di depan putri kandung yang telah dia campakkan begitu saja. Kini, hanya sepi yang mampu berbicara, mengatakan bahwa kerinduan itu sudah kian membuncah di hatinya.
"Baiklah, Tante. Rasanya baru kemarin kita bertemu di Cafe itu. Ada apakah gerangan hingga Tante ingin bertemu dan berbicara denganku?" Lena mulai berbicara, dengan gaya seorang pengacara yang sangat khas, meskipun setahun sudah dia resmi meninggalkan profesi itu dalam hidupnya.
Mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Lena, gejolak di hati Safira kian meronta. Dia pun mau tak mau harus menelan salivanya terlebih dahulu, sebelum kata-kata itu benar-benar keluar dan merubah suasana ruangan itu.
"Nak ...," lidah Safira terasa begitu kelu. Sementara Lena, hanya mengerutkan dahinya mendengar perkataan Safira yang tak kunjung sampai ke telinganya.
"Tante ...," Safira belum juga mampu melanjutkan kalimat, yang sebenarnya sudah sangat ingin dia katakan kepada putri kandung yang sudah sangat dirindukannya. Bahkan walau kini jarak mereka begitu dekat, Safira merasa bahwa mereka dipisahkan dengan jarak yang sedemikian jauhnya.
"Iya, Tante. Ada yang bisa Lena bantu?" berjuta tanya kini berseliweran di benak Lena.
Safira kembali terdiam. Dia mencoba melihat ke arah Arya, sebuah anggukan dari kepalanya seolah mengisyaratkan agar Safira melanjutkan perkataannya.
"Tante adalah ibu kandungmu," kata-kata yang akhirnya keluar dari mulut Safira, bagai petir yang menyambar di telinga Lena.
"Tidak mungkin. Tante pasti berbohong. Kak Tama, katakan bahwa apa yang Tante Safira katakan tidak benar, Kak. Katakan!" Lena berteriak histeris sambil mengguncang tubuh suaminya.
"Ini Ibu Nak, Ibu tidak berbohong," Safira berusaha mendekat dan meraih tangan Lena.
Dengan spontan, Lena menghempaskan tangan itu begitu saja, hingga sontak membuat Safira tergugu sambil memegangi mulutnya.
__ADS_1
"Nak, maafkan Ibu," Safira mencoba meraih tangan putrinya lagi, tapi Lena justru berdiri, hendak meninggalkan tempat itu.
Arya ikut berdiri. Seketika dia menarik tubuh istrinya dan mendekapnya dengan erat. Lena pun menangis sejadi-jadinya dalam pelukan suaminya. Safira yang menyaksikan betapa putri kandungnya benar-benar tak menginginkan kehadirannya itu pun hanya bisa menumpahkan kesedihannya dengan linangan air mata. Dia kembali duduk di tempat semula, membiarkan putrinya meluapkan semua emosinya hingga dia bisa diajak bicara.
"By," dari kursi Presdir, Rani menatap Ryan seolah meminta suaminya itu untuk turun tangan.
"Tidak untuk yang satu ini, Sayang. Sama seperti waktu itu kita tidak memaksa Daniel untuk menerima Om Arsen, kali ini juga kita harus membiarkan Lena mengambil keputusannya sendiri. Kita tidak punya hak untuk memaksakan hatinya, bahkan Arya yang notabene adalah suaminya pun tak akan memaksa Lena untuk menerima ibu kandungnya," bisik Ryan, yang akhirnya dijawab dengan anggukan oleh Rani.
Selama beberapa lama, Lena terus menangis di pelukan Arya. Bahkan kini Arya membawa Lena kembali duduk, meski tak juga mau melepaskan pelukannya.
"Menangislah jika itu bisa mengurangi beban dan kesedihan di hatimu, Sayang. Tapi sebagai seorang suami, aku hanya bisa bilang. Dengarkan penjelasannya dulu, sekali ini saja. Setelah kau mendengar semuanya, kau berhak menerima ataupun menolaknya. Beliau sudah berjanji, setelah ini tak akan mengganggumu lagi jika memang kau tak mau menerima kehadirannya dalam hidupmu kembali," ucap Arya, begitu tangis Lena mulai mereda.
Lena hanya terdiam. Dia terus menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang suaminya. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya, tidak mempersilahkan Safira berbicara, tapi tak juga menolak penjelasan yang akan Safira sampaikan kepadanya. Hingga begitu mendapatkan isyarat dari Arya, Safira pun mulai bercerita.
"Hingga suatu saat, Ibu kenal dengan seorang pria dan singkat cerita kami akhirnya saling jatuh cinta. Kami pun menjalin hubungan dengan serius, walau waktu itu usia Ibu masih sangat muda. Hingga pada suatu malam, hal terlarang itu pun terjadi. Ibu dan ayahmu melakukan hubungan yang seharusnya belum boleh kami lakukan tanpa ikatan pernikahan. Waktu itu kami betul-betul khilaf, dan kami tersadar ketika semua itu sudah terlanjur kami lakukan," Safira terus melanjutkan ceritanya sambil sesekali menyeka air mata yang terus meleleh di pipinya. Sementara Lena masih terus mendekap erat tubuh suaminya.
"Ayahmu bukan tipikal orang yang melepaskan tanggung jawab dan lari dari semua kesalahan yang telah dia lakukan. Karena itulah dia berjanji akan menikahi Ibu begitu Ibu lulus, dua bulan setelah hal itu kami lakukan. Waktu itu Ibu percaya, karena Ibu tahu betul sifat ayahmu seperti apa. Dia tidak mungkin meninggalkan Ibu begitu saja, walaupun Ibu tahu keluarganya sangat menentang keputusannya, dan ingin ayahmu menikah dengan seorang gadis yang kaya raya seperti keluarganya," Safira masih melanjutkan ceritanya, walau Isak tangis kini tak mampu lagi ditahannya.
"Dan dia tak mengingkari janjinya. Begitu Ibu lulus, dia datang ke rumah dan melamar ibu di hadapan nenek dan kakekmu. Tapi saat itu, tiba-tiba orang tuanya datang ke rumah dan mengancam jika ayamu menikahi Ibu, dia akan dicoret dari daftar ahli waris," suara Safira tiba-tiba tercekat. Matanya semakin memanas, air matanya pun menganak sungai mengingat kisah pilu dalam hidupnya.
"Sampai disitu, Ibu mengira bahwa ayahmu akan meninggalkan Ibu dan pulang bersama orang tuanya. Tapi Ibu salah. Ayahmu memilih Ibu dan meninggalkan orang tuanya di rumah Ibu begitu saja. Teriakan dan cacian dari kedua orang tuanya pun tak dia hiraukan, hingga kami berdua tetap pergi menjauh tanpa menoleh lagi ke belakang. Kami terus berlari sepanjang jalan, takut jika orang tuanya juga anak buahnya mengejar. Hingga sampai di ujung jalan, terlihat sebuah mobil menuju ke arah kami dengan sangat kencang. Melihat itu, dengan spontan ayahmu mendorong Ibu ke tepi jalan, hingga ayahmulah yang akhirnya tertabrak mobil itu tanpa bisa dihindarkan. Dan hari itu, menjadi hari terakhir Ibu melihatnya, Nak. Karna ayahmu meninggal setelah kejadian itu. Bahkan dia meninggal sebelum dia tahu bahwa sudah ada kamu di dalam perut ibu," Safira tergugu. Bahkan Rani yang mendengar cerita Safira dari meja suaminya itu pun ikut menangis sambil mendekap erat Ryan seolah tak ingin hal buruk terjadi pada dirinya seperti kisah cinta wanita paruh baya yang kini ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Waktu itu Ibu tak lagi bisa berpikir jernih. Orang tua ibu pun akhirnya sakit-sakitan merasakan derita yang mendalam, selain rasa malu akibat kehamilan Ibu yang sungguh tak mereka inginkan. Hingga lima bulan setelah ayahmu meninggal, kakekmu pun meninggal. Tidak sampai di situ, akhirnya nenekmu pun menyusul suaminya dua minggu setelah kakekmu berpulang. Melihat perut Ibu yang semakin tak bisa disembunyikan, Ibu pun dikucilkan. Bahkan warga sekitar berbondong-bondong mengusir Ibu karena menganggap Ibu wanita hina yang tak pantas untuk diberi belas kasihan," Safira menghela nafas panjang.
"Dengan usia kandungan Ibu yang menginjak sembilan bulan, Ibu pun meninggalkan rumah dan berjalan tanpa tujuan. Banyak rumah mewah yang Ibu sambangi, siapa tahu mereka bisa menerima Ibu dan memberikan Ibu pekerjaan, tapi tak ada satu pun yang mau menerima seorang pembantu dengan perut yang membesar. Mereka semua berpikir, bahwa jika Ibu mereka beri pekerjaan, yang ada pasti Ibu dan anak Ibu hanya akan merepotkan. Tak ada satupun yang membantu, akhirnya Ibu terus berjalan dengan tujuan yang tak tentu. Hingga tiba-tiba, perut Ibu terasa sakit tak tertahan. Ibu minta tolong barangkali ada yang mendengar, tapi nihil. Tak ada seorang pun yang mendengar Ibu, karena malam itu Ibu berada di jalan yang sangat jauh dari perkampungan. Mau tak mau, dengan susah payah Ibu melahirkanmu seorang diri di semak belukar," lanjut Safira, air matanya pun terus tumpah tanpa bisa dibendungnya.
"Hanya karena pertolongan Allahlah kamu bisa lahir ke dunia, Nak. Dan disitulah Ibu berpikir, bahwa kamu akan terus menderita jika hidup bersama Ibu tanpa tahu kita akan tinggal dimana dan harus makan apa. Karena itulah Ibu segera membedongmu dengan kain seadanya dan mulai berniat meninggalkanmu pada salah satu orang kaya. Setelah Ibu sedikit bertenaga, akhirnya Ibu berjalan dan membawamu tanpa tahu harus kemana. Hingga waktu itu, yang Ibu lihat pertama kali adalah panti asuhan itu. Ibu pun tak berpikir panjang. Dengan berat hati, Ibu meninggalkanmu hanya dengan selembar kain dan sebuah liontin pemberian dari ayahmu," Safira membuang nafas kasar.
"Kamu tahu betapa hancurnya hati Ibu saat mengetuk pintu panti asuhan itu kemudian berlari dan bersembunyi sambil melihat Bunda mengambilmu, Nak? Perasaan Ibu benar-benar sakit bagai ditusuk jutaan sembilu. Tapi demi masa depanmu, Ibu tetap harus mengambil pilihan itu," kini Safira memberanikan diri untuk menatap putrinya yang masih diam seribu bahasa, tanpa mau menatapnya.
"Dan selanjutnya apa? Tante mau bilang, setelah membuangku, Tante mendapatkan seorang pria kaya dan menjadi istrinya? Bahkan setelah menjadi wanita kaya raya dan hidup bergelimang harta, Tante melupakan aku begitu saja. Benar begitu kan?" sela Lena masih dengan Isak tangisnya. Rani yang melihat saudara perempuannya begitu larut dalam kesedihan pun, ingin beranjak dan menenangkannya, tapi sekali lagi Ryan mencegahnya dan membuat Rani tetap duduk manis dalam pangkuannya.
"Sssttt, Sayang. Biarkan dia selesaikan ceritanya dulu," Arya berusaha menenangkan.
"Cukup, Kak. Deeba tak mau dengar lagi apapun ceritanya. Semua yang dia ceritakan itu adalah cerita klasik yang digunakan untuk membela diri setiap ibu yang tega membuang dan meninggalkan anaknya begitu saja. Dia tak pernah bisa merasakan apa yang Deeba rasa, Kak. Dia tak pernah tahu bagaimana menderitanya Deeba," kali ini Lena benar-benar beranjak dan berlari secepat yang dia bisa.
Safira yang tidak menduga kalau reaksi Lena akan seperti itu pun ikut berdiri dan hendak mengejarnya, tapi Arya mencegahnya.
"Biarkan dia, Bu. Dia butuh sendiri untuk memikirkan semuanya," cegah Arya, membiarkan Lena pergi begitu saja.
"Tapi Ibu takut, Nak," sahut Safira dengan nada khawatir yang tak bisa disembunyikannya.
"Tenanglah, Bu. Biar aku yang mengurusnya. Tolong Ibu pulanglah dulu, setelah dia tenang, Ibu bisa kembali menjelaskan kenapa Ibu baru sekarang datang," Arya mencoba memberi pengertian.
__ADS_1
BERSAMBUNG