METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Aksi Gila


__ADS_3

Ryan beserta seluruh sahabat dan anak buahnya, memutuskan untuk mencari Rani melalui jalur darat, bukan udara. Kenapa? Bukankah menggunakan helikopter akan jauh lebih cepat dari pada menggunakan mobil biasa?


Itulah kelicikan Felix Adinata. Dia membuat seolah-olah Rani berada di beberapa pulau sekaligus yang letaknya sangat jauh dari mereka, sehingga paling mungkin dijangkau dengan sebuah helikopter. Tapi nyatanya, pegunungan yang dia gunakan untuk menyembunyikan Rani terletak di kota yang sama dengan kota yang mereka tempati saat ini.


"Sebenarnya kita bisa lebih cepat lagi jika menggunakan Heli," oceh Arya spontan.


"Dan kita akan gagal menyelamatkan Rani, karena dengan mudah mereka akan bisa melacak dan menemukan radar pesawat yang kita naiki. Kita lebih memilih menggunakan mobil bukannya tanpa alasan, Arya. Selain agar kedatangan kita tidak bisa mereka ketahui, kita juga butuh pasukan untuk melawan mereka yang sudah pasti juga besar jumlahnya. Kalau kita datang terlebih dahulu melalui jalur udara, sementara anak buah kita menyusul lewat jalur darat setelah beberapa lama, bukankah kita bunuh diri namanya?" oceh Daniel, menanggapi cuitan Arya yang sedari tadi protes kenapa mereka lebih memilih jalur darat bukannya udara.


"Kalau kau tak bisa menyetir lebih kencang lagi, bilang saja. Tak usah pakai alasan harusnya kita pakai helikopter segala," Ryan menimpali dengan ekspresi sangat datar.


"Bukan begitu, aku hanya sedang mengkhawatirkan istrimu," sahut Arya masih terus fokus dengan setir yang sedang dikendalikannya.


"Kalau begitu lebih cepat lagi, Ar. Aku tak mau kita terlambat. Rani pasti sudah sangat ketakutan sekarang," titah Ryan, ingin Arya menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam lagi dan lagi.


"Kau ingin menyelamatkan istrimu apa mau bunuh diri, woy? Kau tak lihat aku sudah melajukan mobil ini dengan kecepatan super tinggi?" gerutu Arya, merasa sudah mengendarai mobilnya dengan kecepatan paling tinggi.


"Huh, tahu hanya segini kemampuanmu, aku semobil sama Rudi dan Johan saja tadi," Ryan terlihat kesal dengan Arya yang terus beralasan.


"Biar aku yang menyetir saja, Tuan. Bolehkan, Sayang?" Naja yang saat ini duduk di sebelah Arya, menoleh ke belakang dan meminta persetujuan Ryan juga suaminya.


Ryan tak menjawab. Untuk satu hal ini, yang paling berhak atas Naja adalah Daniel, suaminya. Ryan hanya memandang Daniel penuh tanda tanya, hingga akhirnya Daniel pun angkat bicara.


"Kau yakin, Sayang?" Daniel justru mengembalikan bola panas itu ke tangan Naja.


"Tentu saja aku yakin. Kau tak ingat, aku berkali-kali mengalahkanmu untuk urusan balap mobil?" jawab Naja bangga.


"Tunggu-tunggu. Kalian benar-benar meragukan kemampuanku?" Arya mengerucutkan bibirnya.


"Pinggirkan mobilnya, Bawel. Kita lihat, sehebat apa istriku jika dibandingkan dengan kemampuanmu itu," cicit Daniel, menanggapi ocehan Arya.


Arya pun langsung menepikan mobilnya, diiringi arakan mobil para anak buah yang kini sudah berjajar di belakang mereka. Begitu mobil berhenti, Arya pun ke luar dan berpindah ke kursi belakang. Sementara Daniel berpindah ke kursi samping pengemudi, mendampingi Naja yang kini sudah siap menjalankan atraksi dengan mobil yang akan dilajukannya.


"Apakah Anda semua sudah siap, Tuan-Tuan?" Naja langsung menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam, hingga mobil itu langsung melaju kencang.


"Ayo tunjukkan kemampuanmu, Sayang," teriak Daniel, mendapati istrinya begitu mahir mengendarai mobilnya seperti seorang pembalap profesional. Merasakan adrenalinnya yang luar biasa diuji oleh istrinya sendiri, Daniel jadi ingat saat-saat Naja masih bekerja sebagai agen mata-matanya sebelum pengkhianatan yang dilakukannya, dan dia berbalik membela Prabu Dewangga.

__ADS_1


"Suami istri memang sekufu ya?" Arya geleng-geleng kepala sambil berpegangan pada sebuah handel yang terletak di atas jendela mobil yang terletak di sampingnya. Ya, semakin Naja menambah kecepatannya, Arya semakin mengeratkan pegangannya. Sabuk pengaman yang menempel di tubuhnya pun kembali dia periksa, seiring dengan wajahnya yang terlihat semakin pucat saja.


"Ternyata kemampuanmu tak ada apa-apanya jika dibanding kemampuan Naja ya, Ar. Kau benar-benar tak malu, terkalahkan oleh seorang wanita?" cibir Daniel sambil terkekeh menanggapi ocehan Arya.


"Cemen kau, Ar. Lihat mukamu itu lewat spion di depan itu! Kau benar-benar pucat dan terlihat sangat ketakutan," Ryan ikut menimpali.


"Terserah kalian mau bilang apa. Aku lihat Naja sudah seperti tokoh di film action saja. Kau seperti tokoh Letty Ortiz, Istri Dom yang mantan pembalap jalanan kriminal profesional di film Fast & Furious itu, Naja. Yang diperankan oleh Michelle Rodriguez. Benar-benar gila," aku Arya sambil mengeratkan pegangannya.


"Kau mengaku kalah, Tuan?" Naja tergelak dan cukup berbangga dengan ucapan Arya yang membandingkan dirinya dengan tokoh film kesukaannya itu. Bahkan kini tawanya semakin terdengar menggelegar memenuhi seisi ruang mobil itu, ketika Daniel ikut tertawa menimpali kegirangan istrinya. Ya, Daniel memang sedikit khawatir melihat cara istrinya melajukan mobil itu yang terkesan ugal-ugalan. Tapi dia sangat berbangga dengan kemampuan yang dimiliki istri tercintanya, yang sungguh tak dimiliki perempuan lain selain dirinya.


"Apa bisa lebih cepat lagi, Naja?" pinta Ryan, tak peduli dengan ekspresi Arya saat mendengar permintaannya. Sekencang apapun mobil mereka saat itu, memang masih terasa sangat lambat bagi Ryan yang sudah begitu tak sabar untuk segera menemukan istri dan calon bayinya. Bahkan kini pikirannya sudah berkecamuk, hatinya sangat gusar memikirkan nasib istrinya yang masih harus merasakan diculik dalam kondisi sedang hamil besar.


"Kau benar-benar sudah gila? Kau ingin menyelamatkan istrimu atau mengantarkan nyawamu? Jangan dengarkan dia, Naja! Sudah cukup segini saja, atau pencarian kita malam ini akan sia-sia," wajah Arya semakin pucat saja.


"Turunkan dia di sini, Naja! Dasar pengganggu. Turun jika kau memang setakut itu!" Ryan menimpali, membuat Arya diam seketika. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya pasrah dan berdo'a, semoga mereka bisa selamat sampai di tempat tujuan mereka.


Naja dan Daniel hanya terkekeh, melihat Arya yang kini tak bersuara lagi.


"Tahu kamu selemah ini, dulu aku tak akan memperhitungkanmu sebagai musuh besarku," oceh Daniel dengan nada mengejek. Ingatannya langsung kembali pada saat dimana Arya selalu berada di barisan terdepan untuk menggagalkan rencana jahatnya kepada Ryan dan seluruh keluarga Prabu Dewangga.


"Kalau begitu buktikan, Ar!" Daniel menantang Arya.


"Ayo kau tunjukkan aksi lebih gila dari pada ini, Sayang! Tancapppp!" titah Daniel lagi, yang disambut sangat baik oleh Naja. Dengan semangat empat lima, Naja segera menginjak pedal gas mobilnya semakin dalam, hingga mobilnya melaju semakin kencang.


Arya hanya memejamkan mata, mendapati sahabat-sahabatnya yang kini semakin menggila. Jika bukan karena dia mengingat Rani dan Ryan yang sekarang sedang membutuhkan bukti kesetiaannya, sudah pasti dia memilih turun dan berpindah mobil agar tak perlu mempertaruhkan nyawanya sebelum berada di medan perang yang sebenarnya.


"Nggak suami, nggak istri, sama gilanya," gerutu Arya lirih.


"Dari pada kamu. Garang di luar, ternyata cemen urusan beginian," Ryan yang sedari tadi diam pun tak tahan untuk tidak berkomentar.


Daniel dan Naja tak menghiraukan ocehan kedua orang di belakangnya. Mereka justru semakin menikmati kegilaan mereka yang sama-sama semakin menjadi saja. Sudah lama mereka tak menjadi preman jalanan, sejak mereka menikah. Ya, ikatan pernikahan di antara mereka membuat cerita cinta itu terasa romantis sepanjang masa, namun menghilangkan sisi-sisi urakan yang selama ini melekat pada diri mereka. Dan aksi Naja kali ini, rupanya benar-benar menghilangkan kerinduan mereka akan kenangan indah di masa silam.


"Mari kita bermain-main, Sayang!" seru Naja saat mobil yang dibawanya harus berjalan zig-zag demi menyelip sekaligus berpapasan dengan mobil lain di depan mereka.


"Yuuuhuuu," teriak Daniel, menyambut aksi Naja dengan begitu girangnya.

__ADS_1


Jarak yang seharusnya mereka tempuh dalam waktu kurang lebih dua jam pun berhasil Naja lalui hanya dalam waktu empat puluh lima menit. Ya, ketiga pria di dalam mobil itu mengakui kehebatan Naja untuk urusan yang satu ini. Bahkan tak lebih dari separoh dari jumlah mobil anak buahnya yang berhasil mengikutinya. Sisanya tertinggal jauh di belakang, dan berusaha sekencang yang mereka bisa untuk menyusul Naja dengan segera.


Hingga setelah mobil mereka menghabiskan jalan menanjak yang lumayan panjang, Naja berhenti di sebuah tanah lapang yang cukup jauh dengan jarak istana yang sengaja dibangun Felix untuk wanita tercinta yang sedang disekapnya.


"Apakah ini jarak aman, Naja?" Ryan mencoba mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


"Saya tidak yakin, mereka tidak memasang CCTV sampai ke tempat ini, Tuan. Tapi setidaknya, di jarak ini kita bisa memantau semua aktivitas mereka. Seandainya kita ketahuan dan mereka berusaha memindahkan Nona sekalipun, dengan mudah kita bisa langsung mengejarnya," jawab Naja, sambil mengeluarkan alat pengintai jarak jauh, yang menggunakan sinar laser untuk menuju obyek yang diintainya. Dengan menggunakan alat itu, Naja bisa melihat seberapa banyak musuh yang sedang menghadang di depan mereka.


"Terlalu beresiko jika kita masuk, tanpa meretas CCTV dan sistem keamanan mereka, Tuan. Jika Anda berkenan, beri waktu saya sebentar untuk meretas sistem keamanan dan CCTV yang mereka pasang," Naja menatap Ryan, Daniel dan Arya secara bergantian.


"Sepertinya tidak ada pilihan lain. Lagi pula anak buah kita masih tertinggal jauh di belakang, kita harus menunggu mereka untuk menghadapi jumlah mereka yang sedemikian besar," Arya menimpali, disambut anggukan bersamaan dari kepala Daniel dan juga Ryan.


Tak butuh waktu lama bagi Naja untuk bisa meretas CCTV dan sistem keamanan mereka. Dalam sekejab, seluruh kondisi di dalam istana itupun langsung bisa terlihat jelas dengan mata dan kepala mereka.


"Semua terlihat jelas, tapi dimana Rani disembunyikan?" Daniel mengerutkan dahinya.


"Felix juga tidak kelihatan berada di manapun," Arya menimpali.


Mereka berempat pun berpikir keras sambil memperhatikan setiap sisi baik di dalam maupun di luar istana yang terlihat melalui rekaman CCTV itu, namun tak ada satu pun tanda-tanda ada Felix ataupun Rani yang mereka sekap di sana.


"Mungkinkah tebakan Zara salah? Bisa jadi Felix tak membawa Rani ke tempat ini," Ryan semakin gusar. Jika Rani memang tidak di tempat itu, artinya mereka harus mencari Rani mulai dari nol lagi.


"Tunggu, Tuan. Tidakkah kita fokuskan pencarian kita di kamar itu saja?" Naja menunjuk sebuah gambar yang menunjukkan banyaknya pengawal yang berjaga di depan sebuah ruang.


"Tampilkan keadaan di dalam ruangan itu, Naja!" titah Ryan, kembali fokus pada layar laptop yang sedang diutak-atik Naja.


"Tidak bisa, Tuan. Rupanya Felix tak memasang CCTV khusus untuk ruang itu, tak seperti ruangan yang lainnya," sahut Naja sambil memeriksa sekali lagi layar laptop di depannya.


"Tidak salah lagi, Yan. Pasti Rani dia sekap di dalam sana," ucap Daniel meyakinkan.


"Jika Rani sedang di sekap di ruang itu, dimana Felix? Atau jangan-jangan dia sedang bersama Rani di dalam sana? Ya ampun, apa yang sedang Felix lakukan?" Arya nerocos tanpa mempedulikan ekspresi Ryan yang sudah berubah sangat marah, mendengar apa yang dia ucap barusan.


"Aku tak akan membiarkan dia menyentuh istriku seujung kuku pun," seru Ryan, langsung turun dari dalam mobil dan berjalan mendekati bangunan megah yang berdiri tinggi menjulang.


"Tunggu, Yan! Terlalu berbahaya jika kamu ke sana sekarang!" Daniel berusaha mengejar Ryan, sementara matanya menatap ke arah Arya dengan tatapan kesal.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2