METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Mandi Kucing


__ADS_3

Lain Rani, lain pula dengan Fisha. Lain di hati Ryan, lain pula apa yang Hengky rasakan. Berbeda dengan Ryan yang langsung memperjelas bagaimana kondisi hatinya sekarang, Fisha justru memilih untuk diam. Ya, selama di rumah sakit menemani Nyonya Atmaja, hanya mama mertuanya saja yang selalu dia perhatikan. Fisha sama sekali tidak berani melihat bagaimana ekspresi Hengky sekarang, paska pertemuannya dengan perempuan yang masih menjadi pujaan.


Hingga malam tiba dan mereka pulang, Fisha masih saja terdiam. Bahkan kini ketika mereka dalam perjalanan pulang, Fisha memilih untuk berpura-pura tidur di kursi penumpang demi menghindari sebuah pembicaraan.


Hengky yang cukup memahami bagaimana kondisi hati Fisha pun tak berusaha untuk menjelaskan. Biar bagaimana pun, saat bertemu dengan Rani siang tadi itu, kondisi hati Hengky memang belum sepenuhnya bisa dikendalikan.


Begitu mobil terpakir cantik di kediaman mereka pun, Hengky tak berusaha membangunkan Fisha. Hengky justru memilih untuk menggendong tubuh Fisha hingga masuk ke dalam kamar. Setelah membaringkan istri kecilnya itu, Hengky mengecup keningnya dan merapatkan selimut agar Fisha bisa tidur lebih nyaman.


Sedetik kemudian, Hengky masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dan mengenakan celana pendek di atas lutut warna hitam lengkap dengan T-shirt warna senada, Hengky pun membaringkan tubuhnya di samping istrinya, sesaat setelah ikut masuk dalam selimut yang kini menutupi sebagian tubuhnya.


Hengky memiringkan tubuhnya, menghadap Fisha yang masih terus memejamkan mata. Kini tangan kanannya melingkar manis di perut istrinya.


"Aku tahu kau berpura-pura tidur, Sayang," Hengky mendekatkan wajahnya ke wajah Fisha, hingga nafasnya yang mulai tersengal bisa langsung Fisha rasakan.


"Huh, kenapa suamiku ini tahu kalau aku berpura-pura tidur sih?" batin Fisha dalam hati.


Fisha bertahan. Pantang baginya langsung terbangun dan membenarkan apa yang suaminya ucapkan.


"Ayolah, apa kamu tidak mau mandi?" cicit Hengky sekali lagi.


Fisha tidak bergeming. Dia tetap memejamkan mata dalam diam.


"Ehh, tidur beneran ya? Ya sudah kalau kamu tidur akan aku mandikan. Tapi mandi kucing ya, Sayang. Kamu tahu seperti apa itu mandi kucing? Ya. Mandi kucing itu mandi seperti kucing. Dia hanya menjilati tubuhnya saja, tidak memerlukan air. Begitu juga yang akan aku lakukan sekarang. Aku akan menj***ti seluruh tubuhmu sampai bersih," Hengky melakukan monolog.


"Mandi kucing? Jijik banget. Pasti modus aja itu Mas Hengky," gerutu Fisha dalam hati.


Melihat istrinya yang masih kekeh tidak mau membuka mata, Hengky pun mengambil inisiatif.


Hengky mengambil posisi duduk dan melempar selimut yang menutupi tubuh Fisha begitu saja hingga berserakan di lantai. Tak berapa lama, tangannya sudah membuka hijab yang menutupi mahkota Fisha, hingga wajah cantiknya semakin terpancar dengan rambut hitam yang terurai asal.


Dari hijab, tangan Hengky beralih pada resleting di punggung Fisha yang menjadi satu-satunya pengait antara tubuh Fisha dengan gamis yang dipakainya.

__ADS_1


Namun, sebelum Hengky seratus persen selesai melakukannya, tangan Fisha sudah meraih tangan Hengky hingga dia menghentikan aksinya.


"Mas mau apa?" lirih Fisha.


"Mau memandikanmu. Mandi kucing. He-he-he," Jawab Hengky sambil menghentikan aktifitasnya dan memandang lekat wajah Fisha.


Pertemuan dua mata pun terjadi secara tiba-tiba. Fisha yang tidak ingin rasa cemburunya ketahuan, segera memalingkan muka agar reaksinya tidak mudah terbaca. Namun, sayang sungguh sayang. Hengky terlalu pintar untuk mendapatkan sebuah kebohongan.


Hengky meraih dagu Fisha dan membuatnya kembali menatapnya.


"Kamu cemburu?" tanya Hengky dengan senyum yang begitu terlihat manis dari pandangan Fisha.


Fisha hanya menggeleng pelan, tapi matanya berkaca-kaca tak mampu menahan. Hingga akhirnya, Fisha memilih untuk menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang suaminya dan memeluknya erat, untuk menyembunyikan kesedihannya.


"Heh, dengarkan aku," Hengky berusaha melonggarkan pelukannya, tapi Fisha tak bergeming. Dia justru semakin memeluk Hengky dengan erat sambil tetap menyembunyikan wajahnya


"Rani adalah masa lalu. Sedangkan kamu? Kamu adalah masa depanku," ucap Hengky menenangkan. Kini Hengky mencium ujung kepala Fisha berkali-kali.


"Siapa suruh kau membandingkan dirimu dengan dia, heh?" Hengky mengeratkan pelukannya kembali.


"Aku tidak. Tapi Mas Hengky itu loh. Mas pasti membandingkan Fisha dengan dia," sahut Fisha masih dengan rengekannya.


"Siapa bilang?" kekeh Hengky.


"Jika tidak, kenapa tadi mas Hengky bisa sampai membulatkan mulut dan mata Mas Hengky seperti itu saat bertemu dengannya?" cecar Fisha penuh harap.


"Aku hanya kaget, Sayang. Ayolah jangan cemburu! Aku sudah jatuh cinta kepadamu sejak pertama kali kita bertemu," ucap Hengky menenangkan.


"Mas Hengky tidak sedang berbohong kan?" Fisha mencari sebuah kepastian.


"Aku mencintaimu kamarin, sekarang dan nanti," sahut Hengky sambil mengecup kening Fisha dengan sayang.

__ADS_1


"Kalau begitu, mari kita lanjutkan mandi kucingnya," Hengky mengerling dengan nakal.


"Ihh, nggak mau. Fisha mau ke kamar mandi saja," jawab Fisha sambil beranjak dari tidurnya.


"Kamu mau kemana, Sayang? Mandi kucing saja, biar aku yang memandikanmu," Hengky menarik tubuh Fisha kembali dan membuat tubuh itu berada dalam kekangannya.


"Mas ...," kini mereka saling bertatapan.


"Hmmm," dilihat dari sorot matanya, Hengky sungguh sudah tak lagi sabar ingin menerkam tubuh mungil itu.


"Jangan tinggalin Fisha. Fisha sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," kini air mata Fisha tergenang, sebelum akhirnya menetes tak bisa dihentikan.


"Tidak akan pernah, Sayang," ucap Hengky sambil menciumi setiap inchi wajah Fisha dengan begitu agresifnya.


"Janji?" tanya Fisha lagi sambil tersengal. Fisha tak mampu lagi menahan diri merasakan perlakuan suaminya yang sudah tak bisa dia kendalikan lagi.


"Hmmm," jawab Hengky singkat. Dia masih terus menikmati setiap jengkal maha karya Sang Pencipta yang sungguh luar biasa.


"Mas, ahhh. Aku bisa kehilangan kewarasanku," Fisha menceracau tak karuan merasakan sensasi mandi kucing yang suaminya suguhkan.


"Ini hukuman untukmu karena telah terlebih dahulu menghilangkan kewarasanku, Sayang," Hengky tak mau kalah. Dia semakin gencar menyerang hingga tasbih, erangan dan desahan kini bercampur menjadi satu memenuhi seluruh sudut kamar yang telah menjadi saksi bisu.


Kegelisahan dan segala kegalauan pun kini terabaikan seiring dengan prosesi mandi kucing yang sedang mereka lakukan. Begitu seterusnya hingga pagi menjelang, seolah tak ada rasa lelah yang mereka rasakan.


"Bagaimana, Sayang? Apakah kau sudah merasakan bagaimana nikmatnya mandi kucing seperti yang aku katakan?" bisik Hengky begitu tubuhnya telah tumbang usai beberapa kali pelepasan.


Fisha tak menjawab. Hanya sebuah pelukan dan muka yang dia sembunyikan dibalik dada bidang Hengky saja yang bisa mengungkapkan.


BERSAMBUNG


♥️♥️♥️

__ADS_1


Rate 5 ya guys.


__ADS_2