METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Dasar Suami Posesif


__ADS_3

Pagi itu, Rani kembali pada aktifitas pekerjaan seperti biasanya. Ditemani Naja, dari kantor dia ingin sekali beralih ke Thalassemia Center walau hanya sebentar saja.


Ya, sekarang Rani tidak bisa berlama-lama beraktifitas di luar. Selain karena semenjak hamil dia jadi mudah merasa kecapekan, dia juga tak enak dengan Naja yang harus mengurus suaminya yang belum bisa hidup normal.


Sebenarnya masalah terbesar Rani adalah, Ryan tidak mengizinkannya untuk pergi sendiri, sehingga akhirnya mau tak mau Rani yang harus pintar-pintar mengatur jadwal, antara aktifitas kantor dan kesibukannya di luar kantor, tanpa membuat Naja melalaikan tugasnya kepada suaminya.


Seperti hari itu. Usai ke luar dari kantornya, Rani lebih memilih untuk minta di temani Ryan ke Thalasemia Center dan meminta Naja untuk pulang menemani Daniel di rumah mereka. Karena Ryan ada meeting, Rani pun tak keberatan saat Ryan meminta dirinya untuk menghampirinya ke perusahaan.


"Kita ke kantor suamiku, setelah itu kau pulang, Naja!" titah Rani kepada Naja. Seperti biasa, Naja selalu menuruti perintah Rani, selama tidak membahayakan keselamatannya.


"Baik, Nona," jawab patuh Naja.


"Sudah kubilang ratusan kali, jangan panggil aku Nona karena sekarang aku adalah kakakmu. Bahkan aku dengan senang hati akan membuatmu lepas dari janji setiamu itu, tapi kau sungguh keras kepala, Naja," gerutu Rani yang merasa tidak nyaman jika Naja masih saja bekerja untuknya, padahal sudah menikah dengan Daniel, si pengusaha kaya raya.


Seperti biasa, Naja hanya terkekeh saja menanggapi ocehan Rani yang selalu sewot jika membicarakan masalah itu.


"Kita sudah terlalu sering membahasnya, Nona," akhirnya Naja menimpali.


"Huh, dasar keras kepala. Suka-suka kamulah," seloroh Rani sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi penumpang yang sedang ditumpanginya.


"Mmm, Nona. Bolehkah saya meminta sesuatu?" ucap Naja ragu.


"Apa itu?" Rani mengerutkan dahinya, mengingat Naja hampir tidak pernah meminta apapun darinya.


"Waktu saya mengucap sumpah setia saya kepada Anda dan Tuan Muda dulu, saya pernah meminta sesuatu. Apakah Anda ingat, Nona?" Naja mulai menunjukkan kegundahannya.


Rani terlihat berpikir keras. Dia mengingat-ingat saat pagi itu Naja datang ke kamarnya dan bersimpuh di hadapannya juga suaminya.


***


Flashback


"Hari ini, saya mengucap janji kembali kepada Anda berdua. Saya akan tetap setia kepada Tuan Prabu Dewangga beserta dengan anak dan keturunannya sampai akhir hayat saya. Namun jika ternyata nyawa saya akan berakhir hari ini, ijinkan saya memohon maaf atas ketidakpecusan saya selama mengabdi," cicit Naja ketika itu.

__ADS_1


"Naja, kau...," Rani ingin menyela perkataan Naja, namun Ryan segera meraih tangannya, seolah mengisyaratkan agar istrinya itu tak berkata apapun, sampai Naja selesai bicara.


"Satu-satunya kesalahan saya adalah, saya mengucap dua janji setia. Oleh karena itu, ijinkan hari ini saya mempertanggungjawabkan pengkhianatan saya kepada Tuan Daniel, tanpa mengingkari janji setia saya kepada Anda, Tuan," lanjut Naja penuh harap.


"Baiklah, aku terima janji setiamu kembali dan akan kubiarkan kau menebus kesalahan yang telah kau lakukan kepada adikku. Apa ada lagi yang ingin kau katakan, Naja?" ucap Ryan dengan tatapan tajamnya.


"Mas Ryan, tapi...," protes Rani.


Ryan pun kembali meremas tangan istrinya sebagai isyarat tak ada bantahan apapun pada apa yang kini ada di hadapannya.


"Katakan, Naja!" lanjut Ryan.


"Ada, Tuan. Apapun yang terjadi dengan saya, mohon Anda sudi berbelas kasihan kepada keluarga saya, Tuan. Tolong jamin keselamatan ibu dan adik saya, dan bebaskan mereka dari persembunyian mereka, Tuan," pinta Naja dengan binar mata yang meredup, menunjukkan kepasrahannya.


"Baiklah, Naja. Memang sudah saatnya kau mempertanggungjawabkan pengkhianatanmu kepada Daniel. Terkait keselamatan keluargamu, kau tidak usah khawatir. Arya akan mengurusnya," Ryan menanggapi dengan serius.


End of flashback


***


"Waktu itu kau meminta, bahwa apapun yang terjadi denganmu, kau ingin suamiku menjamin keselamatan ibu dan adikmu, dan membebaskan mereka dari persembunyian mereka. Apa benar begitu, Naja?" Rani memastikan.


"Benar, Nona," Naja menganggukkan kepalanya.


"Bukankah waktu itu suamiku bilang akan meminta Arya untuk mengurusnya? Apakah ada yang salah?" tanya Rani.


"Iya, Nona. Tapi saya mengerahkan seluruh jaringan yang saya punya untuk menemukan keberadaan mereka, hasilnya nihil. Jika memang Tuan Ryan sudah membebaskan mereka, bukankah seharusnya dengan mudah saya bisa menemukan mereka, Nona?" Naja terlihat sangat gelisah.


"Benar juga ya? Apakah Hubby belum membebaskan mereka? Tapi kenapa?" gumam Rani dalam hati.


"Baiklah Naja. Lalu apa yang bisa aku lakukan untukmu?" Rani merasa tak enak hati.


"Bisakah Anda membantu saya, Nona? Saya mohon, Anda bisa bicarakan ini dengan Tuan Muda," pinta Naja penuh harap. Rani yang duduk tepat di belakang kursi pengemudi pun bisa melihat gurat kekhawatiran Naja melalui kaca di depannya.

__ADS_1


"Tentu saja, Naja. Aku akan membicarakan ini dengannya nanti," sahut Rani, membuat Naja bisa bernafas lega.


"Terima kasih, Nona," ucap Naja tulus.


"Tak perlu sungkan, Naja," Rani melengkungkan senyumnya.


Naja pun kembali melajukan mobilnya. Dengan kecepatan sedang, dia terus menekan pedal gas dan rem mobil itu secara bergantian. Mobil itu terus melaju mengikuti lika-liku jalanan, sebelum akhirnya sampai di depan lobby perusahaan.


Begitu Rani turun dan disambut oleh sekretaris Arya, Naja pun berlalu meninggalkan perusahaan itu untuk kembali pulang menemani Daniel, sesuai dengan apa yang dititahkan Rani kepadanya.


"Tuan meminta saya untuk mengantarkan Anda ke ruangannya, Nona," ucap Sesil, sekretaris Arya yang terlihat sudah menunggunya saat Rani tiba di sana.


"Sebenarnya aku bisa ke ruangannya sendiri, Sesil. Tak seharusnya aku merepotkanmu hanya untuk urusan kecil seperti ini," sahut Rani, yang merasa kurang nyaman diperlakukan secara berlebihan.


"Tuan sudah berpesan, untuk tidak membiarkan Anda sendirian, Nona," tutur Sesil lagi.


"Sudah kuduga jawabanmu akan seperti itu," seloroh Rani sambil berjalan mendahului Sesil, menuju lift khusus Presdir yang terletak di ujung Lobby.


Hanya butuh waktu beberapa menit saja, hingga mereka sampai ke ruang Presdir Dewangga Group yang telah berganti nama menjadi U&Me Group itu.


Dan disinilah Rani sekarang, di sebuah ruang sangat mewah yang menjadi tempat sehari-hari suaminya bekerja. Rani memandang ke seluruh penjuru ruang, namun semua berakhir dengan sebuah pertanyaan.


"Dimana suamiku sekarang?" tanya Rani begitu sosok suami yang sudah sangat dirindukannya itu tak berada di kursi kebesarannya.


"Tuan masih ada meeting, Nona. Beliau meminta saya untuk menemani Anda sebelum beliau menyelesaikan meeting-nya," jawab Sesil dengan sopan.


"Lanjutkan pekerjaanmu, Sesil. Aku akan beristirahat sebentar," titah Rani kepada Sesil.


"Saya akan tetap di tempat ini sampai Tuan kembali, Nona. Karena perintah beliau, saya tidak boleh meninggalkan Anda sendirian, apapun alasannya," Sesil membungkukkan punggungnya.


"Huh, benar-benar deh. Dasar suami posesif. Ya sudahlah, suka-suka kamu," Rani menaruh tasnya di atas meja, kemudian menduduki kursi kebesaran suaminya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2