METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Cemburu


__ADS_3

Flashback


Begitu staff kantor menyampaikan bahwa rombongan siap berangkat, Rani segera beranjak dan mencium punggung tangan suaminya dengan terburu-buru. Setelah Ryan mengecup kening dan bibirnya, Rani segera berlari keluar meninggalkan restoran hotel tempat mereka sarapan, diikuti Hengky di belakangnya.


"Rani, apa bahan kunjungan hari ini sudah siap?" tanya Ketua Komisi Dewan begitu melihat Rani datang.


"Siap Ketua, saya share di grub ya," jawab Rani sambil merogoh saku jas, kemudian beralih ke tas yang di tentengnya mencari sesuatu.


"Ehh, sepertinya hp saya ketinggalan di Resto, Ketua. Tunggu saya di mobil saja, saya akan segera kembali!" ucap Rani sambil berlari menuju Restoran hotel tempat mereka sarapan sebelumnya.


Sembari mengatur nafas yang terengah-engah, Rani tiba-tiba menghentikan langkahnya melihat obrolan Ryan bersama Meysie yang terlihat serius. Waktu itu adegan seorang kekasih yang terlihat menguatkan kekasihnya entah karena apa akan segera tertangkap oleh siapapun yang memandangnya. Meysie terlihat menangis sesenggukan, sementara Ryan menggenggam erat tangannya.


Ada rasa yang tiba-tiba bergemuruh di hati Rani melihat adegan itu, hingga Rani segera berbalik dan memutuskan meninggalkan mereka. Dia menghampiri pelayan, dan menitipkan sebuah pesan untuk disampaikan kepada suaminya.


End of flashback.


***


"Maaf Ketua, HP saya tidak ketemu. Biar sekretaris saya yang kirim ulang ke Anda," ucap Rani berbohong.


Setelah semua setuju, akhirnya mereka berangkat dengan menggunakan mobil yang sudah dipersiapkan pihak hotel untuk mengantar kemanapun mereka pergi.


Dan siang itu menjadi siang tercepat yang pernah Rani lalui. Entah mengapa dia enggan pulang demi tidak ingin bertemu dengan suaminya. Selesai kunjungan, bahkan Rani lebih memilih untuk makan siang bersama dengan teman-temannya.


"Apakah tidak apa-apa suamimu makan sendiri?" tanya Hengky tiba-tiba.


"Tidak apa-apa. Bukankah ada Meysie yang masih bersamanya?" jawab Rani singkat.


"Kamu tidak cemburu?" tanya Hengky sambil mengernyitkan dahinya.


Rani hanya mengangkat bahunya, entah Hengky mengartikannya dengan jawaban apa.

__ADS_1


"Apakah Meysie sudah menikah?" tiba-tiba Rani menelisik. Entah mengapa ada kekhawatiran dalam dirinya. Jika Meysie belum menikah, mungkin Ryan akan menyesali pernikahan mereka.


"Dia membatalkan pernikahannya, setelah mengetahui tunangannya berselingkuh. Akhirnya dia memutuskan pulang ke Indonesia untuk mengejar cintanya, tapi...," Hengky nerocos tanpa menyadari wajah Rani yang duduk di depannya sudah memerah, hingga akhirnya dia menghentikan ucapannya.


"Tapi dia telah menikah dengan gadis lain. Betul begitu bukan? Dan gadis itu adalah aku," Rani melanjutkan kalimat Hengky yang terputus.


"Maafkan aku, Ran. Tapi jangan...," sebelum Hengky melanjutkan kalimatnya kembali, Rani sudah menyela, "Tenang saja aku tidak akan pernah melepaskan suamiku kepada kakakmu."


Mendengar jawaban itu, ada rasa sakit yang tiba-tiba menusuk hati Hengky. Kalimat yang cukup singkat, namun maknanya seluas bumi seisinya. Mungkin seluas itu pula cinta Rani untuk suaminya.


***


Ryan terlihat duduk di sofa kamar hotel dengan gelisah. Berkali-kali dia melihat jam di tangan kirinya, waktu terasa berputar begitu lama.


Hingga akhirnya, tok-tok-tok.


Mendengar suara ketukan pintu, Ryan segera beranjak. Dihelanya nafas dalam-dalam, seolah ingin mengumpulkan energi untuk menghadapi kemarahan istrinya yang belum bisa Ryan bayangkan.


Ketika pintu dibuka, Ryan segera mendapati wajah Rani masih dengan senyum seperti biasanya. Dia masuk, mencium punggung tangan Ryan dan segera membuka sepatunya yang dia ganti dengan sandal hotel yang sudah tersedia.


"Mas Ryan sudah makan?" jawab Rani dengan penuh sandiwara. Dia sangat berjuang keras menahan tangis yang sebenarnya sudah menyeruak sejak pagi tadi, dan bertambah sesak ketika saat itu langsung berada di hadapan suaminya.


"Belum, aku menunggumu, Sayang," jawab Ryan sambil meraih tas yang ditenteng istrinya, kemudian meletakkannya di meja.


Rani mengikuti langkah suaminya kemudian mereka duduk di sofa.


"Mas Ryan mau Rani pesankan makan apa? Maaf Rani sudah makan duluan tadi," ucap Rani sambil mengangkat telphon hotel yang terletak di sebuah meja kecil di sebelah sofa.


Ryan tidak menjawab. Dia meraih tangan Rani dan mengembalikan gagang telphon itu ke tempatnya.


"Semuanya tidak seperti yang kamu lihat, Sayang. Tadi pagi itu aku hanya...," ucapan Ryan terhenti, memikirkan kata apa yang paling tepat untuk di dengar istrinya.

__ADS_1


"Hanya menggenggam tangan Meysie saat Meysie meratapi nasibnya yang tidak beruntung dalam urusan cinta? Apakah Mas Ryan meminta maaf kepadanya karena Mas Ryan justru menikahi Rani saat dia ingin mengejar cinta kalian kembali?" tanya Rani dengan wajah datar.


"Apakah kau tidak cemburu, Sayang? Mengapa wajahmu terlihat santai saja?" guman Ryan dalam hati.


"Aku hanya ingin menguatkannya, Sayang. Biar bagaimanapun dia adalah sahabatku ketika kami di Amerika dulu. Apakah kamu marah?" ucap Ryan kemudian. Jujur, dia sangat penasaran dengan perasaan Rani.


"Sudahlah, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas soal Meysie lagi? Kecuali Mas Ryan memang ingin mempertimbangkan Meysie kembali. Bukankah dia membatalkan pernikahannya?" jawab Rani sambil beranjak ke kamar mandi.


Ryan hanya berdecak kesal. "Dia cemburu atau tidak sih? Harusnya dia marah-marah melihat suaminya menggenggam tangan wanita lain. Ini apa? Ketus sih iya. Tapi santainya itu lho. Bahkan air mata saja tidak keluar dari matanya. Apa karna dia tidak cinta kepadaku?" pikir Ryan dalam hati.


Sementara di kamar mandi, Rani menangis tergugu tanpa suara.


"Mengapa setelah aku menyerahkan semuanya justru Meysie muncul dan bilang ingin kembali? Dan genggaman itu, apakah artinya Mas Ryan...," Rani tidak berani melanjutkan kalimatnya. Dia langsung menutupkan kedua tangan ke mukanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan terus menangis membayangkan semuanya.


Ryan yang menyadari istrinya tak kunjung keluar, segera mengakhiri lamunannya dan menyusul Rani ke kamar mandi. Ryan langsung meraih gagang pintu dan memutarnya, ternyata tidak dikunci.


Setelah pintu terbuka, disapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruang itu. Tiba-tiba mata Ryan membelalak melihat tubuh polos Rani sedang terduduk di bawah guyuran shower sambil menutupi mukanya dan tergugu. Dengan panik Ryan segera mematikan shower hingga membuat tubuhnya ikut basah terkena pancaran air.


"Ya Allah, Sayang," gumam Ryan sambil meraih handuk yang ada didekatnya, kemudian ditutupnya tubuh Rani yang kini sudah menggigil dengan handuk itu.


Dengan sigap Ryan mengangkat tubuh Rani keluar dari kamar mandi dan membaringkannya di tempat tidur. Setelah Ryan menyelimuti tubuh polos itu, dia memeluk Rani sambil terus mengecup ujung kepalanya sambil meminta maaf berkali-kali.


"Maafkan Mas, Sayang. Maafkan Mas."


Rani tak membalas pelukan itu maupun permintaan maaf Ryan. Yang ada di benaknya saat itu hanya Meysie, Meysie dan Meysie.


"Maafkan Mas, Sayang. Maaf. Jangan diamkan Mas. Bicaralah. Mas Mohon!" Ryan mengulang kalimat itu berkali-kali sambil mengeratkan pelukannya.


Sekali lagi, tak ada jawaban yang keluar dari mulut Rani. Semakin Ryan meminta maaf, tubuh Rani semakin terguncang karena tangis yang tertahan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Hai Readers


Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment n favorit ya. jangan lupa juga kasih rate 5


__ADS_2